Ini adalah point terpenting dari segala challenges as a student mom: membagi waktu antara urusan studi dgn keluarga. Tantangan terbesarnya adalah saat kita memiliki balita atau bahkan batita, karena di saat itulah mereka memerlukan perhatian yang luar biasa besarnya dari orang tua.

Menjadi seorang student mom haruslah digarisbawahi bahwa peran utama kita adalah sebagai ibu, sedangkan peran sebagai mahasiswa hanyalah peran tambahan. Apa artinya? Kewajiban utama seorang muslimah tetaplah bertumpu pada tiga pilar: marátus shalihah (wanita shalihah), zaujatu muthiáh (istri yang taat) dan ummul madrasah (bunda peradaban). Pada prakteknya, peran tersebut diselaraskan dalam rangka bertawazun dalam 3 aspek kehidupan, yaitu ruhiyah, jasadiyah dan fikriyah. Apa maknanya? Ada banyak sekali peluang pahala yang diberikan kpd seorang wanita, di kala diri mampu menjalani fungsi dan kewajiban utama sebagai muslimah, mengejar keridhoan Allah melalui pembelajaran kehidupan dan mereguk luasnya samudera ilmu dapat menjadi nilai tambahan.

Apa konsekuensinya? Konsekuensinya adalah kita harus mampu menunaikan kewajiban utama sebagai ibu rumah tangga, pendidik utama bagi anak-anak kita serta meluangkan waktu terbanyak kita untuk keluarga. Implikasinya? Sudah pasti akan banyak sekali hal yang dikorbankan, utamanya adalah waktu istirahat kita. Mencoba memadatkan segala agenda serta mengatur aktivitas sedemikian rupa agar setiap kewajiban tertunaikan dengan merata. Saya pribadi hanyalah seorang bunda pembelajar, berupaya merajut ikhtiar agar setiap jeda aktivitas tidak berlalu sia-sia serta menghadirkan keberkahan dan keridhoan dari-Nya. Berikut adalah sedikit sharing dari saya bagaimana mengatur waktu antara studi dan keluarga saat diri ini berada sejauh 11,711 km dari tanah air tercinta.

Tips:
a) Membangun visi peradaban yang sama
Jika ada yang bertanya bagaimana bisa? Insya Allah semua berangkat dari satu visi pernikahan yang sama, visi membangun keluarga dan peradaban yang sama. Di hari awal pernikahan kami, kami langsung membuat life plan perencanaan 50 tahun ke depan. Ketika sudah sepakat akan melakukan apa dan bagaimana, maka komitmen itulah yang kami jaga. Itulah kunci utama. Prinsip kami adalah saling berlomba-lomba dalam mengejar kebaikan, saling mendukung life plan masing-masing, dan tentu dalam pelaksanaannya tidak bisa dilakukan sendirian, butuh kerja sama tim dan pembagian peran yang seimbang. Pada akhirnya bukan saling menghindar untuk mengurangi tugas rumah tangga, justru sebaliknya, mengerjakan peluang-peluang kebaikan untuk saling mengisi, bersama meraih mimpi. Mengenai life plan bersama, kami pun sadari bahwa setiap pilihan akan melahirkan konsekuensi, tapi pada akhirnya itulah pilihan kami, tentunya setelah menyertakan Allah dalam menimbang, istikharah dan berdoa tiada henti. Bagi kami yang terpenting adalah keluarga, kebersamaan dan mengejar keridhoan-Nya.

b) Manajemen peran
Manajemen peran disini adalah kita harus dapat memposisikan diri untuk FOKUS mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan studi saat di kampus, dan FOKUS mengerjakan pekerjaan rumah tangga sebagai istri dan ibu saat di rumah. Jangan sampai kebalik, pekerjaan rumah dikerjakan di kampus (include cek email, balas2 WA, belanja online, dst) dan kerjaan kampus diselesaikan di rumah. Segera setelah sampai di rumah, baiknya tidak langsung istirahat, tapi biasakan dengan mengerjakan housework seperti mencuci baju, memasak, dll.

Saya pribadi memaksimalkan 4 hari di kampus selama seminggu untuk menunaikan kewajiban 35 hours per week masa belajar full time PhD student. At least I have three days off every week to spend with my daughter. Kalaupun waktu terasa tak mungkin, hanya satu yang bisa saya harapkan, KEBERKAHAN dari-Nya. Berharap agar sedikitnya waktu yang dapat diluangkan di kampus mampu memenuhi semua targetan studi, dan alhamdulillaah… begitu banyak kemudahan yang saya rasakan so far ^_^

c) Tertib berbelanja dan buatlah schedule masak
Yang rajin masak pasti paham kalo pekerjaan rumah yang satu ini cukup menyita waktu dan tenaga, terutama saat menyiapkan bahan-bahannya. Kalau buat yang relatif praktis mungkin bisa jadi sebentar, tapi kalau udah yang agak ribet seperti nasi bakar, siomay, pastel, dkk pasti butuh ekstra tenaga dan waktu. Nah… untuk memaksimalkan waktu yang relatif lebih padat, saya biasakan untuk berbelanja makanan 2 minggu sekali via delivery (lagi-lagi menghemat tenaga untuk tdk berbelanja di luar sekaligus suka mendapat promo-promo potongan harga dan terhindar dari membeli barang-barang yang tidak diperlukan). Saya biasakan menyusun menu makanan untuk 2 minggu ke depan, me-list ingredient yg dibutuhkan, dan biasanya kuantitas sekali masak cukup untuk 2 hari ke depan. Jadi saya hanya cukup memasak sekitar 3-4 kali per minggu nya. Saat weekday cukup memasak yang praktis seperti ayam bakar, ayam goring, gulai, soto, chicken thai curry, seafood asam manis, dll sedangkan kalau weekend atau hari libur menyempatkan masak yang agak ribet seperti spagetthi bolognaise, pempek, cendil, cilok dan aneka makanan Indo yang suka bikin kangen di negeri orang 😀

d) Berbagi peran dengan pasangan
Ini adalah point penting dalam kehidupan rumah tangga: KERJA SAMA. Saya beruntung memiliki suami yang bersedia menghabiskan waktunya untuk menjaga sang buah hati saat saya pergi ke kampus. Jika suami dan istri sama-sama sedang menempuh studi, bagilah peran dan kesempatan untuk sama-sama mengisi waktu antara studi dan menjaga buah hati. Insya Allah dengan komitmen yang sama, akan tercipta harmoni kerja keras dan buah kesuksesan di penghujung ikhtiar. Lagi-lagi, hindari menghitung seberapa banyak keringat yang sudah kita kerjakan, namun saling mengejar kebaikanlah yang diutamakan. Bukankah sebaik-baik suami adalah yang mampu memuliakan istri? Dan bukankah setiap jerih payah istri di rumah sama nilainya dengan jerih payah suami di medan jihad? Lalu bukankah inti dari membangun keluarga adalah membangun sebuah tim yang solid? Dimana iman dan taqwa adalah pondasinya, kerja sama menjadi pilarnya, keikhlasan dan tolong menolong adalah penaungnya.

e) Luangkan waktu untuk pengajaran dan have fun!
Salah satu peran sebagai orang tua yang tidak boleh dilupakan adalah pendidikan anak, terutama pendidikan agama. Pendidikan agama di UK tentu tidak semudah mendapatkan seperti di Indonesia, peran orang tualah yang besar disana. Saya membiasakan meluangkan waktu 10-15 menit khusus untuk hafalan Qur’an dan setengah jam untuk pengajaran yang lain (English, number, alphabet, Arabic letters, dll) setiap harinya. Budayakan shalat berjamaah bersama anak. Pilah dan pilih apps serta video yang ada di tablet anak sehingga memudahkannya untuk belajar sambil bermain. Tidak lupa sediakan alat-alat bermain kreativitas yang dapat memacu motorik sang anak (play dooh, lego, puzzle, dll).

Luangkan waktu untuk menemani anak bermain atau sekedar mengobrol untuk mengetahui aktivitas hariannya. Berikan rewards yang pantas jika anak sudah bisa melakukan kepintaran yang lainnya sebagai penyemangat. Sesekali luangkan waktu untuk mengajak anak bermain di luar seperti taman, museum, dan theme park agar ia banyak bersosialiasi dengan dunia luar serta mengasah kecerdasan dan rasa syukurnya terhadap alam. Sudah pasti ibu-ibu mahasiswa seperti saya harus lebih kreatif untuk mengajak anak bermain, karena sarana dan prasarana kreativitas sangat mahal untuk didapatkan, buku-buku pelajaran dan kisah hikmah pun begitu terbatas dan tidak terjangkau. Oleh sebab itu, bersyukurlah para bunda di Indonesia dengan segala sarana dan prasarana yang ada 🙂

Inti dari management waktu antara studi dan rumah adalah keinginan, keikhlasan dan kesungguhan kita. Keikhlasan untuk mengurangi waktu istirahat kita, keikhlasan untuk lebih letih disbanding istri-istri di keluarga lainnya, keikhlasan jika harus mengorbankan kepentingan pribadi untuk keluarga. Insya Allah saat kita sudah ikhlas, jiddiyah lah penopang nya. Kesungguh-sungguhan untuk menjawab tantangan dan terus bergerak ke depan. Karena ingat, kesuksesan tidak gratis didapatkan, manisnya buah kemenangan harus ditanam dan melalui perawatan yang tidak sebentar.

Jika ditanya bagaimana bisa tetap semangat? Mungkin jawaban itu terletak pada niat. Kalau saya ditanya, saya kuliah bukan sekedar untuk mendapatkan gelar atau kedudukan/jabatan, tapi murni untuk mengejar keridhoan Allah dan memberi sebanyak-banyaknya kebermanfaatan bagi umat. Dari niat itulah, saya tidak pernah surut untuk terus berjuang mengejar impian, dan saya pun mengikutsertakan anak saya dalam perjuangan itu. Insya Allah kisah kami tidak akan lapuk, karena Allah lah satu-satunya penyemangat di saat langkah terasa surut.

Menulis kembali dengan sedikit revisi,
Mengukir dan menebar semangat untuk para ibunda shalihat,
Semoga setiap lelah dan padatnya aktivitas kita kan berbuah surga…

Sunny Saturday caught in flu,
18 April 2015

Advertisements