“Your good deeds might seem invisible, but they leave a trail that is imprinted on the hearts of others…”

Suatu siang di common room Farr Institute, London.

Clare: I am wondering who bought this sugar jar. (Sambil nyeduh kopi)
Me: It’s me. Please use the sugar as much as you want. (Senyum sembari ngaduk teh)
Clare: Wow… thank you very much. I am wondering who bought it and pray may God bless her/him. Many thanks Dewi! 

Hikmah: Hanya menyediakan tempat gula (berikut gulanya) membuat orang lain bahagia. Karena manfaatnya dapat dirasakan bersama. Meskipun beda agama, lantunan doa kebaikan mengalir darinya

————————————————————————–

Pagi hari di lantai bawah Farr Institute

Me: Morning! (senyum sumringah peps*dent)
Dayane: Hi, morning!
Me: How are you? I haven’t seen you for a while. Where did you go?
Dayane: I am fine, thanks. I went for holiday to Zimbabwe for about 2 weeks. Thanks for asking me. I rarely seen PhD student who are so friendly and willing to greet me every morning. Thanks Dewi! 

Hikmah: hanya menyapa seorang satpam gedung setiap pagi saja dapat menyenangkan hatinya. Karena mungkin memang tak banyak yang berlaku serupa. Ternyata, sedikit sikap kita mampu mencerahkan harinya.

————————————————————————–

Suatu petang di Euston Underground Station. Seorang laki-laki buta turun dari kereta, ditemani sebuah tongkat panjangnya. Tak perlu menunggu aba-aba, langsung saya hampiri untuk menawarkan bantuan untuknya.

Me: Sir, may I help you? (Sambil nyolek punggungnya)
Blind man: Sure, that’s very kind of you. (Sambil memegang jaket, saya arahkan menuju keluar station)
Me: Here you are!
Blind man: Many thanks dear! I really appreciate your help (diiringi senyum tulus di wajahnya)

Hikmah: Ini bukan tentang kebaikan yang coba saya kerjakan, tapi mengambil keputusan untuk mengerja kebaikan. Saya yakin, kalaupun tidak ada saya disitu, masih banyak orang lain yang akan menolong orang buta itu. Ini adalah tentang menjemput kebaikan. Sejauh mana kita mau menggerakkan diri ini untuk mengukir sebanyak-banyak amal.

————————————————————————–

Tiga kisah di atas insya Allah bukan untuk saya mengeja kebaikan-kebaikan yang pernah saya kerjakan. Sungguh bukan! Hanya ingin menulis kisah agar hikmah dapat tersampaikan.

Kisah pertama menunjukkan bahwa hal sepele seperti membelikan sesuatu yang dapat dipergunakan bersama, membawa kebaikan dan kebahagiaan yang tak terduga. Sama halnya dengan kita membelikan mukena atau sajadah untuk masjid dan mushalla. Atau menyumbang Qur’an dan buku bacaan untuk perpus sekolah atau madrasah. Atau memberikan perangkat sekolah untuk anak-anak yatim di sekitar rumah.

Kisah kedua mensiratkan bahwa kebaikan yang begitu kecil itu bisa membawa kebahagiaan, atau mungkin keberkahan yang sebelumnya tidak kita bayangkan. Sesederhana senyum dan menyapa. Mungkin sama hal nya saat kita menyapa pak satpam yang menjaga kompleks rumah kita, menjaga gerbang fakultas kita, atau parkir motor tempat kita bekerja. Sapa mereka, tanya bagaimana harinya, bahkan berikan hadiah jika ada. Atau kurangi kebiasaan menawar di pasar (PR saya juga, namanya juga naluri emak-emak 😀 ), kita tak pernah tahu sudah berapa lembar rupiah yang terkumpul oleh penjaja disana, karena bisa saja, lisan mereka lebih didengar doanya oleh Yang Maha Kuasa. Atau belilah dagangan kakek tua itu, yang siang hari terus memikul berat sapu atau gilesan cucian baju, meskipun mungkin bukan hal yang benar-benar kita perlu. Atau sesekali belikan hadiah kecil seperti baju untuk tukang sampah yang setiap hari mengumpulkan sampah sayuran dan plastik di rumahmu. Sapa tetangga, kirimkan makanan jika ada. Karena ada begitu banyak kebaikan yang bisa kita kerja.

Kisah ketiga menggambarkan kebaikan itu perlu dijemput. Kalaupun bukan kita yang melakukannya, akan ada orang lain yang mengambil kebaikan itu juga. Jangan dikira kebaikan itu datang dengan kita santai-santai, ia perlu dijemput untuk dikerjakan. Sehingga kalimat itulah yang terangkum dalam Al-Qur’an, yang mengajak kita untuk berlomba, bersegera, dan bekerja. Apakah dapat disamakan mereka yang hanya beriman dengan mereka yang beriman dan senantiasa mengerja kebaikan? Sungguh, Allah adalah sebaik-baik penghitung neraca timbangan. Tak ada setetes keringat pun yang tidak terhitung oleh-Nya, tidak ada letih raga yang terlewat dalam perhitungan-Nya. Maka ini bukan tentang aku atau dia, namun siapa yang paling banyak mengerja amalnya, berlomba untuk menuju setinggi-tinggi surga.

Sungguh berbuat baik itu berlaku bagi semua orang. Tidak memandang perbedaan agama, warna kulit, suku bangsa, apalagi derajat sosial. Bahkan bisa jadi, kebaikan yang kita kerjakan mengiring pesan positif akan umat muslim secara keseluruhan, menjadi sarana dakwah efektif bagi mereka yang tidak seiman (ini kondisi real yang dihadapi kami saat kuliah di luar negeri). Menunjukkan bahwa Islam itu agama yang damai, ajarannya penuh kasih sayang dan mengajarkan untuk senantiasa berbuat kebajikan. Atau mungkin, kebaikan itu mengantar lisan-lisan lain yang menguntai doa. Dan bisa jadi, lantunan doa mereka-lah yang mampu mengetuk pintu langit-Nya. Lantunan doa yang tulus dari muara jiwa. Bukan hanya dari satu dua orang saja, bisa jadi banyak doa yang terlantun dari banyak manusia karena kebaikan yang kita kerja.

Semoga malaikat raqib senantiasa sibuk mencatat beragam amalan yang kita lakukan, bukan meninggalkan catatan kosong atas perbuatan. Maka jadilah promotor kebaikan, yang dengan melihatmu, orang pun merasa terpacu. Yang dengan kebaikanmu, menghantar berjuta keberkahan yang dirindu

“Let your good deeds be like rain, drop a little everywhere…”(Abdelillah al AlBanee)

Advertisements