Bismillahirrahmanirrahim..

Dengan nama-Mu ku mengukir huruf, menguntai kata demi kata agar menjadi kalimat-kalimat hikmah bermakna. Semoga sebuah catatan sederhana ini mampu menghantarku pada keridhoan-Mu yang didamba..

Sejenak dingin malam di halte Greenford menyusup ke dalam beningan air di dalam kelopak. Tanpa sadar bibir ini berucap pada imam rumah tangganya, “Mas, benarlah jika Allah memang sayang kita”. Senyum manis terbentuk dari mulut ini, diiringi ucapan “Alhamdulillaah” dari sang suami.

Tiba-tiba terbayang dengan segala ke-Maha Kuasa-an Dzat Yang Maha Berkehendak. Sungguh hati ini tak pernah mengingkari akan kasih sayang-Nya yang murni. Betapapun diri ini sering tertatih lelah dan tertunduk lemah di bawah garis kepayahannya. Sungguh pengalaman hidup seseorang lah dan bagaimana sikap ia menghadapinya yang akan membentuk orang tersebut.

Jika kalian ingin bertanya, apa ada sisi sedih dari segala kisah keberhasilan saya? Sungguh jawabannya adalah iya. Iya dan iya. Mungkin banyak… dan hanya Allah yang tahu betapa rapuh hati hamba-Nya ini. Adalah suatu masa dimana hati ini begitu rapuh akan rasa kecewa. Sekali ia tidak berhasil mendapat apa yang ia pinta dan usahakan segenap jiwa, hancurlah hatinya. Tak ingin ia menoleh kembali pada usaha dan cita-cita lalunya. Hingga akhirnya dengan tangan-tangan kasih takdir-Nya, Ia mengajarkan sebuah kata yang mampu mengubah akhlaq superioritasnya… “Ikhlas” itulah kuncinya.

Mungkin memang benar di kala itu “Me-(Tuhan)-kan ikhtiar” masalahnya. Di saat kita merasa begitu kecewa akan ketetapan-Nya. Mengapa saya tidak bisa berhasil padahal saya sudah berusaha semaksimal yg saya bisa? Mengapa keberhasilan belum juga saya reguk setelah beragam lelah yg tertempa? Mengapa keberhasilan tidak berbanding lurus dgn besarnya usaha yg saya kerja? Aah.. jadi malu mengingatnya. Mungkin benar saat itu pelajaran mengenai takdir, ikhtiar dan tawakkal saya belum integral. Karena memang ikhtiar adalah kewajiban, kewajiban bagi mereka yg mengaku hamba. Lha wong denyut nadi, gerak langkah, optimalisasi kerja yg saya lakukan pun adalah milik-Nya. Masih ingat kisah orang shalih yang ngotot masuk surga karena amalnya? Dan ternyata ibadahnya seumur hidup jauh lebih ringan dibandingkan nikmat sebelah matanya..

Maka sejenak tengoklah… Apakah masih merasa berbesar hati dgn segala gerak amal dan aktivitas kita? Masih ingin menuntut Allah dengan segala ketetapan terindah-Nya? Bukankah memang hanya Allah yang mengetahui hal terbaik bagi hamba2-Nya? Mari kita ingat lagi kisah seorang hamba yang terkejut melihat gunungan amalnya padahal ia merasa tak memiliki amal shalih sebanyak itu dalam hidupnya. Hingga bertanyalah si hamba “Ya Allah, amal shaleh mana yg menciptakan gunungan pahala setinggi itu?”. Lalu terjawablah pertanyaannya “Sesungguhnya itu adalah pahala hasil doamu yg tidak Aku kabulkan”. Si hamba masih terngaga dan berkata “Jika begitu sungguh aku berharap tak ada doaku yg Kau kabulkan”. Masya Allah… masihkah kita meragukan akan keadilan-Nya? Sungguh Ia lah Dzat Yang tidak pernah meleset perhitungannya.

Kembali ku ingin mengisahkan masa-masa itu. Ada masanya penantian akan ketetapan-Nya membuahkan ragu pada harapan dan asa. Rintangan dan tantangan untuk mewujudkan cita menambah perih dan membuat langkah ini semakin tertatih hampa. Saat segenap usaha, energi jiwa dan kesabaran terus tertempa. Saat kesabaran dan keikhlasan akan pahitnya kegagalan harus dirasa. Hingga penghujung waktu yg terasa begitu sempit dan tak tahu lagi harus lari kemana. Adalah masa dimana air mata ini harus keluar juga. Menangis terteguk dalam sajadah panjang dan khusyuknya doa. Hingga parau di puncak kepasrahan pada Sang Maha Pemilik Segala. Hingga adalah masa dimana mulut ini pun berkata “Haruskah aku berhenti berharap?”. Masya Allah… lihatlah begitu payahnya hamba. Yang baru didera sedikit rintangan pasrah berhenti berusaha. Dan nyatalah Allah dengan Maha Kasih-Nya. Sungguh Ia dengarkan setiap pinta dan tersenyum dalam harap, iman dan taqwa hamba. Lalu tersambutlah doa. Ia ijabah wujudkan asa. Maha benar Allah dengan segala kebesaran-Nya. Setelah malam yg pekat, maka yakinlah songsong pagi cerah yang akan kita jumpa.

Maka jika hari ini… jika aku mampu menyambut segala ketetapan-Nya dengan senyum ikhlas dan bahagia, karena aku yakin Ia hanya akan memberikan yg terbaik bagi hamba-Nya. Di saat kegagalan demi kegagalan harus ku jumpai di jalan ini, hanya seukir senyum yg ku beri, seraya berkata dalam hati “Jikalah memang ini bukan rezeki-ku, berarti memang ini bukan yg terbaik untukku. Sedang aku yakin Allah tengah mempersiapkan rencana lain yang jauh lebih indah dari skenario-ku”. Maka ku langkahkan kaki ini dengan mantap dalam keimanan dan ketaqwaan berseri. Akan setiap ketetapan-Nya yang tidak pernah salah memberikan arti. Karena ku yakin, dalam kasih-Nya ia sematkan bahagia. Dalam sayang-Nya ia membalas setiap bulir peluh dan doa. Hanya dengan ketetapan-Mu, wahai Dzat Yang Maha Sempurna…

—————————————————————————————–

Catatan pengingat hati akan kasih-Nya yang murni

Terus bersemangat meraih cinta-Nya yang suci

Terus bergerak meraih prestasi

London, 9 April 2012 Pukul 23.20

 

Advertisements