“While we try to teach our children all about life, Our children teach us what life is all about.” (Angela Schwindt)

Sudah lama saya tidak menulis tentang Najwa, jadi postingan kali ini akan membahas putri semata wayang saya (untuk sementara ini, insya Allah :D) yang bernama Najwa Falisha Mehvish. Seorang putri yang saya lahirkan di Inggris usai studi S2 saya berakhir dan saat ini tengah membersamai ayah bundanya (kembali) melanjutkan studi di negeri Elizabeth ini. Saat ini usianya adalah 3 tahun 9 bulan.

“Bunda, ingat ya, tisunya ga boleh dibuang ke toilet”, ujarnya sembari menunjuk sebuah gambar yang terpampang di kamar mandi hotel. Masih dengan gaya sok “tua” nya yang menunjuk ke gambar selayaknya bu guru.”Iya sayaaang. Makasih ya udah diingetin”, jawabku 🙂

Di lain waktu, saat kami harus mengantri untuk masuk sebuah tempat wisata, si kecil berkata, “Bunda, kita ngantri dulu yaa.. Gantian”, ujarnya polos. Saya jawab dengan anggukan kecil dan mengajukan jempol saya. Dalam hati berkata, “Udah mulai paham konsep mengantri nih si kecil”.

Suatu sore saat saya tengah flu dan tisu-tisu berserak di meja ditemani laptop sembari serius menatap angka-angka di software meta-analysis, si kecil menghampiri, “Bunda, tisunya dibuang di tempat sampah dong!”. Deg! Kena deh si emak 😀

Atau saat kami ingin menaiki metro di kota Roma, terlihat jelas banyak coretan-coretan grafitti di sepanjang badan kereta, spontan si kecil bertanya, “Bunda, itu koq keretanya dicoret-coret sih?”. Nah lho, bundanya bingung jawabnya. “Iya, seharusnya ga boleh ya nak, jadinya kan kotor”. Si kecil memang ga pernah mencoret-coret kecuali di kertas, sesuai kesepakatan kami bersama.

roma-grafitti
Coretan dan Grafitti yang ada di badan Metro di Roma, Italia

Saat si kecil demam dan terkena flu, pada saat yang bersamaan ia begitu ingin es krim di suatu siang yang terik. Saat saya tak tega dan berniat menawarkannya, eh malah dijawab “Ga ga. Nanti aja bunda. Kalau udah sembuh. Aku kan lagi sakit”. Masya Allaah… Padahal mah klo saya, bisa aja bablas kekeuh mau es krim. Lha wong radang tenggorokan aja masih suka bablas minum yang dingin-dingin, eh ni anak koq bisa banget ya “menahan” rasa keinginannya. *Bundanya harus banyak-banyak istighfar 😀

Di saat anak lain meronta minta mainan ABCD yang begitu menarik di depan mata, saat sang bunda mengatakan “Maaf ya nak, ga usah beli yg ini. Insya Allah kita beli mainan lain yang lebih bermanfaat”. Si kecil hanya mengangguk senang mengiyakan, bahkan tanpa sekalipun terdengar bantahan.

Seringkali alarm kecil itu terdengar darinya. Alarm pengingat-pengingat kebaikan. Saat mendengar bibir kecil si sholehah mengucap basmalah kala memasukkan apapun ke dalam mulutnya. Saat ia mengucap bismillah tawakkaltu saat melangkahkan kaki keluar rumah. Saat ia bersegera mengembalikan posisi benda/mainan pada tempatnya, dengan sigap membereskan kembali mainan yang telah selesai ia gunakan. Atau saat melihat wajah sedihnya mengatakan “Aku belum ngaji hari ini” yang merupakan laporan saat bundanya pulang dari kampus. Menjadi teguran keras bagi sang bunda yang belum menyelesaikan tilawahnya.

Pengingat kebaikan itu datang darinya. Dari sosok kecil yang tengah ditempa. Menjadi kaca untuk kedua orang tua, menjadi pelajaran terbesar akan makna ketaatan, keistiqomahan, kedisplinan, menahan diri, bersyukur atas apa yang didapat hari ini. Tentu masih banyak celah dari polah tingkah lakunya, tapi saat si kecil dapat menjadi alarm kebaikan, itu merupakan salah satu rezeki yang Allah berikan. Jadi, hakikatnya bukan hanya mereka yang belajar, justru kamilah orang tua yang perlu lebih banyak mengejar ketertinggalan…

najwa1

Nah nah, ceritanya adalah per September 2016 lalu, si kecil shalihah kami mulai masuk sekolah, ke nursery school fasenya. Di UK, saat anak berusia 3 tahun, maka ia sudah berhak mendapatkan pendidikan gratis di nursery, yang selanjutnya akan beranjak ke Reception dan First Year pada tahun-tahun berikutnya.

Najwa mengambil afternoon class, dari jam 11.30 hingga 15.15. Kegiatannya? Kebanyakan masih bermain-main, mulai dari painting, bermain lego, dapur kecil utk masak-masakan, pojok buku, soft toys, dan macam-macam lainnya. Ada juga jam makan siang dan bernyanyi nursery rhymes. Intinya how to make them busy as well as learn, and socialise with their peer. Bedanya apa dengan sekolah biasa? Lirik-lirik lagunya diganti menjadi Islami dan saat pagi biasanya mereka diajak untuk berdoa bersama terlebih dahulu. Anak-anak pun terpapar dgn kalimat-kalimat baik, seperti “Masya Allah, Alhamdulillaah, Tabarakallaah, dsb”. Di sela-sela pengajarannya pun dikenalkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Saya merasa beruntung, karena di negeri minoritas muslim ini, Najwa masih bisa bersekolah di nursery yang Islami. Yang menurut saya, adalah salah satu bentuk rezeki besar yang Allah berikan untuk kami. Karena di masa ini, dukungan belajar mencintai Islam dan menjaga norma-norma berislam tetap bisa dipertahankan dan didukung oleh lingkungan. Sering saya mendengar curhatan ibu-ibu yang anaknya bersekolah di sekolah pemerintah UK yang harus menjaga anaknya agar tetap mengonsumsi makanan halal atau menjaganya dari kebingungan identitas saat ditanya “Kamu menganut kepercayaan apa, one God or many Gods?”. Anak bisa jadi bingung saat ditanya seperti itu. Itulah pentingnya pendidikan aqidah yang harus ditanam sejak kecil, sebelum ia berbaur dengan teman-teman di sekelilingnya. Mengajak anak mulai mengenal siapa penciptanya, mencintai pencipta alam semesta dan Rasul utusan-Nya.

najwa2

Saya rasa hal ini penting dilakukan bukan hanya untuk keluarga muslim yang berada di negara orang, tapi juga di tanah air. Berapa banyak remaja Indonesia yang mudah kehilangan identitas karena aqidah mereka rapuh. Memilih mengikuti alur perkembangan zaman meskipun harus menabrak norma dan rambu-rambu Islam. Bukankah rumah adalah madrasah pertama untuk anak-anak kita? Jadi meskipun masih batita atau balita, jangan pernah malas atau ragu untuk menyemai iman dan menanam akhlaq. Bisa jadi mereka memang belum 100% mengerti, tapi kebiasaan berakhlaq Islami itu akan tumbuh seiring dengan rutinnya pengajaran. Dari pengalaman saya, saya melihat menggunakan jilbab (dan pakaian tertutup) saat ini sudah menjadi kebiasaan Najwa bahkan bagian dari identitasnya, dan semua berawal dari rutinnya pengajaran sejak kecil. Ah, sayapun masih perlu banyak belajar, semoga Allah ampuni setiap kekhilafan dan senantiasa membimbing langkah kami yang penuh kekurangan.

Di luar itu, melepas anak agar merasa senang ke sekolah itu penting. Membuatnya nyaman dan merasa sekolah itu menyenangkan. Bukan sesuatu yang menyusahkan atau memberatkan. Ceritakan kepada mereka hal-hal menarik yang akan mereka hadapi, berikan semangat dan jika perlu rewards jika mereka dapat beradaptasi dengan baik. Begitu senangnya saya melihat mata berbinar Najwa dan semangatnya saat tahu ia akan bersekolah keesokan harinya (setelah penantian lebih dari 1 tahun). Pun hari ini, meskipun ia sukses keletihan pasca hampir 4 jam aktif bermain, ia begitu excited untuk kembali ke sekolah besok. Buatlah anak mencintai anak tangga pertamanya untuk menuntut ilmu, hingga tanpa kita minta, ia pun akan semangat menapaki anak-anak tangga selanjutnya utk meraih derajat tinggi di sisi Rabb-Nya…

najwa3

“I think our job as parent is to give our kids roots to grow and wings to fly” (Deborah Norville)

Saya juga harus jujur kalau sebenarnya saya merasa was-was saat melepas Najwa ke nursery. Inilah kali pertama saya harus melepas Najwa sendirian (without her parent’s supervision). Saya sudah katakan padanya (lagi-lagi konteks jujur untuk menyiapkan mental sang anak), bahwa saat ia sekolah, saya hanya bisa mengantar dan tidak bisa menemani ia disana, ia hanya akan bermain bersama ibu guru dan teman-teman. Ia harus bilang kepada guru jika ingin ke toilet. Ia harus belajar mandiri untuk makan sendiri. Intinya, put your child into practice how they should behave with people around her. Buat saya, ini lebih kepada ujian untuk saya, bukan ujian untuk Najwa. Karena dengan begitu, saya akan melihat bagaimana efektivitas nilai-nilai yang coba ditanam di rumah, apakah memang bisa dipraktikkan di lapangan, walaupun tak terlepas peran bahwa bimbingan harus selalu diberikan.

Dan benarlah, kalau hari pertama saya diperbolehkan menemani Najwa bermain full day. Kali ini, saya diminta menunggu di luar kelas, dan sang guru akan mengevaluasi bagaimana reaksi Najwa jika tidak ditemani oleh bundanya. Banyak kejadian anak menangis, tidak sedikit yang guling-guling atau menjadi pundung dengan masa-masa awal adaptasi ini.

Saya sendiri? Tiba-tiba saya merasa sangat sentimentil di ruang tunggu. Sembari mendengar dengan seksama mana yang suara Najwa, dia baik-baik aja ga ya, nangis ga ya, teman-temannya iseng ga ya (hihi.. Najwa terbiasa tidak pernah merebut mainan orang lain, tapi yang saya lihat kondisinya, kadang anak-anak lain suka mengambil mainan yang sedang ia pegang). Lalu? Di saat saya sudah sentimentil karena harus melepas anak (ya ampun, padahal mah cuma di sekolah), udah cemas bin was-was bisa ga ni anak ditinggal, mata udah berkaca-kaca karena merasa “berbagi” anak (klo ini emang lebay), eh si anak dengan didampingi gurunya tiba-tiba nongol sambil senyum-senyum happy. Tahu apa yang Najwa bilang?, “Bunda, aku berani main sendiri. Aku ga nangis kaan? Aku happy!” Ujarnya sambil senyum-senyum girang. Setelah saya beri pelukan dan pujian, ia dengan semangatnya langsung kabur sembari melambaikan tangan “I wanna play again bunda, byeee..” Tak lupa diiringi dengan kiss bye nya yang unik.

Masya Allah… Alhamdulillaah, ternyata si kecil yang bicaranya masih belum jelas itu semakin dewasa sekarang. Bahkan sang guru pun berkata, “She is playing well with everyone, masha Allah. I think she doesn’t need you to be here insha Allah sister“. Huhu.. Terharu 😭 She is dealing well with her new environment. Tak terasa waktu yang berlalu membawamu semakin besar anakku, semoga Allah menjagamu selalu…

“Dear my lovely daughter, let me love you a little more before you are not little anymore…”

najwa4

Banyak yang bertanya pada saya tips mendidik Najwa sehingga ia bisa menjadi “alarm kecil” pengingat kebaikan. Jujur, bagi saya itu adalah mutlak hadiah dari Allah SWT. Satu-satunya Dzat yang paling sempurna penjagaannya. Apalagi kami, hanyalah orang tua faqir yang begitu banyak salah dan cacat dalam pengajarannya. Dalam postingan ini, saya hanya akan berbagi beberapa “nilai” yang coba kami pegang di tengah keterbatasan kami membesarkan. Eit eits, sebelumnya, disclosurenya adalah: saya bukan ahli parenting, buka juga lulusan psikologi, apalagi kondisi saya yang tidak memungkinkan untuk mengikuti banyaknya kelas parenting di Indonesia, maka nilai-nilai ini merupakan kesepakatan saya dan suami saja. Dan konsekuensinya, kami berdua juga harus taat dan konsisten dengan penerapan nilai ini. Yang baik dan sesuai silahkan diadopsi, yang kurang berkenan, mangga menyesuaikan dengan masing-masing kondisi. Point pertama adalah #1 Be honest with your child!

“Be honest when you are with your kids. Because you see your past in their eyes and they see their future in yours” (Nishan Panwar)

Saya membiasakan diri saya untuk selalu berkata jujur dengan Najwa, dalam kondisi apapun juga. Pantang bagi saya untuk menjanjikan sesuatu yang tidak bisa saya penuhi. Begitu pula berkata jujur jika ia akan menghadapi kondisi yang kurang mengenakkan. Selalu memberitahukan padanya apa yang akan kami hadapi, meskipun bisa jadi tidak sepenuhnya ia pahami.

Sebagai contoh, saya prefer memberitahukan Najwa apa yang akan ia hadapi saat harus diimunisasi. Saya katakan bahwa nanti ia akan bertemu nurse, lalu akan disuntik sebanyak 2 kali, dan nanti jika ia mau disuntik, saya akan memberikannya rewards Kinder Surprise (salah satu coklat favorit Najwa). Saya lebih memilih itu dibandingkan diam-diam membawa anak ke dokter kemudian disuntik. Dan betullah, di luar dugaan saya, meskipun memang ada raut wajah was-was di matanya saat melihat jarum suntik, ia terlihat menegarkan diri. Bahkan, setelah disuntik 2x di lengan kanan dan kiri, ia tidak menangis sama sekali. Sang nurse sampai berkata, “You are really a strong girl, well done dear!” Dan di jalan pulang, ia senyam senyum gembira karena berhasil melewati fase ini, tentu setelah saya puji dan memberi pelukan hangat padanya sembari berkata “Waah… Najwa pintar banget. Ga nangis sama sekali. Nanti kita kasih tahu ayah ya, dan bunda kasih Kinder Surprise sebagai hadiah untuk Najwa”. Ternyata, ia menjadi lebih siap saat kita berkata jujur pada anak.

Contoh lain adalah, saya terbiasa memberitahukan anak tentang apa yang akan saya kerjakan jika berkaitan dengannya. Sampai dengan saat ini (kebiasaan ini sudah saya lakukan sejak Najwa masih bayi), saya terbiasa izin pada Najwa jika akan pergi bekerja atau ke kampus. Mungkin kebiasaan ini jualah yang membuatnya lebih mandiri dan siap ditinggal bersama ayahnya jika bundanya tidak ada. Setiap saya sampai di rumah, Najwa kemudian terbiasa memberikan laporan, “Bunda, hari ini Najwa udah makan, minum susu, bobo siang dan mengaji. Najwa pintar kan?”, ujarnya girang.

Dalam perjalanan ke Eropa kemarin, saya pun jujur setiap kali kita akan berpindah negara. Kita akan naik bus berapa lama, menginap di tempat yg berbeda, sehingga ia harus makan pada jam sekian dan sekian. Hasilnya? Ia menuruti dan mengikuti setiap jadwal yang telah kami susun. Ia lebih siap dengan kondisi apapun yang kami hadapi.

Masih ingat dengan puncak ke’hectic’an saya di penghujung upgrade viva kemarin? Saat saya harus estafet kesana kemari dengan minim waktu istirahat untuk mengikuti kepanitiaan, persiapan ujian, maupun final perlombaan. Najwa tidak pernah rewel meskipun ia harus ikut berlelah-lelahan, saat ia terpaksa dibangunkan dini hari (04.30-05.00) padahal ia baru tidur pukul 01.00 atau 02.00 malam, atau mengikuti rally estafet kegiatan sang bunda yang tak berkesudahan. Itulah kesiapan yang merupakan buah dari kejujuran. Karena dengan berkata jujur, anak akan belajar, untuk lebih siap menghadapi tantangan, sedikit demi sedikit memahami makna perjuangan tuk menggapai keberhasilan.

“Children copy their parents, friends, and teacher. They will develop the habits of the people around them. So if you want your child to be honest, peaceful and happy, you should be that way first” (Baba Hari Dass)

najwa5

Key point kedua adalah #2 Biarkan anak belajar dari kesalahan.

“Making mistakes is part of life—and a really big part of growing up. It’s how you learn who you want to be.” (Talking with Trees Books)

Pernah ga sih si kecil melakukan kesalahan? Ya iyalah, namanya juga anak-anak. Jangankan anak kecil, kita yang dewasa aja masih suka mengulang kesalahan. Kalau kata suami saya, gapapa Najwa melakukan kesalahan, karena pada akhirnya ia akan jadi belajar. Pas banget contohnya kemarin, saat ketidak hati-hatiannya menyebabkan ia menjatuhkan dua vas kaca di etalase toko souvenir di Athena *Udah deg-deg an nih emaknya khawatir harganya mahal, dua pulak, hihi… 😀 Dan benar, pasca kejadian itu ia menangis sejadi-jadinya (padahal belum saya marahin), saya tatap wajahnya dalam-dalam dan ia tetap berada pada isakannya *Btw, Najwa kalau nangis dalem gitu, benar-benar sedih banget kalau dia tahu dia salah. Akhirnya? Ia menjadi lebih hati-hati saat berjalan kesana kemari. Buktinya, kali ini saat bundanya sedikit ceroboh hampir menjatuhkan gelas, Najwa yang mengingatkan “Hati-hati bunda, nanti jatuh gelasnya. Harus hati-hati dong!” Nah lho, kena lagi dek emaknya 😀 Point nya? Belajar dari kesalahan, ia jadi paham makna kehati-hatian.

Namun sebenarnya, yang terpenting bukanlah perkara kesalahan apa yang dilakukan oleh si kecil, namun bagaimana sikap orang tua saat menghadapi kesalahan anak. Mau didiemin, dimarah-marahin, cubit atau pukul, atau let it goo… let it goo (udah kaya soundtrack Frozen :D) alias dibiarin. Kami meyakini bahwa sikap orang tua inilah yang akan menjadi pola berpikir mereka. Kesalahan didiamkan, ya akan diulang. Karena itu artinya memperbolehkan atau tidak mempermasalahkan. Sekali membolehkan, akan menjadi izin berkepanjangan. Kalau kita pernah memperbolehkan anak mencoret tembok, baginya itu adalah lampu hijau, maka anak tanpa ragu akan mengulangnya kembali. Itulah sebabnya kita orang tua harus memiliki kesepakatan yang jelas, rules yang baku. Jangan ada beda antara ayah dan bunda. Jangan sampai anak menjadi bingung. Sama bunda boleh, sama ayah tidak. Sudah pasti, besok-besok si anak akan meminta hal yang dia inginkan ke bundanya, bukan ke ayahnya.

“When it comes to kids, set the rules and stick to them. Let your yes be yes and your no is no.” (Dave Ramsey)

Point ketiga, #3 Menegakkan disiplin.

“Teaching is giving my children the information they need to succeed. Training is giving my children the discipline to carry out what they have been taught” (Courtney Joseph)

Jujurnya, saya bukan tipikal ibu yang kalem (hoho), yang selalu baik kepada anak meskipun dia salah. No no! Kesepakatan kami adalah mengadopsi sistem reward and punishment. Jika anak menunjukkan pencapaian akan saya beri penghargaan, begitu pun saat ia melakukan kesalahan, akan saya beri hukuman. Eits, punishment nya dalam batasan tertentu lho ya. Ga ada acara main-main pukul anak (meskipun kadang bisa sampai kesel banget), tetap ada caranya menasihati anak. Memukul bukan berarti anaknya langsung berubah jadi nurut dan shalih/ah kan?

Contoh punishment nya apa? Rules di rumah kami adalah, setelah bermain mainan harus dibereskan. Kalau tidak dibereskan? Hukumannya adalah mainannya tidak akan boleh diberikan lagi dalam rentang waktu tertentu. Jadilah ia anak yang disiplin, selalu mengembalikan barang sesuai tempatnya, merapikan mainan selepas bermainnya. Mau baca buku? Boleh aja. Tapi setelah selesai ya harus dibereskan. Kalau tidak? Hukumannya bukunya akan disita dalam rentang waktu tertentu. Dan orang tua harus konsisten melakukan hukuman ini. Jangan karena anak menangis, akhirnya diberikan. Susah? Ya iyalaaah… Secara hati emak-emak itu lembut banget *hayeuh, paling ga tegaan sama anak, hehe. Tapi bagi saya, menegakkan disiplin itu lebih penting, karena itu yang akan membentuk karakter anak ke depannya.

Hukuman tertinggi untuk Najwa adalah 5 minutes time out. Saya akan minta ia berdiam di pojokan selama 5 menit (menggunakan timer) untuk merenungi kesalahannya. Marahnya saya hanya diam. Pasang kuda-kuda wajah datar lalu minta sang anak menjalani hukumannya. Biasanya dalam kondisi ini, Najwa udah sesenggukan karena tahu ia bersalah. Apakah berarti dalam masa hukuman ini kita harus terus pasang muka masam? Ga bunda, setelah masa hukuman habis, saya akan peluk dia dengan hangat, kasih banyak kecupan menentramkan, hingga akhirnya ia mulai tenang, lalu mulai memberikan evaluasi, apakah ia tahu kalau ia bersalah, apa kesalahannya, dan berjanji tidak akan mengulangnya lagi. Dengan begitu anak akan belajar untuk menyerap nilai. Tegas itu bukan berarti galak, tapi bagaimana memberikan proporsi yang berimbang. Menegakkan disiplin itu perlu bagi saya, karena dengannya, anak akan memahami rules atau nilai-nilai yang telah diajarkan, tapi juga memberikan proporsi kasih dan sayang setelah ia menyadari kesalahannya. Bisa jadi jawaban kenapa Najwa menjadi anak yang patuh, karena ia sudah bisa membedakan mana yang salah mana yang benar. Mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Semua berawal dari pengajaran dan ke-istiqomahan orang tuanya menerapkan peraturan. Kalau kata Courtney Joseph, that’s the real training for children! Kenapa? Karena it is easier to build a strong child than to repair a broken adults (Frederick Douglas).

Point keempat, #4 Jangan pernah malas memberi apresiasi.

“Listen to what children are saying with and without their words. Listen well with your eyes to what they are trying to tell you and listen with your heart to what they hope you will hear” (anonymous)

“Bunda bunda, lihat deh, aku bisa nulis alif ba ta!”, lalu sang ibu hanya menoleh sebentar lalu kembali sibuk dengan laman facebooknya.

“Ayah ayah, lihat deh, bagus kan painting aku!”, lalu sang ayah hanya berucap “Iya” masih sembari serius memegang korannya tanpa menoleh.

Ini nih salah satu penyakit orang tua (termasuk saya kadang, astaghfirullah), yang kadang suka abai dengan anak. Terkadang acuh saat sang anak meminta perhatian dan sedikit apresiasi. Maka salah satu point pengajaran kami adalah (dan saya juga terus belajar untuk hal ini) adalah untuk memberikan anak apresiasi. Sekecil apapun itu. Memberinya perhatian setidak bermaknanya apapun yang ia lakukan itu (bagi kita, tapi besar baginya).

Jika Najwa berhasil menambah 1 hafalan doa atau ayat/surat, saya kasih ia kinder surprise (coklat favortinya) atau hadiah jalan-jalan ke theme park (kalau sedang ada rezeki) atau local park (kalau kantong sedang tipis, hehe). Aah… anak-anak itu gampang dibuat senangnya, kita peluk sambil memberikan senyum sumringah melihat keberhasilannya juga udah berhasil membuat hatinya berbunga-bunga. Walaupun pencapaian itu mungkin hanya coret-coret tidak jelasnya di atas kertas :D. Dipuji sebagai anak shalihah yang disayang Allah saja sudah bisa membuatnya sumringah. Yang biasa saya lakukan adalah mengatakan, “Waah masya Allah, pintarnya Najwa!”, atau “Baarakallahu fiik..” sembari mengecup keningnya. Dan ia tanpa ragu akan mengulang hal itu. Mengharap apa? Kecupan sayang, belaian lembut di kepala atau hangatnya pelukan kedua orang tuanya! Itu saja!!

Wahai ayah bunda, jangan remehkan pencapaian anak. Beri ia apresiasi sesuai dengan pencapaiannya. Peluk dan kecup itu ga mahal koq! Jangan biarkan anak sedih karena orang tuanya acuh, hingga ia pun terinfeksi menjadi pribadi yang acuh. Percayalah, akan tiba suatu masa dimana panggilan-panggilan berulang dari bibir mungil itu lah yang kita rindukan.

Point kelima, #5 Penuhi rasa ingin tahunya.

Memang peraturan kami adalah anak tidak boleh mencoret tembok, bagian tubuhnya sendiri, atau benda apapun, karena coret-coret itu dapat merugikan orang lain. Maka kesepakatan kami adalah, boleh mencoret-coret, tapi hanya di atas kertas. Apakah dengan melarang anak mencoret akan membatasi kreativitasnya? Tentu tidak, kami hanya ingin menempatkan sesuatu sesuai dengan peruntukannya. Silahkan mencoret, tapi di atas kertas. Kami juga siapkan 1 dus peralatan painting nya, mulai dari cat, kuas, apron. Peraturan jika ingin painting adalah menggunakan apron dan alas tempat duduk, sehingga tumpahan cat tidak akan mengotori tangannya, pakaiannya, maupun karpet/lantai rumah, lalu ia akan belajar menjaga kebersihan. Maka menjadilah kebiasaan, setiap ingin painting, Najwa meminta apron dan alas kepada saya, dan merasa bersalah jika ia membuat lantai kotor. Artinya, ia mulai memahami pentingnya menjaga kebersihan dan kerapihan. Tahukan alasan Najwa terbiasa langsung membuang sampah pada tempatnya? Karena nilai itu pula yang kami ajarkan padanya. Tak heran ia akan protes jika melihat bundanya yang membuat sesuatu berantakan 😀

Mungkin itu sedikit catatan kami, silahkan jika ada value yang baik diadopsi, yang buruk atau kurang berkenan dihindari. Semoga Allah senantiasa membimbing langkah lemah kita sebagai orang tua, menjaga anak-anak kita dalam pemeliharan-Nya yang sempurna. Wallahu a’lam bisshawwab.

“The attitude that you have as a parent is what your kids will learn from, more than what you tell them. They don’t remember what you try to teach them. They remember what you are.” (Jim Hensen)

dscf4510

Advertisements