Search

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

Tag

PhD Diary

35 Months of My PhD Life: You Almost There!

“Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah anak kecocokan jiwa. Dan jika itu tidak ada, cinta tidak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun, bahkan milenia…” (Kahlil Gibran)

Aih aiiih… tetiba ngomongin cinta. Hihi… Assalamu’alaykum semua, kembali lagi dengan emak yang masih sekolah ini. Udah lama banget nih skip nulis blog (maapkeun). Tapi koq, postingan kali ini dibuka dengan kalimat romantis begitu? Hoho… akan dijelaskan di bagian akhir yaa..

Kalau lihat kalender, kadang saya masih suka merasa tidak percaya, bahwa perjalanan PhD saya sudah sampai sini. Iya, sini. Sudah hampir 3 tahun dengan nano-nano asam manis perjalanannya. Saya skip hampir satu tahun nih mencatat apa-apa saja yang sudah saya lalui di tahun ketiga ini. Rasanya? Alhamdulillaah, luar biasa, Allahu akbar!! ^_^

Bisa dibilang PhD saya memang tidak mulus jalannya, dikarenakan pihak dari Guernsey tidak juga memberi kabar (kalau masih ingat, curhatan saya ada disini tentang ini), jadilah saya kehilangan 2-3 chapter thesis ya. Iya, itu artinya saya harus memikirkan 2 chapter pengganti. Hal itu pula yang membuat studi saya mundur sedikit dari rencana (saya). Qadarullah… saya yakin bahwa itu adalah yang terbaik, bukankah rencana-Nya selalu lebih baik dari rencana awal kita? Akhirnya 2 Continue reading “35 Months of My PhD Life: You Almost There!”

Advertisements

Balada PhD Parents: Curhatan Emak yang (Masih) Sekolah

“A real mom: Emotional, yet the rock. Tired, but keeps going. Worried, but full of hopes. Impatient, yet patient. Overwhelmed, but never quits. Amazing, even though doubted. Wonderful, even in chaos. Life changer, every single day” (Rachel Martin)

—–

“Ayah, minggu depan kapan ke kampusnya?”

“Selasa mengisi acara di Exeter, Rabu sore baru kembali ke London, dan kamis ada supervisory meeting”, jawabnya

“Oke, kalau gitu bunda ngampus hari Senin dan Jum’at ya”

—–

Itulah percakapan yang selalu terjadi di setiap minggunya antara saya dan suami. Memfiksasi jadwal minggu depan! Dan itu teruuuus berulang. Tak jarang nego minta waktu tambahan, misalnya saat saya harus menjalani meeting di hari Rabu jam 6 sore, maka saya minta pak suami sudah harus di rumah jam 5 nya. Iya, itu adalah salah satu balada PhD parents, saat suami dan istri sama-sama menjalani PhD berdua. Iya ya, udah lamaaaa saya ga ngebahas perjalanan PhD saya, sebagai mahasiswa sekaligus istri dan ibu seorang putri. Saya belum cerita mengenai perjalanan PhD saya pasca suami menjalankan S3. Itu artinya, saya, suami, dan Continue reading “Balada PhD Parents: Curhatan Emak yang (Masih) Sekolah”

Menjadi Promotor Kebaikan: Karena Surga Perlu “Dikejar”

“Your good deeds might seem invisible, but they leave a trail that is imprinted on the hearts of others…”

Suatu siang di common room Farr Institute, London.

Clare: I am wondering who bought this sugar jar. (Sambil nyeduh kopi)
Me: It’s me. Please use the sugar as much as you want. (Senyum sembari ngaduk teh)
Clare: Wow… thank you very much. I am wondering who bought it and pray may God bless her/him. Many thanks Dewi! 

Hikmah: Hanya menyediakan tempat gula (berikut gulanya) membuat orang lain bahagia. Karena manfaatnya dapat dirasakan bersama. Meskipun beda agama, lantunan doa kebaikan mengalir darinya

————————————————————————–

Pagi hari di lantai bawah Farr Institute

Me: Morning! (senyum sumringah peps*dent)
Dayane: Hi, morning!
Me: How are you? I haven’t seen you for a while. Where did you go?
Dayane: I am fine, thanks. I went for holiday to Zimbabwe for about 2 weeks. Thanks for asking me. I rarely seen PhD student who are so friendly and willing to greet me every morning. Thanks Dewi! 
Continue reading “Menjadi Promotor Kebaikan: Karena Surga Perlu “Dikejar””

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑