“A real mom: Emotional, yet the rock. Tired, but keeps going. Worried, but full of hopes. Impatient, yet patient. Overwhelmed, but never quits. Amazing, even though doubted. Wonderful, even in chaos. Life changer, every single day” (Rachel Martin)

—–

“Ayah, minggu depan kapan ke kampusnya?”

“Selasa mengisi acara di Exeter, Rabu sore baru kembali ke London, dan kamis ada supervisory meeting”, jawabnya

“Oke, kalau gitu bunda ngampus hari Senin dan Jum’at ya”

—–

Itulah percakapan yang selalu terjadi di setiap minggunya antara saya dan suami. Memfiksasi jadwal minggu depan! Dan itu teruuuus berulang. Tak jarang nego minta waktu tambahan, misalnya saat saya harus menjalani meeting di hari Rabu jam 6 sore, maka saya minta pak suami sudah harus di rumah jam 5 nya. Iya, itu adalah salah satu balada PhD parents, saat suami dan istri sama-sama menjalani PhD berdua. Iya ya, udah lamaaaa saya ga ngebahas perjalanan PhD saya, sebagai mahasiswa sekaligus istri dan ibu seorang putri. Saya belum cerita mengenai perjalanan PhD saya pasca suami menjalankan S3. Itu artinya, saya, suami, dan anak sekolah sama-sama.

Terus terus gimana rasanya? Hmm… nano-nano! Alhamdulillaah allahu akbar! 😀 Pernah suatu ketika ada yang DM dan bertanya bagaimana studinya, kayaknya kakak happy-happy aja. Kalau menurut say sih ya memang happy. Bisa jadi Karena definisi bahagia saya sederhana, selama saya masih bisa beribadah dengan leluasa, Allah beri nikmat sehat pada raga, dan sesederhana dapat kumpul bersama dengan keluarga. Dan bahagia itu adanya di hati, bagaimana mungkni kita tidak bahagia jika syukur senantiasa menemani hari?

Oya, bisa dibilang sudah 6 bulan pak suami menjalani tahun pertama PhD nya. Efeknya ke saya? Yang paling kentara, turun berat badan. Ga tanggung-tanggung, 9 kilo! Dalam waktuuu… 3 bulan pertama dan BB masih bertahan di angka yang sama hingga sekarang. Eits tenaang… saya ga sedih, malahan senang. Dari dulu berusaha menurunkan BB tapi koq ya ga kesampaian. Eh ini ga pake diet, teh pelangsing, atau herbal-herbal lain malah otomatis turun sendiri 😀

Jadi jadi… gimana perjalanannya? Di postingan kali ini saya mau memberi tahu perubahan-perubahan atau strategi kami to deal with this hectic situation.

  1. Estafet jaga anak

Ini adalah perubahan utama bagi kami. Iya sih, putri kami sekarang usianya sudah 4 tahun yang artinya sudah masuk Nursery (atau setara dengan TK nol kecil kalau di Indonesia). Artinya, si kecil masuk 3 jam saja per harinya. Saya sudah jelaskan di postingan ini, kalau di Inggris itu, antar dan jemput anak itu wajib bagi orang tua. Jadilah kami harus ganti-gantian mengantar dan menjemput Najwa sekolah. Memang sih ada opsi daycare, tapi kesepakatan saya dan suami, kami lebih memilih menjaga anak kami sendiri, karena di usia-usia dini aqidah itu sangat penting untuk ditanamkan dalam hati. Sedangkan kalau daycare disini, sudah tentu kondisi dan budayanya berbeda dengan Indonesia. Alasan lain juga biaya yang sangat muahal. Sebagai estimasi, biaya yang perlu dikeluarkan sekitar 10-20 juta per bulan. Kalau kami sih mana tahan 😀

  1. Sinkronisasi jadwal di kalender hp

Naah… konsekuensi dari estafet menjaga anak ini, kami harus ganti-gantian dan membuat jadwal. Maka sinkronisasi kalender hp menjadi solusi yang pasti. Ini artinya, setiap saya atau suami ada kegiatan yang wajib kami hadiri, kami akan masukkan jadwanya ke dalam kalender family, jadi kita sama-sama tahu. Dan ini bukan hanya merangkum jadwal course atau meeting dgn supervisor, tapi juga jadwal saya mengisi kajian online, rapat diluar studi, atau mengisi pengajian akhwat, dst.

  1. Kerjaan kampus seminggu dikerjakan dalam waktu 2 hari

Naah… dikarenakan waktu yang harus ganti-gantian, kalau secara logis matematikanya, itu berarti 5 hari kerja harus kami bagi berdua. Artinya, dalam 1 minggu ada yang bisa ngampus 2 hari, dan ada yang 3 hari. Naaah (lagi)… saya biasanya mendapatkan jatah yang dua kali. Implikasinya? Kerjaan seminggu harus bisa saya selesaikan dalam waktu 2 hari. Konsekuensinya lagi, bagi mahasiswa PhD full time yang seharusnya waktu kerjanya 35 jam per minggu, harus saya padatkan dalam waktu 2 hari. Implikasinya, dalam 2 hari itu saya harus berangkat pagi pulang malam, let’s say dari jam 8 pagi s.d jam 8 malam. Maka tak heran kalau saya baru sampai rumah jam 9 malam. Tantangan utamanya bukan karena lama bekerjanya, namun menjaga fokus selama 12 jam dalam 1 harinya 😀

Eh sebenarnya ada juga opsi ngerjain tugas saat di rumah menjaga anak. Ini berlaku bagi pak suami. Tapi bagi saya pribadi, entah kenapa saya bukan tipe orang yang bisa mengerjakan tugas kampus di rumah. Di rumah kalau udah lihat anak ya konsentrasinya hanya untuk anak aja. Ke dapur ya untuk masak dan cuci baju atau ngejemur 😀 Dan semakin asik karena yang saya kerjakan 2 hari itu bukan hanya perihal thesis PhD saya aja, tapi merangkup 4 project di luar PhD, publikasi, dsb, Alhamdulillaah… 🙂

  1. Masak memasak saat hari off ngampus + jagain anak

Kalau dulu saat hanya saya yang menjalani PhD, biasanya saya masak setelah saya sampai di rumah atau sekitar jam 8 malam. Tapi setelah pembagian hari ngampus lebih jelas, jadi saya bisa belanja dan memasak di hari saya di rumah. Kalau saya boleh jujur, saat PhD ini, justru waktu saya dengan anak lebih banyak. Lha wong dari 7 hari hanya 2-3 hari ngampusnya sisanya untuk anak dan keluarga, hoho… Ga juga deh, ada waktu pengajian, rapat tim Garuda45, maupun rapat dengan kepala BPKM Indonesia di London, mengisi kajian online atau offline, dsb. Yang pasti, waktunya jadi bisa lebih dimanfaatkan dengan lebih baik lagi.

  1. Tetap ada waktu untuk quality time dengan keluarga

Bisa jadi istilah PhD itu jalan-jalannya ya pas saat konferensi itu benar, hihi… Karena saya mostly jalan-jalan nya juga karena kebetulan ada konferensi di luar negeri. Hitung-hitung bertafakur untuk mengambil hikmah dari sejarah peradaban dunia di Eropa. Jadi pada akhirnya tetap akan ada masa kami berquality time bersama sekaligus mentafakkuri ciptaan-Nya. Jadi, bisa dibilang masa konferensi ini juga masa liburan saya (hiburannya emak-emak) 😀

  1. Terus kerjaan lain gimana? Kaya nulis blog ini atau menulis buku?

Kalau bisa dimasukin agenda dalam 2-3 hari saya ngampus, ya saya kerjakan di sela-sela itu. Atau yang paling sering, ya pas suami dan anak udah tidur, di atas jam 12 malam laah… Bisa asik nulis s.d jam 2 malam. Makanya punteen sekarang ga bisa nulis blog se-intens dulu. Dikarenakan ada prioritas yang harus didahulukan (aiih) 😀

Mungkin kalau dipikir, bagaimana bisa ya, kerjaan seminggu dikerjakan dalam waktu 2 hari. Emang itu badannya ga capek apa, dsb. Saya rasa jawabannya terletak pada satu kata, “barokah”. Jika Allah sudah limpahkan barokah-Nya, yang berat terasa ringan, pekerjaan banyak dapat dengan cepat ditunaikan. Bahkan di tengah segala kesibukan, Allah beri hadiah kecil karya penelitian kita menjadi yang terbaik di bidangnya, dengan beberapa award yang menyertai di sela konferensi Asia Pasifik dan Eropa, alhamdulillaah ala kulli hal. Masya Allah… apalah saya tanpa bantuan-Nya. Bagaimana mungkin semua dapat terlaksana tanpa iradat-Nya? Maka niatkan setiap aktivitasmu hanya untuk-Nya, semoga ia berkahi dan berikan kemudahan senantiasa.

Saya percaya, setiap orang pasti memiliki masing-masing perjalanannya, suka duka, pun tantangannya. Kalau saya? Alhamdulillaah aja! Selama senantiasa mengharap berkah dari-Nya, mengapa ragu untuk mengukir cita. Bukankah jika lelah kita Karena lillah akan membawa kebaikan dan banyak pahala.

Jadi kalau ditanya, capek ga? Mungkin bisa coba dibayangin dari paparan saya di atas tadi, hehe.. Tapi dengan kondisi yang bisa dibilang semakin “hectic” ini, saya justru bersyukur kepada Allah SWT. Lho kenapa bisa begitu? Karena bisa jadiii… Allah sedang mengajarkan saya untuk lebih mengefisienkan waktu lagi. Agar saya dapat mengisi hari dengan agenda-agenda yang lebih berarti. Menghindarkan saya dari perilaku sia-sia. Maka bersyukurlah dengan kesibukan, karena bisa jadi masa itulah yang membawa banyak kebaikan. Saya yakin masih banyak yang lebih lelah dibanding saya, dengan ujian yang mungkin lebih berat juga. Maka jangan pernah merasa kitalah orang yang paling merana di dunia, karena setiap orang memang akan diuji pada titik terlemahnya. Maka senantiasa bersyukurlah kita, niscaya ia akan tambahkan nikmat-Nya…

Terakhir, mohon titip doa agar Allah sehatkan senantiasa. Allah limpahkan kebaikan dan keberkahan untuk kami sekeluarga. Semoga dapat menjadi gambaran dan motivasi untuk kita semua, jika memang kita “bergerak” karena-Nya, niscaya Ia yang akan mudahkan jalan-jalan-Nya…

“So just hold on… And keep strong… And just remember, Allah gives the hardest battles to His strongest soldiers”

Advertisements