“I don’t need a ring. I need his deen. I’d prefer him taking me to Jannah and make me his queen” (anonymous quote)

Berhubung ada beberapa pertanyaan numpuk tentang masalah ini, yuk ah kita bahas bareng melalui postingan ini. Mau ngomongin apa sih? Ituuuu… masalah jodooh! Aih aiiih… pagi-pagi udah ngomongin jodoh. Ihiy!

Oke, kita mulai dengan pertanyaan pertama. “Mba, dulu sama suami melalui jalur ta’aruf atau bagaimanakah?

Widiiih… pertanyaan pertama aja udah berat banget tuh, hehe… Kasih tahu ga yaaa…Hihi 😀 Jadi gini, meskipun kami satu kampus, saya tidak begitu kenal suami saya semasa saya kuliah. Komunikasi kami pertama kali terjadi di semester 8 (saya sudah lulus dan suami masih mengerjakan skripsi S1-nya) dikarenakan suami berencana sekolah ke UK dan direkomendasikan oleh temannya untuk menghubungi saya (kalau ga salah karena saya mau sekolah ke UK juga). Saat itu, tahu muka suami kaya gimana? Ga! Megang amanah apa aja di kampus? Ga! Orangnya kaya gimana? Ga tahu! Murni chating kami di YM (jadul beut ya masih pake yahoo messenger 😀 ) hanya tentang sekolah di UK. Baru pertama kali melihat penampakannya aja saat ada pernikahan teman saya yang anak FKM. Baru ngeh ternyata makhluk yang chating sama saya itu kurus banget, jenggot panjang, dan menggunakan celana cingkrang. Ngikhwah banget lah istilahnya 😀

“Terus terus, gimana ngelamarnya?”

Sabaaaarrr… intinya mah ya, setelah beberapa kali diskusi informal, tiba-tiba laki-laki yang sering dipanggil “uda” ngajak nikah. “Laaaah… ga ada angin ga ada ujan, kenapa ni ikhwan ngajak nikah”, itu pikiran saya dalam hati. Kesel juga sih kenapa ngajak nikah tiba-tiba. Kenal banget juga ga, ini anak siapa juga ga tahu, eh ujug-ujug ngajak married. Saat saya tanya kenapa milih saya, tahu jawabannya? “Saya ingin menjaga hati dan kesucian diri saya”, begitu katanya. Hayeeuh… teori banget ya?! Eh eh, kalian harus tahu apa yang dirasakan suami saya saat masa-masa super mendebarkan ini. Kalau kata dia sih, tiba-tiba aja dalam 1 bulan terakhir itu hati dia ga tenang, jantungnya suka deg-degan, tiba-tiba bayangan saya suka muncul dalam pikiran, pokoknya persis banget kaya orang galau. Mungkin ini yang namanya gejala orang yang jatuh cinta kali yaaa *uhuy. Nah naaah… hal yang dilakukan selanjutnya lah yang akan menentukan cinta itu membawa kebaikan atau murka. Lanjut yaa… kata suami, demi menyelamatkan diri dari jurang kegalauan dan kebimbangan batin, maka ia beranikan dirilah untuk mengambil jalur halal. Pasca istikhoroh panjang dan mendapat keyakinan, akhirnya ia beranikan diri untuk melamar. Hohoho… begitulah kisah singkatnya.

Wait wait… jadi gini, saya kasih tahu kategori cowok menurut saya ya (yang pernah saya temui minimal).

  1. Cowok yang jatuh cinta lalu memberanikan diri untuk melamar orang yang ia suka

Tipe cowok ini menurut saya yang paling gentleman, anak orang bukan dianggap mainan. Hati yang ia miliki ia jaga sepenuh hati, hanya untuk Allah dan orang yang telah halal ia miliki. Uhuk uhuk… Dua jempol saya kasih untuk laki-laki kategori ini 😉

  1. Cowok yang jatuh cinta dan nembak ngajak pacaran

Ada juga nih tipe ini. Dia berani ngungkapin perasaan, tapi tindak lanjutnya hanya sampai pacaran. Untuk tipe ini sih langsung saya ucapkan good bye. Bukan kata cinta atau rangkaian bunga yang ku minta, namun keberanianmu untuk datang melamar kepada kedua orang tua. Aih aiiiihh… Saya mah khawatir aja, pacaran itu tidak akan meningkat taqwa, justru akan menumpuk dosa. Saat sudah menikah, pasti penyesalan yang akan datang pada akhirnya. Kemudian menyesali, andai dahulu aku bisa menjaga hati dan diri lebih baik lagi…

  1. Cowok yang jatuh cinta, ga ngajak pacaran, belum berani ngajak nikah, beraninya cuma ngungkapin aja

Naaah… ga sedikit nih tipe yang kaya gini. Katanya sih mau menjaga diri, jadi ga ngajak pacaran. Tapi eh tapi, dia ungkapin perasaan padahal mah belum berani ngajak ke jenjang pernikahan. Terus gimana? Saran saya nih ya untuk para lelaki shalih di luar sana, kalau kemampuan menikah belum ada, jangan dulu diumbar-umbar rasa yang ada. Kasian si akhwatnya. Ga perlu juga kasih kode-kode atau sandi morsenya. Kalau kata Ustadz Salim, pilihannya hanya dua, MENGAMBIL KESEMPATAN atau MELEPASKAN. Kalau sebegitunya ga mau kehilangan sang akhwat, hayuk lah ambil kesempatan untuk melamar. Sama persis seperti yang guru ngaji suami saya katakan, hanya butuh KEBERANIAN bagi seorang laki-laki untuk menikah. Tapiii… kalau memang belum berani ngajak nikah, lepaskanlah si akhwat. Tak perlu juga kau berjanji 3 atau 5 tahun lagi, siapa yang mampu menjamin perkara hati. Umur dan rezekimu pun masih belum pasti.

Eh, ini belum selesai ceritanya. Perkara melamar, dalam buku “Menikah di Jalan Dakwah” karangan Ustadz Cahyadi Takariawan, ada beberapa caranya. Pertama, bisa via guru ngaji, yang tukar CV dan ta’arufan itu lhooo… Intinya mah mempercayakan assessment nya kepada guru ngaji dalam menyaring sang calon. Pertemuan pun selalu ditemani. Terus ketemuannya ngopi-ngopi cantik gitu? Bukaaan… obrolannya mah serius, bahas visi misi pernikahan, rencana ke depan, dll. Bukan lagi soal golongan daran atau tinggi badan. Cara kedua, bisa langsung melamar ke rumah. Mengajak orang tua untuk menemui calonnya. Kalau saya yang mana? Suami mengambil cara kedua, tapi tetap menghubungi guru ngaji untuk assessmentnya (cieeeh pake assessment segala 😀 ). Kurang lebib dua bulan setelah saya istikhoroh, kepo-in sang suami (kesibukannya apa, amanah dakwahnya apa, karakternya bagaimana), dan menyampaikan hasil istikhoroh saya, lalu keluarga suami bertandang ke Jakarta. Dan resmilah saya dilamar olehnya. Btw, cukup lama waktu yang saya butuhkan untuk meyakinkan orang tua, karena prinsip awal ibu saya hanya ingin memiliki menantu dari suku Jawa. Qadarullaah… Allah lunakkan hati ibu saya dan menerima menantu meskipun urang awak. Disitulah saya meyakini, jika memang ia yang telah tertulis namanya di lauhful mahfudz jauh sebelum kita dilahirkan, tentu jodoh itu akan Allah pertemukan pada waktu dan tempat yang paling sesuai.

“Terus terus mba, kriteria pasangan menurut mba harusnya seperti apa?”

Bagi saya, rujukannya hanya hadist nabi. Bahwa bisa saja kita mencintai seseorang karena keelokan parasnya, kepintarannya, kedudukan sosial atau kekayaannya, namun yang paling utama dari itu semua adalah agamanya. Saat ia mencintai Allah sebagai derajat tertinggi cinta dalam hatinya, ia akan bisa memuliakan istri dan keluarganya. Duluuuu… informasi yang saya dapat tentang suami saya adalah ia orang yang sangat menjaga dirinya, begitu cinta kepada Al-Qur’an dan baik hafalannya, ilmu agamanya pun bisa dibilang cukup baik. Alasan itu yang membuat saya bersedia menerima lamarannya, karena Allah pun memberikan keyakinan dalam sujud panjang istikhoroh saya. Intinya? Perkara jodoh itu perkara ghaib, cuma Allah yang tahu. Maka tugas kita bertanya kepada-Nya, mendekat kepada keridhoan-Nya, agar ia jaga hati kita dan pertemukan dengan pasangan kita dalam waktu dan tempat yang paling baik menurut-Nya…

“Terus salah mba kalau saya suka sama si X karena dia ganteng?”

Ndak koooq… sah sah aja. Toh Rasulullah menyarankan untuk bertemu dahulu sebelum menikah. Alasannya? Agar ia dapat merasakan ketentraman dengan melihat wajahnya. Jadi boleh-boleh aja untuk melihat wajah calon kita dan menilainya. Cantik atau ganteng itu kan relatif. Yang jelas, hati kamu yang tahu mana prioritas utamamu. Ganteng wajah tapi suka marah apa mau dijadikan suami. Wajah cantik tapi suka gosip apa mau dijadikan istri. Jadiii… nikahilah mereka yang memiliki hati yang terpaut pada Rabb-nya, tidak hanya menjadi penyejuk mata di dunia, tapi juga bidadari untukmu di surga.

Pertanyaan ketiga (apa keberapa ini ya), “Ekpektasi mba dengan pasangan bagaimana”

Hmmm… sedari awal saya menikah, saya sudah memiliki prinsip, untuk tidak menggantungkan ekspektasi sebegitu tinggi dengan pasangan. Kalau kata Pak Cah, menikah itu mirip dengan belanja di supermarket. Kalau kita berharap supermarket itu lengkap menjual barang dari A-Z, tapi saat kita kesana ternyata banyak yang tidak ada, akhirnya berujung kecewa. Namun, saat kita legowo dengan barang apa saja yang ada di supermarketnya, sifat syukur yang terbentuk disana.

Sama dengan pasangan kita, saat kita memiliki ekspektasi tinggi si pasangan itu bisa A,B,C sampai dengan Z, tapi ternyata tidak, kecewa yang kita dapatkan. Namun saat kita mau menerima kelebihan dan kekurangannya apa adanya, hanya ada syukur saat bertemu kelebihan dan sabar saat bertemu kekurangan. Eeh… emangnya ada yang tahu pasangan kita ngorok atau ga saat tidur kecuali setelah kita menikah. Emangnya ada yang tahu kalau pasangan kita tuh ternyata suka ngiriiit banget sama belanjaan sampai dengan kita menikah. Atau kebiasaan-kebiasaan lainnya. Intinya mah, saat cintamu pada-Nya berada pada tempat tertinggi dalam jiwa, kita akan mensyukuri kelebihan dan bersukur atas kekurangan pasangan yang sudah Allah jodohkan di dunia.

Sebagai penutup, saran saya untuk para jomblowan dan jomblowati… untuk mencari pasangan yang mau menghimpun tanganmu bersama untuk mendekat kepada-Nya, mengajak berlomba untuk menuju keridhoan-Nya. Mengingatkan diri di kala salah menghampiri, menyemangati di saat hati ingin berhenti berlari. Berharap, pernikahanmu merajut samara, menghimpun kebaikan hingga ke surga…

Sekian dulu ya Q&A tentang jodoh kali ini, siapa tahu masih ada pertanyaan yang perlu dibahas lagi. Mohon maaf jika ada pernyataan saya yang berlainan dengan opini perseorangan. Hanya berharap adanya manfaat dan kebaikan yang bisa disampaikan melalui tulisan. Penutup akhir,

 “Mr. Right won’t distract you from your Lord. If he distances you from Allah, then he is Mr. Wrong!”

London, 3 Februari 2017

Malam terakhir di London sebelum 3 minggu berada di Indonesia, tak sabar menunggu perjumpaan rasanya ^_^

Advertisements