“Strength grows in the moment when you think you can’t go on but you keep going anyway” (unknown)

Seorang nenek tua tengah memanggul karung beras yang mungkin beratnya lebih dari 25 kg. Dengan perlahan, ia menapaki jalanan berbukit di pedesaan dalam. Sembari menyapa saat bertatapan dengannya, “Mbah, iku abot, kulo bantu nggeh?” (artinya, mbah itu berat, saya bantu ya). Lalu si mbah dengan keriput yang terlihat jelas di wajahnya tersenyum dan berkata “Rapopo. Sampun sakbendino. Kuat insya Allah…” (Gapapa. Udah biasa setiap hari. Kuat insya Allah). Dan ternyata, nenek itu hidup bersama 2 orang cucunya, sedang anak dan menantunya merantau ke kota. Maka ia tetap bertani dan memanen untuk membesarkan cucu yang dititipkan kepadanya.

———

Di siang terik panas, terdengar suara serak seorang kakek “Bale baleeee…. Balenya buuuu….”. Agak parau terdengarnya. Hingga akhirnya suara itu terdengar semakin jelas, dan dapat saya lihat sosok tua dengan keringat menderas di punggungnya menggotong sebuah bale (tempat duduk yang terbuat dari bambu) lewat di depan rumah. Kata ayah saya, istrinya terkena stroke dan bapak ini terkena PHK sejak 10 tahun lalu. Jadilah ia bekerja apa saja untuk menghidupi keluarga kecilnya, mulai dari mencuci baju, jualan kerupuk, hingga bale. Lalu saya hanya dapat berdoa dalam hati, “Ya Allah… limpahkanlah rezeki kepada kakek itu, seorang pekerja keras yang terus berusaha mendapatkan rezeki-Mu…”

———-

“Lontong pecel buuuu….”, terdengar sebuah suara yang sudah tak asing di telinga saya, milik seorang nenek tua yang tinggalnya tak begitu jauh dari rumah, di pinggir bantaran kali tepatnya, sebuah rumah petak yang begitu sederhana. “Iya nek”, jawab saya segera. “Nenek itu tinggal sendiri dek, anaknya ga ada yang mau urus. Setiap hari ya membuat lontong pecel agar ada pemasukan untuk membiayai kebutuhannya sehari-hari. Mungkin usianya sudah lebih dari 80 tahun”, begitu kisah yang terdengar dari ibu saya.

———-

“Berat betul ujianmu, kak. Suamimu sudah menghadap Allah terlebih dahulu, meninggalkan 3 orang anak yang masih kecil-kecil”, ujar seorang saudari perempuan kepada temannya. “Insya Allaah… Tak perlu ragu jika Allah menjadi sandaran hidupmu. Karena Ia yang Maha Mencukupkan segalanya mengiringi waktu”, begitu jawabnya. Dan saat ini ketiga anaknya sudah besar dan menjadi sarjana. Ada seorang yang menjadi ahli informatika, dokter di rumah sakit swasta, sedang yang paling kecil mendapat beasiwa sekolah di perguruan tinggi terkemuka.

———-

Keempat kisah di atas benar adanya. Bahkan mungkin, ada yang lebih berat ujiannya. Membuat kita berkaca, bahwa bisa jadi ujian kita tidak lebih berat dibanding mereka. Bahwa ternyata, ada orang-orang yang begitu kuat menjalani harinya, seberat apapun dirasa. Kemudian saya baru menyadari, mungkin setiap orang dapat menjadi kuat karena mereka punya alasan dibaliknya. Mereka bukan kuat karena diri mereka, tapi karena ada alasan kuat akan kekuatannya. 

Coba kita ingat, ini sama saja seperti para ibu yang meski letih mengurus anaknya seharian, ketika sang anak demam, tetap ia bersiaga meski harus bergadang dan paginya sudah dengan sigap menyiapkan sarapan. Atau kalau kita ingat, ibu adalah orang yang paling bersiaga, untuk terbangun tengah malam tanpa diminta, hanya untuk memenuhi hak ASI anaknya (coba ditanya bapak-bapaknya gimana :D). Sama juga seperti yang saya rasa, saat sang suami sedang tidak di Indonesia, menggendong anak di depan, mengangkat koper 30 kg, dan menggemblok tas ransel di punggung belakang bersamaan, merupakan hal yang dapat dilaksanakan.

Begitu juga saat saya melihat sosok seorang ayah, meskipun begitu lelah dengan pekerjaan kantornya, pegal-pegal dirasa, ia tetap berangkat kerja demi memenuhi kewajiban memberi nafkah bagi keluarga. Atau saat ia begitu perkasa membantu mengangkat koper dan barang belanjaan lainnya. Menjadi yang terdepan, jika ada sesuatu yang membahayakan istri dan anak-anak tersayang.

Sama juga seperti muslim muslimah yang rela berdakwah di daerah terpencil, hanya demi kecintaan kepada Rabb-Nya, berharap surga sebagai tempat pemberhentian akhirnya. Atau siswa/mahasiswa yang tetap berangkat sekolah/kuliah meskipun perjalanan terjal dan tidak sebentar atau mungkin tidak memiliki uang, namun karena kecintaannya yang begitu tinggi kepada ilmu, ia terus berusaha semampunya, berharap perbaikan dan kebaikan mengiringinya selalu.

Karena sebuah alasan, setiap orang memiliki kekuatan. Hal yang berat mampu dijalani, sesuatu yang sulit dapat diatasi. Tanpa berputus asa, terus megupayakan yang terbaik yang kita bisa. Dan bisa jadi, alasan kekuatan itu berbeda-beda bentuknya. Entah demi anak yang didamba, keluarga yang dicinta, membahagiakan orang tua, atau ingin bermanfaat untuk sesama. Iya, itu juga mungkin jawaban untuk muslimah yang bertanya “Mba koq kuat sih ngerjain ini itu”. Bisa jadi, karena saya memiliki alasan kuat dibalik semua itu. Motivasi yang tak pernah kendur seiring dengan berjalannya waktu. Mengakarkan motivasi dan gerak langkah hanya untuk keridhaan Allah yang dituju, bukankah itu sebaik-baik nawaitu?

Maka tak akan menyesal mereka yang menjadikan Allah sebagai landasan, muara segala kekuatan. Saat ujian nya seakan tak henti berdatangan, mungkin ini saatnya kita untuk lebih mendekat kepada Dzat Yang Maha Menguatkan. Saat kita merasa kehilangan kekuatan, cobalah mengembalikan hati kepada semulia-mulia niatan. Bukankah janji surga-Nya tak pernah lekang tergilas zaman. Maka mari kita menambatkan kekuatan pada Dzat Yang Maha Kekal, sumber energi yang tak berkesudahan…

“At times Allah tests us, it is not to reveal our weaknesses, but for us to discover our strengths…” 

Lewat tengah malam,
Amstelveen, the Netherland

Advertisements