“Envy (jealousy) is permitted only in two cases: Of a man whom Allah gives wealth, and he disposes of it rightfully, and of a man whom Allah gives knowledge, and he applies and teaches it.” (Bukhari)

Mohon maaf kalau judul kali ini lebih sentimentil, tapi yakin deh, ini bukan tentang saya dan suami atau mengenai perasaan cemburu yang berbumbu cinta-cinta-an, hehe…  Sebenarnya ini lebih kepada curhatan saya sebagai salah satu warga Indonesia di UK, khususnya sebagai muslimah yang tidak bisa menahan perasaan cemburu yang saya rasakan.

Iya betul, saya cemburu, atau kosa kata terbaik apapun yang mewakili perasaan itu. Saya cemburu pada mereka yang mau berkorban tenaga demi mengajak orang lain kepada kebaikan. Yang bersedia all out dalam kerangka aktivitas untuk menegakkan kalimat Allah di bumi manapun kakinya berpijak.

Disini saya banyak belajar akan makna keikhlasan. Saat apa yang kita berikan sesungguhnya tidak pernah hilang. Ia justru bertambah dan bertumbuh dalam semaian keberkahan. Kadang saya merasa begitu cemburu pada keikhlasan mereka, saat tangan kanan mereka memberi sedangkan tangan kiri tidak tahu. Tak perlulah saya ceritakan mengenai tangan-tangan dermawan yang begitu ringan memberi untuk acara-acara keislaman, kegiatan dakwah, bahkan hal kecil seperti memberi bantuan.


Saya pribadi pernah merasakan begitu besarnya keikhlasan yang dibalut dalam hangatnya persaudaraan di UK. Tak mungkin terlupa, di masa-masa tersulit saya hidup di London pada akhir tahun 2012. Saat saya dan suami membulatkan tawakkal agar suami bisa melanjutkan S2 tanpa status beasiswa yang jelas, sedangkan uang beasiswa S2 saya begitu menipis (karena standar living allowance beasiswa S2 dahulu dibawah standar UKBA). Di saat itu saya sedang hamil besar dan kami harus membayar deposit visa sekaligus tuition fee yg jika dijumlahkan sekitar £11.500. Intinya, hidup kami sangat pas-pasan dan membutuhkan bantuan pinjaman sekitar £3000 (saat ini kurang lebih sekitar 60 juta). Tanpa diduga, seorang teman yang begitu bersahaja bersedia meminjamkan uangnya dan sembari tersenyum mengatakan, “Kembaliinnya nanti saja, kalau memang sudah ada”. Ia, yg bahkan baru kami kenal 1 tahun saja, tanpa ikatan darah, bersedia meminjamkan uang yg bukan sekedar 1-2 juta, bahkan lebih dari 50 juta. Sungguh hanya imanlah sebagai landasan kepercayaan, yang menjadi alasan untuk membantu saudaranya di tengah kesulitan, semoga Allah mudahkan dan ringankan segala urusan mereka, dan Allah ringankan urusannya baik di dunia maupun akhirat sana (Kisah lengkapnya: https://dewinaisyah.wordpress.com/2013/10/13/catatan-perjalanan-raisha-end-of-december-2012/).

ease orang lain

Lagi-lagi, saya cemburu kepada mereka yang begitu besar pengorbanannya, yang bersedia melelahkan diri disaat pilihan tidak berbuat apa-apa pun menjadi opsi. Disini saya belajar mengartikulasikan bahwa sesungguhnya semaian pahala dan ladang amal itu terbuka luas untuk semua. Namun hanya mereka yang berhati mulia, yang mau lebih banyak berbuat untuk sesama, yang teguh mengukir kebaikan tanpa perlu dikenal.

Menjadi seorang program development manager di institusi internasional seperti INDOHUN, melatih saya untuk merencanakan dan melaksanakan program, tidak hanya di tingkat nasional, bahkan internasional. Alhamdulillaah Allah berikan kesempatan untuk mengorganisir sebuah kegiatan besar seperti Global Health True Leaders di 4 negara: Indonesia, Thailand, Vietnam dan China dengan segala kerumitan birokrasi dan sistemnya masing-masing. Mungkin saya termasuk “terbiasa” untuk menjadi EO dengan dana ratusan juta untuk melaksanakam sebuah event, yang dananya berasal dari firm funding. Tapi kali ini, Allah beri tantangan berbeda. Mengorganisir kegiatan dimana sumber dananya hampir tidak tersedia.

GHTL series
Global Health True Leaders Series di 4 Negara

Namun disitulah hikmahnya, saat saya belajar untuk lebih mendalami makna keikhlasan dan pengorbanan. Saat saya belajar untuk lebih merelakan, memberi tanpa berharap pada manusia, namun hanya untuk mengejar keridhoan-Nya. Saat saya kembali merasakan kecemburuan pada “ringan” nya tangan yang begitu mudah memberi. Begitu kokohnya kepercayaan bahwa sesungguhnya harta itu hanyalah titipan, ia tidak pernah berkurang, dan nantinya akan kembali menjadi kebaikan pada hari pembalasan. Infaq yang dibicarakan bukan lagi sekedar 50 atau 100 ribu, namun 1-2 juta, bahkan lebih. Memang ini bukanlah mengenai jumlah, namun kelapangan hati untuk memberi. Saya sering merasa begitu kerdil dibandingkan dengan saudara/i kami disini, atas lintasan hati yang masih suka menghitung pemberian, perasaan takut harta berkurang, atau bersemainya kemalasan untuk lebih memilih diam, dibandingkan dengan berbuat kebaikan.

Konsumsi KAG 2015
Tim Hebat Konsumsi KAG 2015 (minus breakfast). Baarakallaahufiikum 🙂

Saya begitu cemburu kepada mereka yang dapat memaksimalkan waktunya untuk kebaikan, mengajak orang pada perbaikan, membantu tanpa mengharap imbalan, berlelah-lelah demi mengejar satu keberkahan. Saat KAG (Kibar Autumn Gathering) kemarin saya diamanahkan untuk mengkoordinir konsumsi untuk 350 orang peserta. Bekerja sama dengan ibu-ibu dan mba-mba dari berbagai lokaliti menyiapkan sarapan, makan siang, makan malam, snack dan minuman untuk seluruh peserta. Betapa kecilnya saya yang masih belum bisa berbuat banyak, begitu kagumnya saya dengan ta’awun antar anggota KIBAR di setiap pengajian lokal. Lagi-lagi Allah mengajarkan, keindahan ukhuwah, kehangatan kebersamaan, manisnya tolong menolong dalam kebaikan yang diajarkan oleh Islam.

kag 2015 b
KIBAR Autumn Gathering, Leicester 14-15 November 2015

Saya cemburu pada kehangatan ukhuwah yang mampu diberikan oleh saudara/i kami disini. Saat meringankan beban saudaranya merupakan hal untuk saling berlomba-lomba. Masih teringat jelas di masa-masa sulit kami dahulu, saat hidup begitu pas-pasan (bahkan mungkin kurang), di saat menjelang kelahiran, begitu banyak bantuan yang diberikan. Banyak saudara/i kami disini memberikan pakaian baby, perlengkapan mandi baby, nappies, bahkan stroller dan car seat. Bahkan di akhir kehamilan, saya hanya perlu membeli beberapa perlengkapan pelengkap saja karena semua sudah komplit diberikan. Masya Allah walhamdulillaah… *pengen nangis klo ingat masa-masa ini 🙂

Tinggal di UK selama hampir 3 tahun ini semakin membuka mata saya, bahwa ada mereka, yang mungkin tidak terkenal di mata dunia, namun energi-energi keikhlasan mereka yang mewarnai hidupnya. Yang semakin mengajarkan saya, untuk tidak pernah henti mengukir kebaikan, mengiringinya dengan keikhlasan, memaknai indahnya nilai pengorbanan saat kita menyandingkannya untuk mengharap keridhoan Sang Maha Pemberi Balasan. Bahwa saya hanyalah seorang insan yang faqir, yang masih jauh dari amalan-amalan kebaikan, yang masih sedikit dalam memberi manfaat dan perbaikan pada sekitar. Semoga “kecemburuan” saya termasuk permissible jealousy, yang dengan karenanya, mampu memompa semangat untuk terus berlomba-lomba menjadi insan terbaik di mata-Nya. Karena hakikatnya, ialah kunci keberkahan hidup di alam semesta. Seperti kata Ustadz Salim A. Fillah,

“Itulah berkah. Itulah lapis-lapis keberkahan. Ia bukan nikmat atau musibahnya; melainkan syukur dan sabarnya. Ia bukan kaya atau miskinnya; melainkan shadaqah dan doanya. Ia bukan sakit atau sehatnya; melainkan dzikir dan tafakkurnya. Ia bukan sedikit atau banyaknya; melainkan ridha dan qana’ahnya. Ia bukan tinggi atau rendahnya; melainkan tazkiyah dan tawadhu’nya. Ia bukan kuat atau lemahnya; melainkan adab dan akhlaqnya. Ia bukan sempit atau lapangnya; melainkan zuhud dan wara’nya. Ia bukan sukar atau mudahnya; melainkan ‘amal dan jihadnya. Ia bukan berat atau ringannya; melainkan ikhlas dan tawakkalnya.”

kag 2015 a
Foto kenang-kenangan bersama Ustadz Salim A. Fillah

Disclaimer: Uraian di atas adalah refleksi keadaan yang saya rasakan berdasarkan dari kepingan-kepingan pengalaman. Bisa jadi setiap orang merasakan hal yang berbeda, namun saya bersyukur Allah hadirkan orang-orang yang senantiasa mengingatkan, mendukung, menggenggam erat tangan agar bersama meraih kebaikan, kembali Allah kumpulkan hidup bertetangga di surga idaman. Aamiiin…

Menyelesaikan draft yang sudah lama tertunda,
London 28 Nov 2015, pukul 00.15

Advertisements