“Kehidupan adalah dinamika, bukan kepasifan dalam diam. Ia adalah perkembangan dan pergerakan, bukan kejumudan dan kekerasan yang membatu. Ia adalah ikhtiar yang berbuah kemenangan, bukan keberhasilan tanpa usaha. Ia adalah proses menikmati keletihan, bukan menikmati kemalasan…”

Ga terasa sudah lebih dari satu bulan saya ndak menulis. Bukan tanpa alasan, tapi karena ada tambahan beberapa hal yang menambah list pekerjaan (cari pembenaran 😀 ). Melalui tulisan ini, saya ingin kembali menceritakan dan mengikat masa dimana saya sudah berada di tahun kedua PhD saya, yeayy!! 10 November lalu merupakan tepat setahun saya melalui PhD di UCL. Gimana rasanya? Sesuai curhatan saya sebelumnya, saya masih dalam masa-masa menyenangkan sebagai mahasiswa PhD. Tapi ternyata “honeymoon” PhD saya harus segera berakhir, saat pertengahan Desember lalu supervisor saya mulai memberikan load assignment yang lumayan banyak, padahal saat ini kami sudah memasuki winter break/Christmas holiday.

gradschool22

Bulan November lalu, saya secara resmi ditunjuk sebagai salah satu StAR (Student Academic Representative) yang mewakili Institute of Health Informatics (IHI) research student. Konsekuensinya, saya harus mengikuti rapat-rapat yang mewakili mahasiswa kepada Department atau Fakultas atau Universitas, seperti: Student-Staff Consultative Committee meeting, Faculty Postgraduate Research Committee meeting, Institute Education Committee meeting dan secara aktif mempromosikan dan terlibat pada kegiatan-kegiatan UCLU (UCL Union).

Di bulan yang sama, salah seorang professor FKM UI yang sudah saya anggap seperti ayah saya sendiri datang ke London, bukan tanpa maksud dan tujuan. Saya menjadi liason (penghubung) untuk menjembatani kerja sama antara UCL dan UI. Alhamdulillaah hasil pertemuan 2 hari tersebut berjalan lancar, dan prospek kerja sama antara UI dan UCL sangat besar, bahkan kita berniat untuk meningkatkan kapasitas teknologi dan skill dari peneliti di Indonesia, utamanya di bidang NGS (Next Generation Sequencing) dalam beberapa tahun ke depan. Di luar dugaan, di akhir pertemuan, supervisor saya bahkan sudah memiliki rencana untuk project post-doc saya (padahal lulus S3 aja belum). Alhamdulillaah… saya merasa sangat bersyukur bisa bekerja dan banyak belajar dari professor saya tersebut, terutama bagaimana dalam membangun kerja sama internasional, bekerja professional, dan semangat yang besar untuk membangun bangsa melalui penelitian. Begitu juga bagaimana cara menulis proposal untuk mendapat funding yang besar, mempublikasikan hasil riset, dan merasakan manis pahitnya berkolaborasi internasional, antara harapan dan kenyataan, hehe…

the grant cycle

Dampak dari pertemuan itu tentu saja menambah load assignment yang harus saya kerjakan, di luar project PhD yang sedang saya lakukan. Tahun 2015 ini sebenarnya saya punya target untuk publish 4 paper penelitian, 2 dari riset yang sudah saya kerjakan sejak tahun 2010, dan 2 dari hasil thesis mahasiswa S2 UI yang pernah saya bantu bimbing. Tapi sepertinya harus ditunda hingga Januari 2016 dan terus berproses di tahun mendatang mengingat banyak hal yang harus dikejar. Semoga tahun 2016 saya bisa menghasilkan total 5 international publication, aamiin.. *masih harus banyak belajar sebenarnya #fingercrossed

academic guilt

Selain itu, pertemuan dengan supervisor di pertengahan Desember lalu sepertinya akan membuat jadwal menulis saya semakin tidak stabil. Karena tiba-tiba, beliau meminta saya untuk upgrade (MPhil ke PhD) di bulan Maret 2016, dengan catatan saya sudah harus menyelesaikan systematic review saya. Hoho… lumayan ngos-ngosan sebenarnya, mengingat saya hanya punya waktu sebulan (yang sebenarnya 2 minggu akhir desember ini adalah liburan) untuk menyelesaikan step by step systematic review yang masih lumayan banyak loadnya, terutama ketika 2nd reviewer saya sudah give up untuk membantu, itu berarti I’m on my own. Working with 500 papers data extraction!! Fiuuuh… Cukup membuat kepala berdenyut dan konsentrasi buyar setelah maksimal 3 jam berturut-turut di depan komputer. Padahal teman-teman PhD lain memiliki waktu 1 tahun (bahkan lebih) untuk menyelesaikan systematic review dengan load sepertiga bahkan seperempat dari yang saya lakukan (kasus saya dipercepat menjadi 8 bulan). Alhamdulillaah.. sisi positifnya adalah, itu berarti Allah sedang mengajarkan saya untuk bekerja lebih efisien dan efektif dibanding teman-teman lainnya, semoga memang bisa selesai on time 😀 (baca kencang: Aamiiin)

research cycl

Yang lebih menarik lagi, jika bulan Maret nanti saya jadi upgrade, saya akan menjadi mahasiswa IHI (Institute of Health Informatics) pertama yang upgrade ke PhD. Saya sudah bilang belum ya, tiba-tiba Research Departement saya berubah dari Epidemiology and Health Care menjadi Infectious Disease Informatics karena saya mengikuti alur supervisor utama saya, yang saat ini merupakan kepala departemennya. IHI ini baru terbentuk tahun lalu dan sejak itulah saya ditransfer menjadi PhD di IHI. Supervisor saya masih belum puas kasih kejutan, jadi beliau meminta saya untuk presentasi hasil riset awal saya (untuk upgrade) di seminar internal Farr Institute. Farr Institute adalah organisasi professional dan merupakan leading company di bidang health informatics, dimana office nya berada di London, Manchester, Swansea dan Scotland. Walaupun saya sudah beberapa kali presentasi di internasional conference, entah kenapa bawaannya tetap nervous mendengar rencana itu, walaupun akhirnya saya cuma bisa manggut-manggut mengiyakan request dari supervisor saya tersebut.

conference presentation

Bagaimana dengan progress riset PhD saya? Bisa dibilang molor, huhu… Pengumpulan data yang direncanakan dimulai sejak September 2015, harus diundur menjadi awal Januari 2016 dikarenakan saya baru dapat mengantongi ethics approval dari UCL saat akhir November kemarin. Dan lagi-lagi, saya harus bersiap berkutat dengan dokumen-dokumen ethics untuk next step penelitian saya selanjutnya pada genomics study, baik dari Guernsey Ethics Committee maupun UCL. Mungkin atas alasan itu juga akhirnya saya harus segera merampungkan systematic review saya sebagai landasan awal untuk upgrade, karena rasanya ndak mungkin menyajikan preliminary results dari data collection yang baru bisa dimulai awal Januari mendatang. Lagi-lagi saya belajar, timeline PhD kita bisa saja berjalan tidak sesuai dengan harapan, dan itu merupakan hal yang normal, terutama ketika kita mengerjakan project kolaborasi dengan beberapa lembaga, maka kita harus bersiap dengan back up plan selanjutnya, yang membuat list to do kita terus bertambah dan terevisi tiada henti 😀 .

to do list 2

Bagaimana dengan anak? Saat ini saya lebih banyak mengajak anak saya bermain di rumah, berkreasi melalui art and craft (temple-tempel sticker, colouring, painting), role play, atau mengajaknya keluar untuk bermain soft play dengan set indoor. Kami belum berencana untuk jalan-jalan keluar mengingat suhu yang sudah lumayan dingin dan angin yang kencang di musim winter ini, walaupun salju tidak terlihat tanda-tandanya akan muncul mengguyur London. Jadwal saya masih sama di rumah, masih 4 hari di rumah dan 3 hari di kampus. Namun mungkin jadwal ini akan segera menyesuaikan dengan load di kampus tahun depan. Yang jelas, saya selalu meliburkan diri di hari jum’at karena harus bergantian menjaga Najwa saat suami saya sholat jum’at. Oya, insya Allah Najwa akan mulai masuk nursery di bulan April 2016, saat ia sudah official berusia 3 tahun. Beruntungnya di dekat rumah kami ada Islamic Nursery, jadi pendidikan agama juga akan ia rasakan di tempat sekolahnya.

IMG_4718
Najwa dan beragam aktivitasnya di musim dingin ini 🙂

Dengan begitu, bisa dibilang sepertinya di tahun kedua PhD ini saya sudah harus mengencangkan ikat pinggang, harus lebih rajin datang ke kampus dan menyelesaikan segala assignment dan pernak pernik penelitian diluar PhD yang saya kerjakan. Rasanya menjadi PhD sudah lebih menantang, dan itu berarti saya harus dapat mengatur waktu untuk anak dan keluarga dengan lebih baik lagi. Target saya tahun kedua PhD ini adalah lulus upgrade PhD, penelitian di Guernsey berjalan lancar, dan saya bisa berkontribusi untuk bangsa melalui penelitian dan project kompetisi internasional yang sedang saya garap. Doakan agar ada keberkahan dan kebaikan yang bisa kami berikan sebagai musafir yang jauh dari tanah air.

to do list

Menyesalkah menjadi PhD student sedangkan sudah menjadi ibu? Tentu saja tidak, justru saya bersyukur Allah beri kesempatan untuk merasakan nikmatnya menimba ilmu dan nikmatnya menjadi seorang ibu di saat yang bersamaan. Mungkin memang menuntut lebih banyak tenaga, pikiran dan managemen waktu yang tepat, dan itulah pelajaran terindah yang Allah berikan di pundak saya. Ga capek dengan banyaknya kerjaan? Not to worry, saya selalu berkeyakinan, justru kenikmatan itu dapat dirasakan di puncak kelelahan kita. Saat kita mengetahui ikhtiar kita hari ini jauh lebih baik dibanding hari kemarin. Saat kita berkeyakinan, tidak ada satu tetes peluh pun yang Allah abaikan, melainkan akan ia ganti dengan seindah-indah balasan di akhir perjalanan. Justru menjadi ibulah yang menjadi sumber tenaga terbesar saya, saat melihat senyum anak di malam hari, laksana menghilangkan kepenatan setumpuk pekerjaan di kampus. Saat melihat pesat tumbuh kembangnya, menghadirkan senyum luruh dan kebahagiaan tersendiri di hati ini. Itulah ibu, menjadi sumber kekuatan yang Allah titipkan, hingga Allah spesialkan surga di bawah telapak kaki wanita yang begitu mulia.

“Keberhasilan… Ia tidak bersama orang yang buru-buru memetik buah sebelum masak, tetapi ia tidak pula bersama orang-orang yang hanya menunggu tapi tidak menanamnya. Ia tidak bersama orang yang berlebihan, tetapi ia tidak pula bersama orang yang enggan dan tidak berbuat sama sekali. Ia tidak bersama orang yang bertindak tanpa perhitungan, tetapi ia tidak pula bersama orang yang terlalu takut untuk berbuat. Terus bersemangatlah wahai bunda, karena sungguh ada sketsa keberhasilan di penghujung ikhtiar, ada ukiran kemenangan di akhir jalan perjuangan”

 

Terus menguatkan cita merajut asa,

London, 25 Desember 2015

Pukul 00.30

Advertisements