Adalah masa dimana kita terjatuh perih, tergores luka, menyisakan peri dalam dada. Saat dimana kita begitu kencang berlari dan terpaksa harus berhenti karena tersandung kerikil-kerikil ujian dan duri.

Adalah masa dimana kita harus menelan bulir kegagalan demi kegagalan. Seakan keberhasilan begitu jauh dari jarak penglihatan. Ketika buah jerih payah yang kita usahakan masih belum membuahkan hasil manis membanggakan. Saat rentetan kata gagal terasa kian menemani setiap perjuangan dan besarnya pengorbanan.

Adalah masa dimana himpitan masalah dan cobaan nampak tiada letihnya berdatangan. Belum selesai satu permasalahan, ujian lain telah datang menghantam. Terasa begitu berat dan sesak untuk terus berjalan. Seakan semua pintu jalan keluar telah terhalang, hanya kepasrahan dan perihnya menahan yang bergumul dalam diri dan hati yang penuh kelemahan.

Adalah masa dimana kita merasakan begitu beratnya letih perjuangan, terseok berjalan dalam panjang tapak kehidupan. Tertatih melangkah dan terus bertahan. Seakan hati kecil sesekali menanyakan “Kapankah ini semua harus berakhir dan terbayarkan?”

Adalah masa dimana doa dan pinta kita tidak dikabulkan. Guratan kekecewaan seketika datang menelisip ke dalam kalbu yang perih menahan tangis. Terasa begitu pedih dan enggan untuk menengok kembali. Seakan cahaya dunia telah redup bersama terkuburnya cita dan asa.

Adalah masa dimana penantian akan doa-doa terasa begitu panjang. Saat akhir pengharapan berada di puncak kepasrahan. Karena tiada lagi daya dan upaya yang mampu dikerahkan untuk menjawab permasalahan. Saat sujud-sujud panjang dan tengadah tangan kian tergadaikan kepada satu-satunya Dzat Yang Maha Mengabulkan. Namun lembaran hari tak jua menjawab doa dan pinta berkepanjangan, seakan terasa begitu jauh dan lama detik waktu yang mengalir dalam rinai pengharapan.

Adalah masa dimana masa depan terasa tidak lagi meyakinkan, dengan segunungan dosa dan maksiat yang tak lagi terperikan. Hanya gelap dan kelam yang menari dalam redup sinar kehidupan. Terasa tidak bergairah dan enggan untuk mencoba kembali berjalan.

Untukmu yang pernah atau tengah mengalami masa-masa itu…

Bertahanlah… Bersabarlah…

Sebentaaar lagi… Sungguh sebentaaar lagi…

Tidak malukah kita yang selalu meminta, sering terlupa untuk bersyukur saat jawaban kasih-Nya menyapa asa. Sedang begitu angkuh kita bergumul dalam lingkaran dosa dan maksiat pada-Nya. Tak sadarkah kita bahwa karena besarnya rahmat dan sayang-Nya, ia masih mau menatap diri kita yang hina. Yang tak henti meminta meski jasad berlumur alpha, meski hati bertahta dusta.

Tidak sadarkah kita yang terlalu sering lupa untuk bersyukur atas setiap kecil nikmat yang hadir menemani detik kehidupan dunia, yang lebih sering menafikan nikmat-nikmat Nya dan terlalu sibuk berkutat pada perih sulit ujian-Nya. Terlalu sering mendramatisir kesulitan ujian dan mengeluh atas perihnya cobaan. Bukankah Nabi dan umat terdahulu pun telah diuji dengan cobaan yang tidak kalah beratnya? Tidak malukah kita yang terlalu cepat merasa kecewa dan mengambil kesimpulan salah akan takdir yang diterima. Bukankah hanya Ia sebaik-baik Dzat Yang Mengetahui Segala?

Sungguh Allah Tahu… Allah Maha Tahu…

Bukankah hanya Ia yang selalu menemani kita? Ia satu-satunya yang tak pernah letih mendengar dan menyaksikan. Sungguh Ia satu-satu nya Dzat Yang Maha Melihat berapa banyak bulir air mata yang telah mengalir dari penglihatan terbatas seorang hamba. Sungguh Ia satu-satu nya Dzat Yang Maha Mengetahui setiap derai tangis isi hati. Sungguh Ia satu-satu nya Dzat Yang Maha Mendengar rintihan harap dalam isakan tangis doa syahdu para hamba-Nya. Sungguh hanya Ia yang mampu memahami perihnya luka, pedihnya rasa, dan munajat khusyuk doa-doa.

Allahu Qawwiy.. Allahu Qawwiy..

Kuatkan ya Rabb… Kuatkan hati ini tatkala hembusan ujian mu mengantarkan duri. Bukan, tentu bukan ingin menyakiti, hanya ingin melihat sejauh mana langkah kaki ini tetap tegar memijaki jalan menuju surga-Mu yang hakiki. Kuatkan ya Rabb… kuatkan hati ini tatkala bisik putus asa mulai terngiang dalam rajutan ikhtiar perjalanan. Bukan, bukan karena Engkau tidak peduli, hanya ingin menunjukkan hakikat kelemahan seorang hamba dibanding Sang Penciptanya. Kuatkan ya Rabb… kuatkan hati ini tatkala penantian akan pertolongan-Mu menelisipkan ragu dalam diri. Bukan, bukan karena Engkau tidak mendengar, tapi kasih-Mu yang ingin melihat seberapa lama hamba nan lemah ini terus meminta.

Marilah kita senantiasa berhusnudzan akan ketetapan-Nya. Sabarkan diri kita menjalani masa. Teruslah merajut asa melalui ikhtiar yang sempurna, hingga Allah sampaikan kita pada skenario terindah-Nya di penghujung cerita. Hanya dengan kuasa-Nya. Insya Allah… ^_^

London, 16 Oktober 2012
Segurat catatan dalam menjalani masa di dunia

never lose hope2

Advertisements