“Ada dua pilihan ketika bertemu cinta; jatuh cinta dan bangun cinta. Padamu, aku memilih yang kedua. Agar cinta kita menjadi istana, tinggi menggapai surga.”

Begitulah kurang lebih penggalan kutipan dari Mas Salim A. Fillah. Hampir sama seperti kutipan dalam novel Cinta yang Terlambat karya Dr. Ikram Abidi.

“Sebagian orang berharap dapat menikah dengan laki-laki yang mereka cintai. Doaku sedikit berbeda: Aku dengan rendah hati memohon kepada Tuhan agar aku mencintai laki-laki yang aku nikahi”.

Sedangkan Anis Matta mengatakan bahwa,

Cinta adalah kata lain dari memberi… sebab memberi adalah pekerjaan… sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat… sebab pekerjaan itu harus ditunaikan dalam waktu lama… sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh… maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia akan mengatakan, “Aku mencintaimu.” Kepada siapapun!

Begitulah pernikahan…membangun kemampuan mencintai pun dibutuhkan untuk mengisi hari-harinya. Bertemu dengan sosok baru yang tidak dikenal sebelumnya. Menyelami kesukaan dan karakternya, menjelajah sifat dan kepribadiannya dengan segala rupa-rupa kebiasaan baru yang harus diadaptasi segera. Mencoba mengejahwantahkan cinta dalam lisan, memupuk seni memperhatikan, mengukir semangat penumbuhan, merawat dengan kebajikan, dan melindungi dengan kebenaran.

Sama seperti pernyataan Ust. Anis Matta mengenai integrasi cinta,

Ukuran interigasi cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati… terkembang dalam kata… terurai dalam laku… kalau hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai kepalsuan dan tidak nyata… Kalau cinta sudah terurai jadi laku, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam laku. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.

Dan cinta haruslah tetap mewarna taqwa, meraih khusyuk menggapai semesta. Mungkin memang bukan taqwa kumulatif namanya, namun semangat mengingatkan akan kebaikan menjadi misi bersama. Dengan penuh kerendahan hati, berharap berkah dan ridho-Nya mengalir mengiringi derap raga. Mengawali hari dengan rangkaian dan rajutan asa  untuk menebar dan membangun kebaikan bersama. Semoga langkah-langkah selanjutnya terus berbalut taqwa, meningkat kinerja dan mengukir nyata cita. Dengan izin-Mu… Sang Maha Pemilik Cinta…

”Jika engkau cinta, maka dakwah adalah ikhlas menghias hati, memotivasi jiwa untuk berkarya. Jika  engkau cinta, maka dakwah adalah membangun kejayaan umat kapan saja, di mana saja berada.”

———————————————————————————————-

Karena cinta-Mu kami ada
Dengan cinta-Mu kami meminta
Atas cinta-Mu kami berbagi suka dan duka
Dan sebab cinta-Mu…kami melangkah bersama…menuju surga

Advertisements