“Whatever you cross, whatever your pain. There will be sunshine after the rain. Perhaps you may stumble, perhaps even fall. But just Believe, Allah is always ready to answer your call…” 

Pernah ga sih merasa, kenapa ya Allah belum juga menjawab doa-doa saya? Atau kenapa ya Allah tunda mimpi saya, baru terwujud sekian tahun kemudian. Atau mungkin, malah Allah ganti dengan hal lain di luar rencana kita. Dan kalau boleh jujur, ternyata yang Allah beri lebih baik dari apa yang direncanakan sebelumnya. Atau, kalaupun saat ini kita belum merasakan manfaatnya, suatu saat nanti kita bisa tersenyum meresapi makna akan setiap takdir-Nya.

Eh, ini saya mau ngomongin apa sih? Sebenarnya ini hanyalah sebuah catatan refleksi. Akan bagian dari perjalanan kami. Dan tentunya, saya rasa setiap orang pasti pernah mengalami. Intinya adalah, hidup ini selalu berjalan sesuai dengan alur iradat (kehendak)-Nya. Semua yang terjadi dalam hidup kita, sudah ada yang mengatur, dengan alur skenario terbaik tentunya. Karena hanya Ia yang paling mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya. Manusia boleh berharap, berdoa seikhlas asa, tapi Allah jualah yang mengatur jalannya.  Jangan sampai kita merasa superior dengan segala amalan dan besarnya ikhtiar kita, bukankah kita pun bergerak dan beraktivitas atas dasar izin-Nya?

Saya ingin berbagi mengenai proses sekolah saya, yang ga mulus-mulus amat juga tentunya. Kalau menurut saya sih, sebuah pencapaian itu pasti membutuhkan ikhtiar yang tidak gampang, pengorbanan yang tidak ringan, berlelah-lelah dalam perjuangan. Kalau lurus dan mudah menggapainya, bukan perjuangan namanya! ^_^ Dan apapun alur takdir yang Allah berikan, pada akhirnya selalu lebih baik dari apa yang saya rencanakan, meskipun di awal, terkadang saya belum memahami hikmah dibalik setiap keputusan.

Dalam life plan saya, sebenarnya saya berencana untuk langsung kuliah S2 setelah lulus S1, makanya saya ingin menyelesaikan studi dalam waktu 3.5 tahun, sehingga memiliki waktu setengah tahun untuk menyiapkan sekolah S2 saya. Pasca lulus, saya langsung menyiapkan diri untuk tes IELTS, hunting universitas yang menawarkan keilmuan epidemiologi, melengkapi berkas, translate semua dokumen (sampai KTP, KK, akte lahir semua ditranslate oleh sworn translator), mencari surat rekomendasi, dsb. Namun apa skenario dari-Nya? Ternyata, Allah tangguhkan keinginan saya tersebut, Allah pertemukan saya untuk bekerja sebagai asisten peneliti di bawah seorang guru besar FKM UI (yang saat saya mulai bekerja dengan beliau, beliau sedang menyiapkan pengukuhan guru besarnya, saya bahkan terlibat dalam proses tsb, mulai dari melengkapi berkas serta pembuatan pidato pengukuhan beliau). Pada saat itu, tawaran dari universitas sebenarnya sudah ada, tapi beasiswa belum di tangan, mana mungkin saya bisa kuliah di LN tanpa beasiswa, sedangkan saya hanya berasal dari keluarga yang sederhana. Saya juga tak ingin memberatkan beban kedua orang tua saya, bahkan sebisa mungkin meringankannya. Itulah sebabnya sedari kuliah saya sudah berusaha mandiri membiayai biaya kuliah saya dengan beasiswa (parsial) dan bekerja mengajar.

riset-story
Pengalaman menjadi asisten peneliti dan berkecimpung pada penelitian kolaborasi internasional

Dulu beasiswa masih terbatas tidak seperti sekarang. Beasiswa LPDP belum diluncurkan. Yang ada kebanyakan beasiswa dari pemerintah luar, seperti ADS (Australia), Erasmus Mundus (Eropa), Chevening (Inggris), USAID (Amerika), atau Monbugakusho (Jepang). Dicoba ga? Saya mencoba mendaftar ADS, Erasmus dan Monbugakusho, tapi memang belum rezeki sepertinya. Beasiswa lain tidak memungkinkan karena mensyaratkan minimal 2 tahun pengalaman kerja. Yang paling parah, saya lupa tidak ttd di aplikasi ADS saya (kesalahan kecil tapi fatal). Tapi dari situ saya belajar, kalau memang bukan rezekinya, tidak akan Allah sampaikan. Terus gimana dengan mendaftar sekolahnya? Saya juga sudah mencoba, alhamdulillah mendapat unconditional offer dari 6 universitas: 2 di Inggris, 1 di Jerman, 1 di USA, dan 2 di negara Eropa lainnya. Tapi belum mendapat beasiswa ini yang menjadi masalahnya. Sudah coba cara lain? Saya akhirnya mendaftar Beasiswa Unggulan DIKTI dan Beasiswa Prestasi dari Kemendiknas, serta sempat diwawancara untuk diloloskan Beasiswa Fogarty untuk studi S2 Epidemiologi di UCLA, tapi saya diwajibkan mengambil GRE. Bolak balik ke Kemendikbud ngurus berkas yang tiada kunjung mendapat jawaban. Beasiswa Prestasi dari Kemendiknas pun tidak jelas jadwalnya, menunggu sekian bulan tanpa adanya jawaban, persis rasanya kaya orang “digantung” :D. Alhamdulillaah ada titik cerah dari Kemendiknas, tapi Kemendiknas tidak serta merta memberikan saya full scholarship, pilihannya adalah, saya kuliah di ICL dibiayai GBP 500 per bulan dan saya harus membiayai sendiri tuition fee (GBP 20,000 atau sekitar 300 juta saat itu), atau saran dari mereka, saya dianjurkan mengambil S2 di Indonesia lalu S3 akan mereka danai ke Jerman.

Bagaimana dulu rasanya? Waah… nano nano! Galau, resah, bingung menentukan arah. Bahkan, saya sempat berada pada titik terendah, saat merasa bahwa segala ikhtiar, perjuangan dan penantian 1.5 tahun ke belakang, kapan akan terbayar. *Jangan ditiru yah, ini mah pemikiran sesat 😀 Bisa dibilang, ini adalah “training” awal Allah untuk saya, agar lebih dewasa menghadapi ketetapan-Nya, agar saya kembali tersadar akan makna seorang hamba, agar ketaatan saya, dapat mengalahkan rasa suka dan tidak suka dalam dada. Ingat betul status FB yang saya tulis 5 tahun lalu:

Maka tak peduli pilihan yg mana, asalkan berjalan dalam koridor ridha-Nya, tak mungkin ada sesal disana. Bukankah hanya keberkahan-Nya yang kita damba? Ya Rabb.. jadikanlah ketaatanku melebihi rasa suka dan tidak sukaku…”

Itulah kisah dibalik status saya waktu itu. Dan pada akhirnya, saat kita berteman dengan iman, saat taqwa dan taat menjadi pedoman,  meninggikan husnudzan, dan kembali bertawakkal serta berserah diri pada-Nya, di titik itu pulalah Allah tunjukkan jalan-Nya, dari arah yang tidak diduga-duga, persis seperti firmannya di dalam surat At-Talaq.

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Ia akan mengadakan baginya jalan keluar (dari kesulitan) dan memberinya rezeki dari arah yang tidak diduga.” (QS.65: 2-3)

icl-picture

Akhirnya tepat pada saat perkuliahan di Imperial sudah dimulai, Kemendikbud menginformasikan bahwa saya sebenarnya lolos sebagai penerima beasiswa (jeng jeng… padahal saya sudah tanyakan informasi ini dari 2 bulan yang lalu tapi selalu tidak mendapat balasan). Masya Allah… apa yang harus saya kerjakan? Kalau orang lain mungkin menyiapkan keberangkatan sejak 1-3 bulan sebelumnya, saya bahkan baru tahu bahwa saya diterima beasiswa saat perkuliahan SUDAH DIMULAI. Begitu banyak yang harus dikerjakan dan semua harus selesai dalam waktu yang sangat tidak memungkinkan. Menyelesaikan pembuatan surat guarantee letter (GL) sponsor, mengirimkan GL langsung ke Inggris, meminta CAS (Confirmation of Acceptance for Studies) dari universitas,  menego keterlambatan kedatangan selama 2 minggu kepada universitas, pembuatan visa, persiapan keberangkatan, menyelesaikan pekerjaan penelitian dan mentransfer muatan-muatan pekerjaan, semua harus selesai dilakukan dalam waktu 2 pekan. Maha Besar Allah dengan segala keagungan-Nya… Ia membuat sesuatu yang terlihat tidak mungkin menjadi mungkin. Segala puji bagi Allah, visa student mampu selesai dalam waktu 3 hari (hal yang sangat mustahil dalam pembuatan visa karena masa umumnya adalah 10-14 hari kerja). Dan universitas bersedia menerima  meskipun sudah telat 2 minggu masa perkuliahan dimulai. Maka satu hal yang selalu saya tanamkan dalam-dalam, keep fighting till the VERY END! And leave the rest to Allah, the Almighty One…

Hikmahnya apa? Janganlah mengira bahwa ujian tiada menyertai sebuah kesuksesan. Karena ada kalanya kembali kita diuji dengan tantangan-tantangan yang sepertinya tak lelah berdatangan. Hingga terkadang ia menuai air mata di tengah lelah raga dan penat jiwa. Saat asa terjatuh karena sempitnya peluang yang ada. Di situlah seharusnya kita semakin menyelami makna seorang hamba. Janganlah bersedih, karena pada saat itulah Allah tengah mengajarkan betapa kecil kita di atas segala kebesaran-Nya. Allah tengah menyertai setiap derai air mata kita, mendengar pinta dan tersenyum penuh rahmat jika kita berprasangka baik atas segala ketetapan-Nya. Karena sekali lagi, Allah lah sebaik-baik perencana dibandingkan segala keinginan makhluk-Nya…

Tahukan hikmah lain dibalik ditangguhkannya saya untuk S2? Saya berkesempatan untuk terlibat dalam penelitian-penelitian internasional dan belajar dari seorang Guru Besar dengan kapasitas yang luar biasa mengagumkan. CV saya seketika bertambah panjang dan berbobot dibandingkan dengan pengalaman keorganisasian saya dulu saat kuliah S1. Di luar itu? Allah takdirkan saya untuk menikah terlebih dahulu, yang sebenarnya lebih cepat 2 tahun dari rencana. Mungkin ini juga hikmah yang ingin Allah ajarkan, bahwa bisa jadi saya tidak sanggup jika harus mengembara sendiri (cieee), sehingga Allah hadirkan seorang imam untuk menemani diri berjalan menapaki hari (uhuk2). Dengan bekerja, saya pun dapat membantu biaya kuliah adik saya. Saya pun lebih siap dan mantap untuk menjadi mahasiswa di Imperial College London, berbaur dengan international students lainnya. Tuh kaaan… terkadang kita baru memahami kebaikan dari alur iradat-Nya di akhir cerita, maka senantiasa berhusnudzan lah akan setiap ketetapan-Nya.

lao-edit
Seringkali menjadi peneliti termuda dan muslimah satu-satunya pada grup penelitian kolaborasi internasional. Sebuah pembelajaran besar yang Allah berikan…

“Takdir itu di ujung ikhtiar… Ada harap yg mencipta usaha, ada doa yg memohon akhir… Semoga Allah senantiasa menguatkan langkah-langkah kaki kita untuk bersegera menuju jannah-Nya… Semoga Allah mewujudkan setiap harap dan menjawab untai doa-doa kita dengan keindahan keputusan-Nya…”

 Bagaimana dengan proses S3 kemarin? Tidak jauh berbeda. Lagi-lagi semua berjalan sesuai dengan alur kehendak-Nya, dalam skenario terbaik-Nya. Dahulu saya pun berencana langsung kuliah S3 setelah selesai S2 (rajin banget sekolah ya? :D). Sejak bulan Januari 2012 (dalam masa perkuliahan S2) sudah hunting beasiswa dan project S3. Beberapa seleksi dokumen dan proses wawancara pun sudah dilalui. Tapi lagi-lagi, Allah tangguhkan keinginan saya tersebut. Sampai akhirnya saya melahirkan anak pertama saya dan kembali ke Indonesia. Nyerah kah? Tentu tidak. Prinsip saya adalah, terus berikhtiar maksimal dan bertawakkal, dan biarkan Allah menunjukkan rezeki-Nya dari pintu manapun yang Ia suka. Kali ini saya lebih tangguh. Saya tidak biarkan kekecewaan akan kegagalan memenuhi hati saya, justru sebaliknya. Prinsip saya adalah, mencoba itu tidak dosa, maka berikhtiar dahululah sebelum engkau berkata tidak mungkin. Karena kita tidak pernah tahu dari pintu mana Allah akan sampaikan rezeki kita. Ditolak itu biasa, jadi ga usah dibawa sedih sepanjang masa; Tapi kalau diterima, itu baru luar biasa! Saat Allah belum menjawab doa kita, senantiasa berbaik sangkalah. Mungkin ada yang salah dengan mimpi kita, atau cara kita menjemputnya. Atau kita memang tidak berkualifikasi mengerjakan hal tersebut, yang jika dipaksakan maka bisa berantakan. Maka berhentilah menggerutui kegagalan. Tetaplah berhusnudzan atas segala ketetapan. Meyakini bahwa yang terbaiklah yang selalu Allah berikan.

baby-najwa-edit
Menjadi ibu adalah rezeki terbesar yang saya dapatkan usai menjalani studi S2 saya

Lalu bagaimana akhir kisah ikhtiar S3 saya? Lagi-lagi saya menyadari, bahwa rezeki kita tidak mungkin tertukar. Dan itulah landasan judul blog post saya kali ini. Kalau memang bukan rezekinya, tidak mungkin kita dapatkan. Kalau memang belum waktunya, tidak mungkin akan disampaikan. Setelah 2 tahun lulus S2, Allah menjawab doa saya. Dan benar, lagi-lagi dari arah yang tidak diduga-duga. Kalau dahulu saya harus melalui proses interview, atau mekanisme ribet lainnya untuk mendaftar S3, kali ini berbeda. Bahkan saya diterima menjadi PhD student tanpa harus membuat proposal. Saya dipersilahkan memulai studi kapanpun saya bisa, bahkan saya dipersilahkan memilih project mana yang saya suka. Masya Allah walhamdulillaah… Hikmahnya? Sudah tentu banyak hikmah yang Allah titipkan. Berbekal pengalaman penelitian yang semakin matang, mungkin itulah landasan supervisor saya sampai begitu percaya menjadikan saya mahasiswa bimbingannya. Allah juga berikan waktu saya 2 tahun untuk penuh mengurus anak, mengiringi tumbuh kembangnya senantiasa. Bahkan Allah rezekikan saya sebagai penerima Beasiswa Presiden Republik Indonesia, yang tepat memang dibuka hanya pada tahun 2014 lalu. Alhamdulillaah ‘ala kulli hal…

bpri

 

Jadi, bagi yang belum bertemu jodoh, jangan bersedih. Jodoh itu bukan sandal jepit, ia tidak akan tertukar :D. Bukankah namanya sudah tertulis di lauhful mahfudz jauh sebelum kita dilahirkan? Ia akan hadir sesuai pada waktu yang telah Allah rencanakan. Yang sedang berikhtiar menjemput beasiswa namun belum kesampaian, jangan bersedih. Teruslah berjuang maksimal, karena rezekimu tidak akan lari dari tangan. Bukankah seseorang akan dimudahkan untuk sesuatu yang memang rezekinya? Bagi yang sedang membangun ikhtiar dalam pekerjaan, teruslah menjejak taat menggapai impian. Setapak demi setapak dalam kebaikan. Ketuklah semua pintu rezeki, dan biarkan Allah yang tentukan dari pintu mana Ia akan beri.

“Dan yakin sekali, rezeki kita tidak akan tertukar. Sekeras apapun mengejar, jika memang bukan rezekinya tidak akan kita dapatkan. Begitupun sebaliknya, kalau memang rezeki kita, sejauh apapun dihindarkan tidak akan hilang dari genggaman…”

Saat berhusnudzan akan segala ketetapan-Nya menjadi pilihan diri

London, 16 September 2016

Pukul 01.05

Advertisements