Mommy mommy, the boy is not nice to me”, anak kecil usia 3 tahun itu berlari mengadu kepada ibunya yang sedang memegang mushaf di tanganya.

So you don’t have to play with the boys then”, ibu itu menjawab dengan senyum diiringi langkah kaki anak itu berlari menuju teman-teman sebaya perempuannya.

Kembali ku dengar riuh anak-anak bermain di ruang belakang, “one, two three… who wants to play with me?” diiringi lari-lari kecil yang membuat ruangan luas itu terasa kecil dengan tarian lincah mereka.

Mataku berputar ke sekeliling ruangan. Rumah yang tidak terlalu besar itu dilengkapi dengan beberapa rak buku di dindingnya. Bisa ku lihat tumpukan mushaf al-Qur’an serta banyak buku-buku Islam. Terdapat lemari di sebelahnya yang dipenuhi sajadah dan mukena. Inilah tempatku berada, di mushalla Al-Ikhlas tempat kajian per 2 pekan itu diadakan. Keluarga muslim Indonesia di kisaran London pun berdatangan untuk mengisi iman menambah bekal.

Masya Allah… setelah 2 bulan Allah perkenankan kaki ini berpijak di bumi Allah yang lainnya, maka inilah kali pertama ku dapat bercengkerama dengan muslim muslimah Indonesia. Kebanyakan mereka sudah berkeluarga, sudah tinggal tahunan di London dan membawa anak-anak mereka yang relatif masih berusia 2-5 tahun dan fasih berbahasa Inggris.

Pertemuan itu dibuka dengan makan siang bersama. Sejenak ku terpanjat menatap lauk pauk di hadapanku. Ayam balado, sayur opor, gudeg, tahu… masya Allah sudah lama hamba tidak merasakan masakan Indonesia dengan bumbu dapur yang komplit ini. Pertemuan itu dilanjutkan dengan shalat Zuhur kemudian Ashar berjama’ah. Tak berapa lama pertemuan itu pun dibuka dengan tilawah, lalu terdapat beberapa pengumuman dan perkenalan singkat kami selaku anggota baru dari kelompok kajian ini. Selanjutnya terdapat materi mengenai keutamaan bulan Muharram dan beberapa pembahasan terkait ruqyah.

Tak henti ku panjatkan syukur atas nikmat pertemuan ini. Saat dahaga iman mampu terpuaskan ditambah indahnya nikmat persaudaraan.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman: 18)

Sekelebat keping-keping kenangan itu bermunculan. Saat raga tertatih letih menempa diri menjadi seorang mujadid sejati. Saat perjuangan itu tak hanya meminta lelah, namun juga meluruhkan air mata dalam kisah dan kesah. Saat raga begitu terdekam dalam penatnya, ia masih harus terbalurkan luka dan kecewa. Namun karena keyakinan akan janji-Nya, segera hapuskan duka bangkitkan asa. Karena kerinduan pada surga-Nya, kian menguatkan pijakan langkah untuk menapak arah memupuk harapan yang indah.

Rinduku akan pertemuan-pertemuan itu. Saat lingkaran kebaikan terlaksanakan beberapa kali dalam 1 minggu. Entah mengisi entah diisi. Riuh rendah kisah dan keceriaan terbagi dalam semangat berlomba dalam kebaikan. Sesekali makanan tersaji menambah kelezatan pertemuan.

Rinduku akan kajian-kajian yang begitu rutin dilaksanakan setiap pekan. Entah masjid fakultas, masjid UI, masjid Baiturrahman, masjid al-huda, masjid al-ikhlas, Iqro, atau tempat-tempat lainnya. Begitu banyak kajian tafsir dan hadist yang tersedia setiap bulannya. Tidak hanya kajian, tapi rinduku akan masa-masa menghafalkan firman-Nya. Saat lingkaran2 di dalam ruangan sana bergumam lirih melantunkan keindahan dan ke Maha Esa-an Nya. Rinduku akan semangat berlomba menjadi yang terbaik sebagai penjaga firman-Nya. Rinduku akan kelas-kelas Bahasa Arab yang semakin dalamkan makna penghambaan di dalam Al-Qur’an.

Rinduku akan rapat2 dan pertemuan2 membahas agenda dakwah ke depan. Saat strategi dan perencanaan untuk menempa diri dan generasi dibahas dalam singkatnya pertemuan. Rinduku akan syuro2 yayasan untuk memberikan sedikit cercah pada yatim piatu dan dhuafa. Rinduku akan kisah berbagi dengan mereka yang tak sanggup memberi. Rinduku dengan agenda2 kebaikan yang terus bergulir karena kasih sayang-Nya yang tak kenal henti.

Rinduku akan letih langkah ini berlari. Hanya demi mengejar kehadiran di setiap pertemuan. Membagi kisah dan semangat akan sebuah mimpi besar membangun peradaban. Rinduku melihat senyum-senyum bidadari kecilku. Yang setiap pekannya, mengisi semangat dan perbaikan untukku.

Maka tak henti lisan ini bersyukur… atas setiap detik perjalanan kehidupan yang telah tergadaikan. Semoga mampu menjadi pemberat amal di hari pembalasan. Lalu ku tengok hari ini. Saat kajian yang dahulu per pekan hanya mampu dilaksanakan 1x per bulan. Saat tastqif yang begitu sering diselenggarakan kini hanya mampu dirasakan per 2 pekan. Saat kajian tafsir dan hadist kini hanya mampu didiskusikan secara online per bulan. Tak ada lagi mengisi.. tak ada lagi senyum-senyum manis adik2 disini. Namun teringat diri akan firman-Nya yang abadi:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Ahqaf: 13-14)

Bukankah ini nikmat yang begitu besar? Saat keistiqamahan Allah uji dan pertanyakan. Lalu ia berikan balasan yang begitu besar atas kokohnya iman dan ketaqwaan. Maka kuatkan ya Rabb… Bimbing dan terangi setiap langkah perjuangan ini, semoga Allah balaskan dengan nikmat tak terhingga di jannah-Mu nan suci.

Dan syukurilah hari-hari yang tengah engkau lalui ini.. karena mungkin engkau akan terbawa pada masa dimana engkau tidak bisa melakukan aktivitas seperti dulu lagi..

#Refleksi 3 bulan akan kerinduanku yg begitu besar

Pojok kamar, Greenford, 21 Jan 2012

Advertisements