“Your gold is your religion, your adornment is your moral attitude, and your wealth is your good manners?” (Aidh bin Abdullah Al-Qarni)

Sudah lama saya mau menulis ini, tapi belum kesampaian. Eh entah kenapa bahan tausiyah di pengajian akhwat-akhwat di London kemarin membahas sebuah paper tulisan Hossein Askari dan Scheherazade S. Rehman yang terbit di Global Economy Journal tahun 2010 lalu. Judulnya adalah “Economic Islamicity Index – How Islamic are Islam Countries?”. Tentu paper ini membuat saya penasaran, kira-kira siapa yang berada di peringkat atasnya dan dinobatkan sebagai negara paling Islami di dunia. Dan tahukah siapa yg berada di peringkat pertama? Arab? Bukan… Qatar? Bukaan… Brunei? Bukaan.. Indonesia? Peringkatnya jauuuh. Jeng jeeng… ternyata 5 negara the most islamic countries adalah Irlandia, Denmark, Luxemburg, Swedia dan Inggris. Kaget kan? Saya juga!!

Saya sebagai epidemiologist pastinya sangat penasaran dengan metodenya. Apa design studinya, cross sectional? Pake data primer atau sekunder? Siapa population study nya, ada control ga, dst, dst nya.  Setelah saya baca paper ini, ternyata mereka mengukur menggunakan Economic Islamicity Index sebagai indikatornya. Kurang lebih menggunakan ukuran ekonomi (mostly) dan nilai-nilai sosial seperti keadilan, kesetaraan, pengembangan SDM, jauh dari korupsi, apakah negara tsb memiliki peraturan dan kebijakan yang adil, dst. Kenapa mereka memilih indikator ekonomi dan sosial? Karena asumsinya, jika sebuah negara memiliki nilai-nilai Islami dalam kehidupannya, tentu ia menerapkan prinsip adil, amanah, jujur, dan bertanggung jawab, yang akan tercermin dalam pola kehidupan ekonomi dan sosialnya. Studi ini dilakukan di 208 negara. Dari negara-negara yang Islami, Malaysia menempati peringkat 33, Kuwait pada peringkat 42 dan Kazakhstan di peringkat 54. Indonesia? Negara kita berada pada peringkat 104. Untuk membaca paper lebih lengkapnya, bisa dibaca disini.

Di luar adanya bias pada penelitian dan keterbatasan pilihan indikator yang digunakan, saya hanya mengambil studi ini menjadi hikmah dan refleksi bagi diri sendiri. Bahwa bisa jadi, mereka yang non-muslim lebih ISLAMI dibandingkan dengan orang-orang Islam sendiri. Nah, coba sekarang coba kita tengok negara kita tercinta, yang katanya negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Kadang saya suka merasa bangga, tapi di sudut hati terkecil, ada rasa malu disana. Kenapa? Karena saya masih melihat fenomena itu di tanah air tercinta. Menyelak antrian, buang sampah sembarangan, lampu merah diterabas di jalanan, mengurangi timbangan, riba masih bertebaran, dan banyak peraturan-peraturan yang terus dilanggar. Sedikit saja saya membandingkan dengan perilaku orang-orang di Inggris, tentu sangat berbeda. Lampu kuning tandanya siap-siap berhenti, bukan tanda untuk semakin menancap gas seperti di Indonesia. Sampah dibuang pada tempatnya, bahkan dibedakan antara yang recycling dengan non-recycling, bukan dibuang dimanapun tempat ia berada. Meludah sembarang saja didenda, dan ada peraturannya. Ketahuan ngebut di jalanan pun akan diberikan surat dendanya ke rumah. Jadi, kalau kita amati, mana yang lebih Islami?

dont-spit-paan-poster
Contoh poster larangan meludah di Inggris, kena denda 1,5 juta

Eh eh, tapi kan, islami tidaknya seseorang kenapa ga diukur dari banyaknya ibadah yang kita lakukan? Bisa jadi itu tanggapan kita. Diluar sulitnya mengukur jumlah ibadah dikarenakan bias pada populasi maupun ingatan, tapi kalau kita dalami, seharusnya mereka yang ibadahnya baik, perilaku sosialnya pun akan baik. Kita harus menjaga kebersihan, bukankah dalam Islam kebersihan itu sebagian dari iman? Jika nilai ini kita terapkan, maka tak ada lagi tangan-tangan lalai yang membuang sampah sembarangan. Kita harus tertib, karena dalam islam kita harus taat pada peraturan, maka tak ada lagi muter sembarangan, berhentikan kendaraan di (bahkan melewati) zebra cross, dan terus berjalan saat lampu merah dinyalakan. Jika saat ini kita melihat perilaku sosial kita masih belum baik, bisa jadi masih ada yang kurang benar dengan ibadah kita. Tidak ada lagi perkataan bohong, melalaikan amanah, atau melanggar peraturan yang ditetapkan.

Hmmm… kayaknya susah deh ngerubah perilaku masyarakat di negara kita. Sering saya mendengar ucapan ini. Saya tahu ini adalah masalah besar dan utama bangsa Indonesia. Saat kemajuan negara membutuhkan perubahan juga pada ketaatan perilaku individunya. Tapi kalau bukan kita yang memulai, siapa yang akan mengajak pada perubahan? Karena bisa jadi, keberkahan bangsa ini datang dari pribadi-pribadi kecil yang ingin terus membenahi diri. Mengajak masyarakat dan lingkungan untuk menjadi sebaik-baik pribadi.

Aah… tulisan ini sekedar refleksi agar saya pun terus berbenah diri. Jangan sampai nilai keislaman yang seharusnya melekat pada diri, pudar karena mengikuti perilaku orang lain yang lalai. Maka seharusnya, diri ini mewarnai, bukan diwarnai. Memberikan warna perubahan Islami, agar banyaknya muslim di negeri ini, bukan hanya sekedar angka yang tak berarti. Karena sedikit usaha kita, bisa jadi mengantarkan kita pada keridhoan-Nya. Jangan malu menjadi yang berbeda, jika kita memang berada pada kebenaran yang nyata. Maka bergeraklah, bekerjalah… Karena mungkin disanalah letak pintu surga kita. 

“Making a big life change is pretty scary. But you know what’s even scarier? REGRET!” (anonymous)

Advertisements