“The moment we understand that Allah’s decision is always in our best interest, everything will start to make sense”

Catatan ini merupakan hasil kontemplasi saya sore ini (hayeuh gaya yak pake berkontemplasi segala 😀 ). Berawal dari sharing kisah pergi umroh yang seolah “Allah tak izinkan”, hingga beberapa hari kemudian Allah mudahkan si adik berangkat ke tanah haram. Sama persis dengan kisah ibu saya, saat Allah mudahkan keberangkatan ayah, mama dan papa mertua saya, namun visa ibu saya tidak keluar hari Sabtu sesuai dengan jadwal keberangkatan. Lemas ia mendapat kabar bahwa belum bisa berangkat, padahal saat itu sudah siap sedia di bandara. Tentu pedih yang memenuhi hatinya saat harus melangkah pulang ke rumah, sedangkan suami dan besan-nya dapat berangkat bersama. Banyak hal berkecamuk dalam pikirannya, mulai dari beliau yang tidak bisa berangkat tahun ini, kalau pun berangkat sendirian tentu akan bingung karena tidak ada teman, apakah nanti akan nyasar, dan lain sebagainya.

Tapi tentu takdir Allah adalah sebaik-baik rencana, Allah izinkan ibu saya pergi umroh hari Senin, 3 hari setelahnya. Meskipun pada akhirnya tidak ada teman yang dikenalnya, tapi justru beliau dapat beribadah dengan lebih khusyuk, sampai-sampai tak saya temui foto perjalanannya di tanah suci, hanya sebuah foto saat ibunda berada di dalam bus yang ada di hp jadulnya. Katanya tak terpikir untuk berfoto-foto di sekitar ka’bah, Madinah, atau tempat suci lainnya, karena dalam pikirannya, ingin mengisi waktunya dengan sebanyak-banyak ibadah kepada Rabb Yang Maha Kuasa, hingga Allah rezekikan ibunda untuk mencium Hajar Aswad di sepertiga malamnya. Sebuah rezeki yang tidak bisa didapatkan tanpa izin dari-Nya…

——————————————

Ada seorang muslimah yang bertanya saat Kajian Muslimah Jum’at lalu di UI, tentang apakah saya pernah merasakan gagal dan kecewa. Bagi saya, gagal adalah sebuah hasil usaha, sedangkan kecewa adalah sebuah rasa. Kisah di paragraf pertama saya gambarkan untuk mengungkap satu rasa itu, KECEWA. Saya yakin ibu saya merasa kecewa, karena tak mulus berjalan sesuai keinginanya. Lalu saya? Mungkin itu juga rasa yang bersemayam di dada, saat karya tulis tidak menjadi juara, mendapat pengumuman tidak lolos beasiswa, suami tidak jadi bisa melanjutkan S2, dan sederet hasil ikhtiar yang tidak berbuah manis di penghujung akhirnya. Ini bukan tentang satu atau dua kali ikhtiar, bisa jadi bilanganya sudah berbelas atau berpuluh ikhtiar yang dikerjakan. Jadi kecewanya pun sudah beranak pinak jika dijumlahkan.

Tapi saya selalu meyakini, seorang muslim itu selalu punya cara sendiri untuk menata hatinya. Saat kecewa hadir dalam perjalanan hidupnya, ia akan kuatkan imannya. Karena kecewa itu rasa, yang letaknya pun sama dalam hati kita, tentu kuatnya iman dapat menutupi secercah lubang kecewa yang terukir disana. Karena hatinya selalu mengilhami, bahwa apa yang sudah Allah beri, adalah yang terbaik dibandingkan skenario diri.

Jika iman itu artinya percaya, lalu pertanyaannya, sudah sejauh mana kita percaya akan ketetapan-Nya? Sedangkan maut, rezeki dan jodoh sudah dituliskan oleh-Nya jauh sebelum kita lahir ke dunia. Maka apa yang kita terima tak akan berkurang atau bertambah karena manusia. Besaran yang didapat tentulah sudah sesuai dengan takaran-Nya. Lalu dimanakah letak iman (percaya) pada-Nya saat kecewa terus bergelayut dalam dada dan terus menggerutui ketetapan-Nya?

Kecewa itu boleh saja, sangat manusiawi kehadirannya. Namanya juga perihal hati, ga bisa dibohongi. Hadirnya ga bisa dibuat-buat atau dengan mudahnya diusir pergi. Perlu iman yang menghias hati dan taqwa yang menghias diri. Sikap kita menghadapi kecewa yang menjadi poin utamanya disini. Memilih menggerutu sepanjang hari, menyesali ketetapan yang sudah dituliskan Ilahi, marah dengan apa yang terjadi, atau terus mencoba menata hati. Bukankah luas nikmat-Nya jauh lebih banyak dari apa yang kita minta. Bukankah pengetahuan-Nya jauh lebih luas dari apa yang terekam indera. Maka disitulah alasn kenapa tawakkal perlu selalu disertakan dalam setiap ikhtiar. Karena apa yang diketahui oleh seorang hamba, jauuuh lebih sedikit dibandingkan dengan pengetahuan-Nya.

“Tapi mba, hati tuh rasanya sakiiiiit banget!”, ujar seorang akhwat. Bukankah Allah sudah berikan obat penenang hati, baca kalam-Nya untuk mendamaikan hati. Agar iman tersiram dengan bacaan penguat diri. Agar hati semakin teryakini, bahwa hakikatnya Allah itu selalu mengabulkan doa, dengan 3 bentuk jawabannya. Entah diberikan segera, Ia tunda, atau Ia gantikan yang jauh lebih baik menurut-Nya. Maka seharusnya kecewa itu tak akan lama bersemayam dalam dada, jika ia gantikan kekecewaannya dengan untaian doa-doa, agar Allah kuatkan hatinya, berikan sabar dalam perjalanannya, dan tunjukkan kebaikan di penghujung ceritanya.

Tulisan ini pun reminder bagi saya. Agar iman tak menjadi sekedar kata. Namun kehadirannya mengilhami gerak langkah diri dalam kesehariannya. Semoga Allah jadikan kita sebagai bagian dari orang-orang yang mampu menghapus kecewa dengan taqwa dalam hatinya, selalu bersyukur atas setiap ketetapan yang dituliskan oleh-Nya di dunia, menjadi pemberat amal untuk menuju surga.

“Just because you don’t see the good in something doesn’t mean it’s not there. Allah has plan for everything. Something that seems bad at the moment can be the best thing that’s going to happen later on” (anonymous)

Tepat pukul 12 malam,

Saat si kecil sudah terlelap nyaman,

Tottenham London, 4 Maret 2017

Advertisements