“Success belongs to the relentless learner. Because as you know more, you can achieve more.”Robin Sarma-

Tiga hari kemarin saya baru saja menyelesaikan sebuah short course yang diselenggarakan oleh LSHTM (London School of Hygiene and Tropical Medicine). Saya mengambil short course tersebut dalam rangka mengasah (atau lebih tepatnya mencoba memahami) advance genetic epidemiology dikarenakan salah satu riset saya menyinggung analisa WGS (Whole Genome Sequencing). Secara sederhana, genetic epidemiology adalah ilmu yang mempelajari peran faktor genetik (cth: gen dan DNA) yang menentukan kesehatan pada keluarga dan populasi, serta bagaimana faktor genetik tersebut terpengaruh oleh faktor lingkungan.

Contoh yang paling sering kita temukan, seperti penyakit yang diturunkan dari orang tua kita, seperti diabetes tipe 2, parkinson, hiperkolesterol (kolesterol tinggi), hemofilia (kelainan pada darah), buta warna, asma, thalassemia, hipertensi, alergi, dll. Naah… short course ini lebih membahas detail bagaimana cara peneliti menemukan spesifik gen yang berpengaruh pada penyakit atau kecenderungan kondisi tertentu. Seperti adanya gen spesifik yang membuat orang yang memiilki gen tersebut dapat sembuh secara natural dari penyakit hepatitis C, atau gen yang membuat orang lebih resisten terhadap obat malaria dan TBC, atau gen yang memicu perkembangan sel kanker tertentu.

Contoh hasil bacaan RNA Sequencing Micobacterium Tuberculosa
Contoh hasil bacaan RNA Sequencing Micobacterium Tuberculosa
Mencari SNPs atau mutasi dalam gen tubuh manusia
Mencari SNPs atau mutasi dalam gen tubuh manusia

Short course ini diselenggarakan selama 3 hari, sejak tanggal 14-16 September 2015 di LSHTM, Keppel Street, London. Hari pertama fokus pada pembahasan Bioinformatics, hari kedua tentang Population Genetics, dan hari ketiga mengenai Genomic Epidemiology. Bisa dibilang saya sangat awam mengenai topik-topik tersebut, terutama hari pertama. My brain suddenly heat up mengikuti course yang dimulai sejak pukul 09.00 hingga 17.00 sore tsb. Bisa dibilang short course ini tergolong mahal, bagi professional seharga GBP 890, meskipun saya beruntung mendapatkan harga mahasiswa GBP 550 (atau setara dengan 12 juta), namun tetap berasa mahal untuk course yang diadakan selama 3 hari, tapi itu merupakan nominal yang wajar untuk short course yg diadakan di UK (fiuh). Apalagi yang menyelenggarakan adalah LSHTM yang sudah sangat ternama untuk riset-riset di bidang kesehatannya, terutama di bidang tropical disease.

Sedikit catatan yang ingin saya bagi, dengan mengikuti course itu, saya semakin menyadari kalau ternyata ilmu yang saya miliki masihlah sangat sedikit. Dan sungguh, bahkan untuk ilmu epidemiologi saja ada spesifikasinya masing-masing dan memiliki metode dan cara analisa yang berbeda. Saya biasa berkutat dgn classic, modern dan spatial epidemiology, terutama untuk penyakit-penyakit menular. Khusus untuk S3 ini, saya menantang diri saya untuk masuk ke bidang genetic epidemiology yang ternyata benar-benar di luar kapasitas saya. Sebenarnya saya ga perlu repot-repot belajar ini, karena sebenarnya sudah ada kolega saya di Sanger Institute – Cambridge yang akan bantu menganalisa datanya. Tapi bagi saya pribadi, waktu 3-4 tahun PhD di UK tidak boleh disia-siakan begitu saja. Saya berniat untuk mereguk sebanyak-banyaknya ilmu disini dan membawanya kembali ke Indonesia.

Lagi lagi, sebenarnya saya bisa memilih untuk mengambil posisi nyaman hanya berkutat pada bidang yang saya tekuni saja tanpa harus mencoba-coba tantangan baru. Tapi bagi saya pribadi, pengalaman riset saya mengajarkan saya bahwa ternyata Indonesia memang masih tertinggal di bidang ini, dan masih membutuhkan banyak ahli untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kesehatan di masyarakat. Oleh sebab itulah, saya tetap bertekad untuk belajar, meskipun konsekuensinya adalah kepala cepat terasa berat, gejala pusing-pusing, dan agak sempoyongan pas pulang (haha, ini lebay 😀 ).  Walaupun katanya, kepala pusing itu berarti otak kita sedang berupaya mencerna ilmu baru yang masuk dan diendapkan di dalam otak kecil (nyari alasan ilmiah 😀 ).

Ini nih bentuk penampakan bagaimana software bioinformatics sudah sedemikian advance nya membaca susunan nukleotida sel manusia atau spesifik virus tertentu. Atau bagaimana penampakan strain (jenis) Micobacterium Tuberculosis (penyebab penyakit TBC) yang ada di dunia. Strain yang berbeda ini terklasifikasi menjadi 7 liniage dimana 4 yang dominan adalah: 1) Indo-Oceanic 2) East-Asian including Beijing 3) East-African-Indian 4) Euro-American.

Hasil sequncing bakteri TBC dari 1600 samples di banyak negera di dunia
Hasil sequncing bakteri TBC dari 1600 samples di banyak negera di dunia

Yang jelas, selama course kemarin saya dihadapkan dengan beragam chart, hasil bacaan sequencing yang lumayan menguras otak. Huruf-huruf ACGT senantiasa menghiasi layar monitor, ditambah dengan kurva naik turun. Minimal saya senang kalau ada warna warni muncul pada bacaan sequencing saya 😀

Penampakan hasil bacaan nukleotida dan kurva variants genome
Penampakan hasil bacaan nukleotida dan kurva variants genome

Tapi harus saya akui bahwa penelitian orang-orang di UK ini sudah sangat jauh dan advance menerapkan teknologi. Salah satu lecturer saya memaparkan beberapa hasil penelitiannya di bidang population genetic di negara-negara Asia, seperti dengue di Thailand, lepra di Filipina, dan malaria di Malawi. Saya sendiri bertekad akan menjadi tuan di rumah sendiri, artinya berupaya sebisa mungkin untuk mengolah data atau memimpin penelitian di negara sendiri. Bisa dibilang Indonesia itu sangat kaya, pun kaya dalam “masalah kesehatan”, sehingga menjadi daerah yang appealing untuk diadakan riset. Saya memimpikan suatu saat dapat memimpin penelitian kesehatan di negara saya sendiri, mampu memberdayakan sumber daya yang begitu kaya, kemudian mengelolanya secara professional, dan menghasilkan penemuan riset yang dapat memberi banyak maslahat bagi masyarakat. Yaaah… setidaknya itu adalah salah satu impian dan landasan asa yang membuat saya semakin mantap menapaki tangga ikhtiar dan lembaran cita-cita. Seperti quotes terkenal dari Steve Jobs berikut ini:

“Because the people who are crazy enough to think they can change the world are the ones who do”

Jadi, sebenarnya pesan yang ingin disampaikan apa sih? Hehe.. Intinya adalah, tugas kita sebagai penuntut ilmu bukan menghindar kala menemui keilmuan yang memang sulit atau belum pernah kita pelajari. Lebih memilih nyaman dan menghindar dari kesulitan. Bukan juga menjadi pemakluman akan absen-absen di kelas atau menelantarkan tugas dari dosen pengajar. Jika memang tujuan kita belajar untuk Allah dan memberi sebanyak-banyak manfaat untuk sesama, teruslah asah kemampuan diri kita, melewati batas yang kita pikir hanya sampai disitu saja. Karena sungguh, orang-orang yang berhasil itu adalah mereka yang mampu melewati batas keraguan, batas putus asa, kelemahan dan kekhawatiran mereka. Bukan pula untuk mereka yang diam di tempat dan tidak berbuat. Keberhasilan akan membersamai mereka yang sepenuh hati menapaki jalan perjuangannya: seterjal, sesulit dan setidak mungkin apapun itu. Karena mereka yakin, jikapun mereka tidak dapat memetik hasil di dunia, Allah sudah siapkan imbalan terbaik di akhirat sana.

Merangkum singkat di pekan padat,

London pukul 23.15

“Kami percaya, bahwa tabir yang memisahkan antara kami dan keberhasilan hanyalah keputusasaan. Jika harapan itu kuat dalam diri kita, maka insya Allah kita akan memperoleh banyak kebaikan. Oleh sebab itulah, kami tidak pernah putus asa dan keputusasaan tidak pernah sanggup merasuki hati kami.” (Hasan Al-Banna)

Advertisements