“Pregnancy seems designed to prepare you for life as a mother. You start making sacrifices nine months before the child is born, so by the time they put in an appearance you are used to giving things up for them.” (Brett Kiellerop)

 The first surprise – Am I pregnant?

Pertengahan Desember lalu, saya memutuskan untuk pergi ke GP (dokter umum kalau di Indonesia) dikarenakan kondisi badan yang dirasa sudah tidak ‘bersahabat’ lagi. Entah mengapa saya merasa begitu cepat lelah, cepat kehabisan nafas, dan seringkali menemukan tangan saya gemetaran (tremor) tanpa ada sebab. Akhirnya saya diminta pergi ke Rumah Sakit untuk melakukan pemeriksaan darah. Saat itu menjelang libur panjang akhir tahun, jadi saya dijadwalkan bertemu dokter lagi untuk mengetahui hasil tes darah pada awal Januari.

26 Desember 2017 – Inilah hari dimana saya mengetahui bahwa ternyata ada benih janin yang Allah titipkan di dalam rahim saya, saat alat canggih dunia kedokteran itu menunjukkan tanda garis 2. Alhamdulillaah tsumma alhamdulillaah

Next surprise – I am Hyperthyroid

4 Januari 2018 – Hasil tes darah sudah ada, saya begitu kaget mengetahui hasilnya. Senior nurse itu mengatakan, saya harus segera membuat appointment dengan endocrinologist karena terindikasi mengalami ‘hyperthyrotoxicosis’ atau ‘hyperthyroid’ dengan level yang sudah parah sekali. Sistem kesehatan di Inggris memang sudah sangat baik, diluar waktu tunggunya yang bisa jadi sangat lama. Jadwal endocrinologist di RS dekat rumah paling cepat awal April, sedangkan di UCLH (UCL Hospital) paling cepat ada slot akhir Januari. Betapa kaget ia mengetahui bahwa saya sedang hamil. “You really need to see an endocrinologist then, your condition is very dangerous for you and your baby”.

Hyperthyroid adalah sebuah kondisi dimana kelenjar thyroid menghasilkan begitu banyak hormon thyroid sehingga level hormon thyroid di dalam tubuh sangat tinggi. Dan kondisi saya saat itu berada pada level terburuk, hingga tes darah menunjukkan serum FT4 level >100 (tinggi sekali) dan TSH level <0.01 alias undetectable. Ternyata, hyperthyroid ini dapat menyebabkan pre-eklamsi bagi ibu hamil, palpitasi, detak jantung cepat, dsb. Sedangkan untuk janin dapat menyebabkan keguguran, stillbirth (bayi lahir mati), atau BBLR (berat badan bayi lahir rendah). Laa hawla wala kuwwata ila billaah…

“You really need medication now. But GP can’t prescribe for hyperthyroid patients, they only can give prescription for hypothyroid patients. You have to meet endocrinologist asap”, kata senior nurse. Saya langsung membawa rujukan ke RS, mendaftarkan diri di Antenatal Department (disini wanita hamil perlu teregistrasi di Antenatal dan nantinya akan terus difollow up sepanjang kehamilan). Qadarullah saya masih harus tetap menunggu, karena midwife di RS tidak bisa banyak membantu. Allahu ya qawwiy… Kuatkan ya Allah…

10 Januari 2018 – Sudah sekian pekan lamanya saya hamil, hyperthyroid dengan level begitu tinggi, dan masih juga belum mendapatkan pengobatan. Tapi hari itu, saya sungguh merasa tidak enak badan. Saya merasakan detak jantung saya begitu cepat, kisaran 120 per menit, tangan saya gemetaran begitu hebat (shaking). Saya putuskan untuk ke GP dan beruntung masih mendapat slot pagi itu untuk bertemu dokter. Sang dokter begitu kaget melihat hasil tes darah saya, segera ia merujuk saya ke Ambulatory Medical Unit di RS. Ia langsung menelpon dokter jaga di RS. “You are very lucky, one of the doctor on call is an endocrinologist. He will be happy to meet you there. You really need medication asap”.

Jadilah saya pergi ke RS ditemani suami siang itu. Iya, masih dengan waktu tunggu yang begitu lama. Setelah menunggu kurang lebih 4 jam untuk mengantri giliran, cek kondisi vital, ambil darah, menunggu hasil tes darah, dan akhirnya bertemu dengan dokter jaga. Alhamdulillaah saya sudah bisa mendapatkan resep dari endocrinologistnya, saya diberikan PTU 200 mg untuk 3x sehari. Setelah itu, saya langsung dibuatkan appointment untuk bertemu endocrinologist di tim Antenatal Department. Alhamdulillaah…

Setelah saya pikir-pikir, sepertinya saya sudah mengalami hyperthyroid sejak satu tahun lalu, karena gejala-gejalanya sebenarnya sudah dirasakan, cuma saya tidak ambil pusing. Saya kira hanya karena efek kelelahan saja (dasar emaknya Najwa). Untuk muslimah yang lain, untuk jaga-jaga, beberapa gejala hyperthyroid adalah: berat badan (BB) turun mendadak, nafsu makan meningkat, cepat lapar, makan banyak tapi tetap tidak menambah BB, gemetaran, jantung berdebar cepat, cepat lelah, ada benjolan pada leher (butterfly shape), dsb. Hyperthyroid akan membuat metabolisme dalam tubuh bekerja cepat, sehingga makanan yang masuk akan cepat dicerna kembali dan tubuh belum sempat menyerap lemak, itulah sebabnya ciri utama hyperthyroid adalah penurunan BB yang signifikan.

Sebenarnya BB saya sudah turun 9 kg sejak November 2016 – Januari 2017 lalu, hingga berada pada minus 10-13 kg dari BB awal. Per bulan Agustus 2017 saya sudah sering merasa ngos-ngosan naik turun tangga. Dan saat berhaji kemarin tidak bisa dipungkiri, kaki dan tangan saya terasa gemetaran saat shalat. Allah Maha Baik, masih menguatkan saya untuk mengerja segala aktivitas di tahun 2017, tahun padat konferensi, mengerjakan thesis, menulis 2 buku, bahkan berhaji dengan kondisi hyperthyroid. Allahu akbar… Laa hawla wala quwwata illa billah… Memanglah tiada daya dan upaya selain dari Allah SWT.

Will I have a Baby or Is It Molar Pregnancy?

Ada satu kekhawatiran yang masih saya pikirkan. Beruntung saya memiliki teman (atau lebih tepatnya sosok kakak) di London yang merupakan Obgyn (dokter ahli kandungan). Beliau adalah muslimah asal Indonesia yang bekerja sebagai dokter kandungan disini. Saat saya ceritakan kondisi saya, dia berkata “Ya iyalah, mana ada dokter lihat level FS4 dan TSH level segitu didiemin aja, apalagi kamu hamil. Udah cek ke obgyn? Better coba dicek juga apakah ada kemungkinan molar pregnancy atau ndak”.

Molar pregnancy atau biasa kita sebut hamil anggur adalah suatu kondisi dimana fetus tidak terbentuk secara sempurna di dalam rahim dan bayi tidak dapat berkembang. Kehamilan anggur tetap akan terdeteksi garis 2 pada test pack, karena kadar Hcg di dalam urine juga tinggi pada molar pregnancy. Molar pregnancy memang kasusnya sangat jarang (rare case) dan hanya dapat didiagnosis dengan USG pada saat kehamilan memasuki pekan ke 8-14. Gejala lain yang biasanya dirasakan adalah pendarahan dengan discharge berwarna gelap berbentuk seperti buih-buih anggur, severe morning sickness, dan terkadang bengkak pada kaki. Entah kenapa saya juga beberapa kali merasakan rasa sakit di abdomen bagian bawah. Jadilah saya putuskan untuk mengecek hal ini. Seperti biasa, prosedurnya saya harus ke GP dulu, membuat laporan, lalu GP membuat rujukan ke RS. Beruntung hari itu, pagi saya ke GP dan sore jam 4 sudah mendapat appointment di RS ke Early Pregnancy Unit untuk di-USG. Oya, disini saya tidak perlu memikirkan biaya sama sekali. Seluruh pemeriksaan, pelayanan, dan pengobatan ditanggung oleh pemerintah Inggris.

12 Januari 2018 – Sore itu hati saya begitu berdebar menanti keputusan Allah. Saya mencoba menguatkan hati saya jika memang Allah belum memberikan amanah anak kedua kepada saya. Saya coba kuatkan hati sebisa saya, mencoba bersikap tenang, dan tawakkal akan keputusan-Nya. Iya, lagi dan lagi saya coba ubah kekhawatiran saya menjadi lantunan doa ikhlas, agar apapun ketetapan dari Allah, akan bisa saya terima dengan lapang dada. Akan tetap saya syukuri ketetapan-Nya, meski mungkin tetap akan ada rasa kecewa dalam dada. Bismillah wa tawakkal ‘alallaah…

Di ruangan gelap itu, sang senior midwife mengatakan, “All is well. You are currently pregnant. It’s about 6 weeks and 3 days. Don’t worry”, ujarnya. Masya Allah… Alhamdulillaah tsumma alhamdulillaah… Tak terasa ada air mata haru di penghujung kelopak saya. Ternyata Allah mengabulkan doa saya di rumah-Nya yang mulia, lantunan doa agar Allah titipkan amanah anak shalih/ah ke dalam rahim saya. Subhanallaah walhamdulillaah…

Endocrinologist said, “It is Grave’s Disease”

24 Januari 2018 – Akhirnya di hari inilah saya bertemu endocrinologist di Antenatal Department. Oh iya, enaknya kalau di Inggris, di antenatal ini sudah terintegrasi dengan konsultan-konsultan ahli penyakit dalam, ahli kandungan, midwifes, dsb. Jadi memang masalah-masalah seputar kehamilan tetap akan dirujuk kepada Departemen yang sama.

“I think your overactive thyroid caused by Grave’s disease”, ujar endocrinologist. Jadi 3 dari 4 kasus hyperthyroid memang disebabkan oleh penyakit ini, sebuah kondisi autoimun dimana sistem kekebalan tubuh kita (yang seharusnya menjaga), malah menyerang tubuh. Dalam hal ini, yang diserang adalah kelenjar thyroid sehingga menyebabkannya overactive dan menghasilkan begitu banyak hormon thyroid. Subhanallaah… mungkin ini adalah salah bentuk dari ujian-Nya. Tak mungkin pula saya menggerutui ketetapan-Nya. Allah sudah berikan sehat hampir 29 tahun dalam kehidupan saya, mana mungkin saya akan menggerutu saat diberi sakit sedikit seperti ini saja. Alhamdulillaah ‘ala kulli hal

Endocrinologist melanjutkan perkataannya, “I am a bit surprised that you can get pregnant in your condition. Because the abnormal level of your hormone, actually the chance to get pregnant is very small.”  Alhamdulillaah… kembali Allah mengingatkan, bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Jika memang sudah rezeki yang digariskan untuk sang hamba, ia tidak akan pernah lari kemana. Begitupun sebaliknya, jika bukan rezeki kita, tidak mungkin kita akan mendapatkannya. Maka belajar bersyukurlah atas setiap karunia-Nya, saat Allah memberi apa yang kita pinta, pun bersabar saat Allah menangguhkan keinginan dan asa…

Meski sudah memulai pengobatan, tubuh saya masih belum bisa kembali normal. Badan belum bisa diajak ‘ngebut’ seperti biasanya. Padahal di awal Januari ini adalah target saya menyelesaikan thesis. Setiap kali ke kampus, saya masih belum bisa produktif seperti biasanya. Level thyroid dalam tubuh benar-benar meminta tubuh saya untuk istirahat. Jangan ditanya gimana “rewel”nya pak suami, sudah langsung “direm” semua aktivitas ke depan diluar prioritas. Itu pula yang menyebabkan saya belum bisa memenuhi undangan-undangan kajian online di tahun 2018 pun mengurungkan niat untuk ke Indonesia saat Ramadan ini, semoga Allah berikan kesempatan di waktu yang mendatang. Akhirnya saya sampaikan kondisi kesehatan saya kepada supervisor, dan saya memang diizinkan untuk istirahat. Saya akhirnya benar-benar off dari kegiatan kampus selama sebulan.

9-21 Februari 2018 – Sejak September 2017, kami sudah merencanakan untuk pergi umrah di bulan Februari 2018. Aplikasi visa umrah dan Mesir pun sudah diurus, tiket pesawat sudah dibeli, akomodasi sudah dibooking, dsb. Kami ingin melalui perjalanan yang sebentar ini untuk menanamkan tauhid uluhiyah kepada si kecil, karena kami tidak mengajaknya ke tanah suci saat berhaji kemarin. Usia manusia siapa pula yang tahu kapan akhirnya. Kami galau jadi berangkat atau ndak mengingat kondisi tubuh yang baru saja mulai dipulihkan. Hasil tes darah terakhir menunjukkan penurunan level FS4 yang cukup signifikan (artinya hormon thyroid yang dihasilkan tubuh mulai berkurang) meski belum mencapai titik normal dan TSH level yang masih setia pada angka <0.01. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya kami putuskan tetap berangkat, tapi dengan catatan “ga ngoyo”, pak suami sudah wanti-wanti untuk tidak diforsir untuk ibadah disana, sesuai kemampuan saja. Alhamdulillaah suami dan anak begitu siaga menjaga, bahkan si kecil tak hentinya bertanya “Are you okay bunda?”. Lihatlah saat ia mendorong kursi roda sang bunda di saat sa’i, begitu senang ia meringankan beban sang bunda. Alhamdulillaah tsumma alhamdulillaah…

hamil 2

Another surprise, Urinary Retention??

25 Februari 2018 – Pasca kembali ke London setelah umrah, saya merasakan kondisi badan yang mulai membaik. Saya niatkan senin depan (26 Februari) untuk mulai konsentrasi menyelesaikan thesis saya. Sampai di London hari Rabu, saya istirahatkan badan hari Kamis s.d Minggu. Qadarullaah, lagi-lagi Allah berkehendak lain. Minggu pagi itu saya tidak bisa pipis sama sekali. Saya pikir mungkin hanya anyang-anyang biasa, saya minum 5 gelas air putih berharap bisa melancarkannya. Hingga pukul 11, saya masih juga belum bisa pipis, kalaupun ada urine yang sedikit keluar, rasanya sakit luar biasa. Laa hawla wala quwwata illa billaah… Ada apakah dengan tubuh saya?

Saya hubungi lagi teman saya yang Obgyn itu, “I think you need to go to hospital asap. It most likely urinary retention”, katanya. “Kapan terakhir pee? Ginjal akan tetap memproduksi urine setiap jam nya, jadi kalau sudah lewat dari 12 jam, you really need to go to hospital. It can burst kalau urine yang ditampung sudah sangat banyak”, tambahnya. Kalau di Inggris, agak rempong kalau mau bertemu dokter di hari Sabtu dan Minggu karena GP tutup. Satu-satunya pilihan adalah pergi ke RS, ke Accident dan Emergency Department (A&E). Saya belum pernah ke A&E sebelumnya dan pak suami sedang di luar, ada kajian tahsin pekanan. Menunggu suami sampai rumah bisa 2 jam lagi (karena lokasi jauh). Saya masih berusaha dan berdoa agar bisa pipis, tapi di pukul 1 siang, saya merasakan lower abdomen saya sudah begitu perih, begitu sakit yang sudah tidak bisa lagi saya tahan. Akhirnya saya putuskan ke A&E, hanya berdua dengan si kecil…

Sesampainya disana, kami masih harus menunggu, lamaaa sekali. Pasca assessment awal (jadi diperiksa tingkat kegawatdaruratannya), saya masih diminta menunggu. Saya punya feeling bahwa satu-satunya jalan adalah saya dikateter. Urinary retention adalah kondisi dimana kantung kemih tidak memiliki kemampuan untuk mengosongkan urine. Penyebabnya bisa beragam, kebanyakan UTI (Urinary Tract Infection) atau infeksi saluran kemih. Kondisi urinary retention sometimes can be life threatening, yaitu saat daya tampungnya sudah sangat melewati batas maksimal, dan bisa pecah! Saya belum tahu apa penyebab urinary retention yang saya rasakan. Sudah berjam-jam saya menunggu, saya sudah mencoba pipis berulang kali, semakin perih dan sakit yang rasakan. Saya berjalan tertatih-tatih dengan si kecil, sesekali menangis karena sakit yang sudah tidak bisa saya tahan lagi. Ibarat balon, kantung kemih saya sudah melar diluar kapasitas normalnya menampung urine yang tidak juga bisa dikeluarkan. Itulah yang menyebabkan rasa sakit yang amat sangat.

Pukul 5 sore akhirnya saya bisa bertemu dengan dokter, masalah belum selesai juga. Dokter men-USG saya dan memperkirakan urine di dalam kantung kemih saya sekitar 800-900 ml. Kalau dibayangkan, biasanya kita sudah ingin merasa pipis saat sekitar 300 ml urine berada di kantung kemih kita. Akhirnya pukul 7 malam, saya benar-benar dikateter. Tahu berapa urine residual saya (urine yang tertampung di kantung kemih)? 1.6 Liter! “Oh my gosh, it must be really hurt”, ujar nurse yang memasangkan kateter. Hasil pemeriksaan urine dan darah tidak menunjukkan ada hal yang abnormal, kemungkinan besar urinary retention saya disebabkan oleh posisi uterus yang mem-block uretra (jalan pipis). Iya, posisi rahim yang kemungkinan menyebabkan urinary retention di kasus saya, yang lagi-lagi merupakan kasus yang sebenarnya jarang terjadi. Masya Allah… Allah begitu sayang saya, ada begitu banyak ladang pahala dibuka melalui ‘kejutan-kejutan’-Nya. Akhirnya jam 10 malam kami bisa kembali ke rumah dari RS dan saya tetap harus menggunakan kateter. Kantung kemih saya sudah melar menampung lebih dari 1 L urine, “Your bladder really need some rest, it has been distended that far, you will need to wear catheter probably for a week or 2 weeks”, kata dokter di A&E. Babak baru pun dimulai bagi saya yang baru pertama kali menggunakan kateter dalam hidupnya…

12 Maret 2018 – Saya baru mendapat jadwal untuk ke TWOC clinic untuk melepas kateter pada tanggal ini, sekitar 2 minggu saya harus hidup dengan kateter. Jangan ditanya bagaimana risihnya. Karena ini pengalaman pertama, saya merasakan ternyata begini rasanya. Mau duduk bingung, tidur apalagi, khawatir kateter terlepas atau terjadi pendarahan karena gesekan dengan kantung kemih jika saya terlalu banyak bergerak.

Karena saya sudah off selama 1 bulan, saya benar-benar merasa harus kembali mengerjakan tugas PhD saya. Saya merasa ada amanah belajar yang harus saya tunaikan. Jangan ditanya bagaimana inginnya otak saya mengerja, tapi kondisi badan membatasi gerak langkahnya. Qadarullaah, Allah punya rencana lain, ujian untuk saya sebagai bentuk rasa cinta-Nya. Aah… mungkin ini salah satu cara-Nya untuk mengurangi dosa-dosa saya. Maka menjadi ikhlas dan sabarlah karena-Nya. Akhirnya saya tetap putuskan untuk pergi ke kampus pasca seminggu full di rumah beradaptasi dengan kehidupan kateter. Saya tidak bisa banyak naik turun tangga karena kateter selalu terpasang di badan saya. Suami dan anak lagi-lagi begitu siaga membantu sang bunda.

Saya sempat merasakan titik ketidakberdayaan saya, merasakan kembali hakikat seorang hamba, yang tidak bisa berbuat apa-apa tanpa-Nya. Saya tetap pergi ke kampus, meski harus tertatih berjalannya. Berjalan 5 menit ke bus stop, naik bus, naik turun tangga ke underground, naik kereta untuk sampai ke kampus saya, masih dengan kateter menggelantung yang menemani setiap aktivitasnya. Saya harus ekstra hati-hati berjalan dengan kateter. Pergi pagi dan pulang ke rumah malam hari (sekitar pukul 9 malam sampai rumah). Terkadang, di tengah lalu lalang ramai orang berjalan di underground station, di tengah badan yang cukup kelelahan, sembari berjalan kepayahan saya mengelus perut dan berkata, “Don’t worry baby, we can make it” atau “Thank you baby, let’s be strong” atau “No worries, we can do it together. Allah is watching us. Allah is always watching us”. Tak terasa ada air mata yang menggelayut di penghujung kelopak, aah… emaknya Najwa terlalu sensitif. Ujian seperti ini tidak ada apa-apanya dibanding para Nabi. Maka menjadi tegarlah karena-Nya, karena mengharap keridhoan dan balasan surga-Nya. Itulah hal yang menguatkan saya, untuk terus berjalan dan mengayuh hari dengan syukur atas nikmat dan bersabar atas ujian-Nya…

Itulah Mengapa Surga Terletak di Telapak Kakinya…

Itulah secuplik gambaran perjalanan kehamilan saya 5 bulan ke belakang. Maka benarlah jika Islam begitu memuliakan perempuan, jika Islam meletakkan surga di bawah telapak kaki ibu yang mengandung dan melahirkan. Karena memang perjalanannya setara dengan jihad yang begitu berat dan melelahkan. Saya paham betul apa yang saya alami mungkin tidak seberapa dengan yang dijalani oleh teman-teman. Karena setiap kehamilan dan melahirkan setiap orang, tentu menyimpan lika-liku yang beragam. Catatan ini saya buat sebagai pengingat dan penyemangat, bahwa seorang ibu adalah makhluk yang begitu kuat. Maka di saat kita mulai merasa lemah, mendekatlah kembali kepada-Nya, mintalah kekuatan kepada Dzat Yang Maha Kuat dan Menguatkan. Bukankah segala daya dan upaya hanya berasal dari-Nya?

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan … (QS. al-Ahqaf: 15)

Sampai dengan saat ini saya masih rutin bolak balik ke rumah sakit untuk kontrol. Rutin ambil darah, bertemu endocrinologist, ditambah jadwal rutin pemeriksaan kehamilan oleh midwife. Alhamdulillaah level FT4 sudah kembali ke range normal, dan TSH level sudah mulai detectable walaupun belum berada pada range normal. Untuk kondisi saya, memang perlu waktu pengobatan beberapa bulan hingga TSH level kembali kepada kondisi awal. Endocrinologist sudah menyampaikan, pengobatan ini akan terus berlangsung hingga pasca persalinan, apalagi secara natural hormon thyroid memang akan meningkat setelah melahirkan, jadi memang akan terus dipantau perkembangan level thyroid setiap setengah bulan. Salah satu hikmah lain, saya tidak perlu memikirkan biaya pengobatan disini, padahal kalau di Indonesia, sekali bertemu dokter spesialis pasti memakan biaya banyak, belum pengobatan dan biaya pemeriksaan kehamilan dan persalinan. Tim dokter, spesialis, dan midwife disini juga sudah terintegrasi pada satu departemen Antenatal, sehingga sangat memudahkan untuk koordinasi dengan kondisi kehamilan saya. Alhamdulillaah tsumma alhamdulillaah… 

Dan lihatlah hari ini, atas izin-Nya saya sudah bisa submit thesis hari Selasa kemarin. Meski harus mundur beberapa bulan dari rencana, tapi saya yakin skenario-Nya tetaplah yang paling baik mengiring masa. Lihatlah nak, we finally made it. Biidznillah… atas izin-Nya. Semua yang terasa begitu berat dapat kita lalui bersama. Lagi dan lagi tanamkanlah, bahwa hakikatnya kita hanyalah seorang hamba, yang begitu lemah tanpa pertolongan-Nya. Maka jika ada kebaikan yang bisa kita dapatkan hari ini, itu tidak lebih karena Allah mengizinkannya terjadi. Jika ada kepayahan yang harus dilalui, yakinlah ada balasan pahala menanti. Maka tegarkan diri, kuatkanlah kesabaran, kuatkanlah iman dalam menjalani hari. Semoga Allah menjaga dan membimbing langkah kaki mungilmu menapaki perjalanan di dunia yang sementara ini…

thesis

“Inilah romantisme kita berdua yang Allah catatkan bahkan sebelum engkau terlahir di dunia, menjadi lembaran hikmah untuk sang bunda. Ambillah pelajaran darinya, tumbuhlah menjadi mujahid tangguh yang akan menyinari dunia, memberi kebermanfaatan untuk dunia dan akhirat yang kekal adanya. Kan ku iringi perkembanganmu dalam dekapan doa, semoga Allah jaga senantiasa…”

Menuliskan catatan hikmah pada sepenggal masa,
Semoga ada kebaikan yang bisa diambil darinya,
Menjadi penyemangat dan pengingat akan kebesaran-Nya..

London, 13 Mei 2018