“All travel has deeper meaning through its journey. If the travelers visits better countries, they may learn to improve his own. And if fortune carries them to worse, they may learn to be grateful”

Saya coba cicil ya catatan perjalanan kemarin, karena ternyata beberapa teman sudah ada yang menanyakan tips berkunjung ke Copenhagen karena ingin kesana dalam waktu dekat ini. Ehem ehem, sebenarnya Copenhagen bukan kota dalam list tujuan saya. Beneran deh bukan, bahkan saya ga pernah kepikiran akan menginjakkan kaki kesana. Travelling saya pertengahan Agutus kemarin murni disebabkan satu alasan: Biar saya ga perlu membuat visa schengen dari VFS Perancis. Hehe, aneh ya? Jadi gini, qadarullah abstrak penelitian saya diterima dan rencananya akan dipresentasikan pada sebuah conference di Paris akhir September nanti, maka mau ga mau saya harus siap-siap membuat visa Schengen (catatan: Visa UK sama visa Schengen beda ya). Naah, karena Perancis agak-agak gimana gitu dengan “Islamophobia”-nya, saya prefer ga daftar kesana karena khawatir ditolak (maaf kalau alasannya agak absurd 😀 ). Pssst… Eh ternyata benar lho dari rumor mahasiswa muslimah di London kalau ternyata mau daftar visa di Perancis agak “nyebelin” pas bagian fotonya (untuk muslimah ya maksudnya).  Wajah kita harus kelihatan jelas bahkan kalau perlu sampai batas hairline atas rambut juga. Jadi kalau pake jilbab, berasa harus ditarik banget ke belakang, konon ada yang sampai harus foto dua kali karena hal ini. Di sisi lain, dua supervisor saya sedang annual leave (cuti tahunan) selama 3 minggu (ngapain coba saya sendirian di kampus), nah akhirnya saya selipin deh waktu 1 minggu untuk jalan-jalan di bulan Agustus. Lah terus kenapa Copenhagen? Copenhagen menjadi kota destinasi pertama bukan karena apa-apa, tapi karena saya nemu harga tiket yang murah *emak2 bgd. Cuma dengan 250 ribu per orang udah bisa nyebrang London-Copenhagen. Murah kan? 😀

Eh, kembali ke topik utama. Jadilah qadarullah saya menjejakkan kaki di Copenhagen. Itu lho, ibu kota negara Denmark. Awalnya Copenhagen dinamakan Købmændenes havn (Pelabuhan Pedagang) yang kemudian menjadi København. Antara tahun 1397 dan 1524 seluruh Skandinavia (Denmark, Swedia, Norwegia, Pulau Faroe, Islandia, dan Greenland) juga Finlandia selatan berada di bawah kekuasaan Denmark, dengan ibu kota Copenhagen. Pada abad ke-15, Copenhagen secara resmi menjadi wilayah kerajaan dan ibu kota Denmark dan Swedia.

Copenhagen46
Nyhavn, salah satu landmark yang terkenal di kota Copenhagen

Bagaimana dengan Denmark? Yang menarik dari negara ini adalah ternyata Denmark dinobatkan sebagai negara paling bahagia di dunia. Pada tahun 2012, Denmark memiliki nominal GDP tertinggi ke-2 per kapita di Uni Eropa. Pendidikan dan biaya pengobatan di Denmark gratis. Denmark adalah negara Nordik yang paling kecil dan paling selatan. Wilayah ini telah dihuni sejak tahun 12.500 SM dan pertanian di sana sudah ada sejak tahun 3.900 SM. Kerajaan Denmark adalah monarki tertua di dunia yang sudah berdiri sejak 1000 tahun yang lalu. Bangsa Frank, Burgundi, Jutes, dan Norse (Viking), semua berasal dari Denmark. Bangsa Viking hidup dari tahun 800 sampai 1200 pada periode yang dikenal dengan Era Viking (Viking Age). Familiar dengan nama “Viking” kan? Bangsa Viking dulu bahkan pernah menaklukkan Inggris dan Normandia.

Copenhagen28
Salah satu interior di dalam Frederiksborg Castle

Dan tahukan? Setelah saya beli tiket, saya baru nyadar kalau ternyata di Denmark itu mahal-mahal banged, terutama akomodasinya. London yang saya anggap kota mahal aja kalah. Silahkan diintip itinerary perjalanan kami kemarin (3 hari 2 malam) disini. Dokumentasi perjalanannya bisa dilihat disini.

Nah, di blog post ini, saya fokus kepada tipsnya aja ya.

  1. Transportasi

Kalau kamu berkunjung ke Copenhagen, coba deh pahami dengan sistem transportasinya. Disana terbagi atas zona-zona, dan harga ongkosnya pun dibedakan berdasarakan zona. Pembagian zona di Copenhagen bisa dilihat disini. Transportasi disana meliputi metro, train, bus, dll. Kalau hanya ke city centre, kamu hanya perlu membeli tiket zona 1-4. Tapi kalau mau ke Frederiksborg Castle, itu jauh, di zona 9, jadi harganya pun lebih mahal. Untuk tahu jadwal update nya, silahkan install app “Rejseplanen”, disitu kamu bisa mempelajari bagaimana menuju suatu tempat ke tempat yang lain. Jadi yang murah yang mana? Tergantung. Kamu harus buat hitung-hitungannya sendiri, tinggal di daerah zona berapa, mau kemana aja, dan berapa lama. Kalau kami kemarin dipinjemin kartu rejsekort, jadinya dapat potongan harga hingga 50%. Kisaran ongkos disana berapa? Sebagai perbandingan:

  1. 24 hours all day ticket seharga DKK 130 bisa untuk seluruh zona
  2. City pass, 24 hour ticket hanya untuk zona 1-4 seharga DKK 80 per adult, 72 hour seharga DKK 200
  3. Single trip ticket, paling murah DKK 24 (untuk 2 zona) dan bertambah DKK 12 per nambah 1 zona, dengan DKK 108 (untuk seluruh zona). Ingat, ini hanya untuk 1x jalan lho ya, belum PP.
  4. Copenhagen Card, menggunakan kartu ini kamu bebas menggunakan alat transportasi apapun di Copenhagen sesuai dengan lama waktu yang kamu pesan (24 hr, 48hr, 72hr). Pembahasan lebih detail dibawah ya
  5. Rejsekort, ini adalah travel card yang biasa digunakan oleh penduduk lokal. Kita juga bisa membeli kartu ini di mesin tiket yang berwarna abu-abu seharga DKK 80. Keuntungannya apa? Menggunakan tiket ini, kamu akan mendapat potongan 50% setiap kali berpergian. Sebagai contoh, kemarin dari zona 1-9 single ticket seharga DKK 37 menggunakan rejsekort, harga yang sama ketika saya menggunakan single tiket menuju bandara (zona 1-4).

2. Copenhagen Museum & Attractions

Ada banyak tempat yang bisa dikunjungi selama di Copenhagen. Ada beberapa kastil atau palace berada disana. Tapi menurut saya, kastil yang paling bagus adalah Frederiksborg Castle di Hillerod, meskipun lokasinya jauh di zona 9. Kalau hanya berkunjung singkat, bisa juga diintip contoh itinerarynya di visitacity.com, saya biasa mengikuti yang full packed itinerary. Salah satu keuntungan itinerary dari visitacity adaah lokasi-lokasi wisatanya yang berdekatan. Tapi ada baiknya kita mencari tahu top attraction di negara yang kita kunjungi.

Copenhagen21
Frederiksborg Castle View from the Garden

Dan salah satu misi saya dalam perjalanan kali ini adalah menambah pengetahuan anak dengan cara yang menyenangkan. Jadi ga cuma orang tuanya aja yang jalan-jalan, tapi anak-anak juga diajarkan untuk mentafakuri ciptaan dari Allah yang begitu menawan.

Copenhagen10
Mengagumi kebesaran Sang Pencipta di Den Bla Planet
  1. Copenhagen Card

Nah, jadi di Copenhagen itu ada sebuah kartu yang memang ditujukan untuk para wisatawan. Menggunakan kartu itu, turis bisa menikmati 73 tiket masuk museum gratis dan beragam atraksi di Copenhagen plus gratis transportasinya. Harganya? Yaah… lumayan mahal sih (buat saya). Harga Copenhagen card 24 hour DKK 379, 48 hour DKK 529, 72 hour DKK 629, 120 hour DKK 839. Dari harga tsb bisa terlihat bahwa semakin lama di Copenhagen semakin murah, kalau memang niat liburan kesini, kayaknya Copenhagen Card yang 72 hours bisa menjadi opsi. Cara belinya gimana? Silahkan order online disini, terus pas hari kedatangan bisa diambil dari Copenhagen Airport atau di admission Tivoli Garden. Kemarin saya ambil pas keluar airport, pas banget di meja informasi setelah kita mengambil bagasi. Enaknya Copenhagen Card adalah dia berlaku 1×24 jam, bukan one day. Maksudnya apa? Contohnya saya kemarin, baru mengaktifkan Copenhagen Card hari selasa pukul 15.00, maka ia berlaku hingga hari Rabu pukul 14.59. Oya, anak kecil dibawah usia 6 tahun gratis! Satu Copenhagen Card bisa digunakan untuk 2 anak kecil gratis di bawah usia 6 tahun. Di website yang sama, kamu bisa cek seberapa besar kamu menghemat jika menggunakan kartu ini. Tips dari saya, kalau memang cuma mampir sebentar ke Denmark (seperti saya), saya beli yang 24 hour, terus saya maksimalin mengunjungi tempat-tempat yang berbayar, sedangkan yang gratis baru belakangan.

Copenhagen60
Denmark National Museum, salah satu tempat gratis yang bisa dkunjungi di Copenhagen
  1. Akomodasi

Ini nih bagian yang paling sulit, cari akomodasi murah di Copenhagen. Pertama kali saya ngecek harga akomodasi di Booking.com atau Trivago, saya cuma bisa istighfar berkali-kali, hehe… Soalnya terpampang jelas disitu harga paling murah GBP 85 (sekitar 1.5 juta) per malam, itupun masih kelas hostel. Kalau hotel bintang tiga minimal di atas 2 juta. Haduh-haduh, bikin cenat cenut kepala ini. Akhirnya kami menghubungi teman kami yang sedang studi di Denmark, dan Alhamdulillah mendapat penginapan di rumah orang Indonesia yang sudah puluhan tahun tinggal disana. Saya tetap membayar uang listrik dan air, tapi minimal ndak semahal tadi. Meskipun lokasinya jauh di daerah Hillerod sehingga perlu waktu 1 jam menuju city center, tapi ndak apa, yang penting bisa dapat murah dan ternyata, dekat banged rumahnya sama Frederiksborg Castle yang menawan itu! Tips lain adalah, coba kamu bandingkan harga dengan Airbnb dan roomertravel.com. Karena suami saya ndak suka jika tinggal sharing di rumah non-muslim (khawatir dapurnya tercampur dengan makanan ga halal), jadi kami prefer menggunakan roomertravel.com. Apa itu? Website yang menawarkan harga hotel dengan murah, biasanya kita cuma dapat basic accommodation aja, ga pake breakfast, tapi lumayan banget bisa menghemat.

Copenhagen18
One of the most beautiful place in Hillerod
  1. Halal Food

Bagaimana dengan makanan halal disana? Sama dengan kota-kota maju lainnya, makanan halal bisa dengan mudah kita dapatkan di daerah city center. Yang murah-murah biasanya toko kebab atau makanan buffee dengan kisaran harga DKK 45-150. Kemarin kami makan di dekat stasiun Norreport, di kedai milik seorang brother muslim. Kami bingung dengan menu yang ada (secara tulisannya dalam Bahasa Denmark semua) akhirnya membeli ayam goreng dengan kentang plus fresh salad dan ternyata uenak banget dan porsinya masya Allah, bisa dibungkus untuk bekal besok 😀 Setelah nanya dengan ibu pemilik rumah di Hillerod, ternyata yang kami pesan adalah ½ kulling, artinya setengah ayam, ya pantesan gede banget ayamnya. Harganya DKK 65. Tips: Kalau mau makan di tempat ini, baiknya kamu datang pas weekday pada jam 12-15, biasanya dapat diskon menjadi harga DKK 45, kan lumayan 😀

  1. Belanja Groceries

Ngapain nih pake belanja segala di negara orang? Nah, tips hemat kami lainnya adalah menekan biaya makan. Maka saya membawa sekotak rendang dan persediaan mie dalam perjalanan kami. Lalu kami akan belanja beras, susu, mentega, telur, keju di supermarket local yang murah. Contoh supermarket disana: Irma, Fakta, Netto, SPAR, Aldi, yang paling murah katanya Netto. Cuma memang agak loading belanjanya karena sambil translate Bahasa 😀

DSC_0088_2010-08-19_09-09-11_640x425

  1. Mata uang

Mata uang yang digunakan di Denmark adalah Danish Krone (DKK), 1 krone setara 2000 rupiah, atau 10 krone setara 20,000 rupiah. Kalau saya, sebelum berangkat ke Denmark sudah menukarkan uang GBP ke DKK menggunakan Thomas Global Exchange. Sebenanrya bisa juga dengan cara mengambil uang dari ATM di Denmark, tapi saya prefer tukar uang dulu agar lebih menghemat. Selain itu, karena kemarin saya berkunjung ke beberapa negara, maka akan lebih murah jika sekalian order banyak mata uang di Thomas Exchange.

  1. Tempat shalat

Bagaimana dengan Islam di Denmark? Berdasarkan data dari BBC, sekitar 240,000 warga Denmark adalah muslim atau sekitar 3.7% dari jumlah total penduduknya. Ada beberapa masjid di kota Copenhagen, dengan 1 masjid terbesarnya yaitu “The Grand Mosque of Copenhagen”. Kalau sedang jalan-jalan shalat dimana? Kalau kami terbiasa mendirikan shalat di taman-taman. Ga usah takut terlihat aneh, cukup nemuin spot yang agak sepi, gelar alas sebagai sajadah, pake kompas di hp untuk menentukan arah kiblat, lalu shalat deh. Insya Allah perjalanannya berkah 🙂

Copenhagen52

Kemarin habis berapa? Habis banyak, hehe… Tapi sebenarnya hampir sama dengan harga di London (kecuali akomodasinya) dan kita memang dapat berkunjung ke banyak tempat. Berikut adalah estimasi biaya perjalanan 3 hari 2 malam:

Tiket pesawat one-way: Rp 250,000×3: Rp 750,000

Penginapan 2 malam: Rp 1,000,000

Makan: Rp 130,000

Belanja groceries: Rp 150,000

Copenhagen card: Rp 400,000×2: Rp 800,000

Transportasi 2hr: Rp 200,000×2: Rp 400,000

Total = Rp 3,230,000/3 orang= Rp 1,100,000 per orang atau Rp 1,500,000 per orang dewasa (based on 2 adult sharing, udah kaya promo holiday pirates 😀 ) Oh iya, ini hitung-hitungan budget hemat lho ya, bukan dengan fasilitas mewah atau mencicip kuliner di banyak tempat. Dan belum termasuk harga tiket pulang karena kami mampir ke negara yang lainnya dulu maupun harga penitipan koper (DKK 65).

Lalu apa ibrah (pelajaran) dari perjalanan kali ini?

  • Pelajaran pertama yaitu saya bisa mempelajari seperti apa sih negara yang paling bahagia itu. Melihat sendiri gambaran kesejahteraan ekonomi, kesehatan, fasilitas, transportasinya, dll. Dan ternyata, Denmark dianggap sebagai negara dengan tingkat korupsi paling rendah di dunia. Pada tahun 2014, 2015, dan 2016, WHO memasukkan Denmark sebagai negara paling mudah berbisnis di Eropa dan negara termudah ketiga di dunia setelah Singapura dan New Zealand. Pasti tahu lego kan? Nah, nama Lego® adalah singkatan dari bahasa Denmark, leg godt, yang artinya “bermainlah dengan baik”. Perusahaan ini didirikan tahun 1932 oleh Ole Kirk Christiansen. Lego mulai memproduksi mainan batanya pada tahun 1958. Selama lebih dari 60 tahun, lebih dari 320 milliar bata Lego telah terjual di seluruh dunia. Markasnya berada di Billund di semenanjung Jutland. Selain lego, salah satu orang terkenal yang berasal dari Denmark adalah Jørn Utzon. Beliau adalah arsitek Denmark yang terkenal mendesain Sydney Opera House di Australia, dan menjadi salah satu dari dua orang yang karyanya dianggap sebagai World Heritage Site pada saat dia masih hidup. Ilmuwan Denmark paling terkenal adalah ahli fisika nuklir, Niels Bohr, yang memenangkan Nobel Prize pada tahun 1922 atas karyanya tentang partikel atom. Bohr pergi ke Amerika pada tahun 1942 dan bekerja di proyek Bom Atom. Anaknya Bohr, Aage, juga memenangkan Nobel Prize dalam bidang fisika pada tahun 1975. Dan saya baru tahu, kalau ternyata nama Bluetooth diambil dari nama raja kedua Denmark, Raja Harald Bluetooth 😀
Copenhagen50
Amelianborg Castle
  • Dengan menginjakkan kaki di Copenhagen, saya benar-benar melihat pemerintah memberikan fasilitas-fasilitas yang memadai. Apa bedanya dengan London? Kalau di Copenhagen, terlihat sekali bahwa sepeda telah menjadi bagian transportasi utama disana. Karena ternyata, 50% orang Denmark pergi bekerja dengan naik sepeda. Bahkan jumlah sepeda di Copenhagen lebih banyak dibandingkan penduduknya. Denmark mempunyai lebih dari dua kali jumlah sepeda (4,2 juta) dibandingkan mobil (1,8 juta). Orang Copenhagen mengayuh sepeda lebih dari 1,13 juta km setiap harinya.

Copenhagen62

  • Tapiiii… semua sisi kebaikan Denmark tadi tidak luput dari sisi negatif negaranya. Eh ini opini saya pribadi lho ya. Ketika saya datang, sedang marak sekali perayaan atau dukungan untuk gay dan homoseksual, mungkin ini yang dinamakan Copenhagen Pride. Bendera dan ornament pelangi berwarna-warni menghiasi sudut kota. Memang pada tanggal 1 Oktober 1989, Denmark menjadi negara pertama di dunia yang melegalkan hubungan sesama jenis (meski pernikahan sesama jenis dilarang hingga tahun 2012). Selain itu, meski 80% orang Denmark resmi penganut Folkekirken (Gereja Denmark), namun survei pada tahun 2013 yang dilakukan oleh Statistics Denmark menemukan bahwa hanya 3% penduduk Denmark yang rutin pergi ke gereja. Poling Erurobarometer tahun 2010 menemukan bahwa hanya 28% orang Denmark yang percaya kepada Tuhan, dan ini merupakan salah satu angka yang terendah di Eropa, meski lebih tinggi dibandingkan Norwegia dan Swedia. Dan rumornya, orang Denmark tidak serius dalam masalah seperti pernikahan. Tingkat perceraian di Denmark adalah salah satu yang tertinggi di Eropa, dan hampir 20% pasangan Denmark tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan yang disebut dengan “Nikah tanpa kertas” (paperless marriage).
  • Nah, hikmah inti yang ingin saya ambil adalah, seindah apapun negara lain yang kamu pijak, dengan kemegahan gedung, modernisasi alat transportasi dan mudahnya fasilitas, tidak akan menggantikan kecintaan hati ini kepada tanah air *tsaaah 😀 Semua itu tidak lebih indah dibandingkan dengan merdunya suara adzan dari surau-surau, rutinnya kajian di masjid-masjid besar, atau sekedar hangatnya kemeriahan perayaan ied dan Ramadhan. Intinya mah, dimanapun kaki ini berpijak saat ini, tanah airlah sebaik-baik tempat kembali. Menyadari banyaknya PR pembangunan yang perlu digarap bersama, agar menjadi negara yang makmur (baldatun thoyyibatun warrabun ghafur) bukan lagi slogan semata. Aamiiin…

Copenhagen59

“Travel early and travel often. Live abroad, if you can. Understand cultures other than your own. As your understanding of other cultures increases, your understanding of yourself and your own culture will increase exponentially.” (Tom Freston)

Advertisements