Lamaaa…

Sudah lamaa sekali rasanya tidak membuat tulisan untuk dikenang. Di sela tidur sang mujahidah shaliha, ku sempatkan mengukir cerita dalam alunan masa…

Sudah 8 bulan 2 minggu kini Najwa berusia, masya Allah… sepertinya baru kemarin melahirkan dan mendengar jerit tangisnya! 😀 Saat ini aku sudah kembali ke Jakarta, kembali beraktivitas ke pangkuan tanah air tercinta. Tapi sayangnya misua sudah berada nun jauh disana, kembali berjihad di bumi Allah lainnya.

Lho lho, koq begitu kondisinya? Iya, dan mari izinkan diriku berbagi sebuah kisah akan keindahan kehendak-Nya…


London, Agustus 2012

Di masa ini ku masih menjalani hari sebagai seorang mahasiswi di salah satu universitas ternama di Britania Raya, alhamdulillaah Allah berikan rezeki disana. Bersama suami melewati hari, berbagi kisah, memacu semangat, hingga berhemat-hemat demi uang beasiswa yang sebenarnya hanya cukup untuk membiayai 1 orang harus diatur sedemikian rupa agar bisa menghidupi 2 orang. Itulah perjuangan! Dan subhanallaah… tidak ada yang tidak mungkin jika memang sudah menjadi kehendak-Nya, kami berdua lah saksinya 🙂

Bulan Agustus merupakan bulan yang sibuk bagiku mengerjakan disertasi S2 ku. Diluar itu, kami pun sudah membuat rencana dalam life plan Raisha kami 10 tahun ke depan. Kami telah putuskan, berbekal tawakkal, Rhevy (red: bagi yang belum kenal, ialah suamiku, imam shaleh dalam hidupku ^_^) akan lanjut S2 bulan September 2012 ini. Ini bukan keputusan dadakan, tapi memang sudah ada rencana sedari awal.

Sejujurnya setelah menikah (Juni 2011), aku langsung mengajak suamiku untuk lanjut apply S2, hingga akhirnya Allah takdirkan ia diterima di London School of Business and Finance. Jadilah kami berjihad bersama di Inggris untuk belajar, aku S2 di Imperial sedangkan ia menjalani pre master class di LSBF selama 6 bulan sekaligus meng-upgrade Bahasa Inggris dan nilai IELTS nya. Alhamdulillaah… setelah melalui proses belajar yg cukup panjang, suamiku mengikuti tes IELTS di Inggris dan berhasil meng-upgrade score IELTS nya. Segera ku motivasi ia untuk mendaftar S2 lagi di tahun 2012. Kali ini ia sudah mantap, akan mengambil bidang Politik kembali, masih satu jurusan dengan keilmuannya yang dahulu. Jadilah proses lamar melamar ke banyak universitas dimulai… dan alhamdulillaah… lagi-lagi hanya berkat izin-Nya, dari 10 lamaran yang dikirimkan, suami ku diterima di 7 universitas ternama di Inggris, yaitu Goldsmith University of London, Kingston University, Newcastle, University of Reading, University of Strathclyde, dan Glasgow University.

Sebelum lanjut kembali, yuk kita hitung-hitung kondisi diri. Saat ini tinggal di UK, uang beasiswa pas-pas an, tapi alhamdulillaah masih bisa Allah rezekikan untuk menabung 100 pound per bulan. Uang di tabungan, eum… masih ada sih, tapi ndak seberapa. Maklum newly wed dan uang tabungan sudah terkuras sebelumnya untuk bayar visa (2 orang @4 juta) dan tiket Rhevy 2x PP Indo-UK (kurang lebih 20 juta). Untuk tinggal di London per bulan minimal harus ada 12 juta (hitungan paling murah), uang beasiswa sudah akan stop bulan September mendatang.  Mungkin ga ya kuliah September 2012 ini??

Gimana kalau apply beasiswa? Udah juga dilakukan, coba beasiswa Mendiknas. Tapiii… agak sulit karena suami sedang berada di UK saat ini, ga bisa bolak balik UK-Indo karena harga tiket yang sangat mahal. Beasiswa lain?? Yups! Qt coba apply beasiswa mendiknas tapi melalui jalur atase pendidikan di KBRI. Tapi itupun hanya meng-cover living cost, ndak mencakup tuition fee kuliah. Yang kalau dihitung2 masih butuh membayar £11.500 atau sekitar 160 juta rupiah. Gapapa, prinsipnya, semua ikhtiar dicoba!! Alhamdulillaah… mendapat tanggapan positif dan qt coba apply. Harap2 cemas karena pelamarnya sangat banyak sedangkan kuotanya terbatas. Terus gimana? Ada lagi? Subhanallaah… Maha Besar Allah dengan segala kuasa-Nya, ada peluang kami bisa tidak usah mengeluarkan biaya akomodasi dengan cara menjadi penjaga Wisma Merdeka di London. Kebetulan penjaga yang sekarang adalah dosen FISIP UI yang juga Rhevy kenal. Istrinya pun aku kenal baik. Alhamdulillaah… ada peluang disana. Jadi coba kami susun rencana untuk apply beasiswa mendiknas via atase pendidikan London, nanti uang living cost yg didapat bisa menutupi tuition fee kuliah, sedangkan dgn menjaga Wisma Merdeka kami sudah tidak perlu mengeluarkan biaya akomodasi dan makan. Hanya 1 syaratnya, harus tetap tinggal di London, maka Univ yang dipilih pun harus yang berlokasi di London. Jadilah Kingston University menjadi pilihan kami berdua.

Greenwich, akhir September 2012

Jadilah bulan September Rhevy melakukan registrasi ulang sebagai mahasiswa MA. International Political Economics di Kingston University of London. Bisa dibilang ini adalah pilihan nekat. Bukan, bukan nekat, tapi kami lebih suka menyebutnya pilihan TAWAKKAL. Karena beasiswa belum pasti didapat, menjaga Wisma Merdeka juga masih dalam tahap perundingan, tapi kami lebih memilih berserah diri pada takdir-Nya dengan melakukan ikhtiar semaksimal yang kami bisa. Deg-deg an? Tentu iya, secara uang dalam rekening tabungan cuma seada-adanya, hitungannya hanya cukup untuk menalangi makan, akomodasi dan transportasi (yang itupun sudah harus kami irit2). Maka kami pun lebih menyukai berjalan kaki ketimbang naik bus. Hal yang lumrah bagi kami berjalan 25 menit menuju GP (dokter umum) atau 30 menit menuju HFC (Halal Fried Chicken) yang berarti 1 jam untuk perjalanan bolak balik ketimbang naik bus. Uang belanja kami batasi £20-25/minggu. Alhamdulillaah masih cukup untuk membeli seekor ayam, 4 macam sayur-sayuran, 3 macam buah-buahan, 2 pak roti tawar, keju, sosis, susu 2 liter, dsb.

Oke, sudah cukup dapat gambaran tantangannya? Sekarang mari ku ceritakan tentang kemurah-hatian Allah yang sungguh sangat indah. Benarlah Allah dengan kutipan firman-Nya, “Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Setelah kesulitan itu ada kemudahan”. Yakin! Benar-benar yakin akan kalam kasih-Nya. Di tengah ujian-ujian yang kami hadapi, tetap Ia hembuskan angin kemudahan dalam perjalanan hidup ini.

Masih ingat dengan peluang menjaga Wisma Merdeka? Yups! Itu salah satu buktinya. Lebih jauh lagi, ku diperkenankan merasakan ukhuwah Islamiyah yang begitu indah. Jadi seharusnya ketika kita mendaftar visa di UK, kita harus mampu menunjukkan qt memiliki tabungan yang cukup untuk biaya hidup disana dengan standar £1000/bulan di London sekaligus menunjukkan kemampuan membayar uang kuliah minimal 50% dari total (untuk Rhevy berarti sekitar £5000). Kalo coba dikalkulasikan, berarti harus ada dana sekitar £7000 di tabungan atau sekitar 105 juta rupiah. Mungkin angka yang tidak terlalu besar bagi sebagian orang, tapi bagi kami jumlah sebanyak itu sangat besar dan kami sedang tidak memiliki saat ini. Mau pinjam uang orang tua? Duuh… dw sangat tidak ingin membuat mereka khawatir dengan kondisi anaknya di negara orang yang ternyata tidak memiliki uang (sedang dalam keadaan hamil pula). Coba ikhtiar lagi, dan akhirnya qt putuskan untuk meminjam uang sementara dari kawan-kawan pengajian London yang nanti uangnya akan langsung dikembalikan begitu visa kami terima. Dan hasilnya? Subhanallaah… betapa beruntungnya kami dipersaudarakan dengan saudara/i yang meski tidak berikatan darah namun erat terpatri kasih karena iman. Dengan begitu baiknya, malah mereka yang menawarkan dengan sangat suka rela. “Jangan sungkan-sungkan ya, pakai saja dulu. Nanti gampang balikinnya”. Ini bukan tentang meminjam 1-2 juta, tapi bahkan ada yang menawarkan uangnya kami pinjam 50 juta. Huhuhu… semoga rahmat Allah senantiasa menaungi hati-hati lembut kalian, yang begitu percaya pada saudaranya hanya karena 1 kata, IMAN!

Cukup hanya segitu? Demi Allah… Begitu Maha Kasihnya Ia hingga kemudahan yang diberikan kepada kami tidak hanya sampai disana. Semakin lama di London, semakin murah kami mendapatkan biaya akomodasi. Terutama ditengah himpitan agenda meng-hemat yang harus kami lakukan. Alhamdulillaah… lagi-lagi hanya Allah yang mampu menunjukkan jalan dari arah yang tidak diduga-duga. Di tengah-tengah kami bingung ingin tinggal dimana dgn harga yg terjangkau, ada lagi-lagi seorang anggota pengajian yang menawarkan tinggal di salah satu ruangan kamar di rumahnya, harganya pun sangat murah, sehingga kami bisa melakukan banyak penghematan. Belum lagi karena beliau suami-istri adalah koki, kami seringkali diberikan masakan Indonesia (kebetulan banged sudah sangat-sangat rindunya).

Cukup sampai disitu? Demi Allah tidak! Bahkan saudara/i kami di pengajian begitu perhatian dengan kondisi kehamilanku. Jauh sebelum baby lahir sudah banyak barang-barang perlengkapan bayi ada di rumah. Bahkan kalau kami kalkulasikan, kami hanya perlu membeli sedikit saja perlengkapan yang kurang. Ini bukan hanya sekedar baju atau pakaian baby, bahkan mereka memberikan car seat, stroller (kereta dorong), basinet (ranjang bayi), 1 set perlengkapan mandi, 5 pak pampers, maternity pad, breast pad, baju-baju hamil, dsb. Bahkan pakaian Najwa (meskipun turunan) masih sangat-sangat baguuuus sekali, bahkan ber-merk Mark & Spencer, NEXT, GAP, George yang bundanya bahkan ndak punya baju-baju semacam itu. Alhamdulillaah.. sungguh Maha Pemurah Allah dengan belas rasa kasih-Nya. Begitu besar engkau dicinta oleh Allah dan mereka, nak! 🙂

Back to the story…

Oktober 2012,

Sebuah surat datang ke rumah kami dan menyatakan bahwa pengajuan student visa Rhevy ditolak. Alasannya karena mereka tidak bisa mengambil uang dari rekening Bank yang sudah kami cantumkan. Jadi salah satu tips dari teman kami adalah lebih baik mengirimkan uangnya via Postal Order (kita membayar via kantor pos), jadi dapat dipastikan uang akan diterima. Jadilah kami putuskan untuk meng-apply ulang visa untuk kedua kalinya (padahal 1 kali pengajuan butuh uang sekitar £350 atau 5,5 juta).

16 Desember 2012,

Lagi-lagi kami menerima surat dari UK Border Agency (semacam kantor imigrasi UK) yang menyatakan bahwa pengajuan visa student Rhevy ditolak. Alasannya karena masa pengajuan aplikasi visa yang kita kirimkan sudah melewati masa berlaku visa. Koq bisa? Ternyata sistem di UK adalah, jika kita sudah apply visa lalu ditolak, kemudian meng-apply lagi, maka pengajuan yang kedua akan dianggap seperti pengajuan pertama. Ini sudah merupakan keputusan final dan berarti Rhevy harus kembali ke tanah air jika ingin mengajukan visa. Namun ternyata ada masalah yang lebih rumit lagi, karena masa berlaku visa seharusnya habis per Agustus 2012 sedangkan qt tinggal di UK hingga Desember 2012, bisa jadi Rhevy dianggap overstayer yang berakibat tidak boleh masuk ke dalam UK selama 1 tahun ke depan. Masya Allah.. ujian yang cukup berat bagi kami berdua. Kami bingung harus bagaimana. Sedangkan kuliah Rhevy pun sudah berjalan selama 1 term. Tapi jika kami tetap nekat tinggal disana maka kami akan dianggap sebagai imigran gelap. Sempat masih kami usahakan untuk meng-apply ketiga kalinya, tetapi setelah berkonsultasi dengan mahasiswa S2 hukum disana, kami disarankan untuk kembali ke tanah air, karena surat yg kami terima sudah merupakan keputusan final yang diturunkan langsung oleh pejabat setingkat menteri.

Akhir Desember 2012,

Inilah hidup, penuh dengan warna warni ujian. Memang sangat berat, tapi akhirnya kami ikhlaskan dan pasrahkan ketetapan ini mengikuti alur iradat-Nya. Bukankah begitu inti kehidupan seorang muslim? Jika diberikan rezeki bersyukur, jika ditimpa musibah bersabar. Kami putuskan untuk withdrawal kuliah Rhevy yg dengan demikian uang yang sudah kami setorkan dapat dikembalikan 100%. Sempat kami merencanakan untuk kembali ke tanah air di penghujung tahun 2012 karena semakin lama kami disana semakin banyak biaya hidup yang harus kami keluarkan. Tapi lagi lagi, rencana Allah berkata lain. Kami tidak diizinkan pulang karena usia kehamilanku yang sudah mencapai 38 minggu. Akhirnya kami putuskan untuk menikmati minggu-minggu akhir kami di Negara bersalju ini.

Januari 2013,

Seperti yang sudah kami ceritakan di notes sebelumnya, putri shaliha kami ternyata masih belum ingin keluar menatap dunia di usia kehamilan 40-minggu. Akhirnya kami harus bersabar lebih lama tinggal di London hingga tepat 41 minggu 6 hari Najwa Falisha Mehvish terlahir di dunia, alhamdulillaah.. Masih dalam alur skenario-Nya, putri pertama kami, Najwa diizinkan lahir di London, United Kingdom. Dengan catatan seluruh pembiayaan perawatan kehamilan dan persalinan gratis, alhamdulillaah… lagi-lagi itu pun bagian rezeki dari-Nya.

Februari 2013,

Setelah kami rasa Najwa sudah cukup bisa diajak perjalanan panjang naik pesawat (paling cepat 16 jam perjalanan London-Jakarta), kami putuskan di usianya yang ke 19 hari kami pulang ke tanah air. Setelah melalui bermacam tes untuk memastikan kesehatan sang baby dan ibu nya, akhirnya kami diizinkan pulang. Begitulaaah… akhir dari perjalanan kami di London. Kami tetap bersyukur atas segala Kasih Sayang Allah yang menemani hari kami. Kami tetap bersyukur atas segala bulir ujian yang memperindah catatan hidup kami. Kami berangkat berdua menuju Inggris, namun kembali bertiga ke tanah air. Aku berniat menambah title MSc dalam jenjang karir akademik ku, Allah tambahkan gelar bunda untukku. Subhanallaaah walhamdulillaah wallahu akbar!! Mungkin tidak semulus yang kami rencanakan, tapi kami tetap bersyukur atas setiap keadaan.

16 September 2013,

Tujuh bulan sudah kami tinggal menetap di Indonesia. Lagi-lagi, hanya berkat kasih sayang dan kehendak-Nya, suamiku kembali berangkat ke United Kingdom, dengan niat berjihad menuntut ilmu disana. Alhamdulillaah… kali ini sudah berbekal beasiswa yang lebih mencukupi dibandingkan dengan beasiswa ku yang lalu. Sayang nya kali ini aku dan Najwa tidak bisa menemani, dengan beragam pertimbangan dan situasi. Semoga Allah ridhokan keputusan ini dan buahkan nikmat yang lebih indah dari perjuangan kami saat ini.

Mungkin sekian sharing panjang ku kali ini. Insya Allah akan kembali membawa warna warni cerita seorang bunda dan perjuangannya menuntut ilmu dan kafaah agar menjadi umat yang layak dibanggakan oleh Nabi-nya, hamba yang layak dicintai oleh Rabb-Nya. Aamiiin…

NB: Untuk suamiku, ku tuliskan rangkaian kisah ini sebagai penyemangat untukmu. Mengenang perjuangan yang tidak sebentar, tantangan yang tidak mudah untuk ditaklukkan. Hanyalah keikhlasan dan tawakkal yang menjadi jalan keluar. Karena kita yakin, rezeki adalah bagian dari kasih-Nya, ujian pun bagian dari cinta-Nya kepada kita.

b3

Advertisements