Empat tahun lalu…
Bayi merah itu lahir pada usia kehamilan 41 minggu 6 hari. Yang saat masa tumbuh kembang janinnya sudah diajak bergadang mengerjakan thesis sang bunda. Yang saat usia janin 25 minggu menemani sang bunda sidang disertasi memperjuangkan gelar S2-nya…

Empat tahun lalu…
Takdir Allah mengiring bayi mungil itu lahir di negeri Ratu Elizabeth, di tengah turunnya salju, di tengah suhu yang hanya beberapa derajat celcius. Qadarullaah… pun hanya ayah bundanya saja yang ada di sisinya saat ia pertama kali menatap dunia… Bisa jadi, inilah perjuangan pertama baginya…

Tiga tahun lalu…
Saat pekerjaan sang bunda menuntutnya untuk berpergian ke berbagai kota hingga negara, dan si kecil terus mengiringinya kemanapun juga. Berpergian dengan pesawat, kereta, hingga kapal telah kami rasakan bersama. Hanya demi satu asa, memiliki ikatan batin yang membersamai masa, turut merasakan penat lelah perjuangan sang bunda, agar kelak si kecil bisa belajar darinya…

Dua tahun lalu…
Si kecil dibawa kembali ke tanah kelahirannya. Menemani studi sang bunda, merelakan sebagian waktu bersamanya dipergunakan untuk menuntut ilmu memberi manfaat bagi semesta…

Maka syukur haruku terlantun begitu menderu,
Saat Allah izinkan untuk menemani tumbuh kembangnya, mengiringinya dengan menanam iman dan menderas taqwa…
Melihatnya bertambah cerdas akal, dalamnya kecintaan terhadap buku, dalam besarnya rasa ingin tahu, serta terus bertanya mengasah ilmu…

Syukurku terlantun sepanjang waktu,
Saat lantunan muraja’ah singkat terdengar dari bibir mungil itu, berharap cahaya Al-Qur’an kan senantiasa menyinari kalbu…
Melihat akhlaq menempa teladan, menerapkan nilai-nilai kebaikan yang diajarkan, bahkan mengingatkan saat yang dewasa lupa menerapkan…

Banggaku pada kesabaranmu, yang turut pantang menyerah, ikut bersabar atas segala susah. Rela mengurangi waktu tidur dan bermain-mu, demi menemani agenda dakwah ayah bundamu. Dan namamu pun menjadi bagian dari kisah kita merajut ikhtiar, terus bersyukur meski berada di atas segala keterbatasan.

Dan tanpa terasa, engkau telah menjadi teman terbaik dalam perjalanan. Tempat bersandar saat ketetapan-Nya tak sesuai dengan apa yang direncanakan. Kamu menjadi saksi penat yang dirasa, lelah yang ditempa, sedih yang sesekali menerpa. Lalu hadirmu menjadi muara energi terbesar bagi hariku, mengulas sesimpul senyum dan memberi semangat untuk terus berjibaku.

Milad Mubarak Najwa Falisha Mehvish, terima kasih atas segala pengertian dan kesabaran, tumbuhlah besar menjadi qurrata a’yun idaman, mujadid shalihah yang akan menebar kebaikan serta mengukir peradaban Islam. Ku doakan berkah dalam lembaran hari yang terlewati, ilmu yang dipelajari, akhlaq yang diteladani, serta cinta yang terus menemani. Terima kasih sekali lagi, telah menjadi teman terbaik melalui jalan panjang perjuangan ini…

“I already have a BFF (best friend forever) the day I gave birth to my daughter…”

PS. Another video compilation for you, summarizing our 4 years’ journey together. Yes Najwa, daughter like you makes motherhood a joy so true 🙂

Advertisements