“Every accomplishment starts with the decision to try” (Brian Littrell)

Jadi, ceritanya Kamis pekan kemarin adalah hari perdana dimana saya menjadi teaching assistant di UCL, tepatnya untuk mata kuliah Methodology of Health Research. Bisa dibilang,ini icip-icip awal karena setelah hampir 2 tahun saya menjadi PhD student, akhirnya saya memutuskan untuk menceburkan diri, mencoba tantangan baru menjadi asdos di Inggris. Ga tanggung-tanggung, mahasiswa nya adalah anak-anak master yang kalau dilihat secara postur tubuh, gedean mereka dibanding saya, mungkin juga usianya banyak yang lebih tua dari saya *sok berasa muda, hihi 😀 Bukan itu sih tantangannya, saya tahu mahasiswa disini itu lebih kritis dan suka bertanya, makanya kita harus siap jiwa dan raga *hayeuh lebay 😀

phd-comic-ta2

Deg-deg an? So pasti! Ga mudah melihat pemandangan pengajar pake jilbab panjang begini (di Inggris maksudnya). Entah terbentuk apa dalam persepsi. Shaking? Sedikiiiit, hihi… Maklum pengalaman pertama. Kalau di Indo dulu saya pernah mengajar mahasiswa S1 dan ekstensi. Pun membantu bimbingan thesis mahasiswa S2 UI. Tapi kali ini? Master di Inggris euy! Berasa aja beda sensasinya. Saya kira mah tugas teaching assistant kali ini bisa duduk manis dan hanya akan membantu pada saat ada pertanyaan kala practical, tapi ini mah jeng jeeeng… Saya diminta mengajar di ruangan terpisah. Itu sama aja artinya saya diminta mengajar anak-anak master sendiri selama 2 jam.

Minder? Jujur nih ya, awalnya sih sedikit mindeeer… secara wajar kalau wajah mereka agak mengernyit melihat ada mba-mba masuk ruang kelas pake kerudung panjang begini. Dikira mahasiswa, eh malah ngajar. Hihi… Tapi setelah itu, saya memutuskan untuk percaya diri! Lah, sama-sama makan nasi aja takut (begitu ibu saya sering bilang dulu), eh tapi mereka mah lebih sering makan roti, hehe 😀 Intinya mah, ga usah grogi, tunjukin kalau memang kalian memiliki potensi dan kapasitas diri. Tuh lihat aja buktinya, pasca dikasih soal dan pembahasan, mereka manggut-manggut menginyakan. Bahkan ada seorang mahasiswa di akhir sesi yang begitu tulus berkata “Thank you for the lesson, you had improved my understanding”. Haduuuh… gimana ga berseri-seri dibilang gitu?

phd-comic-ta

Kalau boleh curcol nih ya, sebenarnya mah tipe mahasiswa Indo sama sini juga mirip-mirip. Ada tipikal yang serius mendengarkan dan mau belajar, ada juga yang datang hanya demi mengisi presensi kehadiran. Ada yang rajin nyatet dan nanya (biasanya nyari tempat duduk di depan), ada juga yang asik main candy crush di belakang :D. Ada yang sembari serius memahami handout, ada juga yang serius menatap handphone. Hihi… sabarkan diri ini ya Allaah… *maklumi curhat colongan pengajar 😀

phd-comic-ta4

Eh sebentar… Inti catatan kali ini tentang apa ya? Saya cuma mau bilang, dalam hidup ini, beranikan diri untuk mencoba, dan terus mencoba… sejauh nyoba itu ga dosa! Maksudnya apa? Banyak yang cerita pada saya, minder untuk ikut ini itu karena takut gagal, atau merasa dirinya tidak memiliki kemampuan. Makanya mereka sudah memutuskan untuk mundur sebelum mencoba. Melalui catatan kali ini, saya ingin mengingatkan, berkaca dari pengalaman, akhir yang baik itu selalu diawali dengan mencoba. Kalau ga dicoba, ya ga tahu hasilnya. Kalau ketakutan dan keminderan yang senantiasa dimenangkan, lalu kapan kita bisa merubah keadaan?

Memang saya akui, butuh dorongan dan keberanian diri untuk mencoba. Saya pun memiliki visi lulus sarjana dalam waktu 3.5 tahun semua diawali dengan mencoba (karena memang belum ada sebelumnya yang berhasil pada jurusan yang sama). Itu tak masalah bagi saya, kalau memang sebelumnya ga ada, sayalah yang akan menjadi orang pertamanya. Kalau sebelumnya ga ada muslimah FKM yang pernah memenangkan ajang kompetisi Imagine Cup, sayalah yang akan menjadi pionirnya (saat itu ajang ICUP memang didominasi oleh anak Fasilkom dan teknik). Kalau memang tidak pernah ada muslimah Indonesia yang kuliah di jurusan MSc Modern Epidemiology Imperial College London, saya bersedia menjadi pelopornya (acceptance rate ICL saat itu 5%). Begitu pula saat kemarin saya menjadi teaching assistant muslimah pertama di Institute of Health Informatics UCL. Karena memang begitu hakikatnya, selalu ada yang pertama! Pilihannya, mau kita beranikan diri untuk mencoba (bahkan mungkin menjadi orang yang pertama), atau membiarkan orang lain meraih kesempatan yang sama. Niatkan diri untuk menjadi yang terbaik di bidangnya, menjadi sebermanfaat manusia, merenda ikhtiar mengejar cinta-Nya, niscaya segala usaha yang kita lakukan tidak pernah terbuang sia-sia.

Saya ingat sekali pesan prof saya, saat saya sudah hampir menyerah kalah menunggu keputusan beasiswa S2 yang saat itu sangat terbatas jumlahnya di Indonesia. “Ya dicoba aja, nyoba kan ga dosa!”, begitu ujar beliau. Wakwaw… langsung makjleb seketika! Kalimat itu juga yang membuat saya ga patah arang untuk terus mencoba meskipun rentetan gagal dan kesempatan begitu kecil terlihat dalam pandangan. Tapi benar juga, nyoba kan ga dosa, kenapa juga saya harus minder? Kenapa juga saya harus takut? Lha wong Allah aja ga menghukumi haram. Justru ketika kita berusaha, di sanalah kita sedang mengetuk pintu ridho-Nya.

Mau itu daftar beasiswa, ngelamar kerja, ikut kompetisi mahasiswa, menghafal Qur’an, berwirausaha, racik resep baru masakan (ini mah targetan rumah tangga), dsb. Semua berawal dari nyoba. Jangan patah arang sebelum nyoba, “Mba, saya IPK nya rendah”, atau “Saya ga pernah ikut organisasi, apa bisa saya diterima?”. Aduh mas shalih dan mba shalihah, jangan inferior dulu, prinsip saya, ketuk semua pintu yang ada, alias dicoba segala usaha (yang halal dan thoyib ya) lalu biarkan Allah yang menentukan dari pintu mana rezeki itu akan sampai ke tangan kita. Bahkan S3 saya kemarin, juga coba-coba. Hayo ngaku, ga jarang kan kita coba-coba tapi ternyata dapat apa yang kita inginkan? Nah itulaaah, the power of coba-coba, hehe… Semua tentu berjalan atas izin-Nya. Tapi kalo kita ga nyoba, ya kali itu rezeki langsung hadir di depan mata. Ikhtiar neng ikhtiar… *colek diri sendiri, hehe 😀

Yuk buang jauh-jauh rasa minder kita, rasa malu kita, ga percaya diri kita. Aih aih… jangan lagi ya! Sebenarnya tulisan ini juga reminder bagi saya, yang kadang terbesit ragu untuk mencoba sesuatu yang baru, apalagi saat berada di lingkungan yang tidak sekondusif dahulu. Maka luruskan niat lagi hanya kepada Allah ikhtiar ini tertuju, niscaya kemudahan dan keberkahan yang akan mengiringi setiap usahamu. 

Dengan mencoba, kita jadi tahu rasanya: suksesnya, gagalnya, serta asam manis proses perjuangannya. Dan semua hal itulah yang akan membuat kita lebih dewasa. Maka jangan ragu lagi untuk mencoba, selama coba-coba kita menghadirkan berkah dan ridho dari-Nya, sejauh mencoba itu semakin mendekatkan kita kepada-Nya…”

Saat diri merasa masih banyak yang harus dicoba 😀

London, 12 November 2016

Pukul 00.30

Advertisements