Search

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

Tag

ilmu

Vaksin atau Tidak: Menakar Manfaat dan Resiko

“If anyone travels on a road in search of knowledge, Allah will cause him to travel on one of the roads of Paradise” (Prophet Muhammad SAW)

Mba, anaknya divaksin atau tidak?
Mba, saya dengar vaksin terbuat dari bahan yang haram, apakah benar?
Mba, kalau anak saya mengalami kipi (kejadian ikutan pasca imunisasi) bagaimana?

Iya, itulah beberapa contoh pertanyaan yang masuk ke inbox saya. Saya yakin sekali setiap ibu pasti memiliki concern yang sama. Saya juga pernah berjanji untuk menuliskan hal ini, maka insya Allah pada postingan blog kali ini, saya akan memenuhi janji untuk membahas vaksin dari sisi epidemiologi. Iya, karena itulah bidang keilmuan yang saya tekuni. Yang belum paham epidemiologi itu apa, bisa dibaca disini. Saya tidak akan membahasnya dari sisi kedokteran atau imunologi, tapi lebih kepada ilmu epidemiologi, dan yang lebih spesifik, belajar dari ilmu infectious disease modelling (bagian dari ilmu epid yang saya pelajari). Saya merasa memiliki kewajiban untuk berbagi, semoga dengan sedikit ulasan ini, dapat bermanfaat bagi orang tua maupun calon orang tua.

  1. Najwa (putri saya) divaksin atau tidak?

Iya, putri saya diimunisasi lengkap. Saya berikan alasan saya di bawah ini insya Allah.

Continue reading “Vaksin atau Tidak: Menakar Manfaat dan Resiko”

Advertisements

Mereguk Nikmatnya Ilmu, Merajut Cita Seiring Waktu

“If you are not willing to learn, no one can help you. If you are determined to learn, no one can stop you” –anonymous-

Tulisan ini berawal dari flashback saya melihat banyak foto graduation (wisuda) yg berseliweran di FB akhir-akhir ini. Bagi saya, wisuda adalah momen sakral. Saat dimana kita dapat begitu haru melihat senyum bangga dan bahagia dari wajah kedua orang tua kita. Saat dimana masa perjuangan kuliah, turun lapangan, dan menulis skripsi seakan berlalu begitu mudah dan segala lelah terbayar sudah. Masa pembuktian bahwa segala perjuangan orang tua membesarkan dan menyekolahkan putra putrinya pada akhirnya berbuah nyata.

Tepat Januari 2010 lalu, alhamdulillah Allah takdirkan saya lulus lebih cepat dibanding teman-teman yang lain (3.5 tahun) dengan mengantongi IPK cumlaude. Bagi saya, itupun sebuah momen pembuktian bahwa seorang aktivis mahasiswa dengan segala kegiatan akademis dan dakwahnya juga mampu berprestasi gemilang dan lulus lebih cepat. Saya ingin mematahkan pendapat yang mengatakan bahwa aktivis itu lulusnya telat. Masih jelas terbayang di dalam bayangan saya, wajah syukur penuh haru di mata ayah dan ibunda, karena saya adalah anak pertama yang berhasil mengundang mereka untuk menghadiri wisuda.

Continue reading “Mereguk Nikmatnya Ilmu, Merajut Cita Seiring Waktu”

Blog at WordPress.com.

Up ↑