London, 18 November 2014
Semilir sejuk angin berhembus dalam kedinginan 10 derajat celcius. Ku bergegas menuju 222 Euston Road Building sambil mendekapkan lengan pada jaket tebal merahku. Hari ini adalah hari kedelapan secara official aku menjadi seorang PhD candidate di University College London. Alhamdulillaah… segala puji bagi-Nya yang memberikan nikmat dan rezeki yang tidak terhingga. Atas izin-Nya, 15 Oktober 2014 lalu aku dilantik langsung oleh Bapak Susilo Bambang Yudhoyono sebagai salah satu penerima Beasiswa Presiden Republik Indonesia (BPRI) angkatan pertama. Dan kisah itu akan coba ku torehkan dalam goresan tinta penuh makna. Akan satu kisah perjalanan menapak asa…

Yups, notes kali ini akan sedikit banyak membahas mengenai BPRI atau IPS (Indonesia Presidential Scholarship) berikut ringkasan pemaparan mengenai beasiswanya.

Apa itu BPRI?
Beasiswa Presiden Republik Indonesia atau disingkat BPRI adalah beasiswa pendidikan yang dikelola oleh LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) yang pada pelaksanaannya melibatkan lembaga kepresidenan untuk menyaring secara ketat kandidat penerima beasiswa.

Apa beda BPI (Beasiswa Pendidikan Indonesia) dengan BPRI?
Meskipun sama-sama dikelola oleh LPDP, seleksi penerima BPRI lebih ketat dibanding BPI. Calon penerima BPRI adalah mereka yang dinilai memiliki jiwa kepemimpian tinggi dan pengabdian masyarakat atau kepakaran keilmuan yang dibutuhkan oleh Indonesia ke depannya. Secara persyaratan, BPRI mengharuskan kandidatnya bersekolah di 50 universitas terbaik di dunia atau minimal saat pendaftaran mampu menunjukkan memiliki IPK min 3.5 dan IELTS overall band score 7, namun dikabarkan ada kelonggaran terkait dengan persyaratan IPK atau nilai TOEFL/IELTS jika kandidat mampu menunjukkan potensi kepemimpinan dan pengabdian masyarakat yang besar. Selain itu, jika BPI diadakan proses seleksinya 4x dalam 1 tahun, proses seleksi BPRI hanya dilakukan sekali dalam setahun.

Apa saja proses seleksi BPRI?
Dimulai dari seleksi administrasi, kemudian seleksi berkas, dilanjutkan wawancara, seleksi tahap akhir dan terakhir Program Kepimimpinan. Untuk tahun 2014, berdasarkan paparan panitia, ada sekitar 3000-an orang pendaftar online BPRI yang kemudian hanya 526 diantaranya yg memasukkan berkas. Dari 526 berkas, hanya 283 orang yang dinyatakan lulus untuk mengikuti wawancara (53%), yang kemudian setelah diwawancara hanya 136 orang (48%) yang dinyatakan lulus untuk mengikuti Seleksi Tahap Akhir (STA). Pada akhirnya, setelah 3 hari mengikuti STA, hanya 109 kandidat yang dinyatakan secara resmi menjadi penerima BPRI 2014 angkatan pertama.

Apakah ada quota penerima BPRI?
Kuota penerima BPRI adalah 100 orang dari sipil dan 50 orang dari TNI POLRI. Namun pada kenyataannya pada angkatan pertama hanya ada 109 penerima BPRI yang terdiri 68 sipil dan 41 TNI POLRI. Intinya adalah, bukan jumlah atau target quota yg menjadi point utama, tapi benar-benar tergantung dari kualifikasi calon penerima beasiswa.

Ada keuntungan ndak sih jadi penerima BPRI?
Selain menyandang predikat “presiden” yang membuat beasiswa ini terasa lebih “prestigious”, well… sampai dengan saat ini kalau ditanya perbedaan “materi” yang didapat, sepertinya masih sama dengan penerima BPI: fully covered untuk tuition fee, living cost, settlement allowance, insurance, book allowance, family allowance untuk 2 orang, biaya wisuda, dll. Perbedaan secara materi hanya pada adanya insentif penelitian sebesar 100 juta untuk S3 dan 50 juta untuk S2 (besaran masih belum fix, dan kyana ada insentif juga yg diberikan untuk penerima beasiswa BPI yg kuliah di top 50 universities) dan adanya budget untuk dana pelatihan atau training jika dibutuhkan untuk menunjang penelitian saat perkuliahan. Jadi bisa dibilang quite similar secara materi yg diberikan. Namun sepertinya akan ada perbedaan dalam penjagaan alumni nya, networking alumni BPRI maksudnya. Dan yang paling spesial adalah, pengalaman yg luar biasa untuk bisa bekerja sama dengan abang2 TNI POLRI, one of the greates experience in my life actually, alhamdulillaah… ^_^

Boleh tahu wawancara BPRI itu ngapain aja?
Hmmph… wawancara BPRI menghadirkan seorang akademisi, pakar di bidang pengabdian masyarakat atau petinggi TNI, dan seorang psikolog. Intinya adalah mereka ingin mengkonfirmasi data yg sudah qt berikan di CV, keilmuan yang sudah dan akan qt pelajari, kondisi psikologis dan mental qt, beserta pengalaman & potensi kepemimpinan yang qt punya. Memang deg2an sih, tapi menurut saya, ga usah nervous… just show who the really you are. They can spot any lies or truth behind your answers. Just be yourself lah! Kalau memang qt berkompetensi ndak mungkin akan ditolak 🙂

Kalau Seleksi Tahap Akhir gimana?
Seleksi Tahap Akhir (STA) dilaksanakan selama 3 hari. Dimulai dengan hari pertama berupa medical check up, lumayan lengkap bgd lho tes nya. Mulai dari cek darah, urin, periksa mata, pemeriksaan fisik, EKG, bahkan X-ray. Medical check up ini mengkonfirmasi kandidat bahwa mereka punya kondisi fisik yang sehat untuk mengikuti pendidikan serta terbukti negatif akan penyakit HIV atau drug users 😀 Hari kedua merupakan Profiling Assessment yang berlangsung selama setengah hari. Pertanyaan yang diberikan berupa modul yang menggali minat dan bakat qt, serta preferensi tempat qt bekerja. Klo untuk hari kedua kayaknya tips nya sama, just be yourself sewaktu ngisi, jangan terlalu banyak mikir untuk mengisi jawaban karena kadang takes time atau menyita waktu serta konsentrasi, hehe… Hari terakhir merupakan tes “Leadership Project”. Seluruh kandidat berangkat pukul 01.00 pagi menuju daerah yang sudah disiapkan oleh panitia yg merupakan salah satu daerah tertinggal di Jakarta. Angkatan pertama mendapat kesempatan memulai awal kontribusi di 3 Desa di wilayah Parung Panjang yaitu Desa Ciomas, Cilejeut dan Batok. Kandidat diberikan waktu untuk observasi atau istilah kerennya adalah problem assessment selama 7 jam dari permasalahan yang ada di daerah tsb kemudian berupaya brainstorming untuk merencanakan intervensi yang paling dibutuhkan oleh masy setempat lalu dipresentasikan di hadapan reviewer. Nantinya, setelah mendapatkan masukan intervensi dari reviewer, mereka yang lolos STA akan mengimplementasikan rencana intervensi yang direncanakan saat Program Kepemimpinan.

Nah nah… yang terakhir, Program Kepemimpinan (PK) itu apa?
Ini adalah bagian akhir dari seleksi penerima BPRI yang dilaksanakan selama 10 hari, bisa dibilang qt dikarantina untuk full mengikuti acara dan ditutup dengan Penutupan serta Pelantikan penerima beasiswa oleh Presiden Indonesia langsung. PK BPRI tidak terlalu berbeda dengan BPI kecuali pemateri yang diundang untuk mengisi acara. PK BPRI berupaya mengundang pemimpin2 terbaik dan inspiratif Indonesia untuk menularkan semangat dan berbagi mengenai keilmuan yang digelutinya, seperti dr. Nurul Taufiqurrahman (Ketua Masyarakat Nano Indonesia, Direktur Centre for Innovation LIPI, memiliki 15 paten, 300 publikasi, 7 buku, penerima lebih dari 30 award dan 50 grants), Prof. Firmanzah (Guru Besar Termuda UI, staf khusus presiden RI bidang ekonomi & pembangunan), Bpk. Zainal Abidin (Direktur Institut Kemandirian, Konsultan pembinaan wirausaha SMK, penulis 95 judul buku, pemilik banyak perusahaan mandiri di Indonesia), dan Prof. Jimly Asshiddique (seorang pakar hukum, Ketua Dewan Kehormatan KPU, Ketua tim reformasi bidang hukum, 2x menjabat sbg ketua MK). Selama 10 hari program kepemimpinan, terdiri dari beberapa sesi pemateri, intervensi Leadership Project, penugasan2, serta outbound (bisa dibilang bagian paling seru, hoho). Outbound PK pertama berkesempatan di Markas Latihan Kopassus Gunung Hutan Situlembang, benar-benar 2 hari 1 malam yang tak terlupakan (for other awardees, you really know what I meant :D)

Jadi, kapan proses seleksi BPRI dimulai?
Monggo dicek update-an nya di website lpdp http://www.lpdp.depkeu.go.id/beasiswa/presidential-scholarship/
Proses gelombang pertama BPRI ditutup pendaftarannya pada tanggal 20 April 2013, sedangkan saat angkatan pertama juga dibuka gelombang kedua yg ditutup pendaftarannya pada tanggal 17 Agustus 2013. Untuk angkatan kedua, masih belum pasti apakah akan ada gelombang kedua untuk menyaring kandidat atau cukup hanya dibuka satu gelombang saja. Silahkan dipantau terus update-an web nya. Mulai dibuka sejak bulan Februari 2015 saja, siapa tahu angkatan kedua hanya dibuka 1 gelombang dan ditutup pendaftaran di bulan April 2015.

Lalu, apa ada tips untuk bisa mendapatkan BPRI?
Karena beasiswa ini menitikberatkan pada kandidat yang mumpuni, cakap, cerdas, memiliki jiwa kepimimpinan dan pengabdian masyarakat yang tinggi, maka beberapa point yang dipastikan adalah:

1. Sembari menunggu aplikasi BPRI dibuka, silahkan mulai searching dan tentukan dimana kamu mau kuliah, pastikan jurusan nya terdaftar di 50 besar Universitas terbaik yang masuk ke dalam list BPRI. Apa aja kampusnya? Monggo dicek di http://www.lpdp.depkeu.go.id/beasiswa/presidential-scholarship/

2. Setelah searching dan menentukan, monggo mulai di apply kampus2 tujuannya. Usahakan jangan hanya 1 universitas, tapi beberapa, agar peluang untuk diterima lebih besar 🙂 (Bisa lihat detailnya di notes saya yg lain dgn judul “Lika Liku S2 dan Sedikit Tips Beasiswa”)

3. Jika sampai dengan tanggal penutupan pendaftaran belum juga mendapatkan LoA, pastikan qm memiliki IPK yang tinggi min 3.25 – 3.5 dan nilai IETLS 7.0.

4. Kalau ternyata LoA belum di tangan, IPK ndak setinggi requirement BPRI dan belum tes IELTS gmn? Jangan bersedih, saatnya shape up CV qm dengan menunjukkan beragam pengalaman organisasi dan kepanitiaan yg pernah diikuti, tonjolkan nilai kepemimpinan dan pengabdian masyarakat yang pernah qm lakukan selama menjadi mahasiswa, atau berbagai awards/penghargaan dari berbagai kompetisi di level nasional maupun inetrnasional. Insya Allah itu semua akan menjadi bahan pertimbangan.

5. Intinya adalah… Mulailah bergerak untuk menyiapkan bekal perang. Kalau belum tahu mau sekolah dimana, mulai searching jurusan. Kalau belum tes IELTS, mulai dikuatkan belajar Bahasa Inggrisnya. Kalau persiapan mendaftar sekolah sudah ada, langsung aja apply ke univ tujuan. Dengan qm sudah mengantongi LoA dari 50 top universities, udah menjadi tiket masuk qm diterima untuk lolos seleksi berkas dan qualified untuk lanjut ke sesi wawancara. Intinya, teruslah merajut ikhtiar, kalaupun terasa berat, saat nya tanamkan mindset “Keberhasilan yang besar hanya bisa didapatkan dengan perjuangan yang besar. Jangan salahkan kesulitan, karena hanya dengannya nanti kamu akan mengerti apa makna perjuangan dan sebuah kemenangan”

Waaah… baru menuliskan secuplik tentang BPRI udah panjang aja tulisannya, next time akan aku ceritakan flashback pengalaman selama mengikuti proses seleksinya, insya Allah akan lebih banyak detail yang bisa tergambarkan dari sesi wawancara, STA, bahkan PK. Yang mau mengetahui bagaimana gambaran proses seleksinya, bisa dilihat di video iniAll praises to Allah that given me opportunities to meet with so many great people, learn together with them in such friendly and honest environment, for better Indonesia, insha Allah… ^_^

“Jika kamu letih setelah berbuat kebaikan, maka keletihan itu akan hilang dan kebaikan itu akan kekal. Jika kamu bersenang-senang dalam kesia-siaan, maka kesenangan itu akan hilang dan kesia-siaan itu kekal. Para pejuang sejati tak suka berjanji, tapi begitu mereka memutuskan untuk berbuat, maka mereka akan segera membuat rencana untuk memberi. Jangan pernah lelah untuk berkarya, karena karya kitalah yang dinanti negeri ini…”

Berusaha menulis kembali disela kesibukan membaca jurnal dan menjaga buah hati.
Di sela keheningan malam, pojok kamar
Prince Reagents, 19 November 2014
Pukul 01.25

Advertisements