“Sometimes you have to experience the bad, so that you can learn to appreciate the good things that enter your live.” (Leon Brown)

Perjalanan ke Paris kemarin menyisakan beberapa pengalaman kurang “manis” untuk kami. Dimulai dari tragedi “palak” ala-ala Perancis (eh, ini mah istilah saya sendiri), sampai dengan kejadian “kecopetan” yang hampir aja terjadi. Eh eh, gimana ceritanya?

Di hari pertama kami menginjakkan kaki di Paris, kami agak kurang nyaman dengan alat transportasi metronya, yang menurut kami, kurang bersahabat untuk ibu-ibu membawa stroller/buggy maupun untuk disable. Banyak saya temui stasiun metro yang tidak menyediakan lift maupun eskalator, jadilah kami harus gotong-gotong stroller setiap ingin naik metro. Tapi ini bukan the real problemnya.

Kejadian kurang menyenangkan pertama adalah saat kami menginjakkan kaki di Montmarte Sacre Cour, sebuah monument yang terletak di bukit bagian utara kota Paris. Disana berdiri sebuah basilika yang dibangun untuk menghormati prajurit Perancis yang gugur pada perang Perancis Rusia. Saya memang sudah mengetahui rumornya, bahwa disana ramai orang-orang kulit hitam yang akan menawarkan kita untuk diikatkan tali di pergelangan tangan, lalu mereka akan menanyakan apakah kita bisa membukanya atau tidak. Dan biasanya tidak. Lalu mereka akan menawarkan untuk membukanya tapi kita harus membayar. Satu-satunya cara agar ga kena hal-hal semacam ini adalah menghindar!

aparis2
Montmarte Socre Cour, Paris

Nah nah, baru saja menaiki tangga menuju Sacre Cour, suami saya diberhentikan oleh laki-laki berkulit gelap yang menawarkan ikatan gelang di tangan. Meskipun suami saya sudah menolak, tapi pria ini (cenderung memaksa) menarik tangan suami saya lalu mengikatkan gelang itu di pergelangan tangannya. Kesalahan saya adalah membiarkan suami saya jalan sendirian membawa stroller, sedangkan saya dan Najwa sudah jalan duluan. Mungkin melihat wajah suami saya yang polos (mudah diintimidasi kali ya 😀 ) jadilah ia menjadi sasaran empuk. Saat saya menoleh ke belakang, suami saya sudah dikelilingi 4 orang sembari mengeluarkan beberapa koin dari dompet receh kami. Dari jauh, saya bisa mengatakan ini mah “malak” (ga di Indonesia ga di Perancis ada juga ternyata) >.<

Saat saya hampiri, saya tanya, “Kamu kasih uang berapa mereka?”
“Lima euro”, jawabnya
What?? Mahal banget, kata saya dalam hati. “Biasanya juga cuma 1 atau 2 euro”, jawab saya.
“Iya, tadi udah dikasih 2 Euro. Tapi mereka bilang, we don’t receive change/coins (He??!! Itu mah berarti mereka minta minimal 5 Euro). Setelah diberi 2 Euro, mereka melihat koin 2 Euro yg lain di dompet, jadi minta lagi. Laki-laki kulit hitam itu juga berkata ‘This is tradition, if you don’t respect us, we won’t respect you‘. Terlihat kondisinya benar-benar ga enak, karena teman-teman pria ini ikutan mengelilingi sambil melihat isi dompet koin. Benar-benar mengintimidasi!”.

Waaah… kejadian ini benar-benar bikin ga enak hati. Agak-agak ga rela gimanaaa gitu. Secara nyari uang koq malak, minta uang koq maksa. Astaghfirullaah… pokoknya bawaannya kesel waktu itu (maklum emak-emak merangkap jabatan menteri keuangan rumah tangga, sensi klo budget keluar jalur :D). Meyakini bahwa setiap apa yang terjadi sudah melalui atas izin-Nya, membuat hati agak adem sedikit. Pesan juga untuk yang lain, agar berhati-hati jika mengunjungi tempat ini.

aparis1

Oke, setelah dari Sacre Cour, kami menuju Arc de Triomphe, sebuah monumen yang sangat terkenal di Paris. Arc de Triomphe terletak di pusat Place Charles de Gaulle dan dibangun untuk menghormati mereka yang berperang pada saat revolusi Perancis dan perang Napoleon. Dan ternyata, kejutan dari Paris yang lebih besar saya rasakan disini. Selesai mengunjungi monumen ini, kami bergerak menuju metro untuk melanjutkan perjalanan ke Eiffel Tower. Baru saja saya masuk ke dalam kereta, tiba-tiba saya melihat seorang pemuda berteriak dalam Bahasa Perancis yang tidak saya mengerti mengejar seorang perempuan. Awalnya saya pikir, ah ini mah pertengkaran antar pacar, jadi saya hiraukan.

Anehnya, setelah laki-laki ini berhasil menangkap perempuan ini, ia menggengam erat baju perempuan ini agar tidak kabur dan mengajak bicara saya dalam Bahasa Perancis. Saya benar-benar takut dan tidak paham maksudnya apa. Sampai dengan akhirnya dia bicara “Follow me” dan mengajak kami keluar kereta. Masih dalam kondisi bingung, saya mengikuti pemuda ini keluar kereta. Lalu dengan Bahasa Inggris yang terbata-bata (saya paham betul ia mencoba menyampaikan sesuatu kpd saya dan berpikir keras apa Bahasa Inggrisnya).

Thief”, ujarnya. Sambil menunjuk ke tas yang saya gunakan.
Dan akhirnya saya paham, ia bermaksud mengatakan bahwa perempuan ini berusaha mencuri dari tas saya dan meminta saya mengecek apakah ada yang hilang atau tidak. Sempat terjadi kekisruhan disitu karena beberapa orang yang ingin naik metro ikut berhenti dan mengerumuni. Beruntung ada seorang pemuda lain berkulit putih yang bisa lancar berbahasa Inggris dan men-translate maksud pemuda pertama tadi. Ternyata pemuda pertama ini melihat perempuan ini membuka tas saya, mengambil sesuatu lalu mengembalikannya lagi ke dalam tas.

aparis3
Arc de Triomphe, Paris

Langsung saya cek tas gemblok kecil yang saya gunakan (sambil gemetar nih). Saya melihat tas saya memang sudah terbuka. Tapi saya masih menemukan dompet, passport dan hp saya di dalamnya. Isi di dompet pun tidak berkurang sama sekali. Saya bingung, kenapa tidak ada yang diambil, sedangkan pemuda tadi juga berkata melihat perempuan ini sempat membuka tas, menarik sesuatu lalu mengembalikan lagi. Apa mungkin ia terdistract karena ada power bank dan jilbab Najwa di dalam tas jadi tidak melihat ada barang yg berharga di dalam? Atau tidak sempat karena diteriaki si pemuda? Wallahu a’lam, tapi yang jelas, saya tidak kehilangan sesuatu apapun.

Pemuda ini meminta saya untuk mengajukan charge untuk wanita ini agar jera. Maka ia meminta saya untuk ikut ke stasiun dan bicara dengan polisi. Jadilah waktu kami tersita hampir 1 jam berurusan dengan petugas keamanan setempat (dengan anjing pelacak kepolisian) dan menunggu kehadiran polisi. Sang wanita pencopet tadi memohon-mohon kepada saya agar tidak mengajukan charge dan menunjuk ke perutnya menunjukkan bahwa ia hanya lapar dan butuh uang. Saya sebenarnya kasihan, tapi dalam Islam pun kita harus menegakkan keadilan, dan itu adalah hal yang benar (walaupun dalam hati sebenarnya ga tega). Saya pun harus menghormati keberanian pemuda ini, menolong orang lain yang tidak dikenal, menangkap pencopet dan menegakkan keadilan. Dan saya berkaca, bisa jadi bila di posisi yang sama, saya mungkin tidak punya keberanian yang sama seperti pemuda ini. Waah… saya benar-benar merasa tersentil, bahwa seharusnya keberanian yang sama yang harus dimiliki setiap muslim, menegakkan kebenaran di bumi manapun diri ini hadir.

“This is not their first time to do that. Their mother did that. Their grandmother did that. Their family did that. That’s why we work in here to secure the place”, ujar petugas keamanan. Saya perhatikan lagi penampilan perempuan tadi, dengan tubuh kurus berbalut baju hitam, rambut lurus panjang, dengan wajah khas orang Eropa Timur. Dan keselnya, setelah ia tahu bahwa saya tetap akan menjatuhkan charge, dia merokok di depan saya dan Najwa. Aih aih, itu mah berarti yang sedih-sedih minta maaf tadi akting doank. Singkat cerita, pemuda ini tidak bisa lama-lama menemani saya, karena ia sudah harus pergi sedangkan sudah 30 menit kami menunggu kehadiran polisi yang belum datang juga. Akhirnya hanya kami yang bertemu dan menjelaskan apa yang terjadi kepada polisi. Dan tahukah apa hasilnya? “Sorry mam, because there were nothing stolen, we couldn’t give her charge”, kata polisi. “So what will happen to her then?”, tanyaku. “We will let them go for now”, ujar polisi berbadan besar itu. Itulah akhir kisah tragedi hampir kecopetan kami di kota Paris, yang menurut saya kurang fair karena akhirnya mereka dilepaskan juga tanpa terkena charge apa-apa. Tapi kami harus hargai peraturan setempat, jadi kami sudah cukup puas dengan melakukan apa yang seharusnya kami lakukan untuk menegakkan kebenaran.

Dari kejadian tadi, saya mendapat banyak ibrah (hikmah) dari perjalanan saya di Paris kemarin. Sebenarnya suami saya sudah wanti-wanti untuk hati-hati di kota Paris ini. Dia tipikal orang yang sangat prepare dan waspada, beda sama saya yang cuek dan cenderung ga hati-hati. Saya mengedepankan husnudzan (berbaik sangka) dengan orang lain dan cenderung menganggap semua orang sama baiknya. Dan dari kejadian tadi saya belajar, husnudzan itu boleh saja, tapi kehati-hatian juga perlu dikedepankan. Bukan berarti berhusnudzan ga bisa hati-hati kan? Saya juga merasa aman karena ini kan negara maju, mirip-mirip di London lah, tapi eh ternyata, itu bukanlah sebuah jaminan. Hoho… Ini pelajaran besar untuk saya.

Hikmah yang kedua, dengan kejadian-kejadian di atas, saya semakin memaknai hadist arba’in ke 19:

“Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu, jagalah Allah, maka kamu akan mendapati Allah di hadapanmu. Jika kamu meminta sesuatu, maka mintalah kepada Allah, dan jika kamu memohon pertolongan, maka mohon pertolonganlah hanya kepada Allah. Dan ketahuilah, bahwa seluruh makhluk (di dunia ini), seandainya pun mereka bersatu untuk memberikan manfaat (kebaikan) bagimu, maka mereka tidak mampu melakukannya, kecuali dengan suatu (kebaikan) yang telah Allah tuliskan (takdirkan) bagimu, dan seandainya pun mereka bersatu untuk mencelakakanmu, maka mereka tidak mampu melakukannya, kecuali dengan suatu (keburukan) yang telah Allah tuliskan (takdirkan) akan menimpamu. Pena-pena (penulisan takdir) telah diangkat dan lembaran-lembarannya telah kering.” (HR At Tirmidzi 7/228-229 – Tuhfatul Ahwadzi, hadits no. 2516)

Bahwa keburukan dan kebaikan yang sampai kepada kita sudah merupakan bagian dari kehendak-Nya. Sekalipun seluruh makhluk berkumpul untuk memberikan kebaikan padamu, jika memang tanpa izin-Nya, tidak akan tersampaikan. Begitu pula sebaliknya, sekalipun seluruh makhluk berkumpul untuk mencelakakanmu, hal itu tidak akan terjadi tanpa izin-Nya. 

Hikmah ketiga yaitu pertolongan dan kebaikan itu bisa datang dari siapa aja, bahkan kita bisa belajar dari mereka. Tentang keberanian, kejujuran, dan menegakkan kebenaran. Dan hikmah yang terakhir, meskipun Paris termasuk sebagai negara maju, dengan luas wilayah terbesar di wilayah Eropa, ternyata angka kriminalitas nya (utamanya di wilayah-wilayah pariwisata) cukup tinggi. Jadi hati-hati dan tingkatin level waspada ya kalau berkunjung kesana. Sampai-sampai saya merasa, ini mah ga ada bedanya sama hati-hati dengan copet di Pasar Tanah Abang atau Mangga Dua, hehe…

Meskipun kami mengalami kejadian-kejadian kurang mengenakkan, tapi kami tidak memungkiri bahwa Paris adalah kota yang cantik, tertata rapi dan teratur. Paris dikenal dengan sebutan “City of Light” (Kota Cahaya). Di sana terdapat 296 situs bercahaya yang terdiri dari jembatan, gereja, air mancur, hotel, dan bangunan nasional.

aparis9
Alexander Bridge, Paris

Di Eiffel Tower saya sempat ditawari gantungan kunci oleh abang-abang berkulit hitam, dan mereka sudah cukup paham Bahasa Indonesia. “Satu Euro dapat lima, enam, tujuh!”, ujarnya. Hehe… tanpa saya tawar sudah langsung dikasih 7 gantungan kunci untuk 1 Euro. Menghilangkan stempel negatif saya pada orang berkulit hitam pasca kejadian di Socre Cour. Abang ini bahkan sangat ramah dan tidak ada unsur paksaan sama sekali. Saya hanya berdoa semoga rezekinya dilancarkan. Dan kita tidak bisa melabelkan predikat negatif kepada suatu etnis dikarena perbuatan segelintir orang-orang yang tidak bertanggung-jawab.

aparis4

Perjalanan kami ke Disneyland juga membuat kenangan manis sendiri untuk Najwa. Benar-benar full satu hari bermain disana. Quality family time dengan anak (di tengah himpitan besoknya conference, hohoho). Alhamdulillaah ‘ala kulli hal. Tempat-tempat yang kami kunjungi selama di Paris bisa dilihat disini.

aparis6

aparis8

Demikianlah catatan perjalanan kami di Paris, meskipun agak asem-asem manis, hehe… Semoga yang membaca bisa ikut memetik hikmah dan pelajaran. Ikut meningkatkan kewaspadaan jika Allah rezekikan untuk menginjakkan kaki ke negara ini. Wallahu ‘alam bisshowwab.

“The best education you will ever get is travelling. Nothing teaches you more than exploring the world and accumulating experiences.” (anonymous)

Advertisements