Search

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

Tag

PhD mom

Bagaimana Menjaga Anak Kita: Belajar dari Inggris

“I think we have a moral obligation to our children that can be easily summarised: number one, protect them from any harm” (Tom Allen)

Sejujurnya saya merasa resah dengan isu-isu yang ada di tanah air seputar kejadian di sekitar anak kita. Entah itu penculikan, pelecehan seksual, kasus phedophilia, atau sekedar bullying teman-teman sekitar. Saya yakin semua orang tua pun merasakan hal yang sama. Di Indonesia, rasa-rasanya “akses” untuk menculik anak itu lebih mudah. Lihat saja anak-anak yang bermain di jalan atau lapangan tanpa pengawasan. Diberi iming-iming coklat, permen, atau mainan, bisa jadi mau mengikuti kemana perginya orang yang tidak dikenal. Hiiiy, nau’udzubillaah! Semoga Allah jauhkan yaa…

Setelah hampir 4 tahun saya tinggal di negara Ratu Elizabeth ditemani anak saya yang sudah menginjak 4 tahun usianya, saya mulai memahami bagaimana sistem disini begitu memproteksi anak-anak. Walaupun di awal saya merasa, “koq gini banget sih”, agak-agak rempong maksudnya, tapi setelah saya dalami ternyata memang benar dan besar manfaatnya. Saya coba list beberapa hal yang saya ingat ya untuk mendapatkan gambaran dan semoga dapat kita ambil pelajaran.

  1. Anak-anak harus selalu di temani atau di bawah pengawasan orang dewasa hingga usianya 12 tahun
  2. Continue reading “Bagaimana Menjaga Anak Kita: Belajar dari Inggris”

Advertisements

(Almost) 24 Months of My PhD Life: Entering the 3rd Year

“Life is full of surprises and serendipity. Being open to unexpected turns in the road is an important part of success. If you try to plan every step, you may miss those wonderful twists and turns. Just find your next adventure -do it well, enjoy it- and then, not now, think about what comes next.” (Condoleeza Rice)

Yuhuuu… kembali lagi dengan catatan perjalanan S3 saya, yang semakin nano-nano rasanya. Hehe… Sekarang udah bulan keberapa ya? Sebentar sebentar… What??!! Udah hampir genap 24 bulan ternyata saya menjadi mahasiswa PhD. Itu artinya saya akan bersegera menjejak tahun ketiga. Tidaaaaaaak!!!! Kenapa saya teriak? Karena saya merasa masih belum maksimal. Karena ternyata menjalani S3 itu bisa jadi ga semulus yang direncanakan, huhu… Eh eh, udah mau langsung curhat aja nih. 😀

Dulu saya udah pernah bilang, menjadi mahasiswa S3 itu kita dituntut untuk menjadi independent researcher. Ga ada yang kasih arahan harus ngapain, target pekan ini apa, dsb. Kalau S1 dan S2 mah enak, jadwal jelas. S3?? Harus mandiri bok! Nah nah… saya sempat mention ‘drama’ tentang local PI (Principal Investigator) saya di Guernsey yang tidak kunjung memberi kabar juga. Alhamdulillaah nya ia berhasil dihubungi bulan Juli lalu. Tapi eh tapi, drama ini berlanjut kembali. Saya kembali ‘digantungin’, hiks2… Continue reading “(Almost) 24 Months of My PhD Life: Entering the 3rd Year”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑