“The believers who show the most perfect faith are those whose character is excellent and the best of you are those who are the best to his wife” (Tirmidhi)

Kalau dari kemarin saya bahas tentang muslimah terus, mungkin kali ini saatnya bahas tentang ikhwan *hayo loh 😀 Enggak koq, semoga coret-coretan saya kali ini bisa memberi manfaat baik untuk muslim ataupun muslimah. Enaknya bahas mulai darimana ya? Saya mulai dari pertanyaan seorang adik laki-laki yang menyampaikan keresahannya, “Mba, saya belum mapan, lebih baik saya menikah sekarang atau nanti?” Saya berpikir keras untuk menjawab ini. Lagi-lagi saya tidak ingin menggurui, namun hanya berbagi kisah kami, prinsip yang kami yakini.

Saya awali tulisan kali ini dengan berbagi kisah pengalaman saat dulu saya menikah. Tahun 2011 lalu, tidak pernah terpikir bagi saya untuk menikah secepat itu. Ada seorang laki-laki yang tidak saya kenal dengan baik sebenarnya, tiba-tiba datang melamar saya. Bahkan, laki-laki kurus ini hanyalah fresh graduate yang bekerja di sebuah Bank yang bahkan bukan lini keilmuannya. Penghasilannya pun tak seberapa, masih lebih besar penghasilan yang saya dapatkan. Tapi saat itu, entah kenapa saya teryakinkan dengan perkatannya, bahwa ia ingin menikah karena Allah. Ia menikah karena ingin menjaga kesucian hati dan dirinya. Lalu siapa yang memutuskan apakah saya akan menerima lamarannya atau tidak? Tentu saja bukan saya, saya serahkan keputusan itu kepada Allah, sang Maha Pemilik Segala, zat yang paling mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya. Dan entah mengapa, hati saya teryakinkan dari sujud-sujud panjang istikharah di sepertiga akhir malam meminta. Akhirnya jadilah ia pendamping hidup saya saat ini *uhuk, meskipun sebenarnya pernikahan saya di usia ke-22 lebih cepat dari apa yang saya rencanakan. Tapi jika Allah sudah berkehendak demikian, bukankah tiada lain yang dapat menjadi penghalang?

Note Rhevy5
Foto ini diambil di bulan ke-3 pernikahan kami.

Mau tahu kondisi saat saya menikah bagaimana? Kami berdua hanyalah fresh graduate, pengalaman kerja tak seberapa, tabungan ya seada-adanya. Setelah menikah kami tinggal di rumah petak, itu lho rumah yang cuma ada 2 ruangan plus satu kamar mandi kecil. Boro-boro TV LCD, pendingin ruangan aja hanya berbentuk kipas angin kecil. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, sampai sekarang pun kami tetap belum punya rumah, hehe… Kalau ditanya, nyesel ga nikah muda? Dengan tegas saya bisa jawab ga sama sekali. Saya penuh meyakini bahwa saat kita melibatkan Allah dalam mengambil keputusan, hanya kebaikan dan keberkahan yang akan mengiringi perjalanan. Selain itu, mungkin saya adalah tipikal muslimah yang ingin membangun bersama, bukan menikmati hasil kerja keras yang sudah ada. Ibaratnya, merenda asa dari nol, berjuang berkeringat peluh bersama dari titik terendah, setapak demi setapak hingga berada di puncak. Meski sudah pernah dilamar oleh laki-laki dengan gelar tinggi, manager sebuah bank besar, atau aktivis kampus yang terkenal, bagi saya itu semua bukan ukuran. Hanya keshalihah dan ridho Allah-lah yang akan mengantarkan siapa sang pangeran sungguhan. Eh lagi-lagi, jodoh mah sudah di tangan Allah, namanya sudah tertulis sejak lama di lauhful mahfudz. Jadi kalau memang seorang muslimah Allah jodohkan dengan laki-laki shaleh yang sudah mapan, juga ga masalah. Karena hakikatnya, yang Allah nilai adalah proses menjemput jodoh kita, penuh dengan berpasrah pada-Nya, menjaga kesucian hati dan cintanya, atau berkubang dalam lumuran dosa. Saat kita melibatkan Allah dalam setiap pilihan kita, insya Allah keberkahan dari-Nya yang akan menjadikan cinta berbuah surga.

“A husband said to his wife, ’50,000 years before the sky was introduced to the sea, Allah Azza Wajjal wrote your name next to me…’”

Point intinya adalah, untuk laki-laki jika ingin menikah karena ingin menjaga kesucian dirinya, silahkan disegerakan karena Allah, meskipun banyaknya materi belum di tangan, apalagi bagi yang sudah mapan. Kalau kata suami saya (ini tips dari guru ngajinya), kunci seorang laki-laki untuk menikah itu hanya satu kata, BERANI. Sampai ia memberanikan dirinya untuk menikah, maka di saat itulah ia akan menikah. Untuk muslimah, serahkan pilihan kepada Allah. Jangan pernah merasa sok yakin, dengan apa yang tampak di depan mata. Bukankah shalih tidaknya seorang hamba hanya Allah yang Maha Mengetahui kadar imannya? Maka sertakanlah Ia dalam pilihan hidup apapun yang kau pinta.

Yakin deh, menikah itu akan membuka begitu banyak pintu rezeki. Pasca menikah 4 bulan, Allah rezekikan kami untuk mengembara ke negara lain, sehingga saya bisa melanjutkan studi di negeri Elizabeth ini. Hidupnya langsung enak? Ya ga juga, saya masih harus berupaya mengatur arus keuangan beasiswa yang saat itu dibawah standar pemerintah disini untuk hidup berdua. Meskipun begitu, kami bersyukur atas segala skenario dari-Nya. Merasakan penat lelah bersama, hidup sulit berdua, merupakan perjuangan terindah dalam melukis asa. Bukankah saat Allah menjadi tujuan utama, jalan juang ini membawa keberkahan tiada terkira? Hingga kami percaya, di satu titik masa, kita akan dapat tersenyum mengingat masa-masa sulit itu, seraya berkata, kekuatan dari-Nya lebih dari cukup untuk mengantar langkah kaki ini berjalan menembus cakrawala *Aih aih… 😀

Note Rhevy6
Winter pertama kami berdua, London – Januari 2012

Nah sekarang kita masuk ke pertanyaan muslimah yang lain, “Mba memutuskan lanjut sekolah setelah menikah ya? Kalau suami tidak memberi izin bagaimana?” Pertanyaan ini cukup unik. Dan karena yang ditanya adalah saya, maka saya hanya bisa berbagi pengalaman saya dahulu. Jadi sebenarnya gini *ehem2, sejak awal saat ada seorang laki-laki menyampaikan lamaran (siapapun dia), saya sudah menyampaikan visi dan misi hidup yang ingin saya kejar, yaitu menuntut ilmu setinggi-tingginya, berupaya memberi manfaat seluas-luasnya. Itu aja syarat dari saya. Nah sekarang tergantung si pelamar, sanggup menjalankan atau ga. Nah, ada tuh seorang laki-laki, yang katanya bersedia mendukung penuh visi hidup saya, bahkan jika harus berpisah 1 atau 2 tahun karena saya studi di luar negeri, walaupun akhirnya ternyata ga mau pisah dan kami tetap menjalani tahun-tahun awal penikahan kami bersama, hihi… *colek suami 😛 Dan dialah imam shalih yang Allah pilihkan untuk saya, tetap memegang perkataannya hingga kini, mendukung setiap keputusan yang kami jalani.

Apa itu artinya saya ga nurut dengan suami? Eh eh, bukan begitu interpretasinya. Tetaplah saya menjadikan suami saya sebagai raja, yang keputusannya adalah titah bagi saya *uhuk2. Apapun keputusan yang saya ambil, saya selalu bertanya dahulu kepada suami, gapapa nih kita begini? Maka apa yang saya kerjakan tentulah sudah berbekal izin suami. Diluar itu, bahkan dukungan yang begitu besar yang ia berikan. Siapa coba yang rela waktunya terbuang hanya untuk menemani sang istri? Menjaga anak menjadi agenda harian diri. Tanpa enggan beberes rumah setiap hari *ini mah saya yang malas, hehe 😀 . Dan inilah pilihan pria subhanallah ini. Yang karena kecintaannya kepada Allah begitu besar, menjadikannya memuliakan istrinya dengan sebenar-benar kemuliaan *huhu… terharu. Dan ia memberi saya izin sekolah lagi, berkesibukan ini itu karena ia merasa bahwa saya masih bisa memenuhi kewajiban saya sebagai istri dan ibu di tengah segala aktivitas lainnya. Maka pesan saya untuk para laki-laki, sebelum membatasi gerak aktivitasnya, assess dulu kesanggupan istri. Apakah ia mampu menjalani satu peran atau lebih.

“A husband can loves his wife best, when he loves Allah first” (anonymous)

Saya coba share lagi pengalaman seorang Guru Besar yang begitu dekat dengan saya. Beliau adalah seorang akademisi dengan karakter pemimpin yang begitu tinggi. Terlahir dari keluarga priyayi, bangsawan berdarah biru yang keluarganya semua memang menjadi “orang besar”. Ayahnya seorang dokter spesialis anak pertama di Jawa Timur dan ibunya menguasai 5 bahasa. Qadarullah, menikahlah ia dengan seorang wanita yang 180 derajat berbeda kehidupan dan latar belakangnya. Wanita ini tampak begitu enerjik, tipikal sanguinis, dan seorang mantan atlit nasional Indonesia yang saat ini menjadi pelatih. Bisa dibilang, karakter mereka ini bagai bumi dan langit, yang paling gampang terlihat adalah saat kami bertiga makan sop iga di satu kedai bersama. Si Bapak dengan priyayinya makan dengan table manner yang begitu sempurna, sedang Ibu dengan santainya mencomot iga dengan tangannya, hehe… Tapi jangan salah, saya sangat kagum dengan beliau berdua, dan bagaimana mereka saling membangun, melejitkan potensi bersama. Bisa dibilang, menjadi atlit itu jarang yang memiliki pendidikan tinggi, biasanya hanya tamatan SMA saja. Tapi ini berbeda. Saya melihat kerja sama yang begitu luar biasa dari beliau berdua. Bapak melejitkan potensi ibu untuk menjadi atlit yang berpendidikan tinggi, hingga akhirnya saat ini Ibu sudah menamatkan studi doktoralnya di bidang psikologi. Eits jangan salah, beliau bukan atlit biasa lho, bahkan beliau telah mengharumkan nama bangsa dengan menjadi juara dunia ganda putri dan ganda campuran di dunia perbulutangkisan. Bapak juga mendorong Ibu untuk menulis sebuah buku. Tapi saya yakin, kondisi itupun berlaku sepadan. Saat Bapak mampu menjadi Guru Besar di usianya yang ke-46, saya yakin ada kerja keras Ibu disitu. Membantu memastikan rumah tangga dan anak-anaknya bertumbuh kembang dengan baik dan terjaga. Juga kesehatan Bapak yang begitu prima, pasti mereka sering olah raga bareng *hipotesis ngasal, hehe… 😀

“A strong marriage rarely has two strong people at the same time. It is a husband and wife who take turns being strong for each other in the moments when the other feels weak” (Ashley Willis)

Inilah yang menjadi point tulisan saya kali ini, judul yang saya gunakan untuk menggambarkan lintasan hati. Bahwa pernikahan itu seharusnya bukan membangun SATU menara, tapi mampu melejitkan potensi BERSAMA, mengangkasa BERDUA. Saya yakin koq ini ga mudah. Butuh sikap legowo dan saling menerima. Tentang bagaimana menulis rencana hidup berdua, mengambil keputusan bersama, pengorbanan yang tidak sedikit menguras tenaga dan air mata *hayeuh. Jadi jangan pernah mengira, apa yang bisa saya raih saat ini adalah perjuangan saya semata wayang. Itu salah besar! Ini adalah hasil kerja sama tim. Dalam kisah kami, bukan hanya saya yang berjuang, namun suami dan anak pun tidak ketinggalan. Merekalah motivator dan pendukung terbesar.

Note Rhevy1

Saya selalu meyakini bahwa Allah akan memberikan pasangan sesuai dengan karakter kita. Bisa jadi bukan karakter yang sama, namun berbeda, karena kehadirannya lah yang melengkapi cinta. Tuh lihat aja, saya udah nulis panjang lebar berbagi kisah dan semangat kami dalam blog, suami mah boro-boro, nulis status aja malas 😀 . Meskipun begitu, dia pula orang pertama yg “memaksa” saya menuangkan tulisan-tulisan dalam blog, yang ternyata membawa begitu banyak manfaat bagi orang. Memang sih ia pendiam, tapi ternyata ia matang mempertimbangkan dan mengetahui potensi sang istri tersayang *cieeee. Jadi, jika seorang suami melihat potensi istri yang jago berdagang, dukung ia agar menjadi mom preneur. Jika suami melihat potensi istri dengan tingkat akademisi yang tinggi, beri ia ruang untuk sekolah lagi. Jika suami melihat potensi istri dengan hafalan yang begitu baik, dukung ia menjadi hafidzah dengan setor hafalan bersama atau mendanai belajar di rumah Qur’an. Intinya, melejitlah bersama, hingga surga yang akan menjadi tempat pemberhentian akhirnya.

“A husband and wife must function like two wings on the same bird. Unless they work together, the marriage will never set off the ground” (Dave Willis)

Menutup tulisan, sebenarnya tulisan ini saya buat mengiringi ucapan terima kasih kepada suami yang saat ini sisa usianya kembali berkurang. Menjadi catatan pengingat akan visi pernikahan yang kami pegang. Menguatkan genggaman menyongsong masa depan. Semoga Allah ridhokan dan limpahkan berjuta keberkahan. Milad Mubarak my dearest husband, may Allah bless you with all the joy and happiness that you desire and hope that we walk hand in hand even after our hairs turn silver. I will always love you more and more with every passing year… ^_^

Note Rhevy4

“The greatest marriage are built on TEAMWORK, a mutual respect, a healthy dose of admiration, and a never-ending portion of love and grace” (Fawn Weaver)

London, 4 Agustus 2016

Meniti asa, menggengam erat cita

Menengadah doa agar Allah berkahi senantiasa

Advertisements