Masya Allah..

Teringat usia yang semakin merangkak dewasa. Perlahan-lahan ia bergerak menuju senja. Sudahkah ia terbahagiakan dengan nafas-nafas perjuangan kita? Atau penuh sesal dengan segala kealfaan dan ketidakbermanfaatan sia-sia.. Sudahkah diri berjejak mantap menuju taqwa? Atau alfa dengan lalainya ibadah dan minimnya peran dalam dakwah? Di usia 23 ini, apa yang bisa aku banggakan di hadapan Ilahi? Ibadah atau amal mana yang mampu menjamin diri menapaki jannah-Nya yang diridhai? Sedikit demi sedikit uraian air mata penyesalan dan haru atas nikmat kesyukuran mengalir menemani malam yang semakin khusyukkan makna dalam sebuah “penghambaan”…

Hari ini aku ingin berbagi atas sebuah nikmat terbesar yang tak akan pernah tergantikan. Ingin berbagi agar kalian memahami besarnya peran dan dalamnya ikatan yang terkadang terabaikan. Pernahkah kalian sadar bahwa dimana saat ini kalian berada adalah karena mereka. Dimana kalian mampu menangis bahagia, bersyukur penuh rasa, tersenyum haru resapi makna. Mari ku bawa kalian pada kisahku yang sederhana, tapi semoga mampu menjalin syukur tempakan cinta…

Adalah ia yang setia menemani di setiap malam-malam letih ini. Saat mataku harus terus tak terpejam menari-narikan ketikan di setiap malam. Adalah ia yang membuatkanku makanan dan minuman jika kantuk menyerang badan. Segera ia segarkan dengan segelas jus dan cemilan-cemilan ringan. Adalah ia yang tak pernah absen memberi sarapan sebagai tiket untuk pergi berpetualang hingga malam. Adalah ia yang menyiapkan bekal sebagai jaminan kesehatan sejak SMA hingga wisuda menyapa. Adalah ia yang begitu khawatir saat sakit melanda raga dan bersegera memberikan senegap yang ia punya demi kesembuhan yang dicinta. Adalah ia yang tak kenal lelah merawat rumah, menatap harap saat melihat aku terlelap, terkadang sesembari mengelus kepala menghembusku dalam untaian doa tulusnya yang mulia. Adalah ia yang tak lelah berdoa, bersujud berharap penuh pinta pada Rabb-nya, agar aku terjaga senantiasa. Adalah ia yang mengajarkan agar tak menyerah pada lelah, terus bergerak meskipun lemah. Adalah ia yang menguatkan saat kaki ini mulai rapuh untuk berjalan. Adalah ia yang rela meletihkan diri agar aku mampu mencapai prestasi.

Ialah bunda.. kata termulia di dunia yang pernah ada.. Yang dengan cintanya, semua asa mampu berbuah nyata. Yang dengan kasihnya, ia tuaikan semangat dalam tingginya cita. Yang dengan pengorbanannya, ia semaikan sejuk hadirkan bahagia.

Adalah dia yang juga bekerja keras siang dan malam. Sesekali pulang membawa makanan agar anak-anaknya mampu berebut dengan senang. Adalah ia yang senang membaca, hingga koleksi buku-buku Islam layaknya menjadi perpustakaan kecil di rumah mungil bersahaja. Adalah dia yang tak pernah absen berjama’ah shubuh di masjid dekat rumah. Adalah dia yang dengan sabar melerai tengkar 3 bersaudara. Adalah dia seorang imam dengan indah lantunan suara. Adalah dia yang mengajarkan cinta pada buku dan ilmu. Dia lah yang mengajarkan sabar dan bijaksana. Yang dengan keringatnya, aku mampu membangun asa membingkai doa dengan usaha. Adalah dia yang selalu berusaha memenuhi kebutuhan ku, meletakkan kompres di keningku sembari mendoakan saat sakit menyerangku. Adalah dia yang begitu cekatan membangun rumah, merawatnya dengan lentera hikmah.

Ialah ayah.. Yang dengannya dunia memahami makna perjuangan dan pengorbanan demi keluarga. Yang  dengan kasihnya, cinta terurai menjadi laku pengorbanan nyata. Yang dengan hadirnya, lengkapi indah sematkan bijaksana.

Ya, karena mereka…  di sinilah saat ini aku berada. Karena cinta dan kasihnya, balutkan luka kuatkan raga. Yang karena ingin melihat senyum mereka di waktu senja, ku baktikan segenap jiwa raga agar mampu persembahkan karya menjadi kebanggaan baginya. Semoga Allah ridhokan dan mudahkan berjuta impian berbingkai taqwa dan doa. Semoga Allah berikan kesempatan untuk mengukir sketsa terindah di wajah mereka. Semoga Allah kabulkan.. Ya mujibana.. Ya mujibana..

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (Q.S Al Israa’:23)

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Q.S Luqman:21) 

Maka janganlah kalian lupa, saat marahnya luapkan kesal dalam dada. Saat keluhnya dengan berbagai nilai minimalis dan aktivitas yang tak lelah menempa. Saat tangisnya membuncah karena sedih dan kecewa. Teruslah tersenyum dan berbakti pada mereka.. Karena dalam marahnya ada cinta. Dalam keluhnya ada cinta. Dalam tangisnya ada cinta. Dalam doa-doanya ada pinta untuk kalian yang begitu didamba. Tidakkah kita sadar bahwa di belahan bumi manapun yang kita pijak, kita lahir dari rahimnya, besar dan tumbuh dari pengorbanannya. Janganlah angkuh berbalik kesal saat ia menunjukkan cinta nya. Bersyukurlah pada Allah atas nikmat terbesar yang kalian punya. Cinta dan kasihnya yang tak pernah lekang oleh masa. Tak lapuk oleh hujan, tak layu oleh gersang… Maka bersabarlah.. tersenyumlah.. Bangunlah cita dan persembahkan yang terbaik yang kalian bisa. Agar keringatnya berbuah cita, letih dan lelahnya berbayar asa. Maka muliakanlah mereka.. dengan sebaik-baik doa, bakti, dan usaha.

Ibu,
Jika engkau adalah mentari, aku tak ingin malam hari
Jika engkau adalah embun pagi, aku ingin selalu pagi hari
Ibu, durhakalah aku..
Jika tak kutemui surga itu di telapak kakimu
(Fatin Hamama)

Terima kasih terbesarku untuk ayah dan bunda disana, semoga Allah menjaga kalian senantiasa..

Greenford UK, 1 Desember 2011

Advertisements