“Perseverance is the hard work you do after you get tired of doing the hard work you already did” (Newt Zingrich)

Kembali menulis catatan perjalanan S3 saya, yang saat ini sudah menginjak bulan ke-17. Apa aja nih yang sudah terlewati semenjak catatan terakhir yang dibuat pada bulan ke-13? Ternyata rasanya luar biasa!! Inilah fase awal masa-masa mengencangkan ikat pinggang. Kalau tingkat kesibukan diibaratkan dalam sebuah grafik, masa dari bulan ke-14-17 ini tuh meningkat tajam. Masa-masa mendebarkan dimana status PhD candidate dikukuhkan, tapi tentu saja harus melalui ujian 😀

Jeng jeeeng… setelah supervisor meminta saya untuk upgrade di bulan Maret, tapi ternyata kami tidak menemukan jadwal yang pas dengan external examiner, akhirnya diputuskanlah tanggal 4 April 2016 merupakan hari ujian Upgrade Viva saya. Apa itu upgrade viva? Kalau di UK biasa disebut juga transfer MPhil to PhD. Istilahnya adalah ujian review 1 tahun setelah melaksanakan PhD untuk meng-assess apakah mahasiswa ini layak menjadi PhD candidate atau tidak. Lho, memangnya bisa gagal menjadi PhD candidate? Bisa banged, kemungkinan itu masih ada, walaupun kalau memang kita dianggap gagal lolos pada ujian upgrade viva pertama, akan diberi kesempatan kedua. Tapi jangan khawatir, biasanya kalau supervisor udah ngasih-ngasih sinyal untuk upgrade, berarti dia percaya dengan kemampuan kita untuk bisa lolos menjadi PhD candidate.

Bagaimanakah prosedur upgrade? Upgrade biasanya dilakukan pada saat bulan ke 9-18. Di research department saya rata-rata di bulan ke-18, saya yang sudah selesai di bulan ke-16 termasuk cepat. Sistem di universitas lain bisa juga berbeda, di Imperial College London contohnya, ujian upgrade dilakukan pada saat bulan ke-9, sedangkan di King’s College London terdapat 9 months report dan ujian transfer max dilakukan di bulan ke-18. Apa saja yang harus dilakukan? Menyelesaikan laporan di student log (rekap perjalanan sejak awal hingga akhir), menulis upgrade report, harus menghubungi external examiner, menghubungi graduate tutor, menyusun jadwal pelaksanaan upgrade viva dimana undangan terbuka juga diberikan kepada rekan-rekan lain di Departemen.

Naah… jadilah 2 bulan terakhir saya kerjakan untuk ngebut analisis data dan menyiapkan upgrade report. Ini nih rasanya ketika upgrade report kita akhirnya di approve oleh supervisor setelah beberapa kali mendapat masukan untuk revisi. Alhamdulillaah ‘ala kulli haal ^_^

Yeay Approval Spv

Oya, yang namanya mau ujian ugrade, kita harus menulis report max 10,000 kata. Ngomong-ngomong tentang menulis, ada nih penyakit untuk non-native (mungkin native juga), bingung mulai menulis darimana. Awalnya sih terdengar ada banyak kata yang harus ditulis, tapi setelah ditulis kayana 10,000 kata itu terlalu sedikit untuk menggambarkan progress report studi kita selama 1 tahun.

neurology of writing

Penulisan report alhamdulillaah selesai dalam waktu 1 bulan, 3 minggu sih lebih tepatnya. Awalnya sih kadang writer’s block, bingung mau nulis apa. Revisi berkali-kali hingga akhirnya jadi. Nah, masalah kadang muncul di supervisor, draft sudah dikirim sejak lama tapi ngecek nya pas ada jadwal supervisory meeting aja. Bikin ngundur-ngundur waktu padahal kita maunya selesai cepat. Persis banget seperti ilustrasi gambar dibawah. Beruntungnya saya memiliki second supervisor yang lebih fast response, maximal dalam 1 minggu sudah ngasih feedback. Saran saya kalau menghadapi hal seperti ini adalah, kerjakan apa yang sudah bisa kamu kerjakan dari sekarang, jangan terlalu menunggu jawaban dari primary supervisor, diluar itu tetap rajin mengingatkan, tapi ingat dengan cara yang santun ya 😀

phd040908s

Bisa dibilang inilah masa-masa saya paling rajin ke kampus, kalau dibuat grafik, mungkin tingkat konsentrasi saya benar-benar terkuras 100% saat datang ke kampus, di fase-fase persiapan upgrade ini saya datang 4 sampai 5 kali dalam seminggu, full dari pagi hingga jam tutup gedung (8 malam). Karena saya memang harus fokus menulis di kampus, jadilah dalam 3 bulan terakhir sering menjadi penghuni terakhir di Gedung Farr. Jadi fase ini bisa dibilang fase yang ngeri-ngeri sedap bagi seorang calon PhD 😀

Oya, tadi kan saya sudah bilang, kalau ujian upgrade ini terdiri dari 2 sesi. Sesi pertama adalah presentasi di depan mahasiswa PhD dan MSc maupun researcher dan kolega dalam grup riset. Setelah itu barulah sesi kedua dimana kita berdiskusi langsung dengan external examiner untuk mendengar masukannya tentang pelaksanaan riset kita ke depan. Beruntungnya saya sudah latihan presentasi di depan mahasiswa PhD yang lain di PhD forum. Upgrade report dan slide presentasi sudah ready sejak 1 bulan sebelum upgrade. Setelah upgrade report selesai ditulis, disubmit ke graduate tutor dan external examiner, setelah itu masuklah masa-masa tenang sekitar 3 minggu sebelum memasuki hari-H. Walaupun dibilang masa tenang tapi sebenarnya tetap ga tenang karena kepikiran dan belum bisa lega sampai dengan upgrade dilaksanakan. Pernah kan ngerasain makan ga enak, tidur ga nyenyak, hari-hari terasa gamang karena menunggu sebuah hari-H. Nah itulah yang saya rasakan.

Ready to Talk

Tadaaa… hari yang dinanti tiba! Email pengumuman upgrade viva sudah dikirimkan dan terbuka untuk siapa aja yang mau hadir. Orang-orang yang harus hadir saat upgrade viva sudah confirm hadir, minimal seorang external examiner, secondary supervisor sebagai moderator sedangkan primary supervisor tidak wajib hadir, dan kebetulan primary supervisor saya juga sedang berhalangan hadir karena sedang mengisi sebuah workshop di Canada. Saat hari-H, yang hadir ada beberapa orang, hampir 20 sepertinya, kebanyakan adalah kolega dalam project yang sama. Dibantai ga setelah presentasi? Ndak koq… Mereka yang hadir benar-benar memberikan pertanyaan atau masukan berdasarkan pengalaman dari riset-riset yang pernah mereka jalani. Jauh dari rasa ingin menjatuhkan atau sekedar tes kemampuan pengetahuan saya, tapi fokus pada masukan yang membangun. Deg-deg an ga menghadapi pertanyaan? Tentu aja, tapi seperti yang dikatakan oleh secondary supervisor saya, ini adalah PhD saya, jadi tentu kitalah yang paling memahami riset kita. Jadi stay cool aja dan tetap PeDe ngejawab pertanyaan. Kalau ga tahu jawabannya karena memang bukan keahlian kita gimana? Cukup tersenyum dan bilang “Thanks for the question, I do realize that I am not the expert on those field, but I really appreciate your comment and would like to hear it further and I am happy to have discussion with you after the presentation if needed”.

6a00d8341dd60053ef01a73da3f2bc970d
Persis banget kali ya menggambarkan isi hati saat selesai presentasi

Dan kesimpulan sementara dari upgrade viva saya adalah, kalau eradikasi hepatitis C ini tidak bisa diterapkan di Guernsey maka tidak mungkin akan terjadi di daerah manapun juga. Karena ternyata menjaga kepatuhan berobat IDU itu tidak mudah dan banyak tantangannya. Saat upgrade, external examiner saya benar-benar membantu memberikan masukan yang begitu berarti, membuat saya aware akan tantangan di lapangan, menghadapi IDU dan prisoner, treatment compliance, dst.

Lalu kesibukan yang lainnya bagaimana?

Saya masih berkutat dengan penelitian di Guernsey, mengurus second ethics approval untuk Genomic study. Sample collection sudah dimulai sejak Januari 2016 dan masih terus berlangsung hingga saat ini. Saya juga berencana akan mengunjungi Guernsey di bulan Mei ini sekaligus untuk monitoring pelaksanaan riset. Selain itu, saya disibukkan dengan penulisan publikasi. Ada 3 draft yang alhamdulillaah sudah submit saat ini, tentang Anti-Microbial Resistance (AMR) di Bali, hasil riset 4 tahun BaliMEI (Molecular Epidemiology of Influenza A in Bali) berikut dengan genomic analysis-nya. Masih ingat dengan role saya sebagai liaison antara UCL dan UI? Yups, saat ini saya juga terlibat dalam pengembangan proposal penelitian kolaborasi UCL dan UI.

Approved draft
Ini nih rasanya bolak balik revisi draft, mengakomodir banyak masukan dan memfinalkan. Alhamdulillaah bisa banyak belajar 

Eits ada satu lagi yang juga membuat saya ga bisa nyenyak tidur. Saya sudah pernah kutip di note saya sebelumnya, saya tengah mengikuti sebuah kegiatan yang diharapkan dapat memberikan manfaat untuk bangsa Indonesia. Akhirnya terjunlah saya untuk mengikuti Imagine Cup Student Competition 2016, sebuah ajang bergengsi di bidang teknologi yang diadakan oleh Microsoft. Berawal dari niatan sederhana yang disampaikan dibulan Desember, obrolan dan pembentukan tim di bulan Januari, akhirnya kami memutuskan untuk membuat sebuah aplikasi untuk membantu mengatasi permasalahan TBC di dunia. Nah, saya mau sedikit berbagi tentang sebuah kemurah-hatian Allah disini…

Jadilah saya dan 3 teman BPRI lainnya membentuk tim Garuda45, melambangkan cita luhur kemerdekaan Indonesia menuju garuda emas 2045. Jadi tahapan lomba ini dimulai dari babak penyisihan, semifinal, hingga final nasional di Jakarta. Ceritanya setelah submission video dilaksanakan, qadarullah (atas izin Allah) kami masuk ke babak semifinal, lolos menjadi salah satu tim terbaik dari 135 proposal yg masuk. Di babak semifinal ini, karena jarak yang memisahkan, kami skype conference jam 01.30 dini hari karena di Indonesia adalah pukul 09.30 pagi. Padahal paginya jam 6 sudah harus berangkat ke Warwick utk mengikuti Indonesia Warwick Forum. Lagi-lagi, syukur kepada Allah, tim kami ditakdirkan lolos menjadi finalis dan singkat cerita diminta datang ke Jakarta untuk presentasi langsung di babak final sekaligus menunjukkan alat yang sudah kami kembangkan.

Saya hanya ingin berbagi mengenai kekuatan dan besarnya kasih sayang yang Allah beri. Bahwa hanya dengan izin-Nya saya bisa melalui semua bersamaan di fase ini. Kondisinya adalah, Sabtu dan Minggu (2-3 April) adalah pelaksanaan KIBAR Spring Gathering di Manchester, saya ditunjuk sebagai koordinator konsumsi dari London berikut membantu kegiatan anak-anak, sedangkan suami yang berperan sebagai Ketua KIBAR juga wajib hadir untuk menemani ustadz dan berganti tampuk kepemimpinan. Nah Senin nya adalah hari-H saya upgrade viva (4 April), kebayang kan bagaimana terpecahnya konsentrasi di tengah kegiatan yang cukup menumpuk. Setelah upgrade viva saya dijawalkan langsung terbang ke Indonesia menempuh perjalanan udara selama 18 jam, tiba di Soetta pukul 12 malam (5 April) lalu esok siangnya presentasi di babak final (6 April). Gimana rasanya? Kalau boleh jujur, di babak final, kepala saya sudah terasa sangat keliyengan, menurunnya kesadaran, dan mungkin fokus yang mulai berkurang (hehe, klo ini agak lebay!). Wallahu a’lam hanya Allah-lah yang Maha Menguatkan. Dan lagi-lagi atas kemurah-hatian Allah, tim Garuda45 menjadi National Winner untuk kategori World Citizenship Imagine Cup Student Competition 2016.

TBDeCare

Ini link berita-beritanya:

http://www.goodnewsfromindonesia.org/2016/04/09/jauh-jauh-dari-inggris-aplikasi-deteksi-tuberculosis-juarai-imagine-cup-2016

http://inet.detik.com/read/2016/04/07/182735/3182513/398/masalah-tuberkulosis-coba-diatasi-lewat-aplikasi

Kebayang kan bagaimana rasanya mempersiapkan Imagine Cup, ujian upgrade, mengurus ethics di Guernsey, penulisan publikasi, dan kegiatan lainnya dalam waktu bersamaan. Wuaah… mantap pokoknya! Tapi saya bersyukur, saya selalu meyakini bahwa kenikmatan itu terletak di puncak kelelahan kita, maka bersyukurlah di saat Allah memberimu hari diiringi dengan lelah, karena lelah itu jualah yang mungkin akan menjadi hujjah sebagai pemberat amal di akhirat nanti.

Ga ada yang penasaran nih Najwa gimana ditengah-tengah kesibukan bundanya? Satu hal lain yg begitu saya syukuri, begitulah Allah yang Maha Menjaga dan Memelihara. Najwa tetap bisa catch up dengan kesibukan orang tuanya. Alhamdulillaah ia tetap sehat, ceria, tidak membuat susah atau membebani saya sama sekali. Dengan begitu pengertiannya menyemangati setiap bundanya akan pergi. Bisa dibilang ini bukan perjalanan sederhana, bagi seorang anak kecil untuk ikut tidur jam 1 malam dan bangun jam 04.30, diajak mengikuti kegiatan rally tidak berhenti. Namun Allah begitu menyayangi kami, kami semua diberikan nikmat sehat. Najwa begitu fit mengikuti perjalanan juang bunda nya hingga saat saya presentasi final, Najwa sudah tepar tidur 8 jam di stroller seharian 🙂

IMG_5566

Yang ingin saya sampaikan adalah, jangan pernah mengeluh atas lelah yang kita rasa, karena ia hadir untuk menempa jiwa. Karena saya selalu percaya, keberhasilan itu berbanding lurus dengan besarnya usaha. Dan atas kemurah-hatian Allah, saya mampu melewati ini semua.

“Benarlah ia yang tegar karena ujian. Benarlah ia yang teguh setelah perjuangan bersimbah peluh. Karena ujian dari-Nya hakikatnya adalah cinta. Agar kita tak pernah lupa pada hakikat hamba, agar kita senantiasa menyebut nama-Nya, hingga manisnya iman yang akan bergerak menjemput taqwa”

Kembali merasakan dingin UK setelah 2.5 minggu ‘mudik’ ke Indonesia 🙂

London, 29 April 2016

Pukul 11.50

Advertisements