“ …Katakanlah : Apakah dapat disamakan orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui….” (QS. Az Zumar : 9)

Betapa Islam sejak mula menempatkan akal dalam posisinya yang paling sempurna. Ia berjalan selaras dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ia melejit, menjelajah raga, menghasilkan karya, menuai prestasi-prestasi nyata. Namun sayangnya, kenyataan hitam menikam umat muslim sekarang. Umat Islam seakan jauh dari budaya prestasi. United Nations’ Arab Human Development Report (Laporan Perkembangan Arab PBB) melaporkan bahwa jumlah muslim sedunia mencapai 22% jumlah penduduk dunia, namun 60% muslim masih buta huruf, 15% penduduk usia kerja Arab menganggur, bahkan hanya ada 2 orang muslim yang pernah memenangkan hadiah Nobel di bidang sains.

Jika kita coba kembali menengok dan bercermin pada kegemilangan Islam masa lalu, lihatlah sejarah yang telah ditorehkan oleh para pendahulu kita. Imam Ahmad disamping hafal Al-Qur’an semenjak kecil, beliau juga hafal banyak hadits. Kitabnya, Musnad Imam Ahmad, terdiri sekitar 40.000 hadits yang ditulis berdasarkan hafalannya. Tengok kembali sejarah yang telah dicatat oleh Ibnu Taimiyah. Keluasan ilmu beliau dapat terlihat dalam penguasaannya terhadap fiqh, hadits, ushul, fara’id, tafsir, mantiq, kaligrafi, hisab, bahkan olahraga. Ilmu tafsir adalah disiplin ilmu yang paling digandrunginya. Lebih dari seratus kitab tafsir Al-Qur’an dipelajarinya.

Sekali lagi akan sangat menarik bila kita mengikuti perjalanan filsuf muslim yang mampu bertahan menancapkan akar pemikirannya di tengah belenggu abad pertengahan. Ia adalah Ibnu Sina, yang di Eropa lebih dikenal dengan nama Avicenna. Ilmu kedokteran ia kuasai sebelum usianya mencapai 16 tahun. Sebelum mempelajari ilmu kedokteran, ia pun mempelajari matematika, fisika, logika, dan ilmu metafisika. Belum lagi Al Biruni (1050) yang merupakan eksperimenter terhebat pertama di dunia Islam. Dari percobaan-percobaannya, ia menulis lebih dari 200 judul buku dgn total 13.000 halaman lebih.

Masih kurangkah contoh di hadapan kita akan betapa Islam menekankan prestasi pada diri setiap muslim? Ternyata, serentetan pelajaran lalu tak lebih hanyalah tetes-tetes air yang berserakan. Mengalir kemanapun topografi bumi mengalasinya. Meminjam istilah Ustadz Anis Matta, hempasan angin perlu segera ditiupkan untuk merangkai riak-riak itu menjadi sebuah gelombang besar yang mampu melantakkan segala kemunkaran.

Masa-masa ’pasang’ dalam sejarah Islam, kata Syaikh Abul Hasan Ali Al Hasani An Nadwi, selalu bergerak sejajar dengan iman. Sebaliknya, saat-saat ’surut’ selalu bergerak sejajar kelemahan iman. Saudaraku, waspadalah kita telah menginventasi kelemahan iman ataupun kelalaian atas kondisi hari ini. Teringat kembali akan esensi wahyu ilahi, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Al-Imran: 110)

Begitu lugas Allah mengangkat derajat seorang muslim sebagai umat yang terbaik. Maka sudah menjadi makna harfiah bahwa berprestasi bukanlah sekedar meninggikan derajat pribadi, namun termasuk penunaian akan kewajiban kita membentuk umat terbaik bagi dunia ini. Maka bertasbihlah kembali lisan ini mengingat janji-Nya akan mereka yang senantiasa menuntut ilmu dan menggali prestasi, niscaya “…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al Mujadilah: 11)

Jika kau bertanya, bagaimanakah cara para pendahulu dapat mengukir prestasi di luar hakikat bahwa mereka adalah seorang da’i, seorang anggota dinas intelejen Romawi yang telah melakukan kegiatan mata-mata di Madinah menemukan jawabannya: “Ruhbaanun bil-laili, firsaanun binnahaar!” Ya, mereka, kaum muslimin itu, kalau malam tak ubahnya seperti rahib, sedangkan kalau siang sungguh bagaikan singa! Umat Islam ketika itu mampu memadukan dua kekuatan ikhtiar yang sungguh luar biasa, sehingga menghasilkan sesuatu yang sangat luar biasa pula. Tubuh dan pikiran sepenuhnya digunakan untuk berikhtiar, bersimbah peluh berkuah keringat. Dikerahkan segenap potensi yang telah dititipkan oleh Allah demi teraihnya suatu prestasi tertinggi, suatu karya terbaik. Dengan demikian, jadilah ia muslim yang unggul, prestatif, dan patut dibanggakan.

Al-Qur’anul karim telah berbicara tentang keutamaan membangun semangat berprestasi dalam banyak tema, dengan lafadz yang berbeda, baik dengan anjuran berlomba-lomba, bersegera, dan sebagainya. Lihatlah firman Allah SWT surat Al Anbiya ayat 9, Ali Imran ayat 114 dan 133, Al Hadid ayat 22, Al Muthaffifin ayat 26, atau surat Al A’raf ayat 163.

Semua ini adalah pesan-pesan yang sangat jelas untuk mereka yang jiwanya diterpa penyakit ”saya bisa apa?”, ”saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk berubah”, ”saya takut tidak berhasil”, ”biarkan saja, saya dan Anda berbeda.” Itu alasan-alasan yang biasa digunakan mereka yang tertidur dari melihat kenyataan. Meninggalkan kemalasan tumbuh membesar hingga akhirnya menyeret pada jurang kesia-siaan. Mereka yang tidak berusaha melakukan perbaikan dalam kehidupan. Maka mari kita renungkan perkataan Imam Syafi’i berikut ini, “Barangsiapa tidak memanfaatkan masa mudanya untuk menuntut ilmu, maka bertakbirlah empat kali untuknya sebagai tanda kematiannya.”

Sebagai mahasiwa, sudah sepantasnya kita menjadikan berprestasi sebagai suatu budaya. Maka karya ilmiah, penelitian, kompetisi, ajang mahasiswa berprestasi bukanlah suatu hal yang asing lagi. Biarkanlah nama-nama muslim memenuhi daftar prestasi negeri ini. Kisah-kisah itu tentunya tidak pernah menyulap kaum bodoh, penganyam mimpi kosong, dan pemalas dengan segala ekspresi kekumalan mereka menjadi pewaris pertolonganNya tanpa usaha dan perjuangan yang maksimal. Maka bersegeralah, karena waktu tiada menanti kesiapan antum. Bersegeralah karena waktu tiada menunggu kelambatan antum. Bersiaplah dengan apapun yang antum mampu. Bersiaplah dengan apapun yang antum miliki. Dan jadilah muslim berprestasi!!

 

Advertisements