“The work of epidemiology is related to unanswered questions, but also to unquestioned answers.” (Patricia Buffler)

Banyak orang bertanya apa itu epidemiologi kepada saya. Kebanyakan bingung ketika saya menjawab kalau saya mengambil kuliah jurusan epidemiologi. Ada yang menebak apakah berhubungan dengan epidermis? Kulit manusia? Tumbuh-tumbuhan? Atau penyakit epidemik? Setidaknya tebakan terakhir lebih mendekati kebenaran. Secara singkat, epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana suatu penyakit dapat muncul di masyarakat, pada kelompok tertentu, dan mengapa hal itu dapat terjadi. Informasi epidemiologi inilah yang kemudian akan membantu para pemangku kebijakan dalam hal pengendalian penyakit dan perencanaan kesehatan.

Epidemiologi merupakan ilmu dasar kesehatan masyarakat, proses penyelesaian masalah, serta kunci dari pelayanan kesehatan dan pencegahan penyakit. Epidemiologi mampu memaparkan asal mula penyakit, bagaimana penyakit dapat menyebar di masyarakat, seberapa besar kejadian penyakit pada spesifik populasi, faktor apa saja yang dapat mempengaruhi kejadian penyakit dan wabah, serta bagaimana cara mengendalikan penyakit tersebut. Secara sederhana, epidemiologi merupakan kunci penting untuk memahami penyebaran penyakit serta menciptakan kesehatan pada masyarakat luas.


Saya sendiri tertarik mempelajari epidemiologi setelah saya ditakdirkan tidak lulus menjadi mahasiswa kedokteran. Suatu hikmah sehingga saya berpikir keras keilmuan apa yang kira-kira akan memberikan banyak manfaat di bidang kesehatan. Saat itu saya juga merasa tertantang karena peminat epidemiologi begitu sedikit di antara mahasiswa fakultas kesehatan masyarakat lainnya, ditengah rumor yg beredar bahwa ilmu epidemiologi bukanlah hal yang mudah untuk dipelajari. Akhirnya setelah saya membulatkan tekad menjajal ilmu tesebut, tak berapa lama hati saya tertambat untuk lebih jauh lagi menguasai ilmu ini.

Epid 06
Teman-teman seperjuangan di peminatan Epidemiologi, FKM UI angkata 2006. Yups, kami hanya 10 orang dari kurang lebih 197 mahasiswa yang masuk di FKM UI (5% dr total populasi) 😀

Perjalanan “cinta” epidemiologi saya tidak berakhir di bangku S1. Saya ditakdirkan melanjutkan kuliah S2 di Imperial College London dengan jurusan MSc. Modern Epidemiology. Saat ini, saya pun tengah berjuang menyelesaikan program doktoral saya di UCL dengan jurusan Infectious Disease Epidemiology and Population Health (epidemiologi penyakit menular dan kesehatan populasi). Hal ini bukan tanpa alasan. Ada banyak teman saya yang berpindah jurusan saat melanjutkan jenjang studi nya. Namun saya justru semakin mantap, seakan telah menemukan passion yang tepat dan visi yang mantap dalam hidup saya.

S2 ICL edit
Satu Angkatan Jurusan Modern Epidemiology di Imperial College London 2011-2012

Pengalaman penelitian saya setelah lulus sarjana membuat saya banyak berinteraksi dengan peneliti-peneliti internasional dalam lingkup Asia Tenggara dan Eropa. Teringat betul, sebuah projek riset di bidang Influenza yang saat itu sedang booming-booming nya dikarenakan munculnya wabah H5N1(flu burung) dan H1N1 (flu babi) membuat saya lebih mantap untuk melanjutkan studi epidemiologi. Di akhir riset ini, ilmu modelling dalam epidemiologi dapat meramalkan seberapa besar kejadian flu burung di masyarakat jika penyakit ini mewabah, jumlah obat-obatan yang diperlukan, pada hari keberapa kapasitas rumah sakit akan penuh, tenaga dokter dan staf pelayanan kesehatan minim, dsb. Semua dapat diprediksi menggunakan ilmu epidemiologi.

AsiaFluCap Project
Hasil Penelitian AsiaFluCap, sebuah penelitian kolaborasi internasional dengan negara-negara di Asia Tenggara dan kolaborator beberapa negara Eropa

Karena epidemiologi jualah, saya ditakdirkan terlibat dengan banyak penelitian-penelitian kesehatan berkolaborasi internasional. Belajar mengenai standar profesionalitas, ketelitian, serta kedalaman riset yang mereka kerjakan. Walaupun kerap kali saya menjadi peneliti termuda di antara yang lain, bahkan menjadi satu-satunya muslimah di belantara professional researchers lainnya. Alhamdulillaah… Allah berikan saya kesempatan untuk terus banyak belajar 🙂

Lao edit
Menjadi peserta termuda dan muslimah satu-satunya saat AsiaFluCap Workshop di Luang Prabang, Lao PDR, tahun 2011

Selain pengalaman berinteraksi dan belajar dari para peneliti profesional, saya juga belajar bagaimana melakukan penelitian itu sendiri. Kali pertama saya bisa masuk laboratorium untuk meneliti virus influenza, belajar ekstraksi RNA, ke Balai veterinari, melihat langsung proses pengerjaan virus culture, menyusun kuesioner, hingga melakukan studi kualitatif dengan mewawancara pejabat-pejabat tinggi kesehatan RI. Epidemiologilah yang mengantar saya hingga ke titik itu, dengan izin Allah tentunya 🙂

Riset story
Pengalaman berharga belajar menjadi peneliti di lingkup internasional (2010-2011)

Sebenarnya dulu saya ingin langsung melanjutkan S2 setelah menyelesaikan studi S1 saya, namun takdir berkata lain (hayeuh). Allah memberikan kesempatan saya untuk banyak belajar real langsung dari lapangan sebelum akhirnya saya melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Dari pengalaman 1,5 tahun saya sebagai asisten peneliti, saya juga belajar untuk menulis publikasi, dimulai dari pembuatan proposal penelitian, drafting report, hingga publikasi ilmiah internasional. Begitulah, sebagus-bagus rencana kita, Allah jualah pemberi sebaik-baik rencana. Senantiasa berprasangka  baiklah akan ketetapan-Nya, karena sungguh hanya skenario terindah lah yang dituliskan-Nya untuk kita 🙂

Publikasi collage
Beberapa penulisan yang saya kerjakan selama menjadi asisten peneliti

Lanjut ya… Hal ini pulalah yang membuat saya mantap untuk melanjutkan studi di UK, dimana kampus-kampus ternama dunia berada. Saya mendapat tawaran di beberapa universitas dan akhirnya mantap memilih ICL dengan jurusan Modern Epidemiology nya. Saya mengakui bahwa perkembangan ilmu epidemiologi di Indonesia belum sepesat yang ada di UK. Saya dapat mengatakan, belajar di UK merupakan sebuah kesempatan besar untuk dapat mereguk nikmatnya ilmu pengetahuan. Saat teknologi dan fasilitas yang diberikan begitu memudahkan pengajaran. Belum lagi ditunjang dengan etos kerja disiplin dan dinamika keilmuan yang terus berkembang. Sehingga tidak salah jika kita belajar di UK berarti kita belajar ke salah satu sumber terbaik ilmu pengetahuan.

Penelitian S3 saya saat ini pun tidak lepas dari pentingnya ilmu epidemiologi. Belajar dari nol bagaimana harus mengendalikan penyakit pada populasi. Bahkan jika penelitian saya ini berhasil, maka dapat menjadi kasus pertama di dunia untuk mengeradikasi penyakit hepatitis C pada populasi. Eradikasi berarti kita meniadakan penyakit atau membuat tidak adanya penyakit sama sekali pada masyarakat. Butuh kerja keras memang, namun itulah sifat dasar epidemiologi.

Epidemiologist (ahli epidemiologi) begitu dicari di negara-negara maju. Karena mereka begitu paham bahwa epidemiologi adalah kunci pencegahan penyakit yang terjadi di masyarakat. Saya melihat kinerja dan sumbangsih ahli epidemiologi begitu besar di negara-negara Eropa dan Amerika. Mereka bekerja sama erat dengan kementrian kesehatan negara setempat, memberi masukan-masukan berdasarkan fakta lapangan, lalu kebijakan yang dihasilkan akan berdasar pada masukan ahli epidemiologi yang telah melalui penelitian-penelitian panjang.

Saya berharap besar bahwa keilmuan yang tengah saya pelajari saat ini sedikit banyak akan dapat memberikan sumbangsih perubahan kepada Indonesia. Membawa angin sejuk kebermanfaatan demi seluas-luasnya kemaslahatan. Karena bahagia itu, sesederhana bermanfaat bagi sesama, mengangkat derita mereka yang papa, menjawab permasalahan berbekal ilmu yang ditempa. Karena saya percaya, buah karya kitalah yang akan membangun bangsa, menyemai asa, dan menggapai cita.

The best among you are those who bring greatest benefits to many others”. –Nabi Muhammad SAW-

Disclaimer: Saya penuh menyadari bahwa perjalanan (pembelajaran) hidup saya bukanlah seberapa. Apalah saya. Hanya seorang fakir ilmu yang terus berusaha menggapai ridho-Nya. Saya mencoba menuliskan sepenggal perjalanan kisah “cinta” epidemiologi dalam hidup saya, sebuah ilmu yang saya pilih untuk menjadikannya muara kebermanfaatan untuk sesama. Sembari menyelipkan hikmah, bahwa ilmu itulah yang akan mengangkat derajat kita, tidak hanya di dunia namun juga akhirat sana, tatkala kita mampu menebar kebaikan dari ilmu yang ditempa. Sembari mengingat, bahwa Allah lah sebaik-baik pengukir rencana, maka senantiasa bersabarlah dan berusaha sempurna, agar ikhtiar kita bertemu pada satu titik takdir terbaik-Nya… 🙂

Tulisan singkat dalam format yang lebih formal pertama kali dipublish di media Indonesia Mengglobal dengan link berikut: http://indonesiamengglobal.com/2016/02/belajar-epidemiologi-dan-membangun-bangsa/

Ditulis dengan penambahan ilustrasi dan pemaparan sederhana,

London, 26 Februari 2016

Advertisements