Dalam keheningan batin, ku raba cinta dalam kuartil pertama kehidupan
Dalam kekhusyuan, ku pahami setiap arti pecahan hati
Dalam ketundukan, ku rasakan cintaku meresap dalam dasar mata air keharuan tanpa batas mengaliri bejana ruang hati yang tak bersisi
Cintaku meluap ruah dalam volume tak terhingga menjejali setiap sudut dimensi pribadi
Logika ku lantak, kala kasih-Mu menjadi modus pada setiap bilangan hariku
Confidence interval ku melonjak, kala perpotongan sumbu Ar-Rahman dan Ar-Rahim-Mu bertemu dalam korelasi positif di setiap garis regresi kehidupanku
Sungguh begitu kontras pembilang kasih-Mu dengan penyebut cinta milikku
Tak terbandingkan dalam persentil atau bahkan permil
Dalam slope kelemahan, ku sadari kadangkala cintaku terdiferensialkan secara parsial dalam asimetris kebimbangan
Terkadang titik-titik real kejenuhan terletak sejajar membentuk garis kemalasan
Ku akui begitu sulit menjaga kokontinuan cinta ini dalam fluktuasi cobaan agar mencapai titik keseimbangan ketaatan
Namun dalam f(x) kehidupan, ku kan tetap berusaha mengintegralkan cinta ini secara rasional, berharap kuadrat ikhtiar kan membangun grafik linear perbaikan iman
Ku lantangkan cinta ini secara implisit maupun eksplisit kepada seluruh makhluk, agar asimptot keraguan melebur hancur membangun semangat keteguhan eksponensial
Dalam kesunyian raga keteguhan jiwa,
Tekadku bulat membangun koefisiensi kalimat yang menggema kuat
Cintaku kan terus mencari peluang akan range ridho-Mu agar domain surga menjadi mean atas setiap amal-amal ku
Ya rabbi…
Bimbing raga ini menggenapkan penghambaan menggapai rahmat-Mu nan konstan..
Amin ya Rabbal ‘Alamin..

Baiti jannati, di sudut kamar sunyi, 6 Juli 2008
Sebuah puisi cinta matematika untuk Zat Pemilik cinta

Advertisements