Mengukir catatan hikmah dari sebuah perjalanan jauh di East London…

Lantunan itu begitu merdu menghias kalbu. Kala kalam-Nya menjadi penyejuk gersangnya sahara jiwa. Maka indah firman-Nya pastilah menambah iman dan ketaqwaan dalam dada. Hingga sampailah aku pada suatu ayat,

“Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh, “Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati”. Tidak demikian (pasti Allah akan membangkitkannya), sebagai suatu janji yang benar dari-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (An-Nahl: 38)

Sejenak batin ini tertegun, jauh merasuk ke dalam makna. Tatkala wahyu telah berkata, bahwa nyatalah akhirat adanya. Pastilah kita semua akan disampaikan pada hari dimana kita harus berdiri sendiri, mengingat segala akhlaq dan maksiat yang telah diperbuat. Saat hisab akan amal perbuatan begitu cepat dan akurat. Saat hari pengadilan paling adil terselenggarakan. Masya Allah…

Bukankah sudah banyak kita mendengar sabda Baginda tercinta akan sempitnya dunia. Laksana tempat persinggahan sementara para musafir taqwa. Tidak ingatkah kita akan sabda hadist-nya:

Kehidupan dunia ibarat jari yang dicelupkan ke laut. Air yang menempel di jari adalah kehidupan dunia, sedang air laut adalah negeri akhirat.” (HR. Muslim)

Mengapa kita tampak begitu lelah mengejar dunia?

Bagian yang ternyata hanya seujung celupan jari saja. Mengapa terkadang kita begitu kehilangan makna, sering terkapar melupakan bagian lautan yang nyata luasnya. Hinggalah ada manusia yang berkidung tipu, begitu lelah mengejar nafsu, hingga dengki dan iri terkadang menghias hati melihat keberhasilan orang lain dalam bayang semu.

Sadarkah kita berapa lama waktu kita habiskan untuk mengejar dan mengurus urusan dunia, dan berapa lama waktu kita luangkan untuk mengingat akhirat kita. Masih dakah khusyuk dalam setiap penghambaan kita? Masih adakah iman tatkala kegagalan yang menjadi hasil sebuah perjuangan? Masih adakah syukur dalam setiap nikmat-nikmat kecil yang diberi? Masih adakah sabar dalam susah dan letih yang menghias hari?

Maka kembalilah kita kepada makna syahadat yang sering terlupa. Menjadikan sesuatu sebagai ilah-ilah baru. Tatkala sidang skripsi begitu kita takuti. Ketika wawancara beasiswa begitu mendebarkan dada. Saat detik-detik mendengarkan pengumuman pemenang akan suatu perlombaan begitu mengkhawatirkan. Tatkala hasil akan berhasil dan gagal seolah menjadi final kehidupan. Manakah sebenarnya Ilah yang patut kita takuti? Bukankah hanya Allah satu-satunya Rabbul Izzati? Sadarkah kita akan makna syahadat yang sering kita ucap “Asyhadu alla ilaaha ilallaah…” Dan sesungguhnya aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang pantas disembah selain Allah… Maka jadikanlah Ia muara atas segala asa. Sandarkanlah segala harap dan doa pada-Nya. Maka cukuplah Allah sebagai Ilah SATU yang patut kita takuti, kita harapkan, kita sembah, dan kita mintai pertolongan..

Cobalah buka kembali lembaran firman dalam surat As-shaff ayat 10-12:

Wahai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.”

 Maka cintailah Allah, Rasul dan jihad di atas segalanya. Sebagai bekal utama seorang pengembara di belantara dunia yang fana. Dunia yang ternyata hanya seluas celupan jari saja. Maka jadikanlah segala gerak langkah dan jiwa merupakan refleksi kecintaan dan ketaqwaan pada-Nya.

Sejenak renungkanlah… apakah niatan dibalik wisuda kita, dibalik belajar-belajar kita, dibalik usaha-usaha kita mengejar harta dan prestasi dunia. Maka ingatlah, ketika memutuskan satu tindak perkara, pastikanlah kita akan selalu bertanya “Apa manfaatnya bagi agama saya, bagi jihad saya, bagi akhirat saya?” “Apakah Allah rela? Rasulullah ridha dengannya?” Ini bukan mengenai bagaimana pandangan makhluk atas kita, tapi pandangan Allah, Dzat yang sangat kita harapkan cinta dan ridha-Nya atas kita.

Karena sangat sempit dan sebentarnya dunia, janganlah kita mengorbankan akhirat yang telah nyata luas dan abadinya…

sekedar pengingat akan diri yang sering terlupa,
Sunny Saturday in London 13.40

 dunya

Advertisements