“There is no one perfect way to be a good mother. Each situation is unique. Each mother has different challenges, different skills and abilities, and certainly different children. What matters is that a mother loves her children deeply…” (Elder M. Russel Ballard)

Sudah beberapa kali saya mendapat pertanyaan yang sama dari akhwat-akhwat single. Seputar kekhawatiran mereka bagaimana mengatur keinginan menuntut ilmu atau berkarya seorang muslimah dengan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu. Menurut saya itu bukan pilihan yang saling meniadakan. Namun kedudukan yang kehadiran kedua atau ketiganya dapat meningkatkan derajat kemuliaan. Lalu pilihan mana yang harus saya ambil? Tentu jawabannya unik bagi setiap muslimah karena kondisi setiap muslimah tidaklah sama.

Perlu saya garis bawahi disini bahwa peran seorang wanita tetaplah bertumpu pada tiga pilar utama: mar’atus shalihah (wanita shalihah), zaujatu muthi’ah (istri yang taat) dan ummul madrasah (bunda peradaban). Maka menjadi muslimah taat, istri yang shalihah dan ibu adalah tumpuan dasar yang tidak bisa ditawar. Itulah kewajiban yang harus tertunaikan. Jika dalam perjalanannya, sang muslimah mampu menambah peran untuk terus menuntut ilmu (baca: lanjut sekolah) dan berkarya serta bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya, tentulah ia mendapat bonus pahala dan kedudukan yang lebih tinggi di sisi Rabb-nya.

Apakah menjadi ibu itu berarti menghalangimu untuk terus menuntut ilmu? Apakah dengan memiliki anak menghalangimu untuk berkarya, memberi manfaat untuk sesama? Janganlah kita menjadikan ibu dan berprestasi menjadi lawan kata. Justru kehadirannya yang akan memberi kekuatan lebih besar tanpa kita duga. Janganlah jua menunda menikah dengan alasan ingin menyelesaikan studi hingga jenjang tertinggi. Percayalah muslimah shalihah, kekuatanmu lebih dari itu! Saat Allah menjadi tujuan akhirmu, kekuatan dari-Nya akan melebihi ekspektasimu. Hingga di satu titik waktu, kau dapat tersenyum melihat hasil jerih payahmu dahulu, dalam keberhasilan dan tunduk syukur haru.

“Dear my lovely daughter, being a young parent means we met a little early. But it also means get to love you a little longer. Some people said my life ended when I had a baby, but my life had just begun. You didn’t take away from my future, you gave me a new one”

Apakah mudah menjadi ibu peran ganda (atau triple malah)? Tentu tidak, ada waktu istirahat yang dikorbankan, ada kesabaran yang perlu terus disemai, ada keletihan panjang yang butuh keikhlasan. Sebenarnya saya belum bisa berkisah banyak, karena saya pun masih menapaki anak tangga ikhtiar. Kami masih berada di tengah perjalanan. Bayangan hasil pun masih tertutup kabut awan. Di saat teman-teman yang lain sudah mulai mencicil rumah atau kendaraan baru, kami masih disini berkutat dengan jurnal dan buku-buku (maaf ya nak, hiks2 #nasib mahasiswa). Tapi itulah pilihan yang kami ambil, dan kami bahagia dengan pilihan ini. Karena kami percaya, bahwa inilah bagian dari perjuangan kami, berharap keridhoan-Nya yang akan setia menemani.

Hamba collage
Inilah dokumentasi perjalanan kami, dengan gendongan babybjorn sebagai teman perjalanan, tak henti mengajakmu mengiringi langkah diri setiap hari…

Masih ingat betul perjuangan saya saat suami harus pergi melanjutkan S2 seorang diri ke Newcastle University. Karena jadwal yang padat sebagai seorang manager dan peneliti, saya diharuskan sering pergi ke luar kota dan negeri. Menggendong anak bersamaan dengan koper seberat 30 kg sudah menjadi hal yang lumrah setiap kali ke bandara (koper 30 kg di tangan kanan, gendongan bayi di depan, tas ransel di punggung belakang 😀 ). Menggendongnya dalam perjalanan berjam-jam hingga pundak dan kaki terasa pegal *curhat colongan *semoga suami baca. Di tengah deadline harus bekerja hingga tengah malam, masih harus menyiapkan makan dan pakaian, belum lagi stok ASIP yang harus stand by. Di saat rekan kerja yang lain sudah bisa rehat menyiapkan energi untuk agenda esok hari, saya masih harus terbangun berkali-kali jika anak batuk dan rewel karena demam. Bukan sekali dua kali merasa sedih di kala anak jatuh sakit di tengah dinas yang sedang dijalani, hingga malam hari saya masih harus pergi ke rumah sakit dan dokter spesialis. Yang lebih repotnya, jika sakit di negara orang, apalagi membeli obat di tempat yang sulit penduduknya berbahasa Inggris #pengalaman saat anak sakit di China #super rempong milih obat dan baca petunjuk minum obat. Anak saya pun mendapat julukan “One Health Baby” dari Grants Manager DAI-Thailand saking selalu ikut ke setiap perjalanan project One Health bundanya. Sampai-sampai ibu mertua saya berkata, “Mama ga nyangka kamu kuat banget ya. Ga kelihatan dari sikap lemah lembut kamu”. Itulah impresi ibu mertua saat saya ajak jalan bareng  menghadiri konferensi di Vietnam. Aih, jadi malu! Ketahuan deh sisi “gaharnya” 😀 Hehe, ndak koq. Percaya deh, menjadi ibu membuatmu memiliki kekuatan yang tak terukur oleh waktu. Karena untuk anaknya, ia bisa melakukan apa saja, kekuatan itu hadir tanpa ada batasnya.

“Being a mother is learning about strengths you didn’t know you had, and dealing with fears you didn’t know existed” (Linda Wooten)

hamba4
Najwa menjadi pusat perhatian orang-orang China, bahkan Bapak ini mendoakan keberkahan untuk Najwa dalam kepercayaannya 😀

Mungkin sebagian orang bertanya-tanya, kenapa sih repot-repot membawa anak saat bekerja? Ini mungkin prinsip yang setiap orang bisa saja berbeda, jadi silahkan diambil jika cocok atau ditinggalkan jika kurang berkenan karena masing-masing keluarga memiliki kondisi yang berbeda. Saya memiliki prinsip bahwa saya harus menemani tumbuh kembang anak penuh selama 2 tahun, hingga masanya ia disapih. Apa maksudnya? ASIX merupakan hak anak yang harus saya penuhi, dan ia berhak disusui hingga 2 tahun. Saya juga tidak ingin melewatkan momen membentuk bounding (ikatan) yang kuat dengan anak di masa emasnya, maka saya putuskan harus selalu tidur menemani anak. Meskipun saya harus lelah bekerja di siang hari, tapi malam hari saya utuh bagi anak saya. Jika weekday saya harus memenuhi tugas, maka weekend saya penuh milik anak saya. Saya lebih rela PP Medan dan Bali satu hari dibandingkan harus melewatkan momen melewati malam bersama anak. Meskipun penat sudah dirasa sepulang dari kantor, tapi percayalah, saat tiba di rumah, melihat senyum sang baby akan membawa angin kesegaran entah darimana asalnya *yang pasti dari Allah sih. Mungkin itu juga yang menyebabkan anak saya rada-rada nokturnal (kuat melek hingga malam), bisa jadi bawaan hamil (diajak bergadang nulis thesis) plus baru bisa main dengan bundanya setelah maghrib hingga malam(*maafkan bunda ya nak).

Sebenarnya saya belajar mengenai kedekatan ibu dan anak ini dari seorang ibu dosen cantik di FKM UI yang saat ini sudah menjadi professor di bidang Gizi. Pengalaman yang tidak saya lupakan saat kami berdiskusi hangat mengenai pola asuh anak dalam perjalanan di mobilnya dari Bogor menuju Depok. Awalnya saya merasa heran dengan kebiasaan ibu ini yang tidak pernah mau bila diharuskan dinas menginap di luar kota kalau tidak benar-benar diperlukan, dan ternyata disitulah saya menemukan jawabannya. Beliau bisa dibilang sangat dekat dengan anak-anaknya, tempat curhat utama ketiga anaknya, meskipun 2 anak pertamanya adalah laki-laki dan sudah beranjak dewasa *kayaknya laki-laki pada ga mau deh kalau harus cerita-cerita apalagi ke ibunya, jadi ini kasus langka menurut saya. Mungkin bisa dibilang saya mengikuti prinsip beliau, selalu mengusahakan sebisa mungkin tidur di rumah dengan anak. Dan keterbukaan, meluangkan waktu untuk mendengar cerita anak-anaknya menjadikan ikatan yang kuat dalam sebuah keluarga. Akhirnya saya putuskan untuk membawa anak saya kemanapun saya pergi jika saya harus menginap di luar kota atau negeri. Memang pilihan ini pun melahirkan konsekuensi, yaitu saya harus mengeluarkan biaya perjalanan yang tidak sedikit untuk ibu saya yang mengikuti perjalanan dinas ini (alhasil tabungan pun sangat minim, tapi inilah keputusan yang kami ambil, harga yang harus dibayar demi sebuah kebersamaan, alhamduillah ‘ala kulli hal 🙂 ). Saya pun harus rela membagi waktu dan konsentrasi di tengah-tengah acara berlangsung. Lebih letih dibandingkan dengan peserta atau panitia lainnya. Bahasa sederhananya, dibutuhkan keletihan, kesabaran dan keikhlasan ekstra. Tapi alhamdulillah… kekuatan dari-Nya menjawab semua tantangan di depan mata. Satu hal yang saya yakini, bertemanlah dengan lelah, hingga lelahmu yang lillah akan mengantarkanmu pada manisnya akhir kisah.

hamba5
Mendapat penghargaan sebagai the best presentation dalam APCPH 2013

Saya ingin menyelipkan lagi sebuah catatan, yang rasanya sayang kalau tidak dibagikan. Saya ingat betul percakapan saya dengan professor yang sudah saya anggap seperti Bapak saya sendiri. Beliau begitu kaget saat mengetahui saya mau menikah di usia saya yang saat itu masih 22. Karena ga ada angin ga ada hujan, tiba-tiba saya ngasih undangan 😀 . Di perjalanan pesawat, bisa dibilang saya diberi petuah oleh professor saya ini *kaya pengganti ceramah nikah tapi lebih bernuansa akademis karena disampaikan oleh seorang professor, hehe… Bapak (saya biasa memanggilnya demikian) mengatakan, bahwa ada beberapa macam tipe keluarga. Saya paham betul kekhawatiran Bapak jika saya berhenti berkarya jika saya menikah muda. Mungkin Bapak melihat potensi yang sayang jika harus berhenti. Sampai saat inipun, beliau terus membimbing dan menyemangati saya untuk tidak pernah berhenti mengukir prestasi.

Kembali kepada petuah, dari pengalaman Bapak ada beberapa tipe keluarga atau skenario pasca pernikahan yang bisa terjadi. Tipe pertama, wanita muda, cerdas, dan memiliki potensi tinggi. Sempat menjadi dekan sebuah perguruan tinggi swasta dikarenakan kinerjanya yang luar biasa. Setelah menikah dan memiliki 2 orang anak, entah mengapa prestasinya ikut menurun, hingga terakhir kali terdengar kabar bahwa ia sudah berhenti mengabdi dan menjadi wirausahawan kecil mandiri. Tipe kedua, setelah menikah sang suami melejit berprestasi, tapi sang istri belum diperbolehkan berkarya hingga anak-anaknya berusia 10 tahun. Walaupun di akhir cerita, sang istri juga telah menamatkan S2 nya dan tengah menyelesaikan studi doktoralnya, dan sang suami sudah menjadi seorang Guru Besar universitas terkemuka. Kehadiran mereka saling melengkapi, namun sang istri baru terakselerasi setelah menunggu masa penantian terpenuhi. Tipe ketiga, dan mungkin ini paling ideal, meskipun tidak mudah dan jarang, kisah cinta professor lainnya di UI (maaf yak banyak nyebut merk). Sang suami melanjutkan S3 dan istrinya menemani di Amerika, di tahun kedua sang istri pun juga berkesempatan melanjutkan studi S2. Hingga di penghujung perjalanan, sang suami mendapat gelar doktor dan sang isteri mendapat gelar master. Meski pencapaian akhir tidak sama, namun mereka bergerak bersama berjalan merajut asa. Mungkin disini Bapak mau wanti-wanti saya, kamu mau masuk kategori yang mana? Sampai-sampai calon suami saya ditanya bagaimana karakternya, hehe…

Point lain yang Bapak sampaikan adalah, pilihan skenario manapun yang kamu ambil, semua pasti melahirkan konsekuensi. Mau berkumpul bersama dengan keluarga namun tetap bisa menjalani studi sebagai mahasiswa, tentu butuh pengorbanan besar. Kembali ia ceritakan pengalaman kakaknya yang merupakan seorang dokter dan saat ini telah menjabat sebagai wakil dekan di perguruan tinggi bergengsi di Indonesia. Tersebutlah bahwa beliau dikaruniai anak saat sudah mendapatkan kesempatan studi S3 di UCLA, suaminya merupakan direktur atau manager RS ternama dan sedang melejit prestasinya. Pilihannya adalah sang istri tidak lanjut bersekolah, bersekolah sendiri dengan anak di USA, atau suaminya ikut ke Amerika dan meninggalkan pekerjaan mapannya. Dan ternyata, opsi ketigalah yang dipilihnya, sang suami meninggalkan pekerjaannya, menemani sang istri sekolah S3. Dan saat ia kembali ke Indonesia, mereka harus mulai merangkak dari nol untuk membangun cita. Iya, melepaskan segala kenikmatan yang telah diraihnya untuk sebuah kebersamaan keluarga. Lagi-lagi, hidup ini adalah pilihan, dan setiap pilihan melahirkan konsekuensi. Keberhasilan itu tentulah membutuhkan perjuangan, dan itu tidaklah mungkin dilakukan sebelah tangan *colek para suami. Jangan dikira kesuksesan itu tidak dibayar dengan harga mahal. Maka janganlah mudah mengeluh wahai kawan, percayalah perjuanganmu hari ini akan berbuah manis esok hari 😉

Bagi saya, saat ini adalah momen pembuktian ke Bapak, bahwa saya pun akan mengukir cerita saya sendiri. Memang saya masih di anak tangga bawah, tapi bukankah keberhasilan itu harus dilalui selangkah demi selangkah dari titik terendah? Minimal saya sudah memulai dan merenda ikhtiar, lalu menyerahkan tawakkal kepada Sang Maha Pemberi Keputusan. Memang inilah masa-masa perjuangan kami, di saat kami harus merangkak tertatih merajut mimpi. Tapi kami yakin, jika Allah yang menjadi sandaran diri, semua rintangan akan mampu kami hadapi. Hingga nanti di penghujung hari, akhir yang indah telah Allah persiapkan hiasi diri.

“Do not go where the path may lead, go instead where there is no path and leave a trail” (Ralph Waldo Emerson)

hamba8
Senyum inilah yang senantiasa menyemangati hari…

Eh, ngomong-ngomong saya malah belum bahas kenapa saya ngasih judul ini ya? Saya sebenarnya sempat tergelitik dengan istilah istri paruh waktu, meskipun video ke-3 DAQU movie sudah lebih berpihak pada opini saya pribadi (hihi, maksa). Saya kurang sreg dengan istilah paruh waktu, apapun itu. Istri paruh waktu, ibu paruh waktu, kalau gitu kita juga bisa menjadi anak paruh waktu juga dunk karena sebagian harinya dihabiskan di sekolah atau kantor. Itulah mengapa menurut saya istilah yang lebih tepat adalah hamba sepenuh waktu. Menjadi apapun kita (full time mother, student mom, working mom, entrepreneur mom), dikala niat dan ikhtiar yang dijalankan hanya untuk menggapai ridho-Nya, maka setiap peluh keringat serta lelah penat kita tidak akan terbuang sia-sia. Lalu manakah yang lebih mulia? Tentu Allah lah sebaik-baik penimbang neraca. Yang bisa kita lakukan adalah berlomba dalam kebaikan, menjadi hamba yang paling spesial, yang memenuhi setiap kewajiban, yang paling banyak menebar kemaslahatan dan kebermanfaatan.

Maka saya wrap up tulisan saya ini, memilih apapun dirimu shalihah, jadilah hamba sepenuh waktu. Yang setiap hela nafasnya hanya kepada Allah tertuju. Hingga ketaqwaan menghias harimu, kemuliaan menjadi pakaianmu…

“I’ve tried and failed at many things in life, but I will NEVER stop giving 100% at being the best mom I can be” (anonymous)

 

Menunggu sahur, saat suami dan anak sudah terlelap dalam gelap,

London, 23 Juli 2016 pukul 02.20

Advertisements