Udah lama banged ingin menceritakan getar getir asam manis rasanya menjadi mahasiswa S3, tapi entah kenapa susah bgd nemu waktu yg tepat. Terutama as part of being a student, I also have a duty as a mother of one cute little daughter ^_^

Jadi gimana rasanya menjadi mahasiswa S3?
Well… I can say that this is probably the most difficult phase of study that I have ever done in my life! Kenapa? Bisa dibilang karena GA JELAS. Wait wait… bukan kuliahnya ga jelas tapi memang struktur dan jadwal kegiatannya harus KITA SENDIRI yg MEMPERJELAS. Become a PhD student means you are trained to become an independent researcher. Jadi, ga ada yg ngasih arahan besok harus apa, minggu depan gimana, target tahun pertama apa, dst. Kalau S1 dan S2 terbiasa dengan jadwal padat dan sibuk, serius bgd, 3 bulan pertama ini adalah masa puncak2 kegalauan dw sbg mahasiswa. Alasannya?

Untuk studi S3 ini, alhamdulillaah dw dapat kemudahan dan bisa dibilang jadi PhD student dgn cara yg extraordinary. Kalau biasanya qt menulis proposal dahulu kemudian menghubungi supervisor, kali ini dw diterima S3 tanpa proposal. Sang professor memberi pilihan terserah topik apa yg mau diambil untuk S3 ini. Dan inilah sumber utama kegalauan itu! Diberi pilihan mulai dari studi TBC, Influenza, Norovirus, HIV, chronic & infectious disease, microbacterial resistance dan akhirnya dw end up dgn project Hepatitis C. Lagi2, karena suka merasa ndak puas dgn yg ala kadarnya, akhirnya naikin level kesulitannya. Apa?

Studi S3 dw ini menggunakan banyak pendekatan, mulai dari prevalence and risk factor study, lanjut ke genomic study (yg padahal dw ga ada ilmu dasarnya sama sekali), nyinggung bioinformatics untuk analisis whole genome sequencing (lagi2 harus belajar dr nol untuk ini), dan modeling study (improve dari ilmu yg udah didapat saat S2). Dan ga tanggung2, yg rencananya akan dimodelingkan adalah eradikasi penyakit Hepatitis C di sebuah area, bernama Guernsey Island. Bahkan kalo waktu nya masih memungkinkan bisa lanjut ke cost effectiveness study. Jadi bisa dibilang I ended up become a project leader for Hepatits C eradication in Guernsey Island, salah satu pulau yg terletak di antara England dan France yang katanya kaya bgd. Akhirnya percaya, karena rencananya dlm project ini Government State of Guernsey bersedia membayar pengobatan antiviral baru yg harganya kisaran GBP 30,000 (sekitar 600,000,000) per orang untuk setiap penderita Hep C yg ada di pulau itu!! Jadi setelah diberikan pengobatan, diharapkan kasus HCV di pulau itu nol atau ga ada sama sekali (mencapai eradikasi).

Lalu lalu, apa lagi tantangannya?
Di UCL ini dw mendapat supervisor yg cukup kece, namanya Prof. Andrew Hayward. Beliau adalah Deputy Head of Department, codirector of the UCL for Infectious Disease Epidemiology, infection lead of Farr Institute of ehealth research dan rencananya akan menjadi head Research Department of Infectious Disease Informatics. Kecenya adalah meskipun beliau adalah orang yang super sibuk, tapi masih bisa meluangkan waktunya untuk konsultasi. Bener2 banyak belajar nilai leadership, coordination dan time management nya yg luar biasa. Balik lagi ke tantangan, seperti dw bilang di atas, selama S3 ini qt belajar menjadi independent researcher, dan alhamdulillah dw dilibatkan pada sebuah project besar supervisor yg bernama ICONIC (InfeCtion respONse through vIrus genomiC). Mendapatkan grant dari Welcome Trust sejumlah 6 juta GBP (setara dgn 120 Miliar rupiah) untuk menganalisa virus infection genetics dari beberapa spot Rumah Sakit di UK. Nah nah, di tim ini ketemu banyak bgd orang hebat berasal dari beragam latar belakang, mulai dari virologist, epidemiologist, statistician, mathematician, health economist, epidemiologist dan bioinformaticians. Kebayang kan kalo lg berada di tengah2 meeting harus pasang kuda2 FOKUS 100% karena harus “ngeh” dengan percakapan mereka yg super cepat. Kadang berasa di dunia lain, hehe.. tapi itulah, part of my learning to become a professional international researcher.

Intinya S3 itu gado2 bgd rasanya. Yang pasti seru dan menantang. Dan yang cukup uniknya, A PhD is 90% persistence and 10% intelligence. PhD doesn’t need a brilliant person, it only requires a persistence learner! Sekian dulu sharing cepat 30 menit dari saya, akan dilanjut pada notes berikutnya, insya Allah… ^_^

phd1

Advertisements