Empat tahun lalu, ada seorang lelaki datang tanpa disangka untuk meminang. Untuk menjaga kesucian dan mengharap ridho Allah semata katanya. Cukup kaget karena sebenarnya tidak terlalu mengenal siapa sosok laki-laki ini. Baru tahu pun setelah lulus kuliah S1, padahal katanya lumayan terkenal di fakultasnya. Penampilannya cukup anti mainstream: kurus, berjenggot panjang dan bercelana cingkrang (hihi). Beberapa teman mengatakan ia sangat aktif di organisasi, tipe blak2an apa adanya, dekat dengan Qur’an dan menjaga hafalan. Agak sangsi karena latar belakang budaya yang berbeda, dan tahu pasti orang tua lebih menginginkan calon suami yg berasal dari suku Jawa. Aneh dan tak disangka, entah mengapa bulir keyakinan hadir dalam istikharah dan sujud-sujud panjang meminta. Walaupun saat itu sudah memasrahkan kepada Allah waktu terbaik untuk membina rumah tangga, bahkan dalam lifeplan pun masih lebih cepat 2 tahun dari rencana.

Inilah sosok laki-laki yang meminangku empat tahun lalu...
Inilah sosok laki-laki yang meminangku empat tahun lalu…

Sampailah pada tanggal 22 Mei 2011, masa dimana akad terucap dan ijab qabul telah menggetarkan langit Arsy-Nya. Hanya berselang 3 bulan setelah mantap pada keyakinan berdasarkan jawaban istikharah yang dilakukan. Masih teringat betul saat itu, saking groginya, laki-laki ini salah mengucapkan nama lengkap dan tanggal pernikahan, yang sampai sekarang jika diingat akan segera membuat senyum simpul di wajah. Bayangkan saja di tengah prosesi sakral, tepat setelah saya diperbolehkan turun ke lantai 1 masjid dan bersanding dengan laki-laki ini, tiba-tiba banyak kesalahan kata dalam kalimatnya. Rhevy Adriade Putra BINTI Adrian dan 21 Mei 2011. Padahal ijab qabul begitu lancar hanya satu kali diucapkan. Katanya setelah itu “Bagaimana tidak grogi, tiba-tiba ada bidadari bersanding di sebelah diri?” Aiiiih… bisa aja! Setiap kali saya mengatakan dia gombal, laki-laki ini selalu menjawab “Saya tidak bisa gombal, saya hanya mengatakan yang sebenarnya, sejujurnya apa adanya. Kalau gombal kan diada-adakan”. Begitulah akhirnya laki-laki yang tidak pandai merayu atau romantis ini menjadi imam ku saat ini.

Ada lagi hal yang ingin kuceritakan mengenai lelaki ini. Ingat betul saat masih kuliah, saat ada fit and proper test untuk pemilihan mas’ul LDK, saya teringat ada 5 calon ikhwan yang sedang berdialog publik. Ingat betul ada satu laki-laki yang cukup frontal dan memiliki pemikiran yang berbeda di antara calon-calon lainnya. Saat ini biasa disebut dengan golongan anti mainstream. Sebutlah hal mengenai jam malam bagi ikhwan akhwat. Lelaki ini berkata, “Tidak perlu adanya jam malam, toh yang bermain disana adalah hati. Yang harus dijaga itu hati masing-masing, bukan persoalan jam”. Lalu ia membeberkan paparan dan argumentasi lainnya yang pada akhirnya membuat saya menggangguk. Tapi tetap saja, calon ini terasa berbeda dibanding calon lainnya, ngeyel tapi argumentatif, mungkin itu istilah yang tepat baginya. Entah mengapa, saya baru menyadari setelah 2 minggu atau 1 bulan pernikahan kami, laki-laki yang tengah berdiri di sampingku inilah orangnya. Benar-benar kaget dan tidak menyangka. Karena saya memang sangat membatasi diri dengan laki-laki dan tidak terbiasa melihat wajah orang, sehingga saya baru menyadari laki-laki “frontal” itulah yang menggenggam tanganku saat ini, bersama melewati bahtera rumah tangga. Laki-laki yang selalu menyertakan hadist atau riwayat dalam setiap argument nya 😀

Ingat betul nasihat laki-laki ini, “Sertakan Allah dalam setiap pilihan kita”. Hal itu pulalah yang terus menjaga setiap langkah dan jejak perjalanan keluarga kecil ini. Pilihan yang melahirkan keikhlasan, ketangguhan, keimanan dan ketaqwaan dalam setiap terjal perjalanan. Begitulah kisah ini mengalir hingga hari ini, semoga perjalanan cinta ini kan berbuah keridhoan-Nya, seperti selalu katanya “Menjaga kecintaan kita kepada Allah, selayaknya berdoa agar Allah senantiasa menjaga kita dengan cinta-Nya. Cinta yang tak hanya bersemi di dunia, namun cinta yang kan terus berbuah indah di surga.”

Mereguk hikmah di tahun ke-empat pernikahan kita. Di tengah kebingungan membuat atau memberi apa, lahirlah catatan sederhana pengikat masa. Semoga Allah limpahkan berjuta keberkahan pada cinta kita, hari ini, esok dan selamanya, hingga cinta kita dipertemukan kembali di surga-Nya yang didamba…

London, 22 Mei 2015

Foto beberapa tahun lalu, saat kami masih sering tersipu, terus berta'arud seiring berjalannya waktu...
Foto beberapa tahun lalu, saat kami masih sering tersipu, terus berta’aruf seiring berjalannya waktu…
Advertisements