Study-Abroad

Bismillaah…

Note ini adalah sequel dari catatan sebelumnya yang mengupas lika liku S2 beserta sedikit tips mendapatkan beasiswa. Seperti yang dijanjikan sebelumnya, notes kali ini akan membahas mengenai tips kuliah S2 dengan kondisi kita sudah atau merencanakan untuk berkeluarga. Sebenarnya bagi yang single pun akan bermanfaat, karena sedikit banyak mengupas tips membuat penghematan dalam anggaran pengeluaran selama kita sekolah diluar negeri.

Jadi, pertanyaan pertama. Kalo saya single, lebih baik sekolah S2 di LN sendiri atau bareng pasangan (menikah dulu)?

Jawaban ini pure hanya Allah dan diri kita masing2 yang tahu. Kalau diminta kasih tahu positif negatifnya menikah dulu, kurang lebih seperti ini.

Menikah dulu:

(+) Ada teman untuk berbagi cerita, berbagi suka dan duka, berbagi saat terkagum-kagum atau saat terkejut dengan norma2 yang digunakan di LN sana, pun berbagi kisah tentang hari kuliah pertama, banyak nya tugas2, dan lain sebagainya. Intinya, ada muara segala curhat qt (selain dengan Allah tentunya)

(+) Ada barengan untuk diajak jalan, diajak norak lihat kehidupan di LN, barengan untuk belajar menjalani hari di LN (gimana cara naik bus, train, underground, beli oyster, dll). Kalau suami saya setia banget antar jemput setiap hari ke stasiun sampai saya naik train menuju kampus *blushing 😀

(+) Sangat membantu kalau sampai terjadi culture shock. Saya menemukan beberapa teman Indonesia yang benar2 mengalami culture shock sampai berpikir untuk kembali lagi ke Indonesia (padahal baru 3 hari sampai) karena merasa “dunia” nya sangat berbeda dan sayangnya tidak ada teman Indonesia lain yang bisa menemaninya.

(+) Pelipur lara home sickness kita. Kalau sedang kangen rumah, minimal terobati sedikit karena salah seorang yang kita cintai ada dekat sekali dengan kita

(+) Sangat membantu saat belanja mingguan (baca: bantu membawakan barang)

(+) Yang jelas, ada partner untuk saling membantu dalam urusan rumah tangga, contoh ketika mencuci pakaian, setrika, memasak, dsb.

(-) Yang pasti adalah tanggungan biaya menjadi double, karena kebutuhan nya pun bertambah 2 x lipat (konsekuensi finansial)

(-) Harus memiliki a willing partner, partner yang memang bersedia menemani kita saat kita S2 disana, bisa jadi ia tidak sedang kuliah dan harus meninggalkan pekerjaan nya di tanah air tercinta

(-) Ada waktu yang harus dihabiskan bersama-sama dengan pasangan, yang mugkin bisa mengambil waktu belajar kita di rumah

Kalau posneg nya stay single kurang lebih ya kebalikannya.

Kalau penulis sendiri bagaimana dengan pengalamannya?

Kalau untuk saya, ternyata Allah menggariskan untuk melalui hari-hari bersama dengan pasangan saat saya S2. Dan alhamdulillaah… banyak manfaat yang saya rasakan seperti ulasan (+) saya di atas. Lalu gimana dengan konsekuensi (-) nya? Lagi2 alhamdulillaah… Allah mudahkan saya untuk mengatur uang beasiswa yang pas2an (GBP 900, sedangkan standar hidup disana adalah GBP 1000 per orang) sehingga cukup untuk 2 orang. Allah jadikan saya akuntan dadakan yang mampu me-manage balance debit kredit keuangan setiap bulan, bahkan saving di penghujung perhitungan.

Naah… kalo poin (-) no 2, alhamdulillaah Allah hadirkan imam yang mau diajak berletih-letih menapaki anak tangga perjuangan menuju surga. Ini penting lho! Sejak awal lamaran datang, saya selalu menyampaikan visi misi pernikahan saya, dan tentu saja tholabul ‘ilmiy setinggi-tinggi nya juga merupakan life plan yang saya sampaikan. Sedangkan wanita yang sekolah tinggi (dengan kondisi memiliki suami dan anak) bisa dibilang sedikit di Indonesia, apalagi kuliah di LN. Memiliki partner yang siap diuji dengan hal demikian juga ndak mudah2 amat, karena ada konsekuensi disana. Akhirnya suami saya pun ke UK meninggalkan pekerjaan nya di Jakarta sedangkan dya tidak sedang sekolah S2. Akhirnya saya encourage untuk mengambil pre-master class sebagai persiapan untuk memasuki S2 agar kami sama2 ada kegiatan disana. Implikasinya? Ada konsekuensi finansial disana, tapi alhamdulillaah… berbekal uang saving beasiswa, suami pun bisa belajar tanpa terhambat masalah nyata.

Kalau poin (-) ke-3 sebenarnya ga negatif2 amat, justru romantis, hehe… Saya yang setelah menikah hanya sempat mengambil cuti 3 hari, kemudian langsung Allah terbangkan 4 bulan setelahnya ke Inggris, merasa bahwa di London adalah masa-masa bulan madu sebenarnya. Memang sebagai single bisa lebih banyak belajar (mungkin) saat di rumah, sedangkan saya akan lebih sibuk memasak (lebih tepatnya belajar masak, ngopy resep dari website, ekperimen pribadi, hehe). Jadi pada prinsipnya, karena program taught master di ICL sangat full (berangkat pagi pulang sore), jadi saya memang prinsipkan untuk menyelesaikan tugas2 kuliah hanya di kampus saja, kecuali pengerjaan mini project dan disertasi yang memang tugas take home. So far so good, alhamdulilaah ^_^

Pertanyaan kedua, kalau saya sudah menikah, sedangkan pasangan sudah bekerja di Indonesia. Baiknya apa pasangan ngikut saya ke LN atau tetap di Indonesia?

Di paragraf atas saya sudah menyampaikan apa yang akhirnya menjadi keputusan saya dan pasangan. Lagi2 jawaban ini bergantung dari hasil kesepakatan antar suami dan istri. Saya sudah merasakan posisi di keduanya. Ada masanya kami senantiasa bersama, dan saat ini saya pun sebagai korban LDR, hoho… Jadi apa posneg nya?

(+) Ada ketentraman yang dirasakan jika pasangan ikut menemani saat kita kuliah di LN, point2 nya sudah terjabarkan di pertanyaan pertama

(+) Tidak kehilangan masa-masa romantis pengokoh samara rumah tangga (apalagi untuk newly wed) dan masa yang tepat untuk masa2 ta’aruf (perkenalan) sebenarnya

(-) Pasangan harus rela melepas kedudukan yang sudah ia raih selama ini dalam jenjang karir nya

(-) Biaya hidup bertambah

(-) Pasangan kehilangan waktu 1-2 tahun yang bisa jadi lebih kurang produktif dibandingkan jika ia berada di tanah air

Jadi gimana dunk? Kembali jawabannya adalah hasil diskusi berdua. Kalau kami (saya dan pasangan) saat itu sepakat untuk tidak menjalani LDR terutama di masa2 awal pernikahan kami, dan kami sudah siap untuk menanggung resiko/konsekuensi dari pilihan ini (konsekuensi finansial, hilangnya waktu, dll). Katanya sempat LDR? Naah… saat note ini ditulis saya memang sedang berstatus LDR dengan pertimbangan karena saat ini kami telah dikarunia seorang putri. Jika kami nekat bertiga kesana dengan berbekal satu beasiswa sepertinya akan sulit ditambah pertimbangan penting lainnya yaitu, orang tua kami di Indonesia menjadi lebih banyak memiliki waktu untuk bermain dengan cucu perempuan nya setelah anaknya melahirkan dan berjuang mengasuh putri pertamanya hanya berdua dgn pasangan di negara orang 😀 Selain itu, ada lebih banyak manfaat yang kami terima jika saya stay di Indonesia dengan putri saya, sedangkan suami saya melanjutkan S2 nya sendirian di UK sana. Implikasinya? Rindu pasti. Tapi kerugian yang paling utama adalah pasangan saya kehilangan moment untuk dilewatkan bersama putri pertama shalihahnya menjalani masa sejak usia 7 bulannya. Tapi kami mensiasatinya dengan jadwal rutin skype/facetime sehingga putri kami pun masih terus terhubung dengan ayahnya.

Oya? Saya sudah bilang belum ya? Intinya, APAPUN PILIHAN YANG KITA PILIH, SELALU MELAHIRKAN KONSEKUENSI. Maka penting untuk mendiskusikan kemungkinan2 konsekuensi yang terjadi. Ada konsekuensi finansial, jabatan, waktu, kebersamaan, dsb.

Kalo saya adalah pasangan dengan anak 1-2 bagaimana?

Untuk yang sudah memiliki putra/putri, sudah mulai agak tricky. Putra atau putri nya usia berapakah? Kalau relatif masih baby kemungkinan masih lebih mudah. Karena kalau anak kita sudah memasuki masa kanak-kanak apalagi dewasa tentu qt harus memikirkan mengenai pendidikan yang akan mereka jalani di luar negeri. Konsekuensi utama jika qt membawa anak adalah finansial (pasti) dan harus memilih rent house/studio/apartement yang memiliki lebih dari satu kamar (ga bisa share house alias ngontrak satu kamar aja). Kalaupun di share house, harus mencari yang mau menerima anak (karena banyak juga yang strict hanya boleh couple tanpa memiliki anak).

Apa mungkin kalau kita mengajak anak qt yang sudah berumur 4-10 tahun akan bermasalah dengan bahasa?

Yakin deh, Bahasa Inggris tidak akan menjadi barrier bagi anak-anak kita di LN. Karena layaknya sponge, mereka itu cepat sekali menyerap informasi dan kembali meng-copy perkataan teman2nya. Naah… jadi ada PR untuk mengawasi teman bermainnya. Jangan sampai kalimat yang dipelajari adalah kata2 kasar atau tidak sopan lainnya. Saya pun baru menyadari bahwa subhanallaah, Maha Kuasa Allah, yang memberikan kemampuan luar biasa bagi anak2 untuk belajar dari sekelilingnya. Sudah banyak saya temui anak2 Indonesia yang asli kelahiran Indo kemudian dibawa ayah ibunya ke UK, dalam waktu 1 tahun sudah lancar sekali berbicara bahasa Inggris.

Jadi, bagaimana tips menghemat selama kita tinggal di luar negeri?

Ada beberapa point penghematan penting saat kita sedang bersekolah di LN. Berikut adalah list nya.

1. Akomodasi

Pintar2 banged untuk cari akomodasi yang murah selama qt sekolah di LN karena inilah faktor pengeluaran terbesar untuk setiap bulan. Kebanyakan asrama dari Univ menawarkan harga yang cukup murah, silahkan langsung cek aja harganya ke website univ dormitory kampus masing2. Selain dormitory, bisa juga cek ke website penyedia kontrakan (gumthree, dll) tapi harus pintar2 ya jangan sampai kena scam. Cara paling aman dan mudahnya adalah, kontak atau cari tahu kenalan yang sudah berpengalaman disana untuk bantu mencarikan rent house. Banyak koq mahasiswa Indo menempati 1 share house bersama (isi 5-6 kamar). Kalau ada teman satu sekolah lebih enak lagi, bisa ambil twin bedroom yang biaya perbulan nya ditanggung berdua, biasanya akan jauh lebih murah ketimbang isi kamar sendiri, tapi balik lagi ke masalah preferensi privacy. Terus gimana kalo ga punya kenalan? Monggo langsung add friend aja FB nya PPI UK (Perhimpunan Pelajar Indonesia UK), ada banyak banged teman (dadakan) yang bisa jawab, bahkan kadang menawarkan kalo share house nya memang sedang ada yang kosong kamarnya.

2. Transportasi (travel cost)

Cara mengakali agar ongkos selama di UK murah adalah dengan berlangganan oyster untuk student. Qt bisa menghemat 30% pengeluaran transport menggunakan cara ini. Tapi hal ini berlaku jika memang qt butuh transportasi harian menuju kampus, dan relatif setiap hari perlu kampus (on weekday). Cara paling hemat adalah tinggal di dormitory dekat kampus, jadi setiap hari cukup berjalan kaki ke kampus tanpa harus keluar ongkos. Jalan 20-30 menit menuju kampus masih lumrah koq! ^^ Transport di London sangat mudah, cari alamat pun relatif gampang, semuanya ada di tubemap. Qt Cuma perlu memahami jalur perlintasan tube dan train. Oya, lebih murah dan cepat naik train atau tube untuk pergi kemana2 dalam London.

3. Konsumsi (groceries)

Kalau soal belanja, saya terbiasa untuk belanja mingguan atau per dua minggu. Tips paling jitu dalam menghemat pengeluaran belanja di London adalah dengan menuju tempat belanja yang TEPAT (alias murah). Berdasarkan pengalaman saya, supermarket yang paling murah di London adalah Lidl atau Morison. Bisa juga mampir ke Iceland (untuk frozen food) dan Asda. Jarang bgd saya ke Tesco kecuali untuk beli donat isi coklat 4 seharga GBP 1 (harga paling murah :D). Dengan belanja di tempat yang tepat, qt bisa menghemat s.d GBP 50 per bulannya, bahkan lebih dari GBP 200 dibandingkan dengan beli makan terus diluar. Tips yang lain adalah membatasi pengeluaraan belanjaan setiap minggunya. Kalau dulu saya membatasi dalam 1 minggu hanya boleh belanja makanan GBP 20-25 saja untuk kami berdua (sudah include beras, ayam, sayur2, susu, keju, dll). Tips terakhir adalah kenali local market halal yang ada di sekitar tempat tinggal kita. Karena ada masanya saya kangen masakan Indo, dan untuk membeli bahan makanan nya hanya tersedia di Toko China atau Toko India. Pun saya membeli ind*mi* di toko India. GBP 1,2 bisa dapat 3 bungkus ind*mi*. Cari tahu juga butcher bersertifikat HMC (Halal Meat Center) di local market, biasanya harga ayam 1 potong atau daging giling nya lebih murah dibanding supermarket dan yang paling penting terjamin kehalalan nya. Oya, dari pengalaman saya, lebih murah juga untuk belanja buah di local market, GBP 1 bisa dapat 8 buah pisang besar atau 8 buah apel atau 6 pear atau 1 kotak anggur. Intinya, jelajahi tempat belanja di sekitar tempat tinggal kita dan survey item2 mana dijual paling murah diantara tempat2 pilihan yang ada.

4. Perabot sederhana

Ketika sampai di UK, qt pasti butuh membeli beberapa perlengkapan yang ga mungkin qt bawa semuanya dari Indo. Sebagai contoh setrika, gantungan baju, jepitan baju, duvee, bantal, sprei, dan lampur tidur. Untuk bantal, guling, sprei dan duvee, cek dulu di rent house qt apakah mereka menyediakan atau tidak. Kalau tidak berarti qt memang harus membeli sendiri. Dari pengalaman saya, tempat belanja perabotan paling murah adalah di Argos, apalagi kalau sedang ada diskon akhir tahun 😀 Oya, qt juga perlu tahu apakah peralatan makan (piring, gelas, sendok, water purifier, wajan, dandang) bisa digunakan bersama di rent house qt. Kalau tidak ya berarti qt juga harus membelinya kembali. Tips nya adalah, maksimalkan yang bisa qt pinjam, lalu qt beli perabotan lain seperlunya. (Bahkan saya beli setrika di Argos Cuma GBP 4 alias Rp 60.000 saat itu dan Hand Blender GBP 5 alias Rp 75.000)

5. Pakaian

Saat kita sekolah di negara 4 musim, pasti kebanyakan qt akan berupaya menyiapkan baju musim dingin (coat, mantel) untuk menghadapi tantangan cuaca disana. Saya bahkan sempat berbelanja beberapa baju di Indo dan akhirnya menyesal. Kenapa? Karena ternyata mantel yang saya bawa selain menambah berat massa koper juga ternyata mantel2 di UK lebih beragam modelnya dan diluar perkiraan, murah! Harus lihat tempat belinya juga sih, tapi untuk pakaian rekomendasi harga mahasiswa di UK adalah PRIMARK. Jadi tipsnya adalah bawa mantel secukupnya di Indo (1-2 buah) sedangkan untuk sepatu boots, syal, sarung tangan, bahkan winter coat bisa dibeli di UK, dengan motif2 lebih cantik tentunya.

6. Perluas jaringan (baca: silaturahmi)

Tips terakhir adalah banyak2lah perluas jaringan selama kita sekolah di LN. Ikuti kelompok2 pengajian lokal, pengajian KBRI (yg domisili di London), KIBAR (Keluarga Islam Britania Raya) dan kegiatan PPI UK. Yakin deh banyak banged manfaat yang diterima dari kenalan kita disana. Pengalaman saya pribadi, tidak hanya mengenal mahasiswa lain yg sedang kuliah di UK (via keg PPI UK), justru saya lebih banyak mengenal orang2 Indonesia yang berdomisili atau tinggal lama di UK (via keg pengajian lokal). Banyak bantuan saya dapatkan dari orang2 yg berdomisili di UK. Berbeda dgn mahasiswa, mereka dapat menawarkan solusi paling murah bahkan banyak menawarkan rent house di lingkungan yang baik karena sudah sangat paham dgn kondisi UK. Dengan mengikuti keg KIBAR, teman2 saya pun tidak hanya di London bahkan tersebar di seluruh UK. Hal ini pulalah yang membuat perjalanan kedua suami saya ke UK jauh terasa lebih mudah dibandingkan our 1st experience. Bahkan saving per bulan nya yg dulu hanya sekitar GBP 100 bisa mencapai GBP 500. Alhamdulillaah ‘alaa kulli hal…

Tenyata panjang juga sharing saya kali ini terkait dengan tema keluarga dan penghematan yang diambil. Semoga dapat memberi manfaat ke banyak orang. Sungguh, bukanlah karena saya kaya sehingga saya bisa melalui semua fase perjalanan ini bersama, namun karena Allah yang mengayakan saya, sehingga yang sulit terasa mudah, yang sempit terasa luas, yang tidak mungkin menjadi nyata. Sungguh hanya karunia-Nya yang mampu menjadikan segala, kasih-Nya yang menghapus duka, berkah-Nya menjadi pewarna setiap keberhasilan yang kita terima.

Wallahu a’lam bisshawwab.

Kembali mencuri waktu menulis di sela lelap tidurnya,

30 Maret 2014

Jakarta, 00.25 AM

Advertisements