Search

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

Category

Raisha Journey

Balada PhD Parents: Curhatan Emak yang (Masih) Sekolah

“A real mom: Emotional, yet the rock. Tired, but keeps going. Worried, but full of hopes. Impatient, yet patient. Overwhelmed, but never quits. Amazing, even though doubted. Wonderful, even in chaos. Life changer, every single day” (Rachel Martin)

—–

“Ayah, minggu depan kapan ke kampusnya?”

“Selasa mengisi acara di Exeter, Rabu sore baru kembali ke London, dan kamis ada supervisory meeting”, jawabnya

“Oke, kalau gitu bunda ngampus hari Senin dan Jum’at ya”

—–

Itulah percakapan yang selalu terjadi di setiap minggunya antara saya dan suami. Memfiksasi jadwal minggu depan! Dan itu teruuuus berulang. Tak jarang nego minta waktu tambahan, misalnya saat saya harus menjalani meeting di hari Rabu jam 6 sore, maka saya minta pak suami sudah harus di rumah jam 5 nya. Iya, itu adalah salah satu balada PhD parents, saat suami dan istri sama-sama menjalani PhD berdua. Iya ya, udah lamaaaa saya ga ngebahas perjalanan PhD saya, sebagai mahasiswa sekaligus istri dan ibu seorang putri. Saya belum cerita mengenai perjalanan PhD saya pasca suami menjalankan S3. Itu artinya, saya, suami, dan Continue reading “Balada PhD Parents: Curhatan Emak yang (Masih) Sekolah”

Bagaimana Menjaga Anak Kita: Belajar dari Inggris

“I think we have a moral obligation to our children that can be easily summarised: number one, protect them from any harm” (Tom Allen)

Sejujurnya saya merasa resah dengan isu-isu yang ada di tanah air seputar kejadian di sekitar anak kita. Entah itu penculikan, pelecehan seksual, kasus phedophilia, atau sekedar bullying teman-teman sekitar. Saya yakin semua orang tua pun merasakan hal yang sama. Di Indonesia, rasa-rasanya “akses” untuk menculik anak itu lebih mudah. Lihat saja anak-anak yang bermain di jalan atau lapangan tanpa pengawasan. Diberi iming-iming coklat, permen, atau mainan, bisa jadi mau mengikuti kemana perginya orang yang tidak dikenal. Hiiiy, nau’udzubillaah! Semoga Allah jauhkan yaa…

Setelah hampir 4 tahun saya tinggal di negara Ratu Elizabeth ditemani anak saya yang sudah menginjak 4 tahun usianya, saya mulai memahami bagaimana sistem disini begitu memproteksi anak-anak. Walaupun di awal saya merasa, “koq gini banget sih”, agak-agak rempong maksudnya, tapi setelah saya dalami ternyata memang benar dan besar manfaatnya. Saya coba list beberapa hal yang saya ingat ya untuk mendapatkan gambaran dan semoga dapat kita ambil pelajaran.

  1. Anak-anak harus selalu di temani atau di bawah pengawasan orang dewasa hingga usianya 12 tahun
  2. Continue reading “Bagaimana Menjaga Anak Kita: Belajar dari Inggris”

Menjadi Dirimu: Kenapa Harus Malu?

“Be confident. Too many days are wasted comparing ourselves to others and wishing to be something we aren’t. Everybody has their own strengths and weaknesses, and it is only when you accept everything you are -and aren’t- that you will truly succeed.” (anonymous)

Tanggal 15 Februari kemarin merupakan hari pertama APASL (Asian Pacific Association for the Study of the Liver) Annual Meeting di Shanghai. Sebuah event besar yang menghadirkan ahli-ahli hepatologi se-Asia Pasifik. Alhamdulillaah… saya menjadi salah satu yang terpilih untuk mendapatkan award pada konferensi besar ini di antara lebih dari 3000 aplikasi yang masuk. Pagi itu, di tengah suhu 10 derajat celcius, kami dijemput dari hotel menuju Shanghai International Convention Center.

menjadi-dirimu7
Poster Presentation at APASL-AASLD Joint Workshop

Memang ya, atmosfer pertemuan Asia tetap terasa berbeda dengan Eropa. Meskipun saya tetap menjadi salah satu dari tiga muslimah yang berhijab disini. Dua yang lain berasal dari Mesir, dan usianya sepertinya sudah di atas 40 tahun. Ya, lagi-lagi saya tidak Continue reading “Menjadi Dirimu: Kenapa Harus Malu?”

Blog at WordPress.com.

Up ↑