“The capacity to learn is a gift; The ability to learn is a skill; the willingness to learn is a choice” (Brian Herbert)

Kalau kemarin saya membahas tentang negara mana yang paling Islami (bisa dilihat disini), sekarang saya mau menceritakan lebih detail tentang kehidupan di London, muslim/ah pada khususnya, apa bedanya dengan Jakarta. Postingan ini sekaligus melengkapi catatan kehidupan muslim di Inggris yang saya tulis 2 tahun sebelumnya. Agar bisa kita pahami, apa bedanya dengan kondisi di tanah air tercinta. Sedikit banyak juga bisa menggambarkan kenapa Inggris bisa berada pada peringkat ke-5 negara yang paling Islami di dunia (berdasarkan Hossein et.al 2010). Apa saja hal-hal yang kita bisa belajar darinya.

Yang pertama, yang pasti cuaca yang berbeda. Kalau di Indonesia suhu 20 derajat celcius itu berasa adem (cenderung dingin) dan kita siap mengenakan jaket tebal diiringi secangkir teh hangat; kalau di Inggris, suhu 20 derajat celcius itu udah berasa peristiwa langka yang harus dirayakan kehadirannya. Matahari itu adalah hal yang diidam-idamkan semua orang. Kalau udah kayak gini, semua orang mengenakan pakaian tipis dan dengan senang hati berjemur di taman-taman. Eh, ini beneran lho, taman jadi berasa pantai. Kalau udah kayak gini, sebaiknya para muslim menghindari area taman terbuka, karena penuh dijejali orang-orang yang minim berbusana, hihi…

london1

Kedua, kalau di Indonesia lagi ramai dibicarakan ojek online yang semakin memudahkan transportasi; di London kami malah lebih senang berjalan kaki. Bukan kenapa-kenapa, sayang ongkosnya! 😀 Hehe… ga juga sih, saya merasa di London saya lebih diajarkan untuk lebih “menjaga kesehatan”. Kalau di Indonesia orang malas berjalan (padahal mah cuma deket tapi manggil ojek, atau ada halte bus di sebelah sana tapi milih berhentiin angkot dimana kakinya berada); kalau di London kami biasa berjalan 10-15 menit menuju tube station atau halte bus.

london2

Supervisor saya pun lebih memilih naik tangga ke lantai 4 dibandingkan harus naik elevator, lebih sehat katanya! “If you want to keep your body healthy, do not lazy to climb the stairs and walk at least 30 minutes every day”, begitu sarannya suatu hari. Ini adalah poster yang biasa saya lihat di UK, hihi… lumayan menusuk hati 😀

stairs

Kalau point 1 dan 2 adalah perbedaan umum, point seterusnya lebih kepada kehidupan muslim/ah di London. Perbedaan lainnya adalah, kalau di Indonesia sudah biasa bertemu sesama muslim tidak menyapa; kalau di Inggris bertemu saudara/i seiman lainnya selalu nada salam itu yang terdengar di telinga, diiringi senyum tulus yang menentramkan dada. Kadang saya merasa, kenapa lebih berasa kental rasa persaudaraan sesama muslimnya disini ya? Ya bisa jadi, karena kami sama-sama kaum minoritas disini. Tapi bukankah adab yang paling baik memang memberikan salam kepada saudara/i muslim lainnya, karena ada doa kebaikan disana, semoga rahmat Allah menyertainya. Minimal ini menjadi catatan tersendiri bagi saya pribadi, agar tidak malas mengucap salam kepada muslimah yang saya temui.

london4

Keempat, masalah puasa. Kalau ini udah jelas kali ya, durasi puasa di Indonesia jauh lebih singkat dibandingkan di Inggris. Kami biasa sahur jam 2 malam, dan baru bisa berbuka puasa sekitar jam 9.30 malam, kurang lebih hampir 19 jam, di musim panas! Tapi ada hikmah lain yang saya dapat disini, kalau di Indonesia saat buka puasa kita bisa puas makan makanan apa saja, di Inggris kami memaklumi kalaupun hanya berbuka dengan 3 buah kurma (abis itu langsung makan besar). Ga ada gorengan, es campur, cendil, bubur sumsum apalagi martabak. Meskipun ada rasa ingin di dalam hati, saya belajar untuk lebih menahan diri, meresapi makna puasa sepenuh hati. Dan yang pasti, nafsu berbuka puasa dapat dihindari *tsaaaah 😀

london6

Kelima, tentang pakaian untuk shalat. Kalau di Indonesia terbiasa mengenakan mukena; disini mah ga ada yang pake mukena kecuali orang Indonesia dan Malaysia. Kalau di Indonesia muslimah shalat tanpa mukena dilihatin karena aneh, kalau disini mah biasa aja. Justru keberagaman itu berasa. Muslimah Afrika mengenakan hijab lebarnya, muslimah Arab atau Mesir dengan jilbab lilitnya, atau muslimah Indonesia dengan jilbab segi empatnya 😀 Yang pernah pergi umrah atau haji pasti tahu rasanya. Pertama kali saya menginjakkan kaki di London, saya semakin merasakan keindahan perbedaan ini, saat perbedaan warna kulit, etnis, pakaian, budaya tidaklah menjadi berbeda saat mengharap pada satu keridhoan yang sama 🙂

london5

Keenam, tentang shalat iedul fitri atau iedul adha berjama’ah. Kalau di Indonesia, pelaksanaannya satu waktu bersamaan setelah fajar; kalau di Inggris, ada beberapa kloter yang bisa menjadi pilihan. Begitupun dengan shalat jum’at berjama’ah di masjid-masjid besar. Bisa jadi, karena sedikitnya masjid namun banyak orang yang ingin shalat berjama’ah. Yang pasti, momen ini membawa rasa haru tersendiri, saat menyadari bahwa kami tidak sendiri. Banyak saudara/i seiman pun yang tengah menjalani, kehidupan sebagai muslim yang jauh dari negeri sendiri.

london7

Ketujuh dan yang paling oke (menurut saya), adalah tentang kotak infaq. Lho ada apa dgn kotak infaq? Kalau di Indonesia biasanya kotak infaq diputerin setelah shalat berjama’ah, kalo di London beda. Metode pengumpulan infaqnya dengan gesekan kartu atm (walau kadang ada juga bucket untuk infaq). Nanti akan ada panitia yang bawa-bawa debit/credit card swipe machine. Dan yang lebih jiper lagi, yang infaq bukan sekedar receh 5, 10 atau 20 pound (itu aja udah 100-400 ribu rupiah), tapi ini sampai lebih dari 250 pound (setara dengan 5 juta ke atas). Bagaimana hati ga malu kalau di Indonesia cuma nyisihin uang 1000-2000 aja! >.< Dengan ini, saya lebih menyadari, bahwa amalan diri tidaklah seberapa berarti. Bahwa masih banyak muslim/ah lain yang begitu ringan untuk memberi. Bahwa rasa “greedy” dalam hati tertunduk malu melihat pengorbanan saudara/i lain yang begitu besar demi mengejar cinta satu ilahi… *hiks2

london8

Di luar semua point-point di atas, ada satu lagi nih perbedaan yang kurang mengenakkan kalau di London. Yups, mencari tempat shalat yang susah susah gampang. Ini kata susahnya diucap 2 kali, jadi lebih banyak bertemu susahnya dibandingkan dengan mudahnya. Kalau di Indonesia, kita begitu mudah menemukan masjid/mushalla dimana-mana, di jalan bahkan di mall besar. Kalau di London berbeda. Saya banyak menemui teman muslimah lainnya, yang kalau kepepet ga ketemu prayer room, ya shalatnya di tempat ganti. Kalau beruntung, bisa juga di taman, atau kalau saya sendiri, cari ruang rapat kosong di dalam gedung institut saya. Intinya mah, tetap menegakkan shalat dimanapun berada. Bisa jadi ini challenge terbesar para mahasiswa Indonesia, cinta pada Allah atau takut pada dosen yang lebih utama *nah lhoo… #ntms

london3

Ya begitulah, asam dan manisnya menjadi muslimah di Britania Raya. Mari kita ambil nilai-nilai positif darinya, menjadi penyemangat untuk senantiasa meningkat taqwa. Merajut syukur akan kemudahan yang ada di tanah air tercinta. Menjadi pengingat kala diri lupa akan nikmat-Nya. Menempa istiqomah di bumi manapun yang dipijaknya. 

“The more I see the world, the more I silently whisper ‘Alhamdulillaah for Islam'” (anonymous)

London, 23 Desember 2016

Disclaimer: Tulisan ini hanya opini pribadi saya, bisa jadi berbeda kondisi di lain kota atau lain negara.

PS: Gambar-gambar ilustrasi di blog post ini adalah karya salah satu adik mentee kesayangan saya, ilustrasi lainnya bisa dilihat di akun instagramnya: @fadilahinlondon  🙂

Advertisements