Memaknai setiap lembaran hari yang terlewati bersama detak jantungmu menemani. Panjangnya penantian seakan sirna saat mendengar tangismu pecah luapkan bahagia mengurai derai air mata syukur pada-Nya. Maka ku tuliskan catatan pengukir masa akan detik-detik terindah dalam diary sederhana seorang Bunda…

Senin, 28 Januari 2013

Masih melewati berlalunya hari dengan cemas-cemas harap mengiringi. Kalender menunjukkan usia kehamilan telah memasuki pekan ke-41 + 4 hari. Jika hari ini belum juga ku merasakan kontraksi, maka besok aku harus siap ke rumah sakit untuk menjalankan induksi.

Sore hari, pukul 15.00

Suhu di luar ruangan sekitar 5 derajat celcius, cukup untuk membuat hidung merah, mulut mengeluarkan uap dan badan menggigil. Tetap ku niatkan untuk berjalan-jalan keluar rumah berharap dapat memicu kontraksi. Banyak yang menyarankan ibu hamil untuk rajin berjalan agar melancarkan proses persalinan. Maka di tengah dinginnya suhu, tetap ku menyusuri jalan sepanjang Blithdale Road menuju taman terdekat. Masih tampak putih salju menutupi jalanan aspal dan rerumputan hijau. Beruntung ku didampingi suami yang senantiasa rela menemani. Kurang lebih setengah jam kami mengitari taman yang dilengkapi dengan peralatan kebugaran, child playground, lapangan basket dan jalan setapak yg dihiasi hijaunya rerumputan dan pohon pinus. Lebih dari 1 jam kami berada di luar rumah. Udara yang sangat dingin dan memasuki waktu maghrib, kami putuskan untuk kembali ke rumah. Masih belum nampak adanya tanda-tanda kontraksi muncul dari dalam rahimku.

bunda

Malam hari, pukul 22.00

Sudah menjadi rutinitas di 3 pekan terakhir bagiku untuk melakukan berbagai gerakan senam hamil di malam hari. Bermain dengan gym ball, gerakan yoga, hingga berbagai tutorial merangsang kontraksi dalam youtube dijalani. Hingga di penghujung malam, tetap saja tak ku rasakan adanya kontraksi, sepertinya memang aku harus bersiap untuk menjalankan induksi esok hari.

Selasa, 29 Januari 2013

Malam, pukul 21.00

Waktu menunjukkan pukul 9 malam, sudah saat nya kami berangkat ke Queen Elizabeth Hospital untuk menjalankan proses induksi. Beruntung begitu banyak teman-teman muslim warga Indonesia di London yang membantu kami, seorang teman mengantarkan kami berdua ke rumah sakit menggunakan mobilnya. Jujur, cukup tegang aku membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Bagaimana rasanya diinduksi (yang menurut kebanyakan orang rasa sakitnya lebih besar ketimbang mereka yang melahirkan normal secara natural), dapatkah aku mengatasi rasa sakit kontraksi, beriring harapan dapat segera melihat mata sang buah hati terbuka menatap dunia. Ya Rabb, ku serahkan hidup dan matiku kepadamu, jikalah pada akhirnya maut menjemputku dalam proses persalinan pertamaku, maka izinkanlah hamba mati syahid di jalan keridhoan-Mu…

Suasana di rumah sakit cukup hening meskipun tetap ku lihat kesibukan di sela-sela meja registrasi. Segera setelah ku jelaskan kami datang untuk induksi, seorang midwife langsung menyambut dengan ramah, “Welcome!! Enjoy your night in the hospital” sambil tersenyum bercanda. Kami lalu diantarkan menuju sebuah kamar berisi 4 tempat tidur. Ku lihat ada seorang ibu hamil dengan perut yang sangat besar berjalan tertatih-tatih sembari mengatur nafas seraya menahan rasa sakit, ku duga ia tengah menahan sakitnya kontraksi yg dirasakan sambil menunggu pembukaan lengkap. Di sebelah kanan tempat tidurku, kami dengar suara dengkuran yang cukup keras. Ku duga itu adalah suara sang suami yang juga tengah menemani istrinya yang menjalani proses induksi. Sempat ku dengar seorang midwife mengatakan bahwa ibu itu telah diinduksi selama 4 hari, malam ini harus diambil tindakan jika tidak juga ia rasakan adanya kontraksi. Satu jam berselang dan kami masih diminta menunggu. Tidak lama kemudian datang seorang wanita muda dengan laki-laki paruh baya dan ibunya. Sama, ia pun telah dijadwalkan induksi meskipun usia kehamilannya baru memasuki pekan ke-40. Jadilah seluruh tempat tidur dalam kamar ini penuh terisi wanita-wanita hamil.

Pukul 23.00

Setelah 2 jam kami menunggu, akhirnya seorang midwife datang untuk memulai induksi. Sang midwife menjelaskan bahwa ia akan memasukkan gel ke dalam serviks-ku untuk merangsang kontraksi dan melumaskan permukaan vagina. Ia mengatakan bahwa mungkin efeknya baru dirasakan setelah 18-24 jam. Ia juga memberikan pengertian bahwa yang namanya induksi bisa berjalan berhari-hari, jadi aku sudah harus siap-siap bersabar jika memang proses persalinan ku masih panjang. Kemudian ia memasang alat pemantau detak jantung bayi pada perutku. Segera kertas panjang bergambarkan grafik naik turun keluar dari sebuah alat di atas meja. Midwife memantau perkembangan grafik tersebut setelah 15 menit. Setelah memastikan semua oke, ia berkata akan kembali lagi untuk mengecek setelah 6 jam. Jadilah malam pertama kami di rumah sakit terlewati sambil mengamati keadaan sekitar.

Rabu, 30 Januari 2013

Dini hari, pukul 02.00

Meskipun sudah mencoba memejamkan mata, tetap saja kami berdua kesulitan untuk tidur. Rhevy mencoba tidur sembari duduk di sofa sedangkan aku mencoba menyamankan posisi di kasur (maklum perut bumil 9 bulan sudah sangat besar :D). Tiba-tiba aku merasakan ada gumpalan besar yang keluar, segera aku cek ke kamar mandi. Ternyata segumpal darah kental yang keluar diiringi dengan cairan bening. Segera ku sampaikan kepada midwife yang berjaga, dan katanya itu adalah normal. Itu adalah plak atau biasa disebut “the show” kalau di Inggris, yang merupakan gumpalan yang menyumbat serviks dan menahan agar ketuban tidak pecah keluar. Semoga ini adalah pertanda baik bahwa proses persalinan ku akan segera dimulai, karena awalnya aku sudah khawatir jika harus menunggu selama lebih dari 18 jam.

Pagi hari, pukul 05.00

Di sela-sela rebahan santai (yang sebenarnya cukup membosankan karena tidak bisa banyak beraktivitas di RS) tiba-tiba aku merasakan ada banyak air yang mengalir keluar tanpa bisa aku tahan. Segera ku minta suamiku untuk memanggil midwife yang berjaga. Sang midwife hanya tersenyum sambil membawakan maternity pad dandisposable brief untuk aku kenakan. Ia berkata “Good!” sambil mengacungkan jempolnya. Ternyata itu adalah air ketuban yang pecah dan mengalir keluar, sangat cepat dibandingkan dengan perkiraannya, berarti induksiku berjalan dengan sangat baik dan cepat. Alhamdulillah… semoga Allah lancarkan proses selanjutnya.

Pukul 08.00

Tak lama setelah ketuban pecah, ku rasakan kontraksi dari dalam rahimku. Awalnya hanya 10 menit sekali. Lama kelamaan menjadi 7 menit sekali, kemudian 5 menit sekali, 3 menit sekali hingga akhirnya 1 menit sekali. Tak lupa ku minta suamiku untuk mencatat waktu kontraksi yang terjadi. Berbekal pengetahuan dari antenatal class, ia juga melakukan beberapa teknik pain relief untukku plus beberapa teknik acupressure. Sedari awal kontraksi terus ku paksakan diriku berjalan mengitari ward untuk mengurangi rasa sakit. Tak lupa begitu banyak untaian doa yang terurai dari lisan yang lemah ini. Bukankah masa-masa jihad ini adalah masa-masa yang paling mustajab? Tak henti ku berdoa untuk calon bayiku, keluarga kecilku, keluarga besarku, kemaslahatan dakwah, dan umat Islam tentunya. Semoga Allah kabulkan setiap untaian harap dan asa yang terucap…

Pukul 10.00

Sejak pukul 09.30 ku rasakan kontraksi yang semakin menjadi-jadi. Rasa sakit yang masih bisa ku atasi dengan mengatur nafas sudah tidak mempan lagi. Jadilah ku remas pundak suamiku sambil menahan sakit ketika kontraksi itu datang. Satu jam yang lalu sudah ku minta midwife untuk memeriksa kondisiku namun sepertinya kondisi delivery suit sedang sangat sibuk, bahkan tak ku temui 1 midwife pun yang berjaga di meja registrasi. Midwife yang ku temui di lorong ward hanya mengatakan akan memberikan ku pil pengurang rasa sakit namun pil itu tidak kunjung diantar juga. Setengah jam berikutnya kembali ku datangi midwife untuk memeriksa kondisiku karena sakit yang kurasakan sudah per 3 menit sekali, namun sampai setengah jam kemudian ia tak juga kunjung datang. Hingga akhirnya pukul 10.00 saat aku sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit yang semakin cepat datangnya, setengah berteriak ku menjerit agar midwife yang sedang berkunjung ke tempat tidur sebelah segera memeriksaku. Dan berhasil! Ia akhirnya memeriksa kondisiku juga. Betapa kagetnya ia ketika mengetahui bahwa aku sudah mengalami pembukaan lengkap. Cukup lemas ku menahan agar dorongn kontraksi itu tidak membuat bayiku keluar, hingga akhirnya kasur tempat ku tidur segera didorong menuju delivery suit. Cukup panik sang midwife karena tidak menyangka bahwa secepat itu aku akan mengalami pembukaan lengkap. Dapat ku lihat tidak ada lagi midwife yang berjaga di ward, dan ia juga belum menyiapkan ruangan untuk persalinan. Masih dapat ku dengar sang midwife berteriak, “Is there anybody can help me?” Setengah panik ia mencarikan ruangan untukku “Is there any room available?” Beruntung ada seorang midwife keluar dari sebuah ruangan dan mengatakan bahwa ruangan itu baru saja selesai dibersihkan dan bisa digunakan. Segera kasur ku didorong ke dalam kamar. Sang midwife masih mencari-cari midwife yang dapat menangani persalinanku karena ia harus kembali berjaga di ward. Masya Allah… dapat ku rasakan sakit dalam rahimku semakin menjadi-jadi. Hasbi Rabbi ya Allah… Ya Qawwiy.. Ya Qawwiy.. Kuatkan hamba melalui proses persalinan ini ya Rabb.. Izinkan hamba untuk menjadi seorang bunda…

Pukul 12.00

Sudah 2 jam ku mengejan untuk mendorong sang bayi, tapi tetap yang keluar hanya sedikit dari ujung kepalanya. Sudah cukup letih ku rasakan. Suamiku senantiasa menemani setiap detik yang mendebarkan ini. Terus ia alirkan semangat saat kepala bayi sudah hampir keluar. Beruntung ummi juga mengirimkan voice note di tengah keletihan ku mengejan. “Yang semangat de dorongnya, insya Allah nanti bisa!” masih ku kenang untaian semangat yang dikirimkan bunda nun jauh di Indonesia sana. Sungguh tulus harap suaranya membangkitkan kembali semangat diri untuk terus berjuang hingga ke titik akhir. Terus ku yakinkan hati bahwa aku pasti bisa melewati masa-masa sulit ini.

Masa yang dinanti, pukul 12.37

Berdasarkan prosedur, jika memang calon ibu sudah mengejan selama 2 jam, maka tindakan selanjutnya harus diambil. Seorang anestesi memasukkan jarum ke dalam nadi di punggung tangan kananku, ia masukkan cairan oksitosin untuk membantu memperkuat kontraksi rahim. Seorang dokter juga datang memeriksa dan mengatakan bahwa kantung kemihku sangat penuh sehingga kepala bayi sedikit terganjal untuk keluar, sayangnya aku sudah tidak memiliki tenaga untuk berjalan ke kamar mandi (bahkan tidak memiliki minat untuk buang air kecil sama sekali). Akhirnya datanglah seorang senior midwife yang langsung mengambil alih proses persalinanku. Ia letakkan kedua kakiku pada sanggahan untuk terbuka lebar, ia tinggikan kasur sehingga aku hampir berada dalam posisi duduk, dan kedua tanganku memegang genggaman untuk ku remas saat proses mengejan. Ia berkata “I promise you, it will be finish soon. Give me your best push!”. Dan benarlah, push pertama ia membantu melebarkan jalan keluar bayi namun ternyata kepala bayi masih belum bisa keluar juga. Kembali ia mengambil tindakan selanjutnya, ku diberikan bius lokal dan pada ejanan selanjutnya terpaksa dilakukan sobekan untuk membantu kepala bayi kleuar. “Welldone! Just one more push. Give me big push!” Masih dengan sedikit tenaga yang tersisa, ku coba kumpulkan kekuatan untuk kembali mengejan. Dan akhirnyaa…  keluarlah bayi beserta seluruh badannya. Tak terasa air mata mengalir dari kelopak seraya lisan ini berucap hamdalah tiada hentinya. Sang midwife menawarkan suami untuk memotong plasenta dan segera dijawab “No, thanks. Maybe next time”. Ia pun meneteskan air mata melihat buah hati kami menangis menatap dunia.

Pukul 14.00

Segera setelah lahir, bayi kecil kami pun hanya di lap menggunakan handuk. Masih dengan beberapa bercak darah pada tubuhnya, midwife langsung menyerahkan bayi itu ke pelukanku. Segera ku lakukan inisiasi menyusui dini, sebuah skin to skin contact yang luar biasa menghadirkan bounding yang begitu indah. Subhanallaah.. betapa takjubnya melihat tangan mungil itu mencoba menggenggam dengan kepalanya yang sedikit demi sedikit mulai bergerak ke arah puting. Masih teringat jelas kecapan mulut nya saat mencari sumber makanannya itu hingga akhirnya ia berhasil mendapatkannya dan dengan sukses menghisap cairan kolustrum yang keluar. Tak berselang berapa lama seorang dokter datang untuk menjahit luka robekan ku. Ia juga memberikan gas sebagai pain relief. Bayiku kemudian diberikan gelang pengenal agar tidak tertukar. Segera setelah selesai menjahit, kembali ku diperbolehkan untuk menyusui bayiku. Kami dibiarkan menikmati masa-masa indah itu bertiga dalam kamar hingga pukul 14.00 seorang junior midwife datang untuk membersihkan kamar. Sebelumnya ia mengecek kondisi kesehatan ku dan bayiku. Dilakukanlah pengukuran tensi dan temperatur. Lalu aku pun dipersilahkan mandi dan bayiku ditimbang dan diukur panjangnya. She’s 3.48 kg and 50 cm height. Alhamdulillaah.. Segala puji hanya bagi Allah, duhai Zat Yang Maha Berkehendak…

Malam, pukul 20.00

Beberapa jam setelahnya kami bertiga dibiarkan dalam ruangan menikmati hangatnya kebersamaan. Tak lupa seorang midwife meletakkan keranjang bayi di samping tempat tidurku. Begitu lelap bayiku tertidur setelah kenyang meminum susu. Seorang midwife datang kembali dan mengatakan bahwa ia tengah mengurus registrasi bayiku, keterangan lahir, surat permohonan untuk pembuatan akte kelahiran dan keterangan persalinan ibu serta kondisi kesehatan sang bayi. Setelah itu kami sudah diperbolehkan pulang atau juga diizinkan menginap karena Dokter Spesialis Anak baru akan melakukan baby’s final check keesokan harinya pukul 11. Akhirnya kami putuskan untuk langsung pulang ke rumah saat itu. Selain karena merindukan makanan lezat (saat sebelum melahirkan sama sekali aku tidak merasakan lapar atau lebih tepatnya tidak bernafsu untuk makan), kami juga prefer untuk beristirahat di kasur rumah, walaupun tidak besar tapi cukup nyaman, terutama malam itu adalah malam pertama kami bersama tidur bertiga 🙂

Alhamdulillaah… tiada kata melainkan pujian untuk-Nya. Segala rentetan masa yang ku lalui bersamanya begitu indah tersimpan dalam memori kepala. Sungguh lah benar, segala letih, sedih, kejemuan dan rasa sakit langsung hilang dan terlupakan tatkala memandang wajahnya. Wajah bersih dan polos yang saat ini tengah tertidur nyenyak terlelap oleh lantunan murottal. Hanyalah Allah dan kuasa-Nya yang mampu mewujudkan asa menggiring bahagia. Semoga setiap lantunan doa terijabah sempurna dalam naungan keridhoan-Nya.

Jikalah ada untaian rasa yang mampu ku lukiskan dalam etape perjalanan menjadi seorang bunda, ialah bahagia, syukur, dan haru yang menjadi jawabnya. Terima kasih kepada ayah atas setiap bulir sabar, derai keikhlasan, dan letihnya pengorbanan serta perjuangan. Ku bisikkan doa untukmu mujahidah kecilku dalam buaian kasih dan setiap sujud penghambaan kepada Rabb-ku. Semoga Allah menjagamu selalu…

Ku tuliskan penuh cinta sembari menemani lelap tidurmu,
Menemani 30 hari lamanya kau diizinkan oleh-Nya untuk menatap dunia,

Jakarta, 28 Februari 2013

najwa 1

Advertisements