Search

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

Category

Raisha Journey

Catatan PhD Mom: Belajar dari Sistem Pendidikan Nursery di Inggris

“Education would be much more effective if its purpose was to ensure that by the time they leave school every boy and girl should know how much they do not know, and be imbued with a lifelong desire to know it.” (William Haley)

Hari Jum’at lalu merupakan parents meeting di sekolah si kecil. Kalau di Indonesia, mungkin istilahnya ambil raport. Disini kami menyebutnya parents meeting. Dan ini dilakukan per term sekali. Jadi dalam satu tahun, ada 3 kali parents meeting. Di catatan kali ini, saya ingin merangkum bagaimana si kecil melalui masa nursery-nya di salah satu sekolah Islam di London, berikut hal-hal yang bisa kita pelajari dari sistem pendidikan nursery disini. Bagi yang belum tahu, nursery itu setara dengan TK nol kecil mungkin ya kalau di Indonesia, saat anak berusia 3 atau 3.5 tahun memulainya. Kalau di Inggris, anak-anak sudah mendapat fasilitas sekolah gratis sejak usia 3 tahun.

Kalau kembali flash back 1 tahun silam, kami memutuskan agar si kecil sekolah di Sekolah Islam. Allah Maha Baik, di tengah segala keterbatasan tinggal di negara yang minoritas muslim ini, Allah beri rezeki kami tinggal di daerah yang cukup banyak warga muslimnya. Masjid tak jauh terletak dari rumah, butcher halal mudah ditemukan, bahkan sekolah islami yang terbilang jarang, lokasinya hanya 7 menit jalan dari rumah kami. Alhamdulillaah ‘ala kulli hal…

Continue reading “Catatan PhD Mom: Belajar dari Sistem Pendidikan Nursery di Inggris”

Advertisements

Mitos Seputar Bayi Baru Lahir: Catatan Melahirkan di Inggris

“A new baby is like the beginning of all things – wonder, hope, a dream of possibilities” (Eda J. LeShan)

Sudah lamaaa sekali saya mau nulis ini, mungkin draftnya udah ada di kepala sejak dua tahun yang lalu, namun baru bisa terealisasi saat ini. Saya masih ingat betul bulan Januari tahun 2013 lalu, saat putihnya salju menghiasi jalan-jalan di London yang berliku. Saat dimana Allah juga izinkan saya dan suami menjadi seorang ayah dan ibu.

Si kecil lahir di Queen Elizabeth Hospital, setelah 41 minggu + 6 hari berada dalam kandungan. Saat itu, hanya kami berdua disana, pasangan muda yang akan menjalani masa-masa mendebarkan ini tanpa keluarga. Rasanya momen melahirkan adalah salah satu momen paling sakral setelah pernikahan. Bagaimana tidak? Seorang ibu sudah siap mengorbankan jiwa dan raga demi melihat bayi mungil itu terlahir di dunia. Sang ayah sudah harap-harap cemas terus berdoa kepada Sang Maha Kuasa, demi keselamatan istri dan anaknya.

Eh eh, bukan itu sih yang mau saya ceritakan, 2 paragraf di atas hanya intro. Saya mau menceritakan pengalaman saya setelahnya. Setelah melalui masa-masa H2C (harap-harap cemas) itu berdua saja. Saya akan menjawab beberapa mitos seputar bayi yang baru lahir, yang mungkin sudah turun temurun dilakukan di Indonesia. Continue reading “Mitos Seputar Bayi Baru Lahir: Catatan Melahirkan di Inggris”

Balada PhD Parents: Curhatan Emak yang (Masih) Sekolah

“A real mom: Emotional, yet the rock. Tired, but keeps going. Worried, but full of hopes. Impatient, yet patient. Overwhelmed, but never quits. Amazing, even though doubted. Wonderful, even in chaos. Life changer, every single day” (Rachel Martin)

—–

“Ayah, minggu depan kapan ke kampusnya?”

“Selasa mengisi acara di Exeter, Rabu sore baru kembali ke London, dan kamis ada supervisory meeting”, jawabnya

“Oke, kalau gitu bunda ngampus hari Senin dan Jum’at ya”

—–

Itulah percakapan yang selalu terjadi di setiap minggunya antara saya dan suami. Memfiksasi jadwal minggu depan! Dan itu teruuuus berulang. Tak jarang nego minta waktu tambahan, misalnya saat saya harus menjalani meeting di hari Rabu jam 6 sore, maka saya minta pak suami sudah harus di rumah jam 5 nya. Iya, itu adalah salah satu balada PhD parents, saat suami dan istri sama-sama menjalani PhD berdua. Iya ya, udah lamaaaa saya ga ngebahas perjalanan PhD saya, sebagai mahasiswa sekaligus istri dan ibu seorang putri. Saya belum cerita mengenai perjalanan PhD saya pasca suami menjalankan S3. Itu artinya, saya, suami, dan Continue reading “Balada PhD Parents: Curhatan Emak yang (Masih) Sekolah”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑