“If anyone travels on a road in search of knowledge, Allah will cause him to travel on one of the roads of Paradise” (Prophet Muhammad SAW)

Mba, anaknya divaksin atau tidak?
Mba, saya dengar vaksin terbuat dari bahan yang haram, apakah benar?
Mba, kalau anak saya mengalami kipi (kejadian ikutan pasca imunisasi) bagaimana?

Iya, itulah beberapa contoh pertanyaan yang masuk ke inbox saya. Saya yakin sekali setiap ibu pasti memiliki concern yang sama. Saya juga pernah berjanji untuk menuliskan hal ini, maka insya Allah pada postingan blog kali ini, saya akan memenuhi janji untuk membahas vaksin dari sisi epidemiologi. Iya, karena itulah bidang keilmuan yang saya tekuni. Yang belum paham epidemiologi itu apa, bisa dibaca disini. Saya tidak akan membahasnya dari sisi kedokteran atau imunologi, tapi lebih kepada ilmu epidemiologi, dan yang lebih spesifik, belajar dari ilmu infectious disease modelling (bagian dari ilmu epid yang saya pelajari). Saya merasa memiliki kewajiban untuk berbagi, semoga dengan sedikit ulasan ini, dapat bermanfaat bagi orang tua maupun calon orang tua.

  1. Najwa (putri saya) divaksin atau tidak?

Iya, putri saya diimunisasi lengkap. Saya berikan alasan saya di bawah ini insya Allah.

  1. Kan ada imunitas alami yang dimiliki oleh setiap anak, lalu kenapa masih harus vaksin? Apa benar tubuh harus dilatih dulu? Bukannya tubuh sudah otomatis menghasilkan antibody?

Kita mengetahui bahwa vaksin adalah suatu upaya untuk mengenalkan suatu jenis virus (yang sudah terlebih dahulu dilemahkan) agar limfosit dalam tubuh menghasilkan antibody untuk melawan jenis virus tersebut. Iya benar, ibaratnya tubuh ini dilatih untuk mengenal virus tertentu. Lha, bukannya secara otomatis memang tubuh akan menghasilkan antibody kalau ada virus? Apakah anak tidak cukup dengan ASI, tahnik, multivitamin dan herbal saja agar menjadi imun?

Saya tidak bilang bahwa ASI, multivitamin, tahnik, atau herbal itu tidak baik. Saya pro-ASI koq, anak full dapat ASI 2 tahun. Multivitamin juga tidak ketinggalan. Tahnik pun sunnah yang diajarkan Rasulullaah, maka saya meyakini benar kebermanfaatannya. Namun pertanyaannya, apakah benar, sarana di atas cukup untuk membuat imunitas anak berkembang baik untuk melawan virus-virus dan penyakit? Apakah vaksin memang tidak diperlukan?

Jadi begini, ada dua jenis imunitas, yaitu memori imunitas/imunitas aktif dan imunitas bawaan/imunitas pasif. Contoh imunitas bawaan adalah ASI. Sebagai gambaran agar mudah pemahamannya, analoginya ibarat Allah telah menganugerahkan kemampuan akal pada manusia (imunitas bawaan). Kita bisa menguatkan kemampuan otak ini dengan suplemen DHA, EPA dan makan makanan bergizi sebagaimana multivitamin, herbal, madu dan sebagainya. Suplemen ini akan meningkatkan daya ingat otak secara umum, namun tidak spesifik. Sehingga menguatnya daya ingat itu tidak akan menjadikan kemampuan otak kita mampu menjawab soal-soal dalam ujian fisika, kimia atau biologi. Untuk menstimulasi otak menguasai pelajaran-pelajaran tersebut, kita harus merelakan diri kita ‘terpapar’ kisi-kisi soal yang akan keluar pada saat ujian. Jika kita latihan dengan soal-soal di suatu bidang tertentu, maka saat menghadapi soal ujian betulan, kita sudah siap dan bisa mengerjakan dengan mudah. Dan yang harus diingat, memori ini spesifik, latihan soal ujian fisika misalnya, tidak akan menjadikan kita jadi mampu mengerjakan soal biologi. Istilahnya kita harus rela ‘terpapar’ belajar pada masing-masing subyek pelajaran. Demikian juga vaksin, vaksin campak ya untuk melindungi campak, vaksin cacar ya untuk cacar. Bukan berarti mereka yang sudah divaksin campak, tidak akan tertular cacar, karena memang memori imunitas ini haruslah spesifik dalam mengenal virus tertentu.

  1. Bener ga sih adanya herd immunity? Anak saya sudah divaksin tapi masih aja kena penyakit. Apa vaksin berfungsi? Kalau setelah divaksin saja orang masih bisa sakit, bagaimana bisa dibilang orang yang divaksin melindungi orang lain?

Herd immunity atau kekebalan kelompok (komunitas) merupakan situasi dimana sebagian besar masyarakat terlindungi/kebal terhadap penyakit tertentu sehingga menimbulkan dampak tidak langsung (indirect effect) yaitu turut terlindunginya kelompok masyarakat yang bukan merupakan sasaran imunisasi dari penyakit tertentu. Dan yang perlu diingat, threshold herd immunity ini berbeda untuk setiap penyakit dan setiap negara (wilayah), karena akan bergantung dari kecepatan penularan, pun jumlah orang yang terinfeksi.

Herd immunity
Gambaran herd immunity pada suatu populasi

Jadi begini, hal yang menyebabkan seseorang dapat terinfeksi penyakit bergantung pada beberapa hal: 1) I – Jumlah orang yang terinfeksi (karena mereka adalah sumber penularan) 2) S – Jumlah orang yang susceptible/sehat (karena kelompok ini adalah orang yang mendapat paparan) 3) R0 (basic reproduction number) atau jumlah seseorang yang sakit untuk menyebarkan penyakitnya ke beberapa orang dalam satu waktu 4) c- contact pattern atau seberapa banyak kontak yang terjadi antara yang sakit dengan yang sehat. Atau rumus sederhananya menjadi E (yang terinfeksi) = R0 x c x I x S

Naah… disini kita bisa melihat beberapa faktor yang mempengaruhi. R0 saja berbeda-beda setiap penyakit, mulai dari Ebola (1.5-2.5), Infuenza (2-3), Pertussis (5.5), Polio (5-7), Smallpox (5-7), hingga measles/cacar (12-18). Angka-angka ini menunjukkan apakah? Angka ini bermakna perkiraan dari satu kasus penyakit, dapat menularkan keberapa banyak orang dalam satu waktu. Misal measles yang paling tinggi, dari satu anak yang terinfeksi cacar, dapat menularkan kepada 12-18 orang lain. Pun tingkat kontak kita dengan orang lain. Bagi mereka yang berdesak-desakan di KRL (contohnya :D) atau sekolah akan memiliki resiko lebih besar terhadap penularan dikarenakan jumlah kontak yang banyak dalam satu hari. Jadi semakin banyak kita memiliki kontak, tentu semakin banyak kita terpapar.

R0 - 2

Lalu kenapa ada orang yang divaksin dan masih saja kena penyakit? Untuk memastikan suatu wilayah “bersih” dari penyakit, harus memenuhi kaidah herd immunity threshold. Artinya, kalau minimum cakupan imunisasi tidak tercapai di suatu wilayah, bisa dipastikan penularan akan tetap berlangsung. Itulah sebabnya ada orang yang tidak divaksin tapi sehat (bisa karena herd immunity threshold tercapai atau 4 faktor di atas rendah) dan orang yang sudah divaksin tetap sakit (tingginya 4 faktor di atas ditambah herd immunity rendah). Namun sebagai catatan, bagi mereka yang sudah divaksin, karena tubuh sudah latihan, sudah punya kisi-kisi penyakitnya, jadi akan lebih mudah menghadapi penyakit tsb (lebih ringan gejala atau tidak lebih parah kondisinya).

  1. Di negara maju, banyak laporan anak menjadi autis, asma, alergi, dsb setelah diimunisasi. Ada juga tuh doktor dan professor yang antivaksin dengan argumen ilmiahnya. Katanya vaksin malah bisa menyebabkan autisme kepada anak. Benar ga tuh?

Pertama saya mau nyinggung tentang Bapak Andrew Wakefield yang terkenal sebagai “the father of antivaccine movement” disebabkan penelitian yang dipublishnya pada tahun 1998 yang menarik kesimpulan bahwa vaksin MMR atau MR dapat menyebabkan autisme dan gangguan intestinal. Weits… terdengar ilmiah bukan? Tapi jangan salah, si bapak ini yang background nya memang bukan imunologi, dicabut jurnal papernya, dan dinyatakan telah melakukan penipuan atas hasil studinya. Penjelasan lengkapnya bisa dibaca disini.

Jadi, saya mau menggarisbawahi bahwa opini yang menyatakan bahwa vaksin menyebabkan asma, autis, atau alergi tidak terbukti secara ilmiah. Memang ada kasus seperti di atas, namun hanya terangkum dalam penelitian case series (kumpulan kasus). Saat dilakukan sebuah studi besar dengan menggunakan jumlah peserta studi yang banyak (Dales, et.al 2001, Makela A et.al, dll), tidak terbukti bahwa vaksin menyebabkan hal di atas.  Mengapa jumlah pasien itu penting dalam penelitian epidemiologi? Karena jumlah sampel menentukan kekuatan studi, semakin sedikit jumlah sampel, semakin besar kemungkinan bias dari hasil yang didapat. The All Party Parliamentary Group on Primary Care and Public Health, WHO, British Medical Association, Royal College of General Practitioners, Royal College of Nursing, Faculty of Public Health Medicine, United Kingdom Public Health Association, Royal College of Midwives, Community Practitioners and Health Visitors Association, Unison, Sense, Royal Pharmaceutical Society, Public Health Laboratory Service and Medicines Control Agency juga menyatakan bahwa vaksin MMR aman dan tidak terbukti memberikan efek samping sebagaimana di klaim oleh Andrew Wakefield di atas.

Kalaupun kita pernah melihat video atau membaca artikel yang memberikan argumen bahwa vaksin menyebabkan abcd, ada baiknya kita periksa langsung sumber ilmiahnya. Apakah publish di peer reviewed jurnal dengan akreditasi internasional, apakah ada penelitian lain yang serupa dan menemukan hasil yang berbeda, apa ada perbedaan subjek populasi, study design, karakteristik sampel, analisa statistik, dsb. Seorang scholar haruslah bisa menyikapi informasi dengan bijak. Tidak bisa kita menelan mentah sebuah informasi dari satu sisi yang kita dengar. Jika kita belum memiliki ilmunya, bertanyalah dengan yang ahlinya, atau minimal tidak langsung reaktif menyebarkan sesuatu yang tidak kita tahu kebenarannya. Bukankah semua yang kita share di media sosial ini akan diminta pertanggungjawabannya?

  1. Setelah vaksin, anak saya malah demam. Apakah kipi tidak dievaluasi?

Nah… tadi saya sudah bilang bahwa vaksin tidak terbukti menyebabkan autis. Tapi memang benar ada efek samping dari vaksin ini, dan kita sebut sebagai kejadikan ikutan pasca imunisasi (kipi). Kipi ini termasuk demam ringan, ruam merah, bengkak ringan dan nyeri di tempat suntikan setelah imunisasi adalah reaksi normal yang akan menghilang dalam 2-3 hari. Kipi ini biasanya bersifat ringan, lebih lengkapnya mengenai efek samping ini bisa dibaca disini.

Lalu bagaimana dengan penemuan kipi yang tidak ringan? Ada beberapa hal yang perlu dievalusi di lapangan. Orang tua haruslah memahami bahwa ketika anak akan diimunisasi, sang anak haruslah dalam kondisi sehat, bukan sedang flu atau memiliki gejala penyakit yang lain. Karena hal ini akan mempengaruhi jumlah antibody di dalam tubuh. Pun petugas kesehatan harus menanyakan kepada setiap orang tua apakah sang anak dalam kondisi sehat. Lalu apakah benar kipi tidak dievaluasi? Yang saya ketahui, kipi ini terus berusaha dimonitor oleh pemerintah, bahkan ada pokja untuk kipi sendiri dalam program imunisasi. Contoh dalam kasus pemberian vaksin MMR di Indonesia tahun 2016, tercatat dari 17,133,271 vaksin yang sudah diberikan, hanya ada 17 laporan anak sakit setelahnya. Itupun semua hasilnya menyatakan koinsiden, atau sakit yang terjadi hanya kebetulan setelah imunisasi, dan ditemukan penyebab asli penyakit yang diderita.

  1. Apakah vaksin sudah diujicoba? Bagaimana menguji bahwa vaksin aman? Apa mungkin penelitian vaksin belum tuntas?

Sebagaimana dengan penelitian obat, vaksin hingga sampai turun di pasaran haruslah sudah lulus uji coba terlebih dahulu. Ada beberapa tahapan, mulai dari ujicoba kepada hewan. Diperkirakan hingga 5 juta hewan setiap tahun menjadi subjek penelitian sebelum uji vaksin/obat itu diujicobakan kepada manusia. Jadi kalau dibilang vaksin tidak diuji coba, tentu adalah asumsi yang salah.

Bagaimana yakin bahwa vaksin aman untuk manusia? Berikut adalah kumpulan penelitian vaksin kepada manusia, untuk melihat apakah ada efek samping, pun tingkat efektivitas vaksin tsb. Jangan dikira jumlah sampel yang diikutsertakan hanya belasan (seperti penelitian Andrew Wakefield), tapi jumlah sampel yang diuji coba mencapai 3 juta sampel (tentu kekuatan studi nya besar dong).

Jika ada yang berkata “Saya tidak antivaksin, selama vaksin itu aman untuk manusia (tidak ada efek samping)”, yang harus dipahami adalah efek samping vaksin yang beredar adalah ringan. Dan jika vaksin terbukti membawa lebih banyak keburukan, tentu peredaran vaksin akan dihentikan. Hal ini sama seperti meminum obat, obat mana yang tidak memberikan efek samping? Apakah karena obat memiliki efek samping kemudian kita memilih untuk tidak minum obat sama sekali? Maka memvaksin atau tidak adalah pilihan, yang harus kita takar manfaat dan mudharatnya dengan benar.

  1. Apa betul jumlah penyakit berkurang karena vaksin? Apakah mungkin berkurangnya penyakit disebabkan oleh kualitas gizi atau sanitasi (kebersihan lingkungan) yang baik, dll?

Jadi begini, dalam penelitian epidemiologi, kita memiliki dependent variable, independent variables, menganalisa jika ada interaksi antar variable pun confounding factor. Confounding factor memiliki pengertian bahwa suatu faktor resiko X dianggap memiliki hubungan dengan akibat Y, tapi sebenarnya dipengaruhi oleh confounding factor Z. Jadi dari penelitian yang sudah dijalankan, peneliti sudah menganalisa berbagai faktor dan secara statistik dapat dibuktikan bahwa vaksin X benar dapat melindungi penyakit Y secara independent, adjusted by kondisi setiap sampel. Lalu apakah sanitasi dapat menyebabkan seseorang tidak terkena penyakit Y tanpa vaksin? Banyak penelitian sudah menjawab hal ini, bisa dibaca selengkapnya disini. Kesimpulannya? Sanitasi tidak memberikan perlindungan lebih terhadap penyakit dibandingkan dengan vaksin.

  1. Menurut saya vaksinasi itu adalah manipulasi data kesehatan dan konspirasi lembaga sekelas internasional. Mengapa generasi manusia bertahan beratus-ratus tahun lamanya tanpa vaksin?

Untuk menjawab hal di atas, kita belajar lagi yuk terkait dengan sejarah siapakah penemu vaksin. Berikut saya copykan tulisan teman saya di London yang sudah dengan panjang menjelaskan tentang penemu vaksin.

—–

Catatan sejarah mencatat suatu penyakit ganas yang mematikan yang berusia lebih dari 10.000 tahun. Penyakit ini bernama smallpox (di Indonesia dulu biasa dikenal sebagai ‘cacar’, bukan cacar air atau campak ya, penyakit cacar telah musnah di tahun. 1980, dan penyakit ini jauh lebih ganas). Smallpox disebabkan oleh 2 varian virus, yaitu variola mayor dan variola minor. Nama variola sendiri berasal dari bahasa latin, ‘varius’ artinya “totol” atau “bintil”. Angka kematian smallpox ini sangat tinggi, akibatnya dari 20% hingga 60% yang terkena akan meninggal. Dan kalaupun bertahan hidup, sepertiganya mengalami kebutaan. Yang bertahan hidup juga akan memiliki bekas luka di sekujur tubuh yang tidak enak dipandang. Pada anak-anak, angka kematian jauh lebih tinggi lagi. Di London (Inggris) angka kematian tercatat mencapai 80%, sedangkan di Berlin (Jerman) mencapai 98%. Artinya, jika menyerang anak-anak, hampir bisa dipastikan akan meninggal.

Saking ganasnya, smallpox diketahui lebih berpengaruh dalam menjatuhkan kerajaan Aztec dan Inca daripada penyerangan Conquistador Spanyol. Hanya dengan 180 orang melawan 6 juta pasukan, bangsa Eropa (Spanyol) mampu menaklukkan bangsa Indian di Amerika, dengan cara menyebarkan wabah smallpox pada pasukan musuh, akibatnya 3-4 juta orang meninggal akibat penyakit ini. Benar-benar cara yang sangat efektif, 180 orang melawan 6 juta pasukan, mengalahkan kisah penakhlukan Alexander the Great!

****

Smallpox: pembunuh para raja

Sekitar 3.000 tahun yang lalu di Mesir kuno, tinggallah seorang Firaun yang dikenal dengan sebutan Ramses V. Hampir 4 tahun lamanya dia dijuluki sebagai ‘dewa hidup / tuhan’ di Mesir, tapi akhirnya jatuh tumbang dan meninggal karena Smallpox. Gejala smallpox muncul dengan tiba-tiba, ditandai dengan munculnya demam tinggi dan munculnya bintil-bintil di seluruh permukaan tubuh. Bintil-bintil ini kemudian membengkak dan meletuskan nanah yang menular. Bintil ini dapat dilihat dari mumi Ramses V yang ditemukan pada tahun 1910 M. Muminya banyak terdapat bintil akibat smallpox disekujur tubuhnya (lihat gambar).

ramses 5
Mumi Firaun Ramses V yang penuh totol akibat meninggal karena Smallpox

Berdasarkan catatan sejarah, selain Ramses V, smallpox merupakan penyakit paling mematikan yang membunuh banyak raja dan tokoh-tokoh penting dunia, diantaranya Marcus Aurelius (180 SM), Raja Boranarja IV dari Siam (1534), William II of Orange (1650), Raja Gokomyo dari Jepang (1964), Queen Mary II Inggris (1964), Raja Nagassi di Ethiopia (1700), Tsar Peter II Rusia (1970), Raja Luis Perancis (1774), bahkan Presiden Lincoln Amerika (1863) juga terserang smallpox yang ganas ini sebelum mati terbunuhnya. Pada abad ke-20, sekitar 300 hingga 500 juta orang di seluruh dunia meninggal karena smallpox, jumlah yang sangat fantastis, jauh melebihi jumlah korban gabungan 2 perang dunia: PD 1 dan PD 2!

***

Ar-Razi, ilmuwan muslim pertama pencetus teori memori imunitas

Pertarungan melawan smallpox dan cikal bakal penemuan vaksin, dimulai ketika pada tahun 910 M, seorang dokter muslim berkebangsaan Persia, Abu Bakr Muhammad Bin Zakariya Ar-Razi (Rhazes), mengamati bahwa orang yang selamat dari penyakit smallpox ini tidak akan terkena penyakit ini untuk kedua kalinya seumur hidup mereka. Ar-Razi lalu mencatat dan mencetuskan untuk pertama kalinya dalam sejarah di bukunya tentang teori ‘adaptive immunity’ atau ‘acquired immunity’ atau ‘specific immune system’ atau immunological memory (memori imunitas). Simpelnya, kekebalan tubuh memiliki memori, ketika seseorang tertular penyakit ganas tertentu dan survive, maka ketika dia terpapar untuk kedua kalinya di masa mendatang, tubuh akan mengenali penyakit tersebut dan memberikan respon lebih cepat untuk memeranginya sehingga tidak akan menyebabkan sakit berkelanjutan. Kekebalan ini bersifat spesifik, artinya terpapar penyakit A akan memberikan kekebalan spesifik pada penyakit A di masa mendatang, tapi belum tentu bisa survive jika terpapar penyakit B lain yang karakteristik patogennya berbeda.

Ar-Razi selama hidupnya telah menulis 200-an kitab kedokteran, farmasi dan ilmu pengetahuan secara umum. Dalam bukunya, Ar-Razi mendeskripsikan gejala dan tanda penyakit smallpox dan dia adalah ilmuwan pertama dalam sejarah yang mendeskripsikan secara detil gejala dan tanda penyakit smallpox berdasarkan teknik pemeriksaan fisik dan membedakannya dengan penyakit campak (measles) ketika banyak dokter ketika itu belum mampu membedakan keduanya. Apa yang yang dilakukan Al-Razi inilah yang menjadi dasar dari metode differential diagnosis, yang dipelajari oleh mahasiswa kedokteran di berbagai belahan dunia hingga masa kini. Al-Razi menuliskannya dalam buku beliau berjudul ”Kitab al-Jadari wa al-Hasba” (Buku tentang Smallpox dan Campak). Di sini Al-Razi dengan tepat mendeskripsikan smallpox memiliki ciri: (i) menimbulkan wabah; (ii) menular lewat darah; (iii) dapat menyerang anak-anak maupun dewasa. Begitu berharganya buku ini sehingga beberapa kali diterjemahkan ke bahasa Latin, Inggris, Jerman, dan Perancis. Dunia barat mengenal Al-Razi melalui versi Latin namanya, yaitu Rhazes. Sejarawan menyebutkan, buku ini dicetak ulang di Eropa sebanyak 40 kali, dalam rentang tahun 1498-1866. Manuskrip asli kitab ini, saat ini disimpan di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Hasil karyanya bertahan lebih dari 1 milenium, dan bahkan sampai kini, edisi terjemahannya masih diperjual belikan dan bisa kita dapatkan via Amazon.

Arrazi
Halaman terakhir dari kitab ar-Razi yang sekaligus memperlihatkan gambar ar-Razi tengah mengobati pasien anak-anaknya dan halaman pertama kitab Ar-Razi yang menjelaskan perbedaan antara Smallpox (cacar) dan Measless (campak)

Selain itu, Al-Razi juga menulis buku teks kedokteran berjudul “Al-Hawi fi Ath-Thibb”, namun Al-Razi meninggal dunia sebelum menyelesaikan buku ini. Para muridnya yang akhirnya menyelesaikan penulisan Al-Hawi. Al-Hawi diterjemahkan ke bahasa Latin pada tahun 1279 dengan judul Liber Continens dan menjadi salah satu buku teks rujukan utama pengajaran ilmu kedokteran di Paris tahun 1395. Bagian khusus 52 dalam buku Al-Hawi yang berhubungan dengan ilmu farmakologi, dianggap sebagai referensi pertama dalam bidang farmakologi di Eropa setelah masa renaissance. Al-Hawi terdiri dari 23 jilid menurut cetakan the Othmania Publishing House di India. Di jilid 17 buku Al-Hawi, Al-Razi juga mendeskripsikan tentang smallpox dan campak. Al-Razi juga menulis buku berjudul “Risalah fi Amradh al-Athfal wa Al-‘Ianaya Bihim”. Banyak sejarawan menyebut buku ini sebagai buku pertama yang khusus membahas bidang pediatrik (ilmu kesehatan anak). Buku ini pun diterjemahkan ke bahasa Latin, Inggris, Jerman dan Italia. A-Razi juga ilmuwan pertama yang memperkenalkan kelompok control dalam eksperimen untuk membandingkan suatu keberhasilan intervensi medis, yang hingga kini menjadi dasar dari eksperimen kedokteran modern.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ilmuwan-ilmuwan muslim adalah peletak dasar pratik kedokteran di Eropa. Teori memori imunitas ini juga dikembangkan oleh Ibnu Sina, 1 abad setelahnya, yang juga seorang dokter dan ilmuwan muslim yang kemudian bersama Ar-Razi dijuluki sebagai “The father of modern medicine” alias “Bapak kedokteran modern”. Hingga abad ke 18, 8 abad lamanya kedua buku ilmuwan muslim ini menjadi rujukan wajib bagi mahasiswa kedokteran di Eropa. Google bahkan pernah menampilkan sosok Ar-Razi untuk memperingati jasa-jasanya dalam ilmu pengetahuan. Buku Ar-Razi ini mencapai puncak popularitasnya ketika teknik variolasi diperkenalkan oleh Lady Mary Wortley Montagu dari kekhalifahan Turky Ustmany ke Eropa.

  1. Apakah vaksin satu-satunya solusi kesehatan?

Saya tidak mengatakan bahwa vaksin adalah satu-satunya solusi kesehatan. Pemberian ASI, metode tahnik, thibun nabawwi silahkan dikerjakan sesuai dengan tata cara Rasullullah, namun tidak pula menafikan ikhtiar kita untuk mencegah kemudhratan dengan sesuatu yang mubah hukumnya. Mengenai hukum vaksin dan pembahasan dari sisi agama, fatwa ulama Indonesia dan dunia, serta dari sisi medis bisa dilihat disini, juga fatwa dari MUI mengenai vaksin. Hukumnya mubah. Negara islam sekelas Saudi saja mewajibkan vaksin kepada warganya, karena lebih banyak manfaat dibanding mudharat dengan adanya vaksin. Jadi mangga dibaca-baca sebagai landasan untuk mengambil keputusan ya.

Benar bahwa kita ingin memilih dan memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita. Benar bahwa kita ingin menjadi hamba yang taat kepada-Nya. Maka kaji ilmu dan dapatkan pemahaman, ambillah kebaikan yang sudah Allah sediakan, lalu sandarkan ikhtiarmu kepada Allah Yang Maha Menjaga dan Memelihara setiap insan. Dan ambillah hikmah dari sejarah, bahwa ternyata seorang muslim lah yang lebih dahulu menemukan vaksin untuk melindungi umat manusia, untuk mencipta perbaikan, untuk mengurangi kemudharatan. Lalu apa lagi yang membuat kita ragu untuk menjemput kebaikan?

“Guidance is not attained except with knowledge and correct direction is not attained except with patience.” (Ibn Taimiyah)

Menulis 3.5 jam di penghujung malam,
London, 19 November 2017
Pukul 04.45

Advertisements