“Dear child, I’m not telling you it is going to be easy. I’m telling you it is going to be worth it”

Kembali lagi dengan tulisan bertemakan kehidupan sebagai mahasiswa S3. Ga terasa sudah 9 bulan saya merasakan getir manisnya menjadi mahasiswa PhD, yang menurut sebagian orang masih dalam masa-masa “menyenangkan”. Ini hanya tulisan ringan, sekedar beberapa paragraf curhatan lebih tepatnya yang berujung kesimpulan. Curhatan pertama: sejujurnya dalam hati saya merasa, ini udah 9 bulan tapi koq ya belum ada progress apa-apa untuk studi nya 😀

Jadi kurang lebih ada beberapa tipe mahasiswa PhD (versi saya). 1) Mahasiswa yang ngikut dengan project kerjaan supervisornya, artinya research questions dan study design nya tinggal ikut saja sesuai dgn project yg sudah berjalan. Data juga biasanya sudah tersedia jika project nya sudah berjalan sebelumnya. 2) Mahasiswa yang datang kpd professor dgn membawa proposal riset, kurang lebih sudah lebih jelas research questions nya, lalu mengeksekusi per bagian sub-bab nya. 3) Tipe PhD student yg lain adalah yang datang tanpa “bekal”, dan “beruntung” nya saya termasuk kategori itu, PhD yang datang ndak bawa proposal dan ndak juga ikut project supervisor yg sudah berjalan. Akhirnya ditakdirkan menyusun sedari awal persiapan riset di lapangan. Mulai dari membangun koneksi dgn kolaborator, menyusun research question, mengembangkan studi protokol, kuesioner, patient information sheet, informed consent, daftar studi etik di 2 tempat, dan segala macam pekerjaan detail lainnya.

Awalnya saya mengira mencari research question itu mudah, wong cuma nyusun pertanyaan aja koq bingung. Tapi kenyataannya, saya butuh bolak balik berdiskusi dgn supervisor selama 1 bulan, ngubek-ngubek buanyaaak papers hingga fix research question yg akan kita jawab. Fiuuh… benar-benar menyita waktu yg menurut saya “seharusnya bisa cepat”. Tapi lagi2, menjadi PhD mengajarkan saya agar “Not to do it fast, but to DO IT RIGHT”! Kebiasaan saya bgd klo udah ada target akan dikerjakan secepat mungkin, tapi saat S3 ini saya harus menerima kenyataan “pahit” bahwa semua timeline saya jadi bergerak mundur. Bahkan hal simple seperti membuat flowchart study saja memakan waktu hingga 3 minggu sampai klop dengan “standar” supervisor. Sebenarnya lamanya bukan karena ngerjainnya, tapi nunggu feedbacknya, karena dapat jatah pertemuan pun hanya 1 minggu sekali (itupun udah termasuk sering) dibanding mahasiswa S3 yg lain.

Ilustrasi Output Kerjaan PhD student: antara ekspektasi dan kenyataan
Ilustrasi Output Kerjaan PhD student: antara ekspektasi dan kenyataan

Kadang merasa sedihnya adalah, di saat mahasiswa lain sudah bisa mulai analisa data dari project supervisornya, ikut konferensi2, drafting publikasi jurnal, saya masih harus berkutat dengan protokol studi, dokumen-dokumen, etik, dsb. Tapi itulah makna belajar. Dan lagi-lagi, saya mengambil sisi positif dari kondisi saya saat ini. Allah hendak mengajarkan saya how to be a professional researcher dari 0, dari titik permulaan agar paham semua proses, dokumen dan prosedurnya. Alhamdulillaah… saat ini saya sudah mengantongi ethics approval dari Guernsey, hanya tinggal menunggu dari UCL. Rencana studi pun akan dimulai sejak bulan September ini di Guernsey. Oh ya, studi S3 saya ini bukan di UK atau Indonesia, tapi di sebuah pulau kaya yg terletak di Channel Island, tepatnya berada diantara UK dan Perancis (lengkapnya bisa dibaca disini). An at the end, at least hati saya berbunga-bunga ketika membaca feedback dari supervisor mengenai performa study saya yg disampaikan untuk progress report ke LPDP.

PhD 2

Sembari menunggu proses birokrasi, trus ngapain dong? Curhatan saya kedua, menurut saya PhD seperti saya ini (non lab) punya banyak bgd waktu untuk dimaksimalkan. Sembari menunggu proses birokrasi yang bergantung pada orang lain, saya mengikuti saran supervisor kedua saya untuk banyak mengambil doctoral training course di tahun pertama studi, karena itulah masa paling luang untuk seorang mahasiwa PhD, yang katanya tahun k2 dan k3 pasti akan jauh lebih sibuk lagi. Peraturan di UCL mewajibkan setiap mahasiswa PhD untuk minimal menghadiri doctoral training course sehingga mendapat point 20 setiap tahunnya. Kebetulan karena saya sangat “patuh” dengan saran supervisor saya (padahal memang bingung karena ga ada kerjaan), saat ini saya sudah mengantongi 68 point alhamdulillaah…

PhD 3

Kegiatan lain yaitu saya sudah memulai systematic review sejak bulan Juli 2015 dan sudah berhasil melakukan initial screening 9000an papers sebelum akhirnya direview secara keseluruhan. Masih harus berkutat dengan full text review dan data extraction selama 2 bulan ke depan. Tuh kaan.. ga banyak kan yang saya lakukan selama S3 ini? *fiuh

Curhatan ketiga adalah, saya merasa kurang produktif selama S3 ini. Entah karena pengaruh sudah ada anak sehingga waktu konsentrasi saya di rumah full hanya untuk anak, dan waktu di kampus pun sangat didiskon agar bisa pulang cepat hanya sekedar untuk bermain bersama anak (beneran curhat emak2 kalo ini). Diluar studi, saya saat ini masih membantu seorang professor di FKM UI untuk menganalisa data penelitian yang memang sudah saya ikuti dan tanggung jawab saya risetnya sejak tahun 2010. Saya juga membantu drafting publikasi hasil thesis mahasiswa S2 UI karena dulu saat bimbingan thesis, saya yang ditunjuk untuk membantu memberi pemahaman terkait dengan metodologi penelitiannya. Agenda lainnya adalah merancang menu makanan, mencoba resep baru, jalan-jalan keluarga dan full bermain, hehe… Jadilah saya meniatkan lebih rajin membuat tulisan agar memacu produktivitas saya.

PhD 4

Tapi eh tapiii… menurut saya pribadi tidak ada yang salah dengan skenario ini. Lagi lagi saya belajar bahwa takdir Allah atas hamba-Nya tentulah teramat indah. Dengan saya S3, saya justru merasa memiliki waktu yang lebih banyak bersama anak dibandingkan jika saya harus bekerja di Jakarta. Mungkin saya adalah tipe hard worker, saya putuskan untuk memaksimalkan waktu selama 2-3 hari di kampus untuk mengejar deadline tugas (datang dari pagi dan pulang malam), dan sisanya 4-5 hari full di rumah! Tuh kaaan… betapa banyak waktu yg bisa saya habiskan bersama anak. Sebuah kenikmatan sendiri Allah berikan saya waktu yg cukup untuk benar-benar menjadi seorang istri dan bunda. Di saat di sisi yg lain tetap dapat memaksimalkan potensi saya untuk belajar setinggi-tingginya. Dan itulah hikmah dibalik menjadi a PhD student mom. Jadi kesimpulan saya di akhir catatan sebagai mahasiswa PhD yg sudah genap berusia 9 bulan,

“Jangan takut untuk sekolah wahai bunda, yakinlah potensi dan asamu yang akan merangkul cita. Tetap menyemai kasih dan cinta bersama keluarga, kelak memberi manfaat untuk umat sebagai bekal utama”

Disclaimer: Bisa jadi curhatan saya di atas hanyalah opini saya pribadi semata dan tidak berlaku bagi semua PhD student. Dan mungkin kondisi akan berubah pada tahun kedua dan ketiga saya studi. Minimal, saya ingin mencatat apa yang tengah saya rasakan sekarang. Karena become a PhD student means, you are riding a roller coaster. Sometimes you are so happy above, but at one point maybe you will fall down. Overall, I am happy to be in that process 🙂

PhD 5

London, 22 Agustus 2015

Melanjutkan tekad untuk menulis lebih banyak lagi ^_^

Advertisements