“A new baby is like the beginning of all things – wonder, hope, a dream of possibilities” (Eda J. LeShan)

Sudah lamaaa sekali saya mau nulis ini, mungkin draftnya udah ada di kepala sejak dua tahun yang lalu, namun baru bisa terealisasi saat ini. Saya masih ingat betul bulan Januari tahun 2013 lalu, saat putihnya salju menghiasi jalan-jalan di London yang berliku. Saat dimana Allah juga izinkan saya dan suami menjadi seorang ayah dan ibu.

Si kecil lahir di Queen Elizabeth Hospital, setelah 41 minggu + 6 hari berada dalam kandungan. Saat itu, hanya kami berdua disana, pasangan muda yang akan menjalani masa-masa mendebarkan ini tanpa keluarga. Rasanya momen melahirkan adalah salah satu momen paling sakral setelah pernikahan. Bagaimana tidak? Seorang ibu sudah siap mengorbankan jiwa dan raga demi melihat bayi mungil itu terlahir di dunia. Sang ayah sudah harap-harap cemas terus berdoa kepada Sang Maha Kuasa, demi keselamatan istri dan anaknya.

Eh eh, bukan itu sih yang mau saya ceritakan, 2 paragraf di atas hanya intro. Saya mau menceritakan pengalaman saya setelahnya. Setelah melalui masa-masa H2C (harap-harap cemas) itu berdua saja. Saya akan menjawab beberapa mitos seputar bayi yang baru lahir, yang mungkin sudah turun temurun dilakukan di Indonesia. Saya akan menceritakan guideline yang ada di Inggris atau hasil penelitian terbarunya, berikut dari ilmu-ilmu merawat baby newborn yang saya baca.

  1. Mitos pertama adalah BEDONG, atau Bahasa Inggrisnya mah “swaddle”
najwa-1
Najwa beberapa jam setelah dilahirkan, has just arrived at home from hospital 🙂

Jadi point intinya, saya tidak melarang bayi baru lahir untuk dibedong. Boleh saja… tapi ada aturannya. Karena manfaat dan bahaya bedong sudah dibahas panjang di jurnal Pediatrics dengan metode Systematic Review (bisa dibaca lengkap disini) yang artinya, sudah menggabungkan bukti-bukti dari penelitian yang ada di lapangan, dari berbagai negara.

Bedong itu memang bermanfaat, utamanya untuk membuat hangat, tapi bisa jadi overheating juga kalau terlalu lama atau salah pemakaiannya. Bedong juga bisa membuat bayi tidur lebih lama, mengurangi stress pada bayi, dan membantu regulasi gerakan motorik. Tapi, di sisi yang lain, bedong juga bisa menyebabkan hyp dysplasia atau perkembangan tidak normal dari persendian pangkal paha, bahkan dapat mengakibatkan terlepasnya tulang paha dari asetabulum tulang panggul (pelvis). Efek negatif yang lain yaitu, jika bayi ditidurkan telungkup dengan dibedong, dapat menyebabkan SIDS (Sudden Infant Death Syndrome). Untuk SIDS ini akan saya masukkan di penjelasan nomor 4. Efek lain bedong yaitu dapat meningkatkan resiko infeksi pernapasan jika terlalu kencang menggunakannya. Hasil penelitian di China dan Turki menunjukkan bahwa bayi yang menggunakan bedong memiliki resiko terkena infeksi pernapasan 4x lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak. Efek terakhir, yaitu jika bayi baru lahir langsung dibedong, dalam beberapa situasi dapat menyebabkan keterlambatan penambahan berat badan pada bayi.

Terus gimana dunk? Pertama, kalau mau membedong bayi, jangan diikat kencang-kencang atau kaki si bayi jangan dilurus-luruskan. Saat ini sudah ada bedong longgar dipasaran, itu lhoo yang pake resleting dan memang longgar. Kedua, membedong boleh saja, tapi jangan juga setiap saat dibedong anaknya, karena anak itu butuh banyak bergerak untuk melatih gerak motoriknya. Jadi, kalau saya dulu di UK, kebanyakan si kecil memang tidak dibedong, dalam beberapa kondisi aja, tapi kebanyakan memang tidak.

  1. Mitos kedua yaitu MENJEMUR ANAK

Kalau di Indonesia, saya sering melihat anak bayi dijemur di depan rumah, dibiarkan terkena sinar matahari, dibuka semua bajunya, lalu dijemur bisa sampai 1 jam lebih. Saya ga bilang kalau menjemur anak itu salah, toh benar si kecil memang butuh sinar matahari untuk membantu mendapatkan vitamin D untuk pertumbuhan tulangnya. Tapiii… lagi-lagi menjemur anak itu ada tata caranya, bahasa orang sini mah “how to do sunbathe properly”.

DSC_0011
Najwa saat dibawa untuk vaksin BCG di usianya yang 10 hari

Terus gimana cara benarnya? Yang pertama, anak bayi usia kurang dari 6 bulan, sangat tidak disarankan untuk terkena matahari langsung, yang paling baik adalah dengan terkena matahari yang masuk dari jendela (jadi sinar matahari tidak langsung). Lama menjemur juga bukan 30-60 menit apalagi lebih, tapi cukup 5-15 menit setiap harinya, ga setiap hari juga gpp. Gimana kami yang si kecil  lahir di musim salju? Masa harus dijemur diluar? Hehe… Jadi sebenarnya cukup dengan matahari yang masuk dari jendela, itu pun ga perlu dibuka semua bajunya gpp. Menggunakan baju juga gpp, dan jangan menggunakan topi. Yang perlu diingat lagi, dijemurnya bukan saat matahari jam 11.00-15.00 ya, karena itu adalah harmful sun alias matahari yang berbahaya.

Perlu diingat juga, mendapatkan sinar matahari berlebih apalagi di jam-jam harmful sun ini keluar dapat menyebabkan kulit terbakar atau bahkan menyebabkan kanker kulit. Itulah sebabnya orang di Inggris mah santai-santai aja perihal ngejemur anak. Kadar yang dibutuhkan sama si baby juga ga banyak-banyak amat, makanya jangan overdosis kalau menjemur anak ya. Arahan dari NHS (semacam Kemenkes) di Inggris bisa dilihat disini. Info sun bathing baby juga bisa dibaca disini.

  1. Mitos ketiga yaitu GURITA/GRITA

Tadi di point satu kita udah bahas perihal bedong, ini agak-agak mirip, yaitu mengenakan gurita pada bayi. Bisa jadi, kebiasaan menggunakan gurita ini hanya ada di Indonesia dan beberapa daerah di Asia. Kalau di Inggris sih, saya ga menemukan perlengkapan bayi ini di toko manapun juga 😀

Sebenarnya boleh ga sih? Kalau saya baca-baca jurnal kesehatan, pemakaian gurita ini sangat tidak disarankan. Kenapa? Karena saat bayi itu, bayi lebih banyak menggunakan pernapasan perut dibandingkan pernapasan dada. Kalau dada dan perutnya diikat kencang begitu, efeknya apa, si bayi bisa sesak atau sulit bernapasnya. Alasan rasional lain adalah tidak ditemukan manfaat berarti dari penggunaan gurita ini. Kalau di Inggris mah, anak-anak hanya menggunakan jumper sebagai dalaman. Tidak ada ikatan-ikatan kencang lagi di perut atau dada. Jadi kalau saya pribadi, si kecil tidak pernah mengenakan gurita sama sekali.

  1. Info tambahan, fenomena SUDDEN INFANT DEATH SYNDROME (SIDS)

Ini catatan tambahan lainnya. Yaitu, jangan membiasakan menidurkan anak dalam posisi tengkurap atau telungkup. Banyak penelitian sudah membahas efek ini, yaitu resiko SIDS atau biasa disebut Sudden Infant Death Syndrome. Jadi dulu ceritanya (uhuk-uhuk, pake ilmu epid nih 😀 ), sebelum tahun 1990, di UK orang tua disarankan untuk menidurkan anak secara tengkurap, dan entah kenapa angka kejadian kematian bayi mendadak ditemukan di banyak tempat. Setelah dilakukan riset-riset mendalam, akhirnya ditemukanlah bahwa posisi tidur anak yang tengkurap dapat menyebabkan hal ini. Setelah diberlakukan peraturan untuk menidurkan bayi secara terlentang, ditemukanlah resiko bayi yang tidur tengkurap ini 7 kali lebih tinggi untuk SIDS dibandingkan dengan yang tidur terlentang.

Catatan tambahan lainnya yaitu, pemakaian tutup kepala. Saya ingat betul saat bidan berkunjung ke rumah, saya diingatkan untuk tidak mengenakan topi kepada si kecil jika tidak sedang berada di luar. Setelah saya baca-baca lagi, bayi yang menggunakan topi di rumah bisa mengalami over-heating atau kepanasaan dan jika topi juga digunakan saat bayi tidur, dapat meningkatkan resiko SIDS sebesar 17x dibandingkan dengan bayi yang tidak mengenakan topi.

  1. Kontroversi yang lagi ramai dibicarakan, VAKSINASI

Oke, kita bahas topik yang lagi marak disinggung kembali. Ada yang pernah bertanya kepada saya, Najwa diimunisasi ga mba? Mengambil keputusan akan memvaksin anak atau tidak tentu harus didasarkan kepada fatwa-fatwa ulama dan timbang baik buruk dari segi medisnya. Saya sendiri adalah orang kesehatan, apalagi mahasiswi epidemiologi yang udah dicekokin mengenai HERD IMMUNITY, yang artinya kekebalan kelompok itu akan bergantung dari kekebalan individu. Contohnya apa? Kalau saja dalam masyarakat persentase orang yang mau divaksin kurang dari 80%, maka dapat menyebabkan terjadinya wabah penyakit di wilayah itu kembali, karena masyarakat itu tidak memiliki cukup kekebalan individu untuk menciptakan kekebalan masyarakat. Jadi jika ada yang bilang, anak saya tidak divaksin tapi tetap sehat, bersyukurlah karena bisa jadi ia terlindungi dengan pilihan 80% orang yang mau memvaksin anaknya, itulah yang dinamakan herd immunity. Dari segi kesehatan, tentu vaksinasi adalah suatu hal yang wajib dan sangat disarankan. Apalagi anak kesehatan masyarakat yang motto nya lebih baik mencegah daripada mengobati 😀

Jawaban saya adalah, Najwa divaksin lengkap, lebih lengkap malah dibanding Indonesia. Berhubung vaksin anak disini gratis, vaksin-vaksin mahal sekelas MMR dan meningitis pun saya berikan karena termasuk skema vaksin yang dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan Inggris. Karena sistem pendataan UK sudah bagus, kalau sudah ada jadwal vaksin, pasti orang tua akan mendapat surat atau telepon yang mengingatkan untuk membuat jadwal untuk vaksinasi anak. Karena si kecil lahir di Inggris, maka si kecil mendapatkan Red Book, sejenis buku catatan yang merekam tumbuh kembang sang anak, pun rekam jejak imunisasinya.

red-book
Red Book yang merekam perkembangan anak di Inggris

Kalau imunisasi dibilang konspirasi, kenapa juga orang Inggris atau negara-negara maju sangat concern perihal vaksin ini? Kenapa juga kalau mau haji dan umroh wajib vaksinasi? Itu sekelas Arab Saudi lho, yang pakar-pakar tafsir Qur’an dan Hadist nya berada disana. Di Saudi saja vaksin itu wajib hukumnya. Karena memang vaksin itu sudah terbukti dapat menanggulangi, mengeliminasi, bahkan mengeradikasi penyakit-penyakit ganas yang ada. Ga perlu lagi ada kejadian wabah yang membuat ribuan orang meninggal. Kalau baca-baca buku sejarah dan jurnal kesehatan, pasti udah tahu bagaimana parahnya kondisi masyarakat saat belum ada vaksin. Sekelas Inggris aja pernah ada masa-masa kegelapan karena wabah measles dan smallpox, yang membuat ribuan orang meninggal. Di Amerika, lebih dari 15,000 orang meninggal pada tahun 1921 karena difteri dan epidemic Rubella pernah terjadi pada tahun 1964-1965 dan menyerang lebih dari 2.5 juta orang Amerika, yang mengakibatkan 2000 bayi meninggal dan 11,000 kasus keguguran.

Gloucester_smallpox_epidemic,_1896;_Henry_Wicklin,_aged_6_Wellcome_V0031456
Gambaran wabah smallpox yang terjadi pada tahun 1979

Dan sebenarnya pada saat ini, semua penyakit-penyakit ganas ini sudah bisa ditanggulangi dengan vaksinasi. Angka kesakitan dan kematian jauuuh menurun dengan adanya imunisasi. Di Indonesia sendiri, berkat adanya imunisasi, wabah smallpox bisa dieradikasi pada tahun 1974. Sejarah lengkapnya bisa dibaca disini. Jadi, sebenarnya vaksin itu memang bentuk ikhtiar untuk pencegahan yang bisa kita lakukan. Kalau masih ada ragu juga, silahkan dibaca pembahasan selengkapnya dari sisi agama, fatwa ulama Indonesia dan dunia, serta dari sisi medis bisa dilihat disini, juga fatwa dari MUI mengenai vaksin. Jadi mangga dibaca-baca sebagai landasan untuk mengambil keputusan yaa…

Mungkin sekian sharing saya kali ini, lumayan panjang juga ternyata ya. Semoga bermanfaat. Kalau ada yang salah dalam paparan, itu berasal dari kelemahan saya dalam menyampaikan. Jika ada kebaikan yang bisa diambil, silahkan diterapkan dan semoga bisa menjadi pencerahan bagi banyak orang, terutama ibu dan calon ibu, serta calon orang tua lainnya.

“What it’s like to be a parent: It’s one of the hardest things you’ll ever do but in exchange it teaches you the meaning of unconditional love.” (Nicholas Sparks dalam The Wedding)

Ba’da Shubuh
23 Ramadan, pukul 04.20
Tottenham, London

Advertisements