“Patience is not the ability to wait. Waiting is a fact of life. Patience is the ability to keep a good attitude while waiting” (Joyce Meyers)

Setiap orang pasti pernah mengalami masa menunggu. Mulai dari menunggu yang simpel seperti menunggu antrian, menunggu bus atau kereta datang, hingga menunggu jodoh datang (cie cieee…). Ada begitu banyak catatan deretan tunggu yang kita lakukan dalam hidup.

Yang baru lulus kuliah, kita menunggu datangnya panggilan kerja.

Yang ingin melanjutkan sekolah ke universitas ternama, menunggu keputusan diterima, atau mungkin menunggu keputusan beasiswa, atau bahkan keduanya.

Yang masih single (uhuk2), menunggu datangnya pinangan ke KUA.

Yang sudah menikah, menunggu kedatangan buah hati pertama.

Yang sudah Allah rezekikan mengandung anak pertama, menunggu kelahiran buah hati tercinta.

Begitupun saat kita menunggu terkabulnya setiap bait-bait doa dari lisan yang meminta. Entah kecukupan rezeki, anak yang shalih dan shalihah, diberi kesembuhan penyakit, kelapangan berhaji menuju rumah-Nya yang mulia, membahagiakan orang tua, dan seterusnya, dan seterusnya…

Semua adalah rentetan penantian dalam hidup kita. Deretan list tunggu yang menghiasi diary keseharian kita.

Bukan, bukan masalah menunggunya! Karena ia adalah sesuatu yang pasti dan memang harus dijalani. Namun, yang harus digarisbawahi adalah attitude kita saat menunggu, apakah diiringi ragu dan gerutu, atau tetap bersabar meyakini rezeki dari-Nya tidak akan tertukar. Maka untukmu yang masih terjatuh dalam ragu, marilah kita mengingat kembali kisah keluarga Imran yang mulia. Dengan kesabarannya menunggu Allah mengabulkan doa akan seorang anak yang didamba. Marilah kita sama-sama berkaca kepada Nabi Zakaria. Yang di usia rentanya tak berputus asa terhadap Rabb-Nya yang Sempurna. Dan teringatlah kita dengan kukuhnya taqwa, saat beliau menegaskan dalam pinta, “Sungguh aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu duhai Rabb-ku”. Begitu tunduk khusyuk menyelami makna seorang hamba.

Sejauh manakah iman kita mampu menempa sabar, saat doa masih Allah tangguhkan dan belum jelas terlihat jawaban. Sejauh manakah kita mampu berbaik sangka akan kebesaran-Nya, tatkala usaha dan penantian kita belum membuahkan hasil yang nyata. Sejauh manakah kita mampu mempertahankan taqwa, saat derasnya cobaan dari-Nya terus mengalir mengisi masa. Maka ingatlah ini duhai diriku dan saudara/iku…

“Tak perlu lah ku ragu, karena skenario terindah-Nya yang selalu iringi jalan berliku. Seringkali dikabulkan dalam sekejap waktu, sesekali menunggu, sesekali digantikan dengan yang lebih bermutu. Terus begitu… Karena cinta-Nya tak pernah lekang tergilas waktu. Kian membersamai hati-hati syahdu yang begitu yakin akan kebesaran Sang Maha Pemilik Kalbu…

Eh eh, ini koq jadi agak sentimentil postingannya, hehe… 😀 Masih terkait dengan menunggu, ada satu hal lagi yang ingin saya bagi. Setiap orang pasti menunggu, tapi ada yang membedakan output dari menunggunya setiap orang. Ada yang menunggunya “menghasilkan” ada juga yang menunggunya “tidak membuahkan”. Bedanya apa? Perbedaannya terletak pada apa yang dikerjakan pada saat menunggu. Ada tipikal orang yang terus bergerak dalam masa penantian, ada pula yang terlarut dalam kesia-siaan.

Maka saya selalu menanamkan dalam ingatan, jadikanlah waktu luang sebagai musuh terbesar! Karena jika tidak kita manfaatkan dalam kebaikan, ia akan menyeret kita kepada kemaksiatan atau seminimal-minimalnya, kepada kesia-siaan. Masih teringat akan kesibukan saya saat di masa SMA dan kuliah S1 (aduh berasa tua :D). Rasanya tiada hari tanpa agenda. Justru merasa ada yang aneh jika bisa diam di rumah. Hingga pernah saat saya bekerja, mungkin hari libur saya hanya total 7 hari dalam 1 tahun, iya benar 1 tahun, itupun saat lebaran 😀 Saat menikah, 3 hari setelah menikah saya langsung kembali bekerja. Honeymoon? Tidak terpikirkan, cuma bisa nebeng saat ada kerjaan kantor dinas keluar (ini ga niat apa emang ga modal, hihi).

Point nya? Marilah kita mengisi penantian kita dengan produktivitas. Yang menunggu panggilan kerja, yuk disambi bantu orang tua, atau sekedar berkontribusi untuk masyarakat sekitar. Yang menunggu kelulusan sarjana, yuk sembari mengukir prestasi dan kebermanfaatan dalam organisasi. Yang masih jadi jomblowan dan jomblowati, yuk terus perbaiki diri, hingga saat sang kekasih hadir menemani, pribadi shalih/ah lah yang kan hiasi diri. Yang menunggu anak-anak besar menjadi shalih/ah, yuk kita terus mengkaji kalam-Nya melalui kajian majelis taklim mingguan atau sekedar kajian online. Intinya mah, marilah kita menunggu, tapi menunggu yang bukan sembarang menunggu, menunggu dengan terus mengukir kebaikan dan melakukan perbaikan seiring waktu. Menunggu yang menjadikan kita semakin dekat dengan keridhoan Rabb yang dituju.

Ngomong-ngomong ini kenapa sih kita ngomongin masalah nunggu? Ini mah sebenarnya curhatan saya sekaligus catatan penguat hati pribadi. Agar “menunggu” yang dijalani tidak sekedar menunggu yang hiasi hari. Saat S3 saya agak mandek karena harus menunggu. Menunggu kerja orang lain selesai, baru saya bisa melakukan analisis lanjutan. Maka dalam kondisi yang sebenarnya kurang nyaman, saya coba sibukkan diri saya dengan lain-lain pencapaian *sampai supervisor saya kebingungan, ini koq rajin amat nanya kerjaan 😀 Sama halnya seperti saya mengisi bulan “kosong” saya yang lalu dengan menulis draft untuk buku. Karena saya selalu meyakini, selalu ada hikmah yang Allah beri dalam setiap jeda waktu tunggu, entah kesabaran, menguji keimanan, atau sekedar memberi ruang untuk mengukir amal. Bukankah sering kita rasakan begitu banyaknya kejutan dari Ar-Rahman di tengah-tengah masa penantian? Maka merunduk syukurlah dalam tunggu dan harapmu. Merenda amal-lah dalam sabarmu. Semoga Allah senantiasa menjaga diri-diri kita dari kelalaian. Semoga hanya rentetan amalan baik yang menghiasi daftar tunggu kita dalam keseharian.

Aaah… bisa dibilang, hidup ini pun sebenarnya menunggu. Menunggu ajal datang dan datangnya hari kebangkitan. Menunggu segala amal perbuatan ditimbang, berharap rahmat-Nya kan mengantar kaki lemah ini menuju surga yang diidamkan. Teringat perkataan seorang adik tersayang,

“Dengan menunggu, Allah hendak mengajarkan kita agar lebih bijaksana terhadap waktu.
Maka pertanyaannya, bukan seberapa panjang waktu tunggu, tapi apa yang bisa kita lakukan di ruang tunggu.” (SL)

Masih di “ruang tunggu”

London, 15 Oktober 2016

Pukul 23.30

Advertisements