“Be confident. Too many days are wasted comparing ourselves to others and wishing to be something we aren’t. Everybody has their own strengths and weaknesses, and it is only when you accept everything you are -and aren’t- that you will truly succeed.” (anonymous)

Tanggal 15 Februari kemarin merupakan hari pertama APASL (Asian Pacific Association for the Study of the Liver) Annual Meeting di Shanghai. Sebuah event besar yang menghadirkan ahli-ahli hepatologi se-Asia Pasifik. Alhamdulillaah… saya menjadi salah satu yang terpilih untuk mendapatkan award pada konferensi besar ini di antara lebih dari 3000 aplikasi yang masuk. Pagi itu, di tengah suhu 10 derajat celcius, kami dijemput dari hotel menuju Shanghai International Convention Center.

menjadi-dirimu7
Poster Presentation at APASL-AASLD Joint Workshop

Memang ya, atmosfer pertemuan Asia tetap terasa berbeda dengan Eropa. Meskipun saya tetap menjadi salah satu dari tiga muslimah yang berhijab disini. Dua yang lain berasal dari Mesir, dan usianya sepertinya sudah di atas 40 tahun. Ya, lagi-lagi saya tidak menyangka, bahwa sedikiiiit sekali jumlah muslimah yang ada, bahkan ini di tingkat Asia. Daaan… lagi-lagi, penampilan saya selalu yang paling menarik mata, karena saya adalah muslimah berhijab panjang satu-satunya.

menjadidirimu8
Young Investigator Special Lunch, APASL Annual Meeting 2017

Perjalanan kali ini saya sendirian, tidak ditemani anak maupun suami. Saya mengunjungi beberapa situs wisata di Shanghai sendirian. Dan sudah pasti, sepanjang perjalanan dan di metro (kereta bawah tanah), saya menjadi pusat perhatian. Bahkan ada yang jelas-jelas memandang saya dari atas ke bawah dengan wajah yang sedikit tercengang. Bukan satu atau dua kali lagi saya melihat ada yang selintas menatap, kemudian penasaran memandang lagi, hihi…  *berasa gimanaaa gitu ya 😀

menjadi-dirimu11
Yuyuan Old Market

Terus terus, minder ga?

Entah kenapa nih yaaa… semakin sering saya merasakan atmosfer ini, saya semakin tidak merasa minder. Bahkan lebih percaya diri untuk menunjukkan jati diri. Disini, saya justru lebih memilih naik kendaraan umum daripada taksi agar bisa bertemu dengan banyak orang di jalan. Saya merasa, pakaian yang saya kenakan dapat menjadi sebuah sarana pengenalan. Minimal agar mereka lebih familiar dan lebih mengetahui bagaimana seorang muslimah menjalani kehidupan.

Dan tanpa disangka, saya dengan cepat memiliki teman disini. Di hari pertama, saya berkenalan dengan Dr. Hang dari Vietnam yang baru saja menyelesaikan PhD nya di Hanoi Medical School. Juga  dengan dr. Gian dari Filipina yang aktif bekerja di rumah sakit St. Thomas Aquinas dan akan segera mendapatkan training endoskopi di Fukuoka Jepang, atau dr. Marco yang akan memulai internshipnya di rumah sakit yang sama di Manila, Dr. Amna dari Pakistan (ahli gastroentologi dari Karachi, yang ternyata juga masuk kedalam Pakistan Pond’s women story), dan dr. Saidrakhim dari Uzbekistan (yang tiba-tiba ngajak ngobrol panjang tentang Indonesia sepanjang perjalanan pulang), dll.

Tanpa diduga, teman-teman dari Vietnam dan Filipina yang baru saya kenal ini sangat menghargai pilihan saya untuk hanya memakan makanan halal. Bahkan kami menghabiskan waktu sekitar 20 menit hanya untuk mentranslate menu makanan berbahasa China agar saya tidak salah pilih makanan, hanya seafood atau vegetarian. Bukan, bukan kesal karena menghabiskan waktu lama mencari makanan, justru mereka senang mengetahui bahwa kriteria halal itu tidak hanya “yang penting bukan babi”, namun hewan itupun harus disembelih dengan nama Allah. “I really appreciate your compliance with the rule in your religion”, begitu kata dokter muda dari Manila itu. Bahkan teman laki-laki yang saya temui begitu menjaga jarak dan batasan agar tidak bersentuhan tangan, disini kadang saya merasa orang dari negara lain bisa lebih “ngikhwah” daripada laki-laki di Indonesia *peace 😀

menjadi-dirimu6
The Oriental Pearl Tower, Shanghai

Kesimpulannya? Tidak ada yang salah menjadi diri sendiri, selama kebaikan yang engkau cari. Tidak perlu menjadi orang lain, jika karakter santun telah engkau miliki. Tak perlu juga berkompromi dengan aturan agama yang sudah jelas terdefinisi, karena disitulah menentukan letak taat dalam hati. Terus berbuat baiklah yang menghiasi diri, niscaya kebaikan serupa akan mengiringi.

Tahu apa yang lebih mengejutkan lagi? Setelah workshop untuk young investigator berakhir, produser sebuah televisi di Hongkong tiba-tiba datang mewawancarai saya. Memilih saya diantara ratusan peserta lainnya. Siapa yang sangka, orang yang terlihat “berbeda” ini akan masuk televisi China. Muslimah dari Indonesia inilah yang dipilih untuk menyampaikan pendapatnya.

menjadi-dirimu10

Karena pada akhirnya, kapasitasmu lah yang dilihat oleh mereka. Kemampuan dan kerja kerasmu lah yang menjadi pertimbangan utama. Maka bersinarlah wahai muslimah mulia, dengan beragam prestasi dan keberhasilan yang tertempa. Jangan malu atau ragu untuk menunjukkan kapasitasmu, karena keberhasilan itu, adalah milik mereka yang senantiasa berjuang dan bekerja keras sepanjang waktu. Menebar kebermanfaatan di dunia, merajut amal hingga ke surga…

“She stands affirm with strength, modesty, and dignity. That’s what an inspiring muslimah all about” (Awe-Inspiring ME book quotes)

– Shanghai Everbright Hotel, 18 Januari 2017

Advertisements