“Live your life like every day is Ramadan, and the akhirah will become your Eid”

Menapaki awal syawal, saya dan keluarga (ayah Rhevy dan si kecil Najwa) mengucapkan “Taqabbalallaahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H”. Mohon maaf atas segala salah dan khilaf yang terbuat, jika ada kata yang membekas luka, sikap yang menyakiti hati, atau tulisan yang kurang berkenan (secara ini ngucapinnya juga via tulisan 😀 ).

Apa aja nih catatan Ramadan tahun ini? Masih sama dengan sebelumnya, catatan Ramadan seorang musafir di negara minoritas muslim: Menjalani puasa selama 19 jam, sahur pukul 2 malam, berbuka jam setengah 10, ga ada abang-abang takjil dan gorengan, tarawih di rumah sendirian (hiks), atau sepi senyapnya suara takbiran (hiks hiks), apalagi petasan 😀 . Alhamdulillaah ‘ala kulli hal 🙂

Turki130

Catatan tambahan tahun ini adalah pencapaian si kecil yang luar biasa. Berawal dari “accident” yang tidak disengaja, Najwa terus lanjut berpuasa estafet sejak hari ke-13 hingga akhir Ramadan. Di usianya yang masih 3 tahun 5 bulan, begitu bersemangat berpuasa sejak malam hingga jam 1.30 siang, berbuka sebentar, lanjut berpuasa hingga malam. Yang istimewa karena ini berpuasa di Inggris, bukan di Indonesia, dengan menahan lapar dan haus dengan total selama 17 jam. Baarakallaahu fiik… *Terharu sebagai emaknya. Begitu bersemangatnya berpuasa, hingga hari ini di tanggal 1 Syawal ia masih terbiasa dengan puasa, Najwa berkata “Najwa mau puasa lagi ya bunda, kita tunggu sampai malam baru boleh makan”. Huhu… Malu dong kalau yang dewasa ga bisa lanjut puasa Syawal, lha wong yang anak kecil baru belajar aja sudah menjadikan shaum sebagai kebiasaan. Memanglah Ramadan adalah madrasah yang begitu mengagumkan.

Lalu lalu, bagaimana dengan suasana iedul fitri di London? Ini catatan saya tahun lalu, dan tahun iniiii… saya berhasil menunaikan keinginan saya di tahun sebelumnya, merasakan shalat ied berjama’ah di TAMAN. Iya, taman! Udah menjadi hal yang lumrah di Inggris untuk melaksanakan shalat ied berjama’ah di taman-taman terbuka. Dan tahun ini, Assunnah Islamic Centre di daerah dekat rumah mengadakan Eid Festival untuk wilayah utara kota London di Pymmes Park, Edmonton.

Eid1
Suasana Eid Prayer di Pymmes Park

Serangkaian acara Eid festival ini dihadiri lebih dari 500 orang. Acara shalat berjama’ah ini dimulai pukul 09.30 pagi dihadiri oleh jama’ah laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Setelah pelaksanaan shalat ied, panitia juga menyelenggarakan Eid Fun Fair yang terdiri barbeque food, bazaar makanan dan pakaian, beragam permainan anak-anak dan dewasa, face painting, bumper cars, art and craft, dan lain sebagainya.

Eid2

Ini juga yang membuat saya begitu bersyukur dan bahagia meskipun menjadi musafir di negara Ratu Elizabeth ini. Kami sebagai warga muslim pun diberikan hak untuk menjalankan ibadah, hingga dapat shalat berjama’ah dengan leluasa di taman umum. Warna warni kehangatan ukhuwah Islamiyah terlihat dari beragamnya muslim/ah yang hadir. Kota London merupakan kota dengan jumlah muslim terbesar dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Inggris. Muslim yang tinggal di kota ini juga berasal dari beragam negara seperti Indonesia, Mesir, Arab Saudi, Somalia, Nigeria, Turki, Algeria, Jordan, Pakistan, Bangladesh, dsb. Meskipun kita tidak saling mengenal, muslimah-muslimah ini tanpa ragu langsung memeluk dan mengucapkan “Eid Mubarak, sisters!”. Alhamdulillaah… minimal mengurangi rasa rindu terhadap ukhuwah terindah di tanah air *ambi tisu

Eid3

Tapi begitulah Inggris, namanya Iedul Fitri itu bukanlah hari libur. Jadi kegiatan perkantoran dan perkuliahan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Contohnya saya. Di sela-sela masak opor ayam dan rendang, masih harus berkutat dengan laporan karena keesokan harinya sudah ada jadwal supervisory meeting dan teleconference dengan PI di Guernsey. Jadilah menikmati akhir Ramadan dan awal Syawal dengan bergadang mengejar tugas. Alhamdulilaah… minimal Allah menjadikan penghujung Ramadan saya dengan kesibukan, semoga menjadi catatan pemberat amal *Aamiiin…

Kalau mau jujur nih ya, kadang baper juga melihat foto-foto Eid bertebaran di FB. Penuh dengan senyum kebahagiaan berkumpul bersama keluarga besar, mudik ke kampung halaman, hingga foto-foto pedesaan atau pantai menikmati liburan panjang. Saya juga kangen dengan nuansa takbiran di Jakarta, tradisi mudik setiap tahunnya, salam-salaman keliling kampung, bagi-bagi angpau, silaturahim ke rumah kakek nenek di Solo, menghirup udara segar di pesawahan di Kebumen, ngasih makan ayam, sapi dan kambing punya mbah *ketahuan ndeso banget 😀 . Iya, sejujurnya saya kangen dengan itu semua. Secara ini sudah ke-3 x nya saya merayakan Ied jauh dari keluarga. Tapi alhamdulillaah… lagi-lagi saya tak akan henti mengucap syukur pada-Nya. Ied tahun ini “diramaikan” dengan kehadiran adik-adik shalihah super kece, mereka yang sedang menjalani studi di London. Berbagi cerita, cemal cemil bareng, sampai icip-icip ketupat opor ala Seven Sister.

Eid 1437H 2

Sama dengan tahun sebelumnya, tinggal di Inggris menyulap saya menjadi seorang koki dadakan. Alhamdulillaah masih bisa menikmati lebaran ini dengan ketupat, opor ayam, rendang, dan sayur labu. Yaah… ala-ala London lah. Ga nanggung-nanggung, langsung buat 3 kg rendang tahun ini. Yang mau icip, boleh lah mampir 🙂

Eid food
Menu lebaran ala kadarnya ala Seven Sister

Sebagai penutup, saya berharap “madrasah” Ramadan menjadikan keimanan kita semakin bersinar, menggiat ibadah dan mengukir kebaikan, serta menjalani hari dengan ketaqwaan. Hayuk jangan lupa dilanjut puasa 6 hari di bulan Syawal ya 😉 *wink wink *pesan sponsor

“Eid Mubarak all my brothers and sisters! So many things to be thankful for as we end the blessed month. May Allah SWT accept whatever we did for His sake and allow us to see another Ramadan insha Allah. Hope you all have a wonderful Eid with your family”

“For a true muslim, end of Ramadan is not “the end”, but start of a new journey leading towards the Jannah…”

Advertisements