Ya Allah, taburkanlah wangian
Diatas kubur nabi yang mulia
Dengan semerbak shalawat
Dan salam sejahtera
(Makrifat Daun, Kuntowijoyo)

Madinah Al-munawarah, pada dini hari. Membran malam perlahan tersingkap, berganti dengan subuh syahdu. Lengang berpulun dengan udara dingin menggigit. Dan deru sahara hanya terdengar dari jauh. Cerlang fajar sebentar lagi nampak. Shalat subuh hampir tiba, Rasulullah Saw dan para sahabat menyemut pada satu tempat, masjid. Semua hendak bertemu dengan yang di cinta, Allah. Namun sayang, air untuk berwudhu tidak setetes pun tersedia. Tempat mengambil air seperti biasanya kini kerontang.

Dan para sahabat pun terdiam, bahkan ada beberapa yang menyesali kenapa tidak mencari air terlebih dahulu untuk keperluan kekasih Allah itu berwudhu. Rasululllah pun bertanya kepada para sahabat “Adakah diantara kalian membawa kantung untuk menyimpan air?”. Berebut para sahabat mengangsurkan kantung air yang dimilikinya. Lalu, Nabi yang begitu mereka cintai itu meletakkan tangannya diatasnya. Tidak seberapa lama, jemari manusia pilihan itu memancarkan air yang bening. “Hai Bilal, panggil mereka untuk berwudhu” sabda nabi kepada Bilal.

Dan para sahabat pun tak sabar merengkuh aliran air dari jemari sang Nabi. Di basuhnya semua anggota wudhu, ada banyak gumpalan keharuan dan pesona yang menyeruak. Bahkan Ibnu mas’ud mereguk air tersebut sepenuh cinta.

Shalat subuh pun berlangsung sendu, suara nabi mengalun begitu merdu. Ada banyak telinga yang terbuai, hati yang mendesis menahan rindu. Selesai memimpin shalat, nabi duduk menghadap para sahabat. Semua mata memandang pada satu titik yang sama, Purnama Madinah. Dan di sana, duduk sesosok cinta bersiap memberikan hikmah, seperti biasanya.

“Wahai manusia, Aku ingin bertanya, siapakah yang paling mempesona imannya?” Al-Musthafa memulai majelisnya dengan pertanyaan.

“Malaikat ya Rasul Allah” hampir semua menjawab.

Dan nabi memandang lekat wajah para sahabat satu persatu. Janggut para sahabat masih terlihat basah. “Bagaimana mungkin, malaikat tidak beriman sedangkan mereka adalah pelaksana perintah Allah.”

“Para Nabi, ya Rasul Allah” jawab sahabat serentak.

“Dan bagaimana para Nabi tidak beriman, jika wahyu dari langit langsung turun untuk mereka”.

“Kalau begitu, sahabat-sahabat engkau, wahai Rasulullah” pada saat menjawab ini banyak dari sahabat yang mengucapkannya malu-malu.

“Tentu saja para sahabat beriman kepada Allah, karena mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan”.

Selanjutnya mesjid hening. Semua bersiap dengan lanjutan sabda nabi yang mulia. Semua menunggu, sama seperti sebelumnya pesona sosok yang duduk ditengah-tengah mereka mampu menarik semua pandangan laksana magnet berkekuatan maha. Dan suara kekasih Allah itu kembali terdengar.

“Yang paling mempesona imannya adalah kaum yang datang jauh sesudah kalian. Mereka beriman kepadaku, meski tak pernah satu jeda mereka memandang aku. Mereka membenarkan ku sama seperti kalian, padahal tak sedetikpun mereka pernah melihat sosok ini. Mereka hanya menemukan tulisan, dan mereka tanpa ragu mengimaninya dengan mengamalkan perintah dalam tulisan itu. Mereka membelaku sama seperti kalian gigih berjuang demi aku. Alangkah inginnya aku berjumpa dengan para saudaraku itu”.

Semua terpekur mendengar sabda tersebut. Kepada mereka nabi memanggil sapaan sahabat, sedang kepada kaum yang akan datang, nabi merinduinya dengan sebutan “saudaraku”. Alangkah bahagia bisa dirindui nabi sedemikian indah, benak para sahabat terliputi hal ini.

Dan terakhir nabi, mengumandangkan QS Al Baqarah ayat 3: “Mereka yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian dari apa yang kami berikan kepada mereka”.

***

Tak ada salahnya, apabila saat ini ku mengenang sosok yang hanya ku tahu ciri-cirinya dari sebuah buku. Mengapakah terlalu sering ku abaikan teladan sempurna ini. Bahkan, terlalu jauh ku terlontar dari sunnahnya. Padahal, engkau ya Rasul Allah, begitu memperhatikan kami, hingga kami disebut pada saat-saat terakhir kehidupanmu. Ketika maut menjemput, nafas satu-satu dan detik-detik penghabisan di dunia sebelum dengan anggun engkau dipanggil Allah.

Maafkan aku, ya nabi pilihan Allah, shirahmu ku baca tetapi ku hanya mampu mengemasnya dengan rapi dalam memori sebagai sebuah kisah yang nantinya akan ku sampaikan kepada yang lain. Engkau merindukan umat yang berjuang untuk membelamu, padahal ku sama sekali belum berbuat apapun. Engkau rindui sosok-sosok yang mencintaimu dengan segenap jiwa, dan ku tidak tahu apa sudah ada bukti kecintaan yang telah ku persembahkan meski hanya sekuntum saja. Betapa malunya diri ini wahai Rasulullah.

Meski demikian, perkenankanlah ku sampaikan salam, salam cinta dan salam kerinduan. Salam bagimu ya Rasul Allah, salam bagimu duhai kekasih Allah yang mulia. Inilah si lemah dari sekian abad dari masamu yang terbentang, menyampaikan salam pekat kerinduan. Inilah si dungu, meski dengan tubuh penuh dengan karat dosa, dengan mata yang seringkali tak terarah, dengan lisan yang kurang terjaga, dengan telinga yang sering tuli terhadap kepedihan sesama, memberanikan diri menyapamu dalam kesendirian.

Mengenang engkau ya Rasul Allah, menetaskan dahaga hebat bagi kerontangnya jiwa ini untuk berjumpa denganmu. Mengingatimu tentang betapa rekatnya engkau mencintai para pengikut yang datang jauh setelah engkau tiada, mengkristalkan haru yang tiada tara. Betapapun besar rasa malu ini, terimalah salam, wahai pembawa cahaya kepada dunia.

Betapapun buruk rupa jiwa ini, betapapun kerdil pikiran ini, betapapun kelu lidah ini berucap,  ingin ku sampaikan kepadamu wahai nabi al-musthafa:

Shallaallaahu ala muhammad, shallalhu alaihi wasallam…

#mudah-mudahan saat ini dalam dadamu ada yang bergemuruh juga..

Menjelang malam dalam hening kerinduan,
London, 30 Januari 2012

Advertisements