10 Ramadhan 1435 Hijriah,

Kali ini ku menuliskan catatan bukan mengenai diriku. Tapi untuk seseorang yang namanya juga terselip dalam lantunan doaku. Ku tuliskan catatan sederhana pengikat waktu. Agar di akhir kisah nanti engkau mampu tersenyum jalani hari, saat menatap beratnya ujian saat ini yang ternyata dapat engkau lewati dengan begitu lapang hati dan berserah diri. Untukmu yang berhati syahdu, kakak ipar dan kakak ku…

Kunming, 9 Mei 2014

Ku dapatkan kabar bahwa kakak iparku masuk Rumah Sakit. Seminggu yang lalu ku tahu ia menderita diare yang cukup parah, tapi tidak sampai terpikirkan olehku bahwa ia sampai akan masuk RS. Keesokan harinya ku dengar kabar bahwa kakinya mendadak tidak bisa berjalan. Ku pikir mungkin karena hypokalemia (kekurangan kalium pada darah) akibat diare yang menyebabkannya begitu lemah untuk melangkah. Masih belum kudapatkan kabar lanjutan mengingat aku masih menjalani aktivitas di Kunming, China hingga tanggal 11 Mei nanti.

Jakarta, 12 Mei 2014

Sudah 3 malam kakak iparku dirawat di RS Polri. Masih belum ada perbaikan bahkan kondisinya cenderung melemah. Hasil diagnosa akhir berdasarkan tes lab adalah kekurangan Ca dan Na. Sesampainya di Jakarta, ku dapatkan runutan ceritanya. Pada hari Kamis sebenarnya diare kk iparku sudah membaik, bahkan cenderung sembuh. Namun keesokan harinya (Jum’at) pagi, ia mulai melangkah pincang. Tanpa berpikir negatif, ia mengira bahwa itu dikarenakan keletihan yg biasa. Menjelang sore, tiba-tiba ia tidak lagi mampu untuk menggerakkan kakinya, lumpuh seketika. Saat itulah akhirnya keluarga memutuskan untuk membawa ke RS negeri terdekat, RS Polri Soekamto.

Lima hari berada di ruang rawat inap dan setelah melakukan serangkaian tes kesehatan, masih belum jelas juga apakah penyebab kelumpuhan seketika kk iparku. Maka hari Rabu, 14 Mei 2014 ku anjurkan agar kk iparku dipindah ke RS Swasta yang lebih cepat penanganan nya. Kami putuskan untuk membawa ke RS Premier Jatinegara.

RS Premier Jatinegara, 14 Mei 2014

Sore hari kk iparku sudah berada di IGD RS Premier. Dengan sigap, petugas kesehatan langsung melaksanakan serangkaian tes darah, rongsten, dll untuk menegakkan diagnosa. Tak berapa lama, kami diinstruksikan untuk memindahkan kk iparku menuju ruang ICU. Masya Allah… apa yang sebenarnya menimpa? Sejauh ini penjelasan dari dokter spesialis syaraf mengatakan bahwa diagnosa terkuat adalah kk iparku menderita GBS atau Guillain Barre Syndrome.

Apa itu Guillain Barre Syndrome (GBS)?

GBS atau istilah dlm Bahasa Indonesia radang polineuropati demyelinasi akut adalah peradangan akut yang menyebabkan kerusakan sel saraf tanpa penyebab yang jelas. Ini merupakan penyakit autoimun dimana antibodi yang untuk melawan antigen justru berbalik menyerang sistem saraf tepi lalu menyebabkan kerusakan sel saraf. Kelumpuhan pada pasien GBS biasanya terjadi dari bagian tubuh bawah ke atas atau dari luar ke dalam secara bertahap. Pada penderita GBS parah, kerusakan bahkan dapat berdampak pada paru-paru dan melemahkan otot-otot pernapasan sehingga diperlukan ventilator untuk menjaga pasien agar tetap bertahan.

RS Premier Jatinegara, 14-17 Mei 2014

Untuk menegakkan diagnosis GBS, maka dokter spesialis syaraf mengambil cairan spinal dan kk iparku tetap berada di ruang ICU karena khawatir jika terjadi perburukan pada paru-paru nya dapat berakibat henti nafas mendadak. Dalam waktu 1 hari sudah dapat dipastikan bahwa kk iparku positif menderita GBS dan pengobatan (sementara) pun dapat diberikan secepatnya. Dapat ku pahami pukulan yang sangat berat dirasakan oleh kakak ku. It’s suddenly happened! It’s randomly chosen! Kondisi semula yang sehat walafiat tiba-tiba terbaring lemah tak berdaya. Awalnya hanya kaki yang tidak mampu melangkah saat ini tangan pun sudah bisa digerakkan kembali. Beruntung kk iparku masih bisa berbicara, menelan dan bernafas dengan normal. Baru hamba memahami sungguh berharganya nikmat sehat yang telah Engkau beri. Ya Rabbi… ampuni kami yang sering khilaf tak mensyukuri…

GBS… indeed, u r an expensive disease!

Berbicara mengenai GBS tidak akan terlepas dari belenggu konsekuensi pengobatannya yang mahal. Kami sempat kebingungan karena dikabarkan biaya 1 hari ICU di RS Premier bisa mencapai 10 juta. Sedangkan kk iparku harus berada disana hingga kondisinya dinyatakan stabil. Diluar perawatan dan penginapan di ICU, kami juga harus mempertimbangkan uang yang harus dikeluarkan untuk pengobatan YANG SEBENARNYA. Maksudnya? Ternyata protokoler standar GBS ini adalah pengobatan dgn menggunakan Immunoglobulin atau nama jual pasarannya adalah Gamaras. Gamaras ini akan diberikan sesuai dengan BB (berat badan) pasien. Berdasarkan perhitungan dokter, kk iparku dgn BB 85 kg butuh diijenksikan minimal 8 vial Immunoglubulin per hari, dimana harga 1 vial nya berkisar 4-5 juta. Pengobatan tahap 1 butuh dilakukan minimal selama 5 hari. Jika ditotal, tidak kurang dari 200 juta rupiah harus tersedia segera untuk menebus obat GBS ini. Subhanallaah… kali ini kami diuji dengan kebutuhan materi.

RS Persahabatan, 17 Mei – 3 Juni 2014,

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami putuskan untuk memindahkan kk iparku ke RS Persahabatan. Berdasarkan arahan dari dosenku di FKM UI, selain karena RS tipe A, ia juga merupakan RS vertikal yang langsung mendapatkan dana besar BPJS dari pemerintah. Sempat berharap bahwa BPJS dapat menanggung beban biaya obat Immunoglobulin yang sangat mahal tsb, tapi sangat disayangkan, obat ini belum masuk ke dalam daftar formulatorium nasional yg merupakan rujukan pembayaran BPJS. Biidznillaah… akhirnya kami, Allah mampukan membeli Immunoglobulin tsb dan diberikan selama 5 hari. Alhamdulillaah GBS ini tidak merambat hingga ke pernafasan dan berangsur-angsur kk iparku mulai bisa menggerakkan telapak kaki dan kakinya.

Home Sweet Home, June 4, 2014 until today…

Alhamdulillaah… Segala puji hanya bagi-Nya. Satu-satunya Dzat yang mampu menjadikan segala. Sang Maha pemberi sehat, Sang Maha pencabut sehat. Niscaya semua berada dibawah naungan satu iradat. Saat ini kk iparku sudah kembali ke rumah, berangsung-angsur anggota tubuhnya mulai dapat digerakkan. Mulai dari jari kaki, telapak kaki, kaki kiri sudah mulai bisa diangkat, lalu merambat ke bagian kaki sebelah kanan. Mungkin butuh waktu sekitar 3-4 minggu hingga akhirnya kk iparku mampu menggerakkan kedua kakinya dgn leluasa. Dengan susah payah ia mencoba menggerakkan pergelangan tangan nya, mengangkat lengan nya agar mampu bekerja. Sungguh proses yang sangat lama agar kondisinya dapat kembali seperti sedia kala. Keilmuan kedokteran memperkirakan butuh waktu sekitar 3-9 bulan s.d pasien GBS dapat kembali normal.

Menjalani masa perawatan di rumah, kk iparku juga harus berulang kali dimobilisasi ke RS untuk EMG (elektromiografi), tes darah (karena ternyata obat IG tsb cukup “keras” dan berimbas pd kesehatan liver kk iparku), serta fisioterapi. Dikarenakan jarak rumah dgn RS Persahabatan sangat jauh, kami putuskan untuk rutin melaksanakan fisioterapi di RS Haji. Dalam 1 minggu, minimal 2 x fisioterapi dilaksanakan.

Memasuki akhir bulan ke-2 kk iparku menderita GBS, sampai dgn hari ini ia masih belum bisa berjalan, bahkan berdiri pun belum mampu. Tapi alhamdulillaah progress pengobatan terlihat saat ia sudah mampu menggerakkan kedua kakinya dgn leluasa, mencoba menggerakkan tangan kanan nya dan belajar menyuapi sedikit demi sedikit. Saat ini pun ia sudah mampu mendorong tubuhnya untuk duduk sendiri. Meskipun makan masih disuapi, dimandikan setiap hari, membutuhkan bantuan orang lain untuk membuang urine dan membersihkan feces, latihan menggerakkan anggota badan ditemani, harus digotong dan menggunakan kursi roda untuk berjalan keliling rumah sesekali. Engkau kembali laksana seorang bayi, yg begitu lemah dan membutuhkan bantuan orang lain untuk aktivitas-aktivitas kecil menjalani hari.

Untukmu kk iparku… Semoga Allah hujani kesabaran tiada berbatas untukmu, semangat yang tak pernah layu, harapan yang kian menggebu, agar sehat hiasi tubuhmu, tebalkan iman sejukkan kalbu, agar ikhlas menemani segala penat dan lelahmu, hingga Allah ridhokan Jannah-Nya yang begitu dirindu. Kami masih setia menanti… berdoa dan terus menemani, setiap detik perjuanganmu memberi arti. Hingga Allah sampaikan qt di suatu waktu yg dinanti, dimana engkau mampu menjejakkan kakimu sendiri, melangkah satu per satu berjalan mengisi hari, bergerak dan beraktivitas layaknya sehatmu telah kembali.

Teruntuk mu kakak ku… Inginku hadiahkan sejuta doa atas ketulusan dan baktimu pada suami. Dengan sabar kau terus setia menemani. Tanpa letih menyuapi, memandikan, membuang kotoran, mengurus pengobatan dan perawatan, serta terus hembuskan semangat dan kesabaran. Sungguh ujian kali ini adalah tanda cinta-Nya pada kalian berdua, agar menjadi pewarna dalam kisah mengarungi bahtera rumah tangga. Karena Ia tetap akan selipkan bahagia diantara kerikil ujian-Nya bagi mereka yg senantiasa menjalaninya dgn taqwa. Yakinlah suatu hari, kalian akan tersenyum saat membaca tulisan ini. Saat menyadari, bahwa ujian ini telah begitu dalam memberi arti. Bahwa ternyata kalian begitu kuat menjalani hari. Bahwa sabar dan ikhlas kian memperindah tawakkal diri…

Sebuah epilog…

Di bulan yang suci ini, semoga doa dari teman-teman semua mampu membuka pintu rahmat-Nya. Agar pundak kami semakin dikuatkan, kesabaran dan keikhlasan terus tersemai, kepulihan dan kesehatan segera Allah hadiahkan, serta keberkahan kian tercurah baik untuk yg didoakan maupun lisan-lisan yang saling mendoakan.

Ramadhan kareem,

Depok, 8 Juli 2014.

Advertisements