“I do not fail. I succeed in finding out what does not work” (anonymous)

Postingan kali ini sekalian curhat ya (hehe, pake minta izin segala :D), dan menjawab pertanyaan seorang saudari jauh di tanah air sana. “Mba koq hidupnya kaya sempurna banget ya. Keluarga, karir, studi, berhasil semua”, begitu ujarnya. Eh eh… emang begitu kenyataannya? Saya cerita kejadian hari ini ya…

Saya pernah posting beberapa waktu lalu tentang saya terpilih dari sekian ratus applicant sebagai finalis lomba poster yang diselenggarakan di UCL, tepatnya “UCL Populations & Lifelong Health Domain Symposium”. Ceritanya hari inilah (Selasa, 17 Januai 2017) final kompetisinya. Sudah nge-print poster (yang mahal banget), pergi pagi menuju UCL Institute of Child Health, dan makan buah aja seharian (karena menu halal entah dimana ga ada). Di luar dugaan, ternyata banyak kolega dari Farr Institute yang datang, termasuk supervisor utama saya (professor di bidang infectious disease epidemiology).

Namanya kompetisi tentu berharap menang dooong (ya iyalah). Singkat cerita, di akhir simposium, di tengah jantung saya berdebar kencang akankah saya masuk sebagai pemenang (minimal runner up lah) dan ternyataaaa… jeng jeng! Nama saya tidak termasuk di jajaran pemenangnya. Walaupun surprisingly, saya tetap maju ke depan mendapat tepukan banyak orang untuk mengambil sertifikat mewakili kolega saya yang kebetulan sudah pulang.

blog-post_gagal1
Sertifikat runner-up pemenang poster competition

Sedih ga? Ya iya. Kecewa? Pasti ada. Saya kan juga manusia biasa. Tapi nih tapi, sikap kita selanjutnya yang akan mendewasakan iman. Bisa aja saya menggerutu sepanjang jalan sambal menyesali kenapa Allah tidak memenangkan saya dalam perlombaan. Atau berpikir kenapa kesuksesan tidak juga datang dalam setiap ikhtiar. Bukan, saya meyakini bahwa bukan itu yang seharusnya menghiasi akhlaq seorang muslim yang beriman.

Saat kegagalan datang, yang coba saya lakukan adalah menghadirkan taqwa dalam hati. Meyakini bahwa apapun yang menimpa diri hingga hari ini, semua sudah berjalan sesuai ketetapan Ilahi. Kecewa dan sedih boleh saja, namanya juga manusia, namun selanjutnya hadirkan taqwa yang menempa sabar dalam dada.

Jangan dikira kegagalan saya hanya satu dua kali. Nei nei, kalau kata orang Jepang (artinya no no). Saya sudah merasakan gagal dan jatuh berkali-kali. Dan saya pahami itu sebagai proses pendewasaan diri. Lanjut sekolah S2 dan S3, apa ada yang tahu sudah berapa kali aplikasi beasiswa saya ditolak? Publikasi ilmiah internasional, apa ada yang tahu sudah berapa kali saya gagal ditolak untuk penerbitan? Menjalani peran sebagai mahasiswa, ibu, istri dan anak, apa ada yang tahu berapa jam waktu istirahat saya dan berapa banyak tugas yang harus dikerja?

Sungguh, tidak ada yang mampu mengukur lelah dan letih kita. Jika niatan kita bukan hanya untuk-Nya, sayanglah semua lelah jika hanya berakhir menjadi keringat saja. Tanpa tertulis pahala amal dan kebaikan disana. Tak pernah juga saya bercerita mengenai asam pahit perjuangannya, karena bagi saya hanya kepada Allah-ah segala curhatan bermuara. Saat gagal datang dan dipahami sebagai tindakan Allah yang tidak sayang, tidakkah kita melihat begitu banyak kegagalan (yang jauh lebih besar) yang ditimpa oleh Nabi dan Rasul kita sepanjang perjalanan? Karena tidak ada yang mampu mengukur lelah dan letih kita, saya putuskan hanya curhat kepada-Nya, tentang lelah yang menempa, sedih yang dirasa, atau kecewa yang mengisi dada. Bukan, alasan saya tidak pernah posting status gagal (atau hanya sedikit dituliskan) karena saya terbiasa curhat pada Zat Yang Maha Menetapkan. Karena saya yakin, curhat kesedihan di facebook, twitter, instagram, path dll tidak akan mampu mengubah keadaan. Tahu apa doa saya sebelum pengumuman pemenang disiarkan? Saya menggenggam erat tangan saya dan berkata, Ya Allah, berikan tunduk syukurku saat menang, dan kuatkan aku ketika kalah yang menjadi jawaban.

blog-post_gagal2
Selalu dapat urutan 1 saat poster presentation

Seharusnya kesuksesan tidak diiringi dengan kebanggaan. Kegagalan tidak diiringi dengan penyesalan sepanjang jalan. Gagal dan menang semua adalah takdir dari-Nya, bagian dari iradat-Nya, bahkan lebih tepatnya lagi, SEMUA ITU ADALAH MILIKNYA (pake caption gede). Jadi kalau dikasih menang, tugas kita bersyukur karena Allah rezekikan. Saat Allah tak berikan, tak perlu menyesal karena memang bukan milik kita sejak awal. Saya mengganggapnya sebagai bahan pembelajaran. Sama persis dengan pengalaman saya kali ini.

Jadi ternyata nih ya, setelah saya renungi dan resapi, ternyata simposium ini memang dibuka untuk “early career researcher”. Awalnya saya memang iseng mendaftar, karena kebetulan ada penelitian di Bali dengan topik yang sama diperlombakan disini. Tapi eh tapi, setelah saya cermati, banyak kolega-kolega saya (semua post-doctoral researcher atau dosen) yang mengikuti event ini. Setelah saya mencari-cari definisi early career researcher di UK, ternyata adalah mereka yang sedang berkarir selama rentang waktu 5-8 tahun setelah PhD nya, minimal sudah bergelar doktor. Jeng jeengg… tersadarkanlah saya. Disitu saya langsung merasa seperti anak bawang, atau remah-remah rempeyek mungkin yang paling mewakilkan. Sertifikat Runner up poster competition yang saya bawa itu pun punya managing director project ICONIC di Farr, tentu level saya jauh dibawah mereka. Mereka yang sudah jungkir balik di dunia penelitian lebih dari 10-15 tahun lamanya (nyari alasan :D). Pasca acara, setelah saya pikir-pikir, saya adalah kompetitor termuda disana. Saya sampai menduga, apa mungkin panitia salah milih ya, karena secara kategori pun saya tidak masuk sebagai peserta. Disinilah saatnya saya mengambil hikmah sebanyak-banyaknya. Mengetahui kekurangan dari penelitian saya dan berusaha menyempurnakannya. Mengubah kecewa menjadi syukur karena pengalaman ditambahkan oleh-Nya. Lalu mengubah kegagalan menjadi kesempatan baru yang terbuka. Saya akan coba terapkan apa perkataan guru-guru nursery disini, “Don’t worry, we can try again later” 😉

“Failure doesn’t mean the game is over. It means try again with experience” (anonymous)

*NB: Sebagai bocoran, saya ceritakan salah satu ujian terberat hidup saya di buku “Awe-Inspiring ME!” yang saat ini sudah open pre-order ya (sekalian ngiklan)

banner

OPEN PRE-ORDER BUKU AWE INSPIRING ME!

Periode: 13 – 30 January 2017
Harga: Rp.53,200 diskon dari Rp.76,000
Penerbit: @Penerbit ikon
Jumlah halaman: 231 halaman
Berat: 280 gram

Cara pemesanan (pilih salah satu):

  1. http://www.tokoserambi.com
  2. Sms/wa/line: 08128554782
  3. Email ke: tokobuku@serambi.com

Untuk yg mengirim wa/sma/line/email, format pemesanan:
– Nama
– Alamat
– No hp
– Jumlah buku

Bagi 500 pembeli pertama akan mendapatkan bonus 500 postcard dgn ttd penulis di dalamnya. *sistemnya first come first serve ya/siapa cepat dia dapat (plg cepat melunasi order-nya)

No hp yg tercantum adalah no CP dari penerbit (bukan no hp sy, jd saya ga bisa bantu kalau ada yg mau PO langsung ke saya). Pemesanan buku dan pengiriman buku dari Jakarta akan diurus langsung oleh penerbit.

Untuk pemesan dari wilayah Inggris, Eropa, dan sekitarnya, nanti insya Allah akan saya kirim dari London. Japri aja yaa 😊

Advertisements