“1st January is the first blank page of your 365 pages book. Make sure you write a good one”

Bagi saya, momen tahun baru bukan hanya sekedar momen pergantian tahun. Bukan saat kembang api begitu cantik dan meriah menghiasi malam. Bukan juga sekedar pergantian tanggal dari 31 Desember menuju 1 Januari.

Bagi saya, ada 2 titik evaluasi: pertengahan tahun dan akhir tahun. Di saat inilah saya akan mengevaluasi pencapaian dan kembali menuliskan rencana ke depan. Pencapaian apa? Pencapaian dari rencana yang saya buat di awal tahun. Bentuknya apa? Macam-macam, mulai dari pencapaian akademis (dapat beasiswa, sekolah S2, perjalanan S3, publikasi ilmiah internasional, dll), pencapaian ruhiyah (tambahan hafalan, jumlah buku agama yang dibaca, mengikuti kajian, dsb), maupun pencapaian tambahan (nulis buku, mengambil hikmah dari ke negara lain, menang kompetisi, sekolah anak, rencana tabungan, dll).

Ngapain capek-capek nulis rencana? Bagi saya, menulis rencana itu bagaikan memenuhi setengah ikhtiar. Kalau kita menuliskan rencana, maka kita akan berupaya sekuat tenaga menggerakan diri kita untuk menggapai berbagai asa. Kita jauh berpikir ke depan tentang masa depan kita, di saat yang lain, mungkin, masih terlena dengan nikmatnya dunia atau hidupnya yang gitu-gitu aja. Menulis rencana berarti kita menyapa Allah dengan rencana kita dalam doa-doa kita. Agar jalan hidup lebih berirama, bergerak selaras menuju surga-Nya.

Kalau ga tercapai gimana? Ya gak papa, itu adalah hak prerogatif Allah untuk memberikan rezeki-Nya, toh bukankah yang kita dapatkan selalu yang terbaik sesuai rencana-Nya?  Bukankah kita mengenal frasa “terus berusaha” dan “pantang putus asa”. Bukankah pengganti terbaik selalu diberikan oleh-Nya menjawab hasil usaha. Maka tugas kitalah untuk menyelami makna syukur dan menempa sabar dalam jernihnya iman dan taqwa.

“Orang-orang beriman selalu punya caranya sendiri untuk menata hatinya meski apa yang ia terima dalam kehidupan berlawanan dengan keinginannya. Saat ia mendapat musibah, air matanya menetes. Tapi hatinya terilhami untuk meyakini bahwa apa yang diberikan Allah kepadanya adalah yang terbaik baginya. Fisiknya mungkin lelah, tapi ia kuatkan hatinya karena taqwa. Rasa sedih mungkin menyapa, tapi ia sematkan lebih besar rasa sabar disana. Maka bagi merekalah, kasih sayang Allah terlimpah mengiring masa…”

Lalu pencapaian tahun ini bagaimana? Hehe… masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Banyak yang tercapai, dan beberapa yang belum kesampaian atau harus dikejar. Sedih? Ga laaah… justru ini adalah saat yang tepat bagi saya untuk introspeksi diri, tentang apa-apa yang harus diperbaiki. Eits jangan salah, bonus tambahan dari Allah lebih banyak dari rencana yang saya tuliskan. Target saya menang lomba internasional, Allah kabulkan melalui Imagine Cup Competition. Allah berikan bonus menulis buku 2 buah tahun ini. Allah rezekikan Najwa sekolah di Islamic Nursery. Target menulis 2 pubikasi ilmiah internasional tahun 2016, Allah berikan 5 kesempatan. Menulis rencana membuatmu tersadar, bahwa memang skenario Allah lah yang paling mengagumkan. Menyadarkan kita bahwa kita begitu lemah tanpa kasih sayang dan pertolongan-Nya.

Semoga tahun baru ini menjadi titik bagi diri kita untuk menjadi lebih baik lagi. Mengukir lebih banyak kebaikan dan amal yang akan memberatkan timbangan. Tidak menunda berbuat kebajikan dan perbaikan. Dijauhkan dari keburukan dan kesia-siaan.

 “Tahun baru akan menjadi hal yg semu tanpa diiringi semangat pembaharuan niat, peningkatan amal, perencanaan matang menggapai tujuan, penanaman nilai-nilai kebaikan dan perbaikan, serta senantiasa membangun kedekatan dengan Ar-Rahman…”

PS. Detail mengenai membuat perencaan sudah saya tuliskan di satu bab buku saya “Merajut Asa, Menulis Rencana”. Saya juga berbagi mengenai life plan saya dulu saat kuliah. Tambahan update, insya Allah buku Awe-Inspiring ME akan buka pre-order sejak tanggal 16 Januari. Semoga bisa memberi manfaat lebih luas lagi ^_^

Advertisements